Pesta Rakyat Pilih Ketua Pemuda

Ngaglik
– Acara pemilihan Ketua Pemuda Mendiro dibuat layaknya pesta rakyat yang
menghibur. Acara ini diagendakan untuk menyambut Mendiro sebagai desa wisata. Demikian
diungkap Rista Jumena, Kepala Dusun Mendiro saat dijumpai di sela sela acara
pemungutan suara Ketua Pemuda Mendiro pada Minggu (13/10/2019).

“Seperti
itulah yang dikehendaki para warga untuk memilih ketua pemuda yang nantinya
diharapkan sebagai motor penggerak desa wisata,” kata Rista.

Mulai
pukul WIB, masyarakat Mendiro, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman sudah bersiap
di Joglo Sutodiryan tempat yang disepakati sebagai titik kumpul para bakal
calon dan pendukungnya menuju tempat pemungutan suara di Pasar Setum, pasar
tradisional nan legendaris karena sudah ada sejak zaman penjajahan.

Bakal
calon dan para pendukungnya berpakaian unik mulai dari batik, baju adat,
sorjan, kebaya, sampai baju wayang memeriahkan acara pemilihan Ketua Pemuda Mendiro.
Kemeriahan kian terasa ketika para bakal calon yang merupakan wakil dari
masing-masing RT di Padukuhan Mendiro diarak menaiki kendaraan berupa traktor,
tleser, kendaraan roda tiga, keseran (gerobak kecil-red) yang
dihiasi berbagai macam pernak-pernik aksesoris dan diiringi riuhnya suara
gamelan.

Pukul
WIB, bakal calon yang berjumlah 5 orang yaitu Fany Tri Hardani, Aldi Dwi
Sulistyanto, Bondan Satria Yudi, Ramadhandi dan Rika Setyo Winarno beserta para
pendukung sampai di Tempat Pemungutan Suara menyampaikan visi dan misinya yang
intinya akan mewujudkan generasi pemuda yang mandiri, tangguh, trampil,
berakhlak, dan mempererat tali persaudaraan antar pemuda yang dalam setiap
kegiatannya bermanfaat bagi masyarakat.

Rista
membeberkan, ada beberapa keunggulan Padukuhan Mendiro yang layak diandalkan
sebagai desa wisata, di antaranya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Komunal, Joglo Sutadiryan sebagai tempat kegiatan berbagai kesenian,
pengelolaan bank sampah, Bok Londo sebagai tempat jelajah sungai, proses
pembuatan batik, perkebunan tanaman herbal, dan lain sebagainya.

Di
kesempatan yang sama Hamdan Kurniawan, salah satu tokoh masyarakat setempat berpendapat
bahwa pemuda adalah agen perubahan. Oleh karena itu, pemuda yang terpilih nanti
diharapkan dapat mengangkat nilai budaya desa dan melaksanakan visi serta misi
dengan merangkul semua pihak untuk bersama-sama mewujudkan Mendiro sebagai
tujuan wisata andalan di Kabupaten Sleman.

Pemilihan
yang diikuti oleh 5 RT dengan penduduk berkisar 500 orang ini memutuskan Aldi
Dwi Sulistyanto dari RT 02 RW 27 terpilih sebagai Ketua Pemuda periode
2019-2024 dengan mengatongi 108 suara. Aldi akan dilantik tanggal 26 Oktober
2019 mendatang. (KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)




WICSF, Pasar Kreatif yang Kenalkan Jajanan Lokal Sleman

Sleman – Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival (WICSF) merupakan sebuah kegiatan dengan konsep pasar kreatif yang memperkenalkan jajanan dan produk lokal. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia atau disingkat APPBI. WICSF diselenggarakan di beberapa pusat perbelanjaan selama satu bulan penuh dan dilakukan secara estafet dari satu pusat perbelanjaan ke pusat perbelanjaan lainnya, mulai dari 27 September hingga 27 Oktober 2019.

