Kirab Suran Mbah Demang, Paduan Seni Budaya dan Agama

Gamping – Iring-iringan kirab budaya Suran Mbah Demang diberangkatkan dari Sanggar Widya Permana Dusun Cokrowijayan menuju petilasan sumur Ki Demang Cokrodikromo Dusun Guyangan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman sesaat setelah pelepasan sepasang merpati putih dan penyebaran udig-udig yang dilakukan oleh Pemangku Adat Desa Banyuraden, Murdianto Murdopuspito, Sabtu (7/9/2019).

Kirab diawali dengan dua buah gunungan yang tersusun dari daun pisang, lombok abang, kacang panjang, wortel, jambu air merah, buah labu, terong ungu dan buah nanas sebagai mahkotanya. Kirab dikawal pasukan paguyuban bregodo rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejumlah bregodo yang berasal dari padukuhan di wilayah Kecamatan Gamping.

Di barisan depan terdapat beberapa pusaka peninggalan Mbah Demang yang turut dikirabkan antara lain Kitab Ambya, Tombak, Bende serta foto Mbah Demang Cokrodikromo dan foto Eyang Ki Juru Permana Patran. Selain pusaka tersebut juga dikirabkan pula pusaka peninggalan Ki Juru Permana, spiritual Sri Sultan HB IX berupa Kyai Blencong, dan Tombak. Seusai kirab sekitar jam WIB prosesi dilanjutkan dengan Slawatan di pendapa dan Srokal (mandi Jamas Trah Mbah Demang) di sumur petilasan Mbah Demang.

“Di malam tanggal 7 bulan sura ini juga dilakukan pengambilan air sumur oleh abdi dalem dan kerabat Puro Pakualaman guna mencuci sejumlah pusaka milik keluarga Puro Pakualaman diantaranya Tombak Kanjeng Kyai Buyut, Tombak Kanjeng Kyai Paku Baru dan puluhan pusaka penderek. Selain itu ada kereta pusaka yang ikut dibersihkan yakni Kanjeng Kyai Manik Kumala, Kanjeng Kyai Manik Brojo dan Kanjeng Nyai Roro Kumenyar dan perangan Gongso, ada gong dan bende,” ujar salah satu abdi dalem Puro Pakualaman sambil memasukkan air sumur kedalam kendi dan jerigen.

Ritual dilengkapi juga dengan penyerahan secara simbolis sebuah pacul dan caping kepada perwakilan kerabat Ki Demang Cokrodikromo di hadapan ogoh-ogoh macan putih yang dilakukan oleh Murdianto Murdopuspito yang diawali dengan percikan air terhadap macan putih.

“Semoga dengan adanya kegiatan malam ini, segenap masyarakat yang hadir khususnya warga Desa Banyuraden mengetahui sejarah dan maksud diadakannya kirab Suran Mbah Demang yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2016 lalu dengan nomor registrasi 201600364,” tutur Pemangku Adat Desa Banyuraden menutup pembicaraannya. (KIM Pararta Guna Gamping|Adnan Nurtjahjo)




Sumur Gravitasi, Memanfaatkan Kemiringan Lahan untuk Dapatkan Air Bersih

Ngaglik – Berada di bantaran kali Gayam dengan struktur
batuan padas, Padukuhan Jetis Suruh dan Suruh mempunyai karakteristik air
permukaan yang berwarna kuning, terdapat material endapan, keruh, berbau besi
atau bau tanah, dan airnya sedikit licin. Demikian juga dengan air sumur yang
dipakai warga sebagai sumber utama mencukupi kebutuhan air setiap harinya, di
samping berbau besi, ada endapan dan warna kuning membuat air tidak layak minum,
mengotori bak penampungan, dan meninggalkan bercak di pakaian yang dicuci.

Untuk mengatasi masalah itu warga Padukuhan Suruh dan Jetis
Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman berupaya mencari
sumber air bersih dan mengalirkannya ke pemukiman dengan memanfaatkan
kemiringan lahan yang mereka sebut sebagai sumur gravitasi.

Juli Hidayat, salah seorang konseptor pembuatan sumur
gravitasi mengisahkan bahwa sumur gravitasi diprakarsai oleh 4 orang yaitu Agus
Pranggono (Kepala Dusun Suruh), Sutikno, Suyono serta dirinya sendiri yang
kemudian membentuk Kelompok Swadaya Tirtomulyo pada tahun 2007 dan mendapat
bantuan sebesar 10 juta dari PNPM (Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat)  Mandiri. Dana tersebut
dipergunakan untuk membangun sumber air dan membeli 500 batang pipa paralon
diameter 2 inchi beserta perlengkapannya.

