SMAN 1 Cangkringan Deklarasikan Diri sebagai Kawasan Tanpa Rokok

Cangkringan – SMAN 1 Cangkringan mendeklarasikan
diri sebagai sekolah yang menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungannya.
Deklarasi ini terselenggara berkat kerjasama Puskesmas Cangkringan, Kecamatan Cangkringan
dan juga SMAN 1 Cangkringan sendiri.

Deklarasi KTR ini menjadi tindak lanjut
pemantauan KTR institusi pendidikan yang selama ini dilakukan oleh Puskesmas
Cangkringan. Selain itu, SMAN 1 Cangkringan juga sudah ditetapkan sebagai Sekolah
Adiwiyata dimana merupakan sekolah yang peduli terhadap lingkungan yang sehat,
bersih dan indah.

“Kami sangat bangga SMAN 1 Cangkringan
dipilih menjadi salah satu sekolah untuk deklarasi KTR. Harapan dari kami,
kegiatan ini akan bersinergi dengan Sekolah Adiwiyata yang sudah dinobatkan di
sekolah ini sehingga akan mendukung terhadap lingkungan yang bersih bebas asap
rokok,” ujar Dra. Anies Rachmania SS, , Kepala SMAN 1 Cangkringan di sela
acara deklarasi di SMAN 1 Cangkringan, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman,
Jumat (13/9/2019).

Menurut Anies, sekolah yang dipimpinnya ini
memang sudah melaksanakan KTR sejak beberapa tahun lalu. Mereka juga sudah
mempunyai aturan atau tata tertib sekolah yang mengatur tentang larangan merokok,
bahkan di setiap sudut terdapat poster maupun stiker mengenai kawasan tanpa
rokok.

Camat Cangkringan, Suparmono yang menghadiri
deklarasi ini menyampaikan bahwa Kecamatan Cangkringan mendukung penuh
penerapan kawasan tanpa rokok ini. “Saya berharap memang benar-benar tidak
ditemukan orang yang merokok di lingkungan sekolah ini, baik siswa, guru,
karyawan, maupun warga sekolah yang lain,” ujar Suparmono.

Sementara itu, dalam deklarasi ini Cahya Prihantama dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman juga menyampaikan sekilas materi mengenai KTR di hadapan warga sekolah yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Menurut Cahya, pada dasarnya KTR menekankan pada tidak boleh ada aktivitas merokok, tidak boleh menjual atau mempromosikan rokok, serta tidak boleh memproduksi rokok pada kawasan tersebut.

Acara deklarasi diakhiri dengan
penandatanganan komitmen bersama oleh lintas sektoral Kecamatan Cangkringan dan
seluruh warga SMAN 1 Cangkringan. Tidak hanya komitmen bersama mengenai KTR,
namun juga komitmen bersama anti Napza (Narkotika, Alkohol, Psikotropika
dan Zat Adiktif lainnya) dan anti pergaulan bebas.

Alasan yang mendasari komitmen ini adalah karena saat ini remaja menjadi sasaran utama masuknya Napza dan pergaulan bebas sehingga para siswa yang sedang menginjak masa remaja tersebut perlu diberikan pemahaman. Dan dengan komitmen ini, diharapkan para siswa dapat memerangi masuknya NAPZA, mencegah pergaulan bebas, serta dapat memerangi rokok yang dapat menimbulkan efek tidak baik bagi kesehatan. (Eva Nurlaili)




Isi Piringku, Konsep Baru Pengganti 4 Sehat 5 Sempurna

Ngaglik – Dalam
rangka mendukung GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Kementerian Kesehatan RI
menggencarkan kampanye Isi Piringku sebagai pengganti konsep 4 sehat 5 sempurna
yang selama ini dikenal masyarakat.

“Konsep empat sehat lima sempurna yang sangat familiar
di masyarakat saat ini sudah tidak relevan lagi, karena pedoman makan yang diberikan tersebut bisa
jadi tidak sehat apabila porsi dan gizinya tidak seimbang. Sebagai contoh
penyajian makan sudah sesuai dengan 4 sehat 5 sempurna yaitu terdiri dari nasi,
lauk pauk, sayur, buah tetapi porsi nasi jauh lebih banyak dari komponen yang
lain justru akan menimbulkan masalah kesehatan,” papar Theodorus Indarto yang akrab
dipanggil Theo, seorang nutrisionis di Puskesmas
Ngaglik 2, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (12/09/2019).