Sleman City Hall (SCH) menjadi salah satu dari delapan pusat perbelanjaan di mana WICSF berlangsung. Tahun ini juga sekaligus menjadi tahun pertama SCH ikut bergabung dalam event WICSF. Kegiatan di SCH sendiri digelar pada tanggal 10-13 Oktober 2019 dan bertempat di Garden Lantai 1 Sleman City Hall.

Tema yang diangkat pada acara ini yaitu Taste of Sleman. Tema dipilih karena melalui event ini sekiranya dapat membantu mempromosikan produk-produk yang ada di Sleman, khususnya jajanan dan kerajinan tangan.

“Acara
kaya gini bisa lebih mengenalkan produk-produk dari tenant yang ada di sini
terutama kuliner dan kerajinan tangan yang itu memang dari masyarakat asli
Sleman, ya buat brandinglah,” pungkas Virga, Staf Bagian Event Promotion
SCH saat ditemui Minggu (13/10/2019).  

Selain
alasan tersebut, menurut Virga acara yang juga menampilkan performance
kesenian dan tarian Sleman ini juga menjadi ajang mengenalkan keberagaman dan
keunikan Kabupaten Sleman kepada masyarakat luas.

WICSF
di Sleman Citu Hall menyediakan 15 stan produk lokal. Stan tersebut, antara
lain Diajeng Craft, Kenadi Craft, Beras Sleman, Pecel Pincuk, Kopi Merapi, TJ
Zuppa, Souvenir Jogja, Jajanan Pasar Bu Bagyo, Kelapa Aren, Nukifumo, Kampung
Mina Padi, Cakra Semesta, Nayaka Craft, dan Brongkos Bu Patmo. Stan yang hadir ini
tidak semata-mata hanya menjajakan produk mereka, namun juga memberikan edukasi
terkait sejarah makan, tarian, dan kesenian khas Sleman. (Rep Purnama)




Dusun Mendiro Hadirkan Konsep Unik dalam Pemilihan Ketua Pemuda

Sleman – Dusun Mendiro, Sukoharjo,
Ngaglik, Sleman gunakan konsep unik dalam memilih Ketua Pemuda, Minggu
(13/10/2019).

 “Acara
pemilihan ketua pemuda ini baru pertama kali diadakan dengan model seperti ini,
mengawinkan demokrasi yang modern melalui pemungutan suara dengan budaya guyon
dan pastinya lebih bersahaja,” kata Yunanto, Ketua Panitia Pemilihan.

Dikatakan Yunanto, pada periode sebelumnya,
pemilihan ketua pemuda hanya melalui musyawarah dengan melibatkan pemuda
Mendiro saja.

“Kita ingin ketua yang baru ini
mempunya legitimasi yang kuat untuk persiapan kita menuju desa wisata, supaya pemuda
ini punya komitmen yang jelas karena sudah dipercaya oleh semua lapisan
masyarakat Mendiro baik pemudanya maupun orang tuanya,” jelas Yunanto saat
ditanya tujuan yang ingin dicapai melalui pemilihan dengan model yang berbeda
ini.

Menurut Yunanto, antusias warga sangat
luar biasa, seluruh elemen masyarakat mendukung acara ini. “Sampai-sampai
masyarakat membantu dari segi finansial berupa urunan dan tanpa bantuan itu
acara ini mustahil untuk diadakan,” pungkasnya.

Sebelumnya, PPKP (Panitia Pemilihan
Ketua Pemuda) yang terdiri dari 7 orang telah dibentuk untuk membantu
mensukseskan acara pemilihan ini. Adapun rangkain acaranya dibuat dengan sangat
menarik. Pertama, para calon ketua beserta pendukungnya berkumpul di Juko, lalu
diarak menuju Pasar Serum dengan teriakan yel-yel dari masing-masing calon.
Kedua, bakal calon menyampaikan visi misi di depan umum, setelahnya pencoblosan
pun dimulai.

Adapun data untuk pemilih tetap dan
pemilih sementara sudah dipersiapkan secara matang oleh panitia PPKP. Ada
batasan yang sudah ditentukan untuk bisa menggunakan hak suaranya melalui
pencoblosan, seperti mempunyai KTP dan berdomisili di Mendiro serta yang sudah
ber-KTP Mendiro tetapi tidak berdomisili di Mendiro.

