Petik Manfaat dari Sedekah Sampah

Sampah merupakan masalah bagi sebagian orang tapi tidak bagi warga di Dusun Kepek I, Kepek, Wonosari, Gunung Kidul. Di desa ini sampah justru menjadi sumber manfaat bagi warganya.

Dalam kunjungan ForkomKIM DIY yang berlangsung di desa tersebut Senin (14/10/2019), Sukirno selaku Kepala Dukuh Kepek I memaparkan bahwa Kepek 1 memiliki luas wilayah kurang lebih 13,5 hektar dengan jumlah penduduk 883 jiwa, termasuk dalam kawasan kota dan padat penduduk. Oleh karena itu, di tahun 2013 dibuatlah kawasan terpadu pertanian perkotaan dengan nama program Kepek I Integrated Urban Farming Program (KIUFP).

Disampaikan Sukirno, banyak program yang telah dilakukan untuk mendukung terwujudnya KIUFP tersebut, salah satunya adalah dengan Sedekah Sampah. Berawal dari proyek mengelola sampah secara mandiri dari Dinas Lingkungan Hidup Gunung Kidul, pada tahun 2012 Kepek I mendapatkan fasilitas berupa 1 buah motor roda 3, tong sampah 15 paket (45 tong), rumah kompos beserta alat pencacah daun, dan 1 gerobak sampah. Proyek tersebut dipercayakan dan dikelola oleh karang taruna sedangkan untuk keuangan dikelola oleh ibu-ibu PKK.

Untuk
memenuhi kebutuhan biaya operasional pengelolaan sampah mandiri tersebut, karang
taruna melakukan inovasi dengan meminta sampah rongsok dari warga dengan
mendirikan Sedekah Sampah Haksa Muda Kepek 1.

“Warga
diberikan bagor yang ditaruh di rumah-rumah sebagai tempat penampungan sampah.
Setelah sampah dipilah, sampah yang memiliki nilai jual akan diambil oleh
karang taruna lalu dijual dan ada yang didaur ulang. Sementara, sampah daun
dikumpulkan dan dijadikan pupuk kompos,” jabar Sukirno.

Pupuk
kompos dari Sedekah Sampah Haksa Muda Kepek 1 ini menurut Sukirno diolah oleh Kelompok
Tani Maju Makmur, yang berdiri pada tanggal 20 Oktober 2012. Kelompok tani yang
diketuai oleh Sudarno ini memanfaatkan tanah lungguh di depan balai dusun untuk
membuat kebun sayur bagi warga dan membuat kelompok ternak kambing, itik, ayam,
serta budidaya ikan. Pupuk kompos pun berguna untuk pengembangan kebun sayur
tersebut.

“Uang
hasil penjualan sampah tersebut dikembalikan lagi kepada warga dalam bentuk
bibit, satu plastik kompos dan polybag untuk dibagikan kepada
warga secara gratis,”
lanjutnya.

Hal
ini tentu memberikan dampak positif kepada para warga Kepek I.

“Dari
sedekah sampah tersebut akhirnya bisa mengubah perilaku warga yang tadinya
tidak bisa memilah sampah jadi bisa dan tahu manfaatnya, yang sebelumnya ingin
meminta bantuan sekarang kita dorong untuk bisa memberikan apa yang bisa
diberikan kepada orang banyak karena memberi itu lebih baik daripada menerima. Meski
awalnya hanya 30 persen warga yang ikut mengelola sampah tersebut tapi sekarang
sudah 90 persen warga yang ikut mengelola,” ungkap. (Rep Anis)




Bulan Bakti Karang Taruna Sardonoharjo Gelar Santunan Bagi Yatim dan Duafa

Ngaglik —
“Aku dan pemelihara anak yatim, akan berada di surga kelak,” sabda
Nabi Muhammad SAW, sambil mengisyaratkan dan mensejajarkan kedua jari tengah
dan telunjuknya dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari. Dari hadis tersebut,
Nabi Muhammad SAW, memiliki perhatian yang sangat besar kepada yatim piatu, ini
diungkapkan Harjuno Wiwoho, Kepala Desa Sardonohajo dalam acara Bulan Bakti
Karang Taruna ke-59 bertajuk Santunan dan Makan Bareng untuk Yatim dan Duafa,
di Yayasan Panti Asuhan Pangeran Diponegoro, Maguwoharjo, Minggu (13/10/19).