Lebih jauh Theo mengatakan bahwa makan tidak asal kenyang
namun harus memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tubuh, sehingga porsi dan jenis
makanan harus disesuaikan dengan usia dan aktifitasnya.

Isi Piringku merupakan panduan makan sehat yang dapat
menjadi acuan sajian sekali makan. Isi Piringku juga dipergunakan untuk
mendorong masyarakat  menyajikan makanan
dengan gizi yang seimbang dengan cara yang mudah dikenali, dimengerti dan
dipahami oleh khalayak luas.

Program Isi
Piringku ini didasari oleh fakta bahwa dari isi piring yang dimakan, bias jadi akan menjadi  penambah semangat, lebih berprestasi sehingga membentuk
generasi yang unggul. Tetapi
juga tidak menutup
kemungkinan dari isi piring itu pula akan berdampak pada timbulnya berbagai
macam penyakit seperti hipertensi, diabetes, stroke, jantung koroner atau
bahkan obesitas.

Konsep
konsumsi susu pun sebagai
penyempurna gizipun disebut
Theo  juga tidak relevan lagi sebab untuk mendapatkan
kecukupan gizi masyarakat tidak harus minum susu, karena susu hanya bagian dari
sumber protein.

Aturan pembagian dalam Isi Piringku menggambarkan porsi
makan yang dikonsumsi dalam satu kali makan yang terdiri dari 50 persen makanan
pokok sebagai sumber karbohidrat dan lauk pauk sebagai sumber protein. Dari
separuh isi piring tersebut dibagi menjadi dua pertiga bagian terdiri dari
makanan pokok dan sepertiga sisanya adalah lauk pauk. Sedangkan yang 50 persen
lagi sebagai sumber serat pangan, vitamin, dan mineral yang terdiri dari sayuran dan buah buahan, “pembagiannya adalah dua
pertiga sayuran dan sepertiganya lagi buah buahan,” saran Theo.

Menurut
Theo, keragaman bahan makanan dalam satu sajian harus dilakukan karena tak
ada satu jenis makanan pun yang mengandung semua jenis zat gizi yang dibutuhkan. Dengan demikian zat gizi yang
berupa protein, lemak karbohidrat, vitamin, serta mineral harus disajikan secara seimbang.

“Sebagai
contoh makanan pokok sumber karbohidrat adalah nasi, kentang, roti, singkong,
umbi-umbian, jagung,
gandum, mi, bihun. Lauk pauk sebagai sumber protein hewani bisa berasal
dari  ikan  air tawar, daging ayam,
daging sapi, ikan laut, telur, sedangkan protein nabati bisa berupa tahu, tempe
atau bahan yang berasal dari kacang-kacangan. Sumber protein yang lain adalah
susu dan produk olahannya,”
kata Theo.

Sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral yang berasal dari
buah-buahan misalnya pisang, semangka, pepaya, melon, jeruk, blimbing, mangga,
duku, apel, rambutan, jambu, sedangkan yang berasal dari sayur misalnya sawi, bayam, terong, buncis,
kacang panjang, labu siam, pare, brokoli, kembang kol, kobis, wortel, tomat,
ketimun, daun singkong. Sayuran dapat dikonsumsi dengan dimasak, direbus,
dikukus, ditumis atau bisa disajikan mentah sebagai lalapan.

Porsi dan jenis makanan pun juga disesuaikan dengan usia dan aktifitasnya. Theo memberi gambaran konsumsi untuk
orang dewasa misalnya  makanan pokok
berupa nasi 150 gr, sayuran 150 gr
(1 mangkok sedang), 150 gr pepaya
(2 potong sedang), lauk hewani 1 butir telur ayam besar atau 2 potong sedang
daging ayam tanpa kulit (80 gr),
lauk nabati 100 gr tahu atau 2 potong sedang tempe (50gr). Porsi untuk remaja, ibu hamil atau
pekerja nanti lain lagi
hitungannya.