“Tidak mudah menemukan mata air, butuh perjuangan
panjang  bahkan pindah sampai 3 kali
membuat sumur dengan kedalaman lebih dari 5 meter ternyata airnya keruh sampai
akhirnya menemukan mata air bening di kedalaman 7 meter. Kemudian dibuat 3
kolam sumber air ukuran 1×2 meter, 2x3meter dan 5×7 meter untuk mencukupi
kebutuhan air sekitar 150 KK warga Jetis Suruh dan Suruh,” kata Juli
Hidayat saat ditemui di Padukuhan Jetis Suruh, Minggu (8/9/2019).

Alumni Teknik Industri IST Akprint Yogyakarta ini
menambahkan bahwa semua proses dimulai dari mencari lokasi mata air, membuat
sumur sumber air, memasang pipa paralon dari sumber ke pemukiman penduduk,
sampai memasang instalasi yang masuk ke rumah warga semuanya dikerjakan secara
swadaya dengan sistem gotong royong.

Mata air sumur gravitasi terletak di Blok Lumbu satu kawasan
dengan Embung Jetis Suruh. Air yang dihasilkan juga berkualitas baik dan
memenuhi syarat kesehatan.

“Hasil analisis laboratorium yang sampelnya diambil
oleh puskesmas Ngaglik II menunjukkan bahwa  sifat fisik yg meliputi warna, bau, rasa dan
kekeruhan, sifat kimia ataupun sifat biologi terutama bakteri colli rendah atau
di bawah ambang batas. Jadi telah memenuhi syarat kesehatan,” ujar Juli
Hidayat lagi.

Untuk mengalirkan ke pemukiman  yang berjarak sekitar 1 kilometer, warga
menggunakan pipa paralon berukuran 2 inchi. Sedangkan pipa paralon yang masuk
ke rumah warga biasanya menggunakan 
ukuran setengah atau tiga perempat inchi.

Selisih ketinggian dari lokasi sumber air ke pemukiman
kurang lebih 9-12 meter. Sesuai hukum alam air akan mengalir dari tempat tinggi
ke yang rendah tanpa bantuan pompa air.

Agar berfungsi dengan optimal pengguna air diwajibkan membayar
3-5 ribu per bulan dan dapat dibayarkan per tahun. Biaya sambung baru saat awal
atau tahun 2007 adalah 320 ribu, saat ini 800 ribu dan untuk masyarakat miskin
dibebaskan alias gratis. Uang tersebut dipergunakan untuk pemeliharaan sarana
termasuk mengganti bila ada yang rusak saat air macet atau ada kerusakan.

Mbah Sugiyono (79 tahun), salah seorang warga mengaku sangat
merasakan manfaat adanya sumur gravitasi ini. “Dari saya lahir, air di
sini kuning, keruh, ada endapan, berbau tanah dan teyeng (karat). Dengan adanya
sumur gravitasi ini sangat terbantu karena airnya yang jernih, sehat, volumenya
banyak, bayarnya sangat murah selain itu menghemat pemakaian listrik yang
sebelumnya digunakan untuk membangkitkan pompa air,” ungkapnya.

Kendala yang dihadapi terutama saat musim kemarau adalah
volume air yang berkurang sehingga diperlukan kesadaran warga untuk menghemat air
dan dipakai seperlunya saja. Ke depannya untuk menjaga ketersediaan air warga
diharapkan agar lebih banyak menanam tanaman keras di sekitar sumber air dan di
sekitar embung Jetis Suruh sebagai penyangga agar kelestarian air tetap
terjaga. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni).




75 Siswa SD di Sinduharjo Terima Bantuan Pendidikan

Ngaglik – Pelajar SD kelas 2-6 peringkat 1,2, dan 3 se-Desa Sinduharjo
menerima bantuan siswa berprestasi, Minggu (8/9/2019) di Kantor Desa Sinduharjo.

“Ada 75 siswa SD beserta orang tua yang kami undang dari 4 sekolah SD negeri yang ada di wilayah Desa Sinduharjo untuk menerima bantuan dari pemerintah Desa Sinduharjo melalui program PKK Pokja I,” kata Sulistyowati, Ketua TP PKK Desa Sinduharjo.

Dalam sambutanya Sudarja, Kepala Desa Sinduharjo mengharapkan
dengan bantuan ini siswa lebih bersemangat untuk belajar sehingga apa yang
dicita-citakan dapat berhasil dan bantuan ini dapat bermanfaat.

Salah satu orang tua murid, Mulyono menyampaikan ucapan
terima kasihnya kepada Pemerintah Desa Sinduharjo atas bantuan yang diberikan.

“Saya pribadi bekerja sebagai buruh serabutan yang
penghasilannya tidak menentu sehingga bantuan ini sangat bermanfaat,” kata
Mulyono. (KIM Ngaglik/Spn)




Siskamling, Upaya Preventif Jaga Keamanan Ketertiban

Padukuhan Kendal, Bangunkerto, Turi berada di jalur jalan alternatif Jogja-Solo yang cukup ramai. Kondisi ini di satu sisi menguntungkan secara mobilitas masyarakat namun di sisi lain rentan keamanan dan rawan kecelakaan.

