Bisnis Berkah, Omzet Melimpah

Aldi Ananta, sang pemilik usaha Seblak Asgar memulai usahanya di tahun 2014 bersama istrinya yang ketika itu memasarkan seblaknya melalui bazar-bazar yang diