Abon Pepaya, Inovasi yang Membuahkan Prestasi

Kalasan – Abon identik berbahan
dasar daging, namun salah satu warga Dhuri, Tirtomartani, Kalasan, Sleman
justru menggunakan pepaya sebagai bahan dasar pembuatan abon. Berawal dari
perlombaan yang dilaksanakan Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman
mengenai pemanfaatan lingkungan sekitar, Tri Suhartati memulai inovasi membuat
abon pepaya.

“Awalnya ikut perlombaan
Dinpar lalu mencoba mengolah pepaya menjadi abon pepaya dan Alhamdulillahnya
mendapatkan juara,” pungkas Suhartati di kediamannya, Kamis (17/10/2019).

Inovasi yang membuahkan
prestasi ini, diakui Suhartati tercetus karena melihat lingkungan sekitarnya di
mana pohon pepaya dengan mudah bertumbuh. Proses produksi yang terbilang
sederhana dan rasa yang dinilai sedap pun membulatkan tekad Suhartati untuk
menjajakan produknya kepada masyarakat luas.

Suhartati sengaja memilih pepaya
setengah matang untuk produknya. “Itu karena masih ada rasa manisnya, jadi kita
tidak perlu menambahkan gula lagi takutnya kalau kebanyakan gula pas digoreng
jadi gosong dan hasilnya pun jadi jelek berwarna hitam,” kata Suhartati.

Dimulai dengan mengupas pepaya
dan memeras airnya, pepaya setengah matang selanjutnya dibumbui dengan bawang
merah, bawang putih, jintan, garam, serai, dan lengkuas sebelum pada akhirnya
digoreng. Tak lupa, sebelum melalui proses penggorengan, pepaya lebih dulu dibalut
dengan tepung.

“Jenis pepaya yang digunakan
pun bisa jenis apa saja, yang terpenting setengah matang dan mengkal,” tegasnya.

Setiap minggunya, Suhartati
berhasil memproduksi abon pepaya sebanyak 200 hingga 250 toples dengan masing-masing
beratnya 200 gram. Satu toples yang mampu bertahan dalam kemasan hingga 3 bulan
ini ia jual seharga Rp 20 ribu.  

Dengan dua varian rasa, original dan pedas, abon pepaya miliknya telah membawa Suhartati mengikuti berbagai pameran UMKM. “Beberapa kali juga, kita mengikuti pameran UMKM, kaya sekarang kita sedang ngikutin pameran UMKM Nasional di UGM,” tukasnya.

Konsumennya pun telah
tersebar di berbagai kota di Indonesia, seperti Kudus, Labuan Bajo, Jakarta,
Surabaya, Semarang, Cilacap, Papua, dan NTB.

“Awalnya pemasaran hanya dilakukan dari mulut ke mulut sampai akhirnya dipasarkan secara online,” imbuh Suhartati.

Ke depan, dirinya berencana tak hanya memproduksi abon pepaya saja, ia berharap ingin menanam pohon pepaya di depan rumah dan akan memberikan nama sebagai Rumah Pepaya. “Namun, ini masih proses,” tutur wanita yang mulanya menggeluti bisnis katering ini. (Rep Bilal)




Memberdayakan Peternak Susu Sapi dengan Produk Es Krim dan Gelato

Ngaglik – Berawal dari tahun 2011, Andro yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertemu dengan peternak sapi
saat melakukan penyuluhan di Kecamatan Pakem. Disitu ia menemukan bahwa para
peternak ini menjual susu mereka kepada industri dengan harga murah, sekitar
per liter padahal seharusnya susu itu bisa dijual dengan harga .

Mengetahui hal itu, Andro berinisitif  untuk membeli susu dari peternak dengan harga yang pantas namun dengan syarat para peternak ini dapat menjanjikan kualitas dari susu tersebut. Kemudian  Andro terus menjalin kerjasama secara intensif dengan para petani melalui pelatihan-pelatihan tentang bagaimana memeras susu yang baik, kapan dan jam berapa idealnya dilakukan dan sebagainya.

Akhirnya Andro memutuskan untuk membuat produk berupa es krim cup, gelato, dan susu dengan merek Sweetsundae yang berbahan dasar susu segar dari peternak. Saat ini Sweetsundae sudah membuka gerainya di Jalan Nglempong Sari, Nomor 18A, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik.

Nisa, marketing Sweetsundae mengatakan bahwa yang menjadi pembeda produk
ini dengan produk lainnya adalah es krim yang dijual 100 persen berbahan susu
segar, bukan susu bubuk. “Kemudian untuk gelato ini tanpa perasa, pengawet, dan
pewarna. Sampai saat ini untuk es krim, produk ini
lebih terkenal dan sering melayani catering, kemudian untuk gelato, kami memilih melakukan
kerjasama dengan distributor dan reseller. Sweetsundae juga sudah memiliki
banyak mitra di dalam maupun luar pulau Jawa,” terang Nisa saat mengikuti pameran UMKM di Cafe G45
Space, Jalan Damai, Kecamatan
Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (16/09/2019).

