Sumur Gravitasi, Memanfaatkan Kemiringan Lahan untuk Dapatkan Air Bersih

Ngaglik – Berada di bantaran kali Gayam dengan struktur
batuan padas, Padukuhan Jetis Suruh dan Suruh mempunyai karakteristik air
permukaan yang berwarna kuning, terdapat material endapan, keruh, berbau besi
atau bau tanah, dan airnya sedikit licin. Demikian juga dengan air sumur yang
dipakai warga sebagai sumber utama mencukupi kebutuhan air setiap harinya, di
samping berbau besi, ada endapan dan warna kuning membuat air tidak layak minum,
mengotori bak penampungan, dan meninggalkan bercak di pakaian yang dicuci.
Untuk mengatasi masalah itu warga Padukuhan Suruh dan Jetis
Suruh, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman berupaya mencari
sumber air bersih dan mengalirkannya ke pemukiman dengan memanfaatkan
kemiringan lahan yang mereka sebut sebagai sumur gravitasi.
Juli Hidayat, salah seorang konseptor pembuatan sumur
gravitasi mengisahkan bahwa sumur gravitasi diprakarsai oleh 4 orang yaitu Agus
Pranggono (Kepala Dusun Suruh), Sutikno, Suyono serta dirinya sendiri yang
kemudian membentuk Kelompok Swadaya Tirtomulyo pada tahun 2007 dan mendapat
bantuan sebesar 10 juta dari PNPM (Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat) Mandiri. Dana tersebut
dipergunakan untuk membangun sumber air dan membeli 500 batang pipa paralon
diameter 2 inchi beserta perlengkapannya.
“Tidak mudah menemukan mata air, butuh perjuangan
panjang bahkan pindah sampai 3 kali
membuat sumur dengan kedalaman lebih dari 5 meter ternyata airnya keruh sampai
akhirnya menemukan mata air bening di kedalaman 7 meter. Kemudian dibuat 3
kolam sumber air ukuran 1×2 meter, 2x3meter dan 5×7 meter untuk mencukupi
kebutuhan air sekitar 150 KK warga Jetis Suruh dan Suruh,” kata Juli
Hidayat saat ditemui di Padukuhan Jetis Suruh, Minggu (8/9/2019).
Alumni Teknik Industri IST Akprint Yogyakarta ini
menambahkan bahwa semua proses dimulai dari mencari lokasi mata air, membuat
sumur sumber air, memasang pipa paralon dari sumber ke pemukiman penduduk,
sampai memasang instalasi yang masuk ke rumah warga semuanya dikerjakan secara
swadaya dengan sistem gotong royong.
Mata air sumur gravitasi terletak di Blok Lumbu satu kawasan
dengan Embung Jetis Suruh. Air yang dihasilkan juga berkualitas baik dan
memenuhi syarat kesehatan.
“Hasil analisis laboratorium yang sampelnya diambil
oleh puskesmas Ngaglik II menunjukkan bahwa sifat fisik yg meliputi warna, bau, rasa dan
kekeruhan, sifat kimia ataupun sifat biologi terutama bakteri colli rendah atau
di bawah ambang batas. Jadi telah memenuhi syarat kesehatan,” ujar Juli
Hidayat lagi.
Untuk mengalirkan ke pemukiman yang berjarak sekitar 1 kilometer, warga
menggunakan pipa paralon berukuran 2 inchi. Sedangkan pipa paralon yang masuk
ke rumah warga biasanya menggunakan
ukuran setengah atau tiga perempat inchi.
Selisih ketinggian dari lokasi sumber air ke pemukiman
kurang lebih 9-12 meter. Sesuai hukum alam air akan mengalir dari tempat tinggi
ke yang rendah tanpa bantuan pompa air.
Agar berfungsi dengan optimal pengguna air diwajibkan membayar
3-5 ribu per bulan dan dapat dibayarkan per tahun. Biaya sambung baru saat awal
atau tahun 2007 adalah 320 ribu, saat ini 800 ribu dan untuk masyarakat miskin
dibebaskan alias gratis. Uang tersebut dipergunakan untuk pemeliharaan sarana
termasuk mengganti bila ada yang rusak saat air macet atau ada kerusakan.
Mbah Sugiyono (79 tahun), salah seorang warga mengaku sangat
merasakan manfaat adanya sumur gravitasi ini. “Dari saya lahir, air di
sini kuning, keruh, ada endapan, berbau tanah dan teyeng (karat). Dengan adanya
sumur gravitasi ini sangat terbantu karena airnya yang jernih, sehat, volumenya
banyak, bayarnya sangat murah selain itu menghemat pemakaian listrik yang
sebelumnya digunakan untuk membangkitkan pompa air,” ungkapnya.
Kendala yang dihadapi terutama saat musim kemarau adalah
volume air yang berkurang sehingga diperlukan kesadaran warga untuk menghemat air
dan dipakai seperlunya saja. Ke depannya untuk menjaga ketersediaan air warga
diharapkan agar lebih banyak menanam tanaman keras di sekitar sumber air dan di
sekitar embung Jetis Suruh sebagai penyangga agar kelestarian air tetap
terjaga. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni).