Acara santunan
ini merupakan salah satu program SEJUK atau Sedekah Jumat Karang Taruna Desa
Sardonoharjo, di mana semua dananya berasal dari sedekah para donatur dari Desa
Sardonoharjo maupun luar. Acara yang juga bagian dari program Bulan Bakti
Karang Taruna Desa Sardonoharjo ini adalah salah satu langkah program
pemberdayaan sedekah yang terhimpun dari Program Unit Kesejahteraan Sosial. Selain
program santunan ada juga beberapa program yang sifatnya berkelanjutan, seperti
program ekonomi dan pendidikan.

“Donasi yang
diberikan khusus untuk 50 anak,” terang Heri Purwanto, Ketua 1 Karang Taruna
Sardonoharjo.

Heri
mengungkapkan kebahagiaannya, lantaran kegiatan seperti ini sudah sering dilakukan
pihaknya. “Harapan ke depannya, kalau ingin kami menengok kembali anak-anak di
sini, kami membuka pintu seluas-luasnya kepada donatur dan yang jelas acara ini
bermanfaat sekali bagi anak-anak di sini,” ungkapnya.

Acara juga diisi
dengan dongeng oleh Mbah Gun dari Sanggar Bocah Jetis dan outbound oleh Cak
Untoro dari EO Outbound DSN. (KIM Sardonoharjo/ESK)




Gerakan Literasi Sekolah Sentuh Anak Berkebutuhan Khusus

Ngemplak – Gerakan Literasi Sekolah (GLS) terus digelorakan dalam upaya meningkatkan minat baca. Demikian juga untuk anak anak berkebutuhan khusus, yang membutuhkan perhatian ekstra sehingga literasi dapat menjadi sarana pengetahuan untuk memperkuat bekal kehidupannya.  “Make Your Time for Literacy” menjadi salah satu tajuk kegiatan literasi di SLB Negeri 1 Sleman yang diadakan pada Jumat (11/10/2019).

Kegiatan
yang dimulai sejak pagi pukul hingga WIB diikuti oleh seluruh siswa
dan guru.  Acara utama menempati ruang
aula terbuka sekolah di Desa Pakembinangun, Kecamatan Pakem, Sleman.

Permainan tradisional gobak sodor dan boi-boinan menjadi pembuka acaranya. Tampak suasana ceria serta hubungan yang hangat antar siswa walaupun dengan keterbatasan indera saat permainan tersebut berlangsung. Berbagai atraksi pentas unjuk kebolehan disuguhkan. Terdengar nyanyian merdu yang dilantunkan oleh siswa cilik tuna netra bernama Jati (11 tahun) siswa jenjang SD. Acara dilanjutkan puisi dan salawatan bersama seluruh siswa SLB.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah, Lestari Wuryani, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk keseriusan lembaganya untuk menyiapkan bekal siswa agar mampu mandiri melalui kemampuan dan kompetensi literasinya. Di hadapan siswa-siswi berkebutuhan khusus jenis A, B, C, D, E, dan G yang berjumlah 122 anak, Lestari juga berpesan bahwa gerakan literasi sekolah hendaknya menjadi budaya sekolah yang didukung oleh seluruh civitas sekolah dengan menggandeng kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait.

Kegiatan
literasi sekolah yang berkolaborasi dengan lembaga-lembaga penggiat literasi
akan sangat membantu mendorong iklim dan budaya sekolah terutama minat baca di kalangan
siswanya. “Dalam kesempatan ini, kami bekerjasama dengan Lembaga Mata Aksara,
Kak Dani juru dongeng, FTBM DIY, GPMB Sleman dan KIM Ngemplak,” ungkap Kepala
Sekolah.