Nisa juga mengatakan alasannya ikut dalam kegiatan pameran ini yaitu karena
masih jarang sekali kegiatan seperti ini dilakukan di sebuah cafe, selain itu
di sisi lain juga ia melihat bahwa ada potensi untuk membangun relasi dan
kerjasama dengan cafe G45 Space.

Salah satu
kegiatan yang menarik menurut Nisa adalah
workshop mengenai Instagram Marketing. “Saya tertarik ikut lagi karena dari G45 sendiri pernah mengadakan sebelumnya, dan
menurut saya itu bagus dan edukatif sekali sih buat kami (pelaku UMKM),” pungkas
Nisa.

Cafe G45 Space mengadakan kegiatan Expo UMKM pada tanggal 15-16 Oktober 2019 lalu. Kegiatan ini digelar dengan beberapa rangkaian acara, diantaranya yaitu pameran UMKM, workshop, seminar, dan hiburan musik.  Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan UMKM yang ada di Sleman, membangun kerjasama sekaligus memberdayakan UMKM melalui workshop dan seminar yang diisi oleh pakar pangan dan pakar marketing.(Rep Purnama)




Payfazz Berkomitmen Bantu Perkembangan UMKM Sleman

Sleman
– Pemerintah Kabupaten Sleman menerima audiensi dari PT Payfazz Teknologi
Nusantara perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, bertempat di Smart Room Dinas
Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Sleman, Kamis (17/10/2019).
Payfazz melalui aplikasinya melihat peluang untuk membantu pengembangan
masyarakat, terutama di bidang UMKM melalui sistem finansial yang efisien dan
efektif.

Payfazz
sendiri merupakan platform layanan keuangan yang melayani transaksi secara
online. Mereka memberikan kemudahan transaksi keuangan ketika masyarakat mengalami
keterbatasan dalam mengakses finansial.

“Jadi
prinsipnya Payfazz merupakan mediator agar masyarakat mendapatkan layanan
finansial,” ujar Archie Anugrah, Head of CEO Office Payfazz Indonesia ketika
memberikan penjelasan mengenai Payfazz.

Nantinya,
masyarakat Sleman dapat menggunakan Payfazz untuk melakukan transaksi keuangan
dalam berbagai hal, seperti pembayaran token listrik, pulsa, dan lainnya.

Selain itu, masyarakat Sleman juga bisa menjadi agen Payfazz sebagai pendapatan pasif mereka setiap bulannya. Para pelaku usah UMKM juga dapat memanfaatkan Payfazz Mart untuk mengembangkan usaha. Dengan program tersebut, para pelaku UMKM di Sleman akan mudah menjalankan usaha dengan digitalisasi UMKM mereka.

“Artinya, para pelaku UMKM dapat dengan mudah untuk membeli dan mendata ketersediaan bahan baku. Mereka akan mudah mengelola UMKM,” tambah Archie mengenai keunggulan program Payfazz Mart.

Pemaparan
Payafazz ini mendapatkan sambutan positif dari Eko Suryo Prihantoro, Kepala
Dinas Diskominfo Sleman yang memimpin sesi audiensi. Menurut Eka, Payfazz
menawarkan pilihan untuk para pelaku UMKM di Sleman dan Sleman siap
mempertimbangkan kemungkinan kolaborasi ke depannya.

“Tapi,
nantinya akan dibicarakan lagi mengenai perkembangannya, soalnya ini baru
pengenalan tahap awal,” ujarnya.

Eka
juga menambahkan agar nantinya jika kerjasama terjadi, Payfazz sanggup memberikan
data pengguna Payfazz di Sleman, sekaligus mempromosikan UMKM mereka jika
agennya adalah pelaku UMKM di Sleman. (Rep Faridz)




Jetis Suruh Night Festival Ajang Kreasi Karang Taruna Donoharjo

Ngaglik
– Melewati malam minggu dengan suasana yang romantis bersama pasangan di tepian
embung sambil menikmati alunan musik, drama, dan tari kolosal adalah suasana
yang coba ditawarkan oleh Karang Taruna Donoharjo (Kanadon) dan Inspro Event
Organizer dalam acara yang bertajuk Jetis Suruh Night Festival 2019.

Nana
Winardinigsih selaku Seksi Acara mengatakan bahwa Jetis Suruh Night Festival
2019 akan digelar di Embung Jetis Suruh, Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada hari
Sabtu 19 Oktober 2019 mulai jam WIB.

“Karena
acara ditujukan kepada anak muda yang selalu bersemangat, bergairah dan
mempunyai energi berlebih untuk itu panitia sengaja menampilkan yang serba
kolosal di antaranya drama dan tari kolosal, tari rampak, penampilan grup band
AfterShine dan yang menarik adalah penampilan Nufi Wardhana seorang musisi muda
berbakat yang sedang digandrungi kawula muda dan pada puncaknya adalah
pelepasan ratusan lampion ke udara” tuturnya.