Hal unik dari pemilihan ketua pemuda
terlihat dari sisi umur pemilih. Warga berusia 14 tahun sudah memiliki hak
suara dalam pemilihan ketua pemuda ini.

“Kita ikut sertakan usia 14 tahun yang
artinya di bawah umur sesuai KTP (17 tahun), tujuannya sebagai pembelajaran
bagi pemilih pemula serta sebagai pembelajaran untuk pemilihan ketua pemuda
desa selanjutnya agar tidak timpang tindih terlalu jauh,” ucap Yunanto.

Salah satu warga mengungkapkan harapan ke
depannya untuk ketua pemuda, yakni dapat menjadi agen perubahan menuju desa
wisata. “Saya berharap nantinya pemuda berfokus pada publikasi dan arus
informasi promosi yang kuat menuju desa wisata. Selain itu, seperti kegiatan
pembersihan lingkungan yang dilakukan 1 bulan sekali, mengelola IPAL (Instalasi
Pengelolaan Air Limbah), mengelola kafe limbah sekaligus menjaga budaya rapat
rutin dapat diteruskan kedepannya,” kata Suron. (Rep Bilal)




Akalpa, Tonjolkan Keunikan Kayu Kokka pada Produk Jam Tangan

Sleman
– Berawal dari sebuah obrolan bersama temannya yang baru pulang dari Kairo,
Khoiruzzad (29) mendapatkan ide untuk menghasilkan sebuah produk khas, yang
unik dan susah ditemukan. “Jadi waktu ngobrol-ngobrol sama teman-teman, nah
disitu aku kepikiran. Kan lagi banyak ya produk-produk yang pembuatannya itu
dari kayu, pakai kayu impor. Nah kenapa kita gak bisa seperti itu juga,”
ujar pria yang biasa disapa Izzad ketika ditemui di rumah produksi usahanya di
daerah Godean, Kamis (10/10/2019).

Saat
itulah dia bersama temannya menemukan sebuah ide untuk mengembangkan suatu
produk, yang saat ini dikenal dengan brand Akalpa, sebuah brand kerajinan
tangan khas terbuat dari kayu.

Akalpa
sendiri berfokus pada jam kayu sebagai produk andalannya. Uniknya, bahan dasar jam
adalah kayu kokka. Kayu kokka sendiri merupakan kayu yang hanya bisa didapatkan
di benua Afrika saja. Kayu ini hanya bisa didapatkan setiap periode 50 tahun.

“Selain
itu, bahan kokka ini katanya bermanfaat juga untuk kesehatan kita, sudah ada
penelitiannya,” jelas Izzad mengenai alasan pemilihan kayu kokka sebagai bahan
dasar usaha kerajinannya. Pun, ia bercerita bahwa bahan kokka ini telah ada
sejak zaman nabi dan menjadi bahan dasar untuk perahu Nabi Nuh dan untuk
tongkat Nabi Musa.

Izzad
membeberkan, nilai jual utama dari jam tangan produksinya selain dari bahan
dasarnya kokka, adalah motif jam yang dihasilkan. “Karena kan setiap kokka itu
dibelah, mempunyai alur yang berbeda-beda, itu nanti menjadi motifnya. Jadi
setiap masing-masing jam pasti memiliki motif yang berbeda,” tukasnya. Kesan
berbeda juga bisa didapat dari konsumen yang diperbolehkan menambahkan nama
mereka di produk yang akan mereka beli.

Izzad
juga menjelaskan bahwa konsumen tidak perlu mengkhawatirkan ketahanan produknya
karena telah terjamin, “Bahan kokka ini keras banget, waktu awal mau dipotong
dicoba pakai gergaji biasa, malah gak kuat gergajinya. Harus menggunakan
gergaji besi atau gergaji mesin,” ungkap Izzad, sambil memperlihatkan bahan
kokka tersebut.