Acara
juga dimeriahkan oleh penampilan Dani, Juru Dongeng dengan tema gemar membaca.
Dengan piawainya Dani mengajak siswa-siswi untuk gemar membaca melalui dongeng.
Sepuluh menit tak terasa telah berlalu, siswa sangat menikmati dongeng dan
terhanyut dalam alur cerita. Keceriaan serta sikap kritis terbangun. Nampak
terlihat bahwa ternyata anak berkebutuhan khusus sangat ekspresif, aktif,
kritis, dan interaktif.

Sesi selanjutnya dipandu langsung oleh Heni dari Mata Aksara yang juga Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM DIY) dengan membawakan materi Read Aloud, yaitu metode membacakan buku cerita dengan nyaring. Suatu teknik membaca yang sangat ampuh untuk mengajak anak menyukai buku. Dengan penuh antusias guru bersama siswanya diajak turut serta mempraktekkan metode tersebut.

“Metode ini sangat asyik, mudah, dan menyenangkan karena guru tidak harus mempunyai skill yang khusus layaknya pendongeng namun hanya bermodalkan buku cerita dan teknik membaca yang benar saja,” ungkap Nurul salah satu Guru Kelas sekaligus Ketua Satgas Literasi Sekolah.  (KIM Ngemplak/Nuradi)




Perlu Gagasan Cerdas Tuk Majukan KIM

Gamping – Perwakilan Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Sembada Kabupaten Sleman melakukan studi banding berkaitan dengan pengelolaan KIM bersama perwakilan Forum KIM Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Kulon Progo, Senin (14/10/2019). Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengambil objek studi banding di KIM Makarti yang terletak di Padukuhan Kepek I, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.

Turut
hadir dalam kegiatan ini Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas
Kominfo Sleman, Noor Hidayati, Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik,
Yudiarto Setiawan, Ketua I forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, H. Suripto,
Ketua II, H. Suharno, serta Sekretaris, Adnan Iman Nurtjahjo. 

Dalam
sambutan pembukanya, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas
Kominfo DIY, Rahmat Sutopo mengutarakan bahwa dipilihnya KIM Makarti sebagai
tujuan pembelajaran bagi KIM kabupaten lain di wilayah DIY karena dirasa sudah
layak dan lebih maju dibanding dengan KIM daerah lain.

“Semoga
hasil tukar kawruh hari ini dapat menginspirasi untuk memajukan KIM di
daerahnya masing-masing sesuai dengan kondisinya dan sumber daya yang dimiliki,”
pesan Rahmat.

Pemaparan
materi disampaikan oleh tiga narasumber antara lain, Ketua KIM Makarti, Siti
Nurjanah, Kepala Padukuhan Kepek I, Sukirno, serta pegiat media sosial, Nunung
Elisabet. Dalam uraiannya, Siti mengungkapkan beberapa program kerja yang
dilakukan KIM Makarti yang pada awalnya terjadi pro kontra di masyarakat.
Setelah melakukan sosialisasi dan pendekatan melalui kegiatan kemasyarakatan,
akhirnya gagasan pengurus KIM Makarti dapat diterima masyarakat karena memang
bertujuan untuk kemajuan Dusun Kepek I dengan ditandai diraihnya beberapa
penghargaan kejuaraan.

Sukirno
menambahkan, rencana besar KIM Makarti adalah mewujudkan Dusun Kepek I menjadi
Kawasan pertanian terpadu perkotaan. Diawali dengan dijadikannya sebagai pilot
projek Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gunung Kidul dengan membuat rumah bank
sampah yang dinamai Haksa Muda karena bekerjasama dengan karang taruna wilayah
setempat.

“Kegiatan
yang kita sebut sedekah sampah ini melakukan pemilahan sampah yang mempunyai
nilai ekonomis untuk dikumpulkan dan dijual. Hasil penjualan sampah
dikembalikan pada masyarakat dalam bentuk polybag, bibit tanaman dan
kompos yang dibagikan secara cuma-cuma untuk dimanfaatkan warga,” tegas
Sukirno.