Selanjutnya
Nana menjelaskan bahwa Nufi Wardhana ini adalah musisi kover asal Jogja
kelahiran 1996. Berada di bawah naungan management Didi Kempot, tidak heran
karyanya kebanyakan merupakan lagu-lagu hit Didi Kempot yang diaransemen ulang
dalam versi Bahasa Indonesia sehingga lebih mudah diterima oleh telinga kawula
muda, utamanya generasi milenial yang sering berselancar di dunia maya terutama
YouTube.

Suara
khasnya akan membawakan Lagu Didi Kempot semacam Layang Kangen, Banyu Langit,
Sewu Kuto serta lagu hits grup band ternama, seperti Dewa, Naff dan juga lagu
milik Nufi sendiri seperti Melangkah, 1600 kilometer akan ditampilkan pada
pagelaran festival kali ini.

Tidak
sekadar menampilkan lagu-lagu anak band, sebagai kepedulian terhadap
kelestarian budaya Jawa, panitia juga akan menampilkan tarian apik nan energik
Rampak Buto. Karenanya tak heran acara ini mendapat dukungan penuh dari Dinas
Pariwisata dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.

“Karena
menyasar pada anak muda maka harga tiket pun dijual tidak terlalu mahal dan
masih terjangkau oleh kantong pelajar dan mahasiswa,” lanjutnya.

Sebelum
pelaksanaan festival panitia menyediakan tiket dengan nama yang unik yaitu
Kamis manis, Jumat berkah, dan Sabtu Uhui dengan harga Rp 25 ribu untuk
singlenya dan tiket romantis seharga Rp 75 ribu berlaku untuk 2 orang ditambah
lampion yang nantinya diterbangkan.

“Saat
hari pertunjukan di tiket boks, karcis dijual Rp 40 ribu per orang makanya
buruan beli tiket sekarang jangan sampai kehabisan,” katanya berpromosi.

Anang Patri Widyantoro, Sekretaris Desa Donoharjo selaku penanggungjawab acara mengatakan bahwa acara yang digelar oleh Karang Taruna Donoharjo (Kanadon) tersebut merupakan ajang kreasi Karang taruna sekaligus arena belajar berorganisasi. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk mengenalkan Embung Jetis Suruh sebagai destinasi wisata andalan juga untuk mengangkat ekonomi produktif warga sekitar.(KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)




Gelar Potensi UPTD BP4 Moyudan Sukseskan Program Ketahanan Pangan

Moyudan – Gelar Potensi hari kedua pada Rabu (16/10/19) di Balai Penyuluhan Pertanian, Pangan dan Perikanan (BP4) Moyudan, Jalan Gedongan-Tempel Pandean Sumberagung Moyudan berlangsung meriah. Sebelumnya pada hari pertama Selasa (15/10/19) telah dilaksanakan pengukuhan kelompok tani, ternak, dan ikan, KWT, serta Lomba Kreasi Memasak Nasi Goreng.

Gelar Potensi hari kedua ini selain menampilkan pameran
produk pertanian, peternakan, perikanan, dan olahan pangan, juga dimeriahkan
dengan berbagai kegiatan lainnya, seperti kampanye makan ikan yang didukung
oleh Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman dan Lomba Yel dan
Mars Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kecamatan Minggir dan Moyudan. Lomba ini
diikuti oleh 17 KWT, di mana setiap KWT diwakili oleh 10 perempuan penggerak
pertanian dan olahan pangan di wilayahnya. Setiap kelompok wajib menampilkan
kreasi yel dan menyanyikan lagu Mars KWT.

Tim juri terdiri dari 3 orang yaitu Riana Supriyani, selaku
Kasubag TU BP4 Moyudan, Menul yang merupakan pencipta lagu Mars KWT, dan Rinto
selaku guru vokal atau praktisi musik. Setelah melalui proses penjurian,
diperoleh hasil pemenang Lomba Yel dan Mars KWT, antara lain Juara 1 KWT Sari
Maju dari Blendung Sumbersari Moyudan, Juara 2 KWT Langgeng dari Ngepringan 4
Sendangrejo Minggir, dan Juara 3 yaitu KWT Sedyo Rukun dari Ngagul-agulan
Sendangrejo Minggir.

Ketua UPTD BP4 Moyudan, Sudarsana, menyatakan sangat gembira
dengan antusiasme dari peserta lomba.

“Harapannya ke depan adalah program ketahanan pangan dapat
didukung sepenuhnya oleh semua lapisan masyarakat, baik itu tua dan muda,
laki-laki maupun perempuan, serta dapat mengembalikan produk pangan lokal
sebagai produk favorit keluarga,” tutur Sudarsana. (Lena Laila/KIM Pararta Guna)