Salah
satu upaya masyarakat Kendal untuk menjaga agar wilayahnya aman dan tertib
adalah dengan merevitalisasi kearifan lokal yang sudah lahir dan ada yaitu
berupa kegiatan ronda keliling atau dikenal dengan Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling).
Keaktifan Siskamling di Kendal menjadi alasan Kendal ditunjuk untuk mewakili
Desa Bangunkerto dalam Lomba Siskamling tingkat Kabupaten Sleman 2019. Hal ini
disampaikan Anas Makruf, Kepala Desa Bangunkerto, saat Rapat Persiapan Lomba
Siskamling, Sabtu (7/9/2019) di Kendal, Bangunkerto, Turi.  

Menurutnya, peran masyarakat sangat penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah tempat tinggal.

“Siskamling salah satu cara kepolisian dalam menyadarkan dan meningkatkan keikutsertaan masyarakat dalam menjaga kamtibmas, sedangkan target penilaian lomba pos kamling bukan semata-mata mencari juara atau pemenang namun untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terkait dengan keamanan lingkungan masing-masing melalui siskamling,” ujar Anas

Kesempatan
ini disambut baik oleh masyarakat Rt 05 Rw 12 beserta tokoh masyarakat Padukuhan
Kendal. “Tak tanggung-tanggung, segenap warga selain Rt 05 Dusun Kendal bersedia
membantu dalam kegiatan lomba yang akan dilaksanakan pada akhir September 2019
mendatang,” kata Asngari selaku Ketua Rw.

Lomba
Siskamling ini diprakarsai oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman bekerjasama
dengan Polres Sleman dengan kriteria penilaian lomba siskamling, di antaranya
kelengkapan pos ronda, keaktifan masyarakat dalam pelaksanaan pos ronda, dan
peran serta masyarakat dalam pelaksanaan siskamling. (Arif Hartanto)




Pelepasan Sepasang Merpati Putih Awali Prosesi Suran Ki Demang Cokrodikromo

Gamping – Prosesi ritual upacara adat ‘Suran Mbah Demang’ dalam rangka memperingati perjuangan Ki Demang Cokrodikromo berlangsung di Sanggar Widya Permana yang terletak di Dusun Cokrowijayan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/9/2019). Menurut Pemangku Adat Desa Banyuraden, Murdianto Murdopuspito menyampaikan bahwa Tradisi Suran Kirab Mbah Demang merupakan salah satu tradisi yang berlangsung setiap bulan Suro dalam penanggalan Jawa pada tanggal 7 atau tepatnya saat tengah malam tanggal 8 Sura.

“Kegiatan ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi salah satu agenda rutin budaya di Kabupaten Sleman. Tradisi ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur dan silaturahmi warga Desa Banyuraden sekaligus melestarikan budaya leluhur yang diwariskan secara turun temurun,” ungkap Murdianto.

Salah satu rangkaian prosesi adat yang menjadi daya tarik pengunjung adalah prosesi udig-udig yaitu menyebarkan mata uang koin yang dicampur dengan beras kuning, jagung, kembang, dan empon-empon ke arah hadirin sebelum pemberangkatan bregodo. Udig-udig merupakan sebuah kegiatan sedekah dengan cara menebarkan uang receh dikerumunan massa atau kelompok. Biasanya uang yang lazim dibagikan adalah uang logam nominal 100, 200, 500, dan 1000 yang kali ini disebarkan oleh Camat Gamping, Arif Marwoto, Kapolsek Gamping, Kompol Sudaryo, Wadanramil 17/Gamping, Kapten Kusno serta utusan dari Puro Pakualaman.

Sebelum melepas kirab bregodo menuju kediaman Mbah Demang yang berada di Dusun Guyangan, Murdianto Murdopuspito menerima bantuan berupa Gamelan Slendro yang diserahkan oleh Manajer PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Yogyakarta, Eric Rossi Pryo Nugroho dilanjutkan pelepasan sepasang merpati putih yang dilakukan utusan Puro Pakulaman dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

“PLN dengan program tanggung jawab sosial perusahaannya memilih Sanggar Widya Permana karena merupakan sanggar kesenian di Banyuraden yang diharapkan dapat menjadi Duta PLN melalui Bidang Kebudayaan, untuk penggunaan listrik secara terukur dan bijak, serta turut serta melakukan edukasi keselamatan ketenagalistrikan atau edukasi bahaya listrik jika menemukan hal yang janggal di peralatan listrik. PLN senantiasa berkomitmen untuk melaksanakan tanggung jawab sosial yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan, di antaranya bidang sosial budaya seperti ini,” ucap Eric. (KIM Pararta Guna Gamping|Adnan Nurtjahjo)