Bebas Telepon Genggam Saat Rapat Ciptakan Interaksi yang Erat

Cangkringan – Dua tahun sudah, anggota Karang Taruna Taruna Manggala Laga menjalankan rapat rutin tanpa memegang telepon genggam pribadi. Kebiasaan ini dilakukan Karang Taruna Desa Argomulyo Kecamatan Cangkringan berawal dari keprihatinan anggota yang justru sibuk bermain dengan telepon genggamnya dan mengesampingkan rekan di sampingnya. Ini dikatakan Marmansyah selaku Ketua Karang Taruna Taruna Manggala Laga usai rapat rutin berlangsung pada Selasa (3/9/2019) di Ruang Sekretariat Karang Taruna Desa Argomulyo.

“Saat
ngumpul bareng biasanya hanya sibuk bermain HP sendiri- sendiri sehingga dirasa
sangat tidak menghargai rekan di dekatnya,” cetus Marman.

Rapat
rutin sendiri dikatakan Marman merupakan momentum untuk membahas program kerja
yang akan dilaksanakan dan evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh
karang taruna.

“Lha
kalau semua main HP sendiri- sendiri lantas buat apa ngumpul,” celoteh Marman.  

Oleh karena itu, dengan kesepakatan bersama para anggota dua tahun lalu, setiap rapat akan dimulai telepon genggam dengan kesadaran anggota harus diletakkan di meja paling depan. Hal ini untuk mencegah adanya anggota yang bermain telepon genggam saat rapat berlangsung.

Menurut
Marman, ternyata manfaat diletakkan telepon genggam di meja depan sangatlah
besar, di antaranya suasana rapat lebih terkondisi, interaksi langsung antar
anggota menjadi semakin erat, dan hasil rapat lebih cepat dipahami oleh seluruh
anggota.  

“Ya
karena tidak terjadi pertanyaan sama yang diulang-ulang,” tambahnya.

Setelah
rapat usai tentu saja seluruh anggota dapat langsung mengambil telepon genggam masing-
masing  di meja depan. (KIM Cangkringan/Marmansyah)




2 Dusun di Sardonoharjo Wakili Evaluasi P2WKSS

Ngaglik- Tim Evaluasi Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2WKSS) tingkat Kabupaten Sleman hadir menilai Desa Sardonoharjo, Ngaglik, pada Selasa (3/09/2019).

P2WKSS
adalah program yang bertujuan untuk membina warga pemegang kartu miskin untuk
mengikuti pembinaan dengan cara pembekalan sekaligus pelatihan agar memiliki skill
untuk meningkatkan produktivitas. Tidak hanya itu, mereka juga turut dibekali
setidaknya 18 indikator tentang kesehatan, kewirausahaan, kebersihan
lingkungan, gizi, keluarga berencana (KB) dan masih banyak lainnya.

Kegiatan
ini dihadiri langsung oleh ibu Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo. Dalam
sambutannya, Kustini merasa senang dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan di
Balai Desa Sardonoharjo ini.

“Saya
senang sekali atas sambutan yang dilakukan Desa Sardonoharjo kepada tim
evaluasi. Ketika datang sudah disambut dengan tarian, bergodo, dan semua elemen
masyarakat terlibat di dalamnya,” ujarnya.

Selain
di Balai Desa Sardonoharjo, tim evaluasi juga turut meninjau langsung lokasi.
Padukuhan Rejosari dan Wonosobo dipilih sebagai perwakilan dari Desa
Sardonoharjo, yang sudah 3 tahun berjalan P2WKSS ini. Padukuhan tersebut
dipilih lantaran masih banyak pemegang kartu miskin, yaitu sebanyak 15 orang wanita
warga binaan. (Imam KIM Sardonoharjo Ngaglik)