Kampanye
Isi Piringku juga menekan dan membatasi konsumsi gula, garam dan lemak. “Paling
banyak konsumsi gula adalah 4 sendok makan perhari, garam 1 sendok teh perhari,
lemak atau minyak goreng 5 sendok makan per hari,” jelas Theo.

Isi Piringku menjadi
salah satu panduan hidup sehat selain beberapa hal yang tidak kalah penting
dilakukan seperti cuci
tangan pakai sabun, minum air 8 gelas sehari dan aktifitas fisik 30 menit per
hari. (KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)




Bekali Pengelola Homestay Pengetahuan Kuliner Kelas Hotel

Desa
Wisata telah menjadi salah satu tren pengembangan pariwisata di Indonesia. Hal
ini pun terjadi
di Kabupaten Sleman.  Menurut  Prof. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A. .,
Ph.D dari UGM, perkembangan wisata tidak lagi dilakukan dengan berombongan,
cukup kelompok kecil atau individual. Mereka rata-rata berminat pada kehidupan
sehari-hari, hal-hal yang unik dan bisa mendapatkan pengalaman baru yang
berbeda.

Di tengah gencarnya era media
sosial serta kompetisi terbuka,
destinasi baru desa wisata kian bertumbuh.
Hal ini menuntut
pengetahuan, wawasan, dan keterampilan operator desa wisata untuk senantiasa
mengikuti perkembangan.

Untuk
menjawab hal tersebut Dinas Pariwisata DIY menggelar Pelatihan Kuliner bagi pengelola homestay di Sleman. Pelatihan berlangsung dari Rabu (11/9/19) hingga Jumat (13/9/19) di
Desa Wisata Pulewulung,
Bangunkerto, Turi.

“Pelatihan
kali ini dimaksudkan untuk membekali pengelola homestay agar memiliki
keterampilan lebih dalam mengatur, mengolah, dan menyajikan hidangan/kuliner
sebagai salah satu pendukung akomodasi baik di homestay maupun pada layanan
makan minum wisatawan di desa wisata,” kata Aris Suryanto dari Dinas
Pariwisata Sleman.

Tercatat 45
peserta hadir dalam pelatihan dengan antusias, mewakili 3 desa wisata di Lereng Merapi Pulewulung, Sempu, dan Kelor. Pembekalan disampaikan dari Dinas
Pariwisata DIY melalui pengantar berupa teori dan kisi-kisi dasar penyediaan
makan minum oleh narasumber. Selama 3 hari peserta akan mendapatkan pelatihan
berupa materi dan praktik oleh Chef Sugeng Wiyadi dari Hotel
Bhineka, Chef Hermawan dari AMPTA Yogyakarta, dan Chef
Dody dari ICA Jogja.

Pada hari
pertama dikenalkan cara mengolah masakan dengan benar dengan alat yang
rata-rata sudah dimiliki oleh kelompok kuliner desa wisata. Dilanjutkan dengan
praktik memasak, dengan resep, bimbingan dan koreksi langsung terhada proses
kegiatan memasak sehingga peserta dapat melakukan perbaikan terhadap kesalahan
yang lazim terjadi dalam proses memasak pada masyarakat lokal desa wisata.
Terbukti pada akhir sesi yang dibagi 4 kelompok memasak berhasil menyajikan
hidangan sebagaimana pada awal diberikan resep untuk dikerjakan pada hari
pertama.

Selesai
proses memasak, peserta diwajibkan menyajikan hasil karyanya dan dinilai
bersama-sama baik dari tampilan, rasa maupun cara penyajian. Narasumber
memberikan penilaian terhadap karya peserta dan memberikan masukan pada
masing-masing kelompok untuk memaksimalkan hasil masakan dengan berbagai saran
dan tips.

Ketua
pengelola Desa Wisata sekaligus Dukuh Pulewulung, Irkham Hidayat berharap dengan pelatihan kuliner untuk pengelola desa
wisata ini para pelaku desa wisara akan semakin termotivasi untuk menyajikan
hidangan yang menarik dan bercita rasa kelas hotel namun tetap mempertahankan
nuansa pedesaan yang menarik minat pengunjung desa wisata di daerah masing-masing. “Karena dengan semakin banyaknya
pengunjung maka akan semakin menambah kesejahteraan warga,” tukasnya. (Arif Hartanto)