Untuk
penjualannya, produk Akalpa ini bisa dipesan online melalui Instagram, dengan
nama akun akalpaofficial. Sementara untuk toko offline sendiri, Izzad mengakui
bahwa mereka belum mempunyainya. Namun, para konsumen bisa melihat
produk-produk Akalpa di Galeri Upakarti Sleman, di lantai 1 Dinas Perindustrian
dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman. Selain itu produknya bisa
dilihat di The House of Raminten yang berada di Jalan Kaliurang Km. 16.

Konsumennya
sendiri kata Izzad mayoritas berasal dari Pulau Jawa, dengan pembeli terbanyak
dari Jakarta. Harga satuan produknya berkisar antara Rp sampai dengan
Rp , tergantung dari bentuk motifnya.

Dalam
pengembangan usaha kerajinannya, Izzad menyinggung kontribusi Rumah Kreatif
Sleman (RKS), Dinas Perindag Sleman. Ia mengakui bahwa Rumah Kreatif Sleman
memiliki andil yang cukup besar dalam pengembangan usahanya. “Jadi awalnya
dapat ide itu, saya masih bingung langkah selanjutnya itu apa. Terus saya
langsung daftar ke Rumah Kreatif Sleman, itu pada tahun 2017,” aku Izzad.

RKS
kemudian memberikan bimbingan untuk mengembangkan usahanya. Bantuan-bantuan
yang diberikan antara lain berupa edukasi mengenai pemasaran, memberikan
pelatihan dan seminar, seperti pelatihan mengenai market plus dan penggunaan
media sosial. Selain itu, RKS juga memfasilitas Akalpa untuk mengikuti acara
pameran. “Bahkan kemarin ini sampai ikut pameran ke Korea lho mas, dari RKS
menawarkan. Laku juga disana produknya, unik kalo kata orang sana,” tutup Izzad.
(Rep Faridz)




Tambah Frekuensi Latihan, Dojo Donoharjo Siap Hadapi Kejurda 2019

Ngaglik
– Menghadapi laga di Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2019, Karate Tunas Bangsa (KTB)
Dojo Donoharjo gencar melaksanakan persiapan di antaranya dengan meningkatkan
frekuensi latihan dari yang semula 2 kali menjadi 3 kali seminggu.

Dikatakan
Senpai Eko, Pelatih Karate Dojo Donoharjo saat ditemui seusai latihan di Aula
Balai Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada Minggu (13/10/2019), hal dilakukan agar
para atlet menampilkan semangat dan performa terbaiknya saat pertandingan
nanti.

Kejurda
INKANAS (Institut Karatedo Nasional) 2019, lanjut Eko, akan dilaksanakan pada Sabtu
(9/11/2019) bertempat di Gelora Olahraga (GOR) Klebengan, Depok, Sleman. Acara
yang digelar oleh FORKI (Federasi Olah raga Karate Indonesia), perguruan
INKANAS DIY beserta Polisi Daerah (Polda) DIY ini memperebutkan piala Kapolda
dan beberapa penghargaan bergengsi lainnya.

Kejurda
karate tersebut adalah kegiatan rutin tahunan yang diikuti oleh atlet karate di
bawah naungan perguruan INKANAS yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di
wilayah DIY sehingga diperlukan persiapan fisik, teknik, dan mental yang lebih
memadai.

“Dojo
Donoharjo saat ini memiliki lebih dari 100 kohai dengan rentang umur 5-20 tahun,
pada Kejurda nanti akan menurunkan 23 atlet terbaiknya dengan ambil bagian di
kumite (tanding) dan kata (seni). Kita berharap mendapatkan penghargaan di
setiap nomor yang dipertandingkan,” kata senpai Eko.

Senpai
Eko berharap olah raga bela diri asal Jepang ini akan semakin digemari khalayak
luas terutama para kawula muda dengan harapan semakin terwujud generasi yang
kuat, berani, tangguh, disiplin, dan jujur.

“Dengan
keikutsertaan di event bergengsi ini diharapkan dapat melihat potensi para
atlet dengan harapan melahirkan atlet karate berprestasi yang dapat
mengharumkan nama daerah,” imbuhnya. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)