Selain
sedekah sampah juga terdapat banyak terobosan yang dilakukan KIM Makarti untuk
menjaga lingkungannya dan mensejahterakan anggotanya. Kegiatan tersebut adalah
efisiensi pemanfaatan air, pemanfaatan tanah makam untuk ditanami buah sirsat
dan pepaya, serta pemanfaatan ban bekas yang dijadikan pot untuk menanam
sayuran guna menambah ruang terbuka hijau dan menambah keindahan lingkungan Dusun
Kepek I.

Di
akhir studi banding, Nunung Elisabet mengulas beberapa hal mengenai aturan main
iklan di media online yang ditujukan untuk mempromosikan produk-produk KIM agar
dikenal, diminati dan dibeli guna meningkatkan kesejahteraan anggotanya. (Adnan
Nurtjahjo|KIM Parartaguna)




Jadi Kampung Wisata, Samberembe Unggulkan Produk Hasil Mina Padi

Pakem – Kampung Mina Padi Samberembe ikut
membuka stan di Sleman City Hall dalam acara Wonderful Indonesia Culinary
Shoping Festival dengan tema Taste of Sleman yang berlangsung 10-13 Oktober
2019.

Kampung Mina Padi Samberembe beralamat di Dusun
Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Kampung ini menyediakan banyak pilihan wisata yang berada di satu lokasi
diantaranya sarana edukasi, paket outbound edukasi, belajar membatik, belajar
kerajinan janur, belajar tanam padi, edukasi pertanian dan perikanan, serta
pasar tani dan ikan.

Ruma, anggota Poklahsar (Kelompok Pengolah dan Pemasar) Mina Laras Mandiri menceritakan sebelum dijadikan tempat wisata oleh Dinas Pertanian, masyarakat di kampungnya sudah lama melakukan budidaya padi dengan menggunakan teknik biasa kemudian di tahun 2014 masyarakat mulai menggunakan teknologi mina padi kolam dalam yaitu dengan dibuat kolam di sekeliling lahan. Ternyata dengan teknologi tersebut hasil dari padi atau ikan bisa lebih meningkat jauh dan operasional dalam hal panen dan pemeliharaan menjadi lebih mudah, sehingga sampai sekarang sistem mina padi kolam dalam tersebut masih berlanjut.

Melihat perkembangan itu, Kampung Mina Padi Samberembe kemudian dijadikan tuan rumah Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan beberapa waktu lalu sebagai percontohan teknologi pertanian. Setelahnya Dinas Pertanian pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman memutuskan untuk menjadikan kampung tersebut sebagai tempat wisata edukasi pertanian.

“Sebelum ada desa wisata memang sudah
banyak studi banding dari berbagai daerah baik Jawa maupun luar Jawa bahkan
internasional dua kali, pertama di tahun kemarin oleh Alfasi (peneliti ASEAN)
dan yang kedua sekitar satu bulan yang lalu dari 12 Negara ASEAN,” tambah Ruma
saat ditemui di stan Taste Of Sleman, Minggu (13/10/2019).

Kelompok Mina Padi Samberembe sendiri juga
memiliki beberapa produk olahan yang ditawarkan kepada masyarakat antara lain
keripik krispi lele dan keripik krispi nila dengan pilihan rasa gurih dan
pedas, serta gula jawa jahe yang bisa dibuat menjadi wedang gujahe harga. Ada
pula produk kaos bertuliskan “calon
mantune pak tani
” dan “petani
penolong
negara”.

Saat ini kampung tersebut tengah melakukan pengembangan seperti Mina Horti, Mina Timun, Mina Cabai, dan Mina Brambang (bawang) di satu lokasi juga, harapannya adalah agar memudahkan pengunjung yang ingin studi banding atau sharing tentang teknologi pertanian bisa langsung di satu lokasi.(Rep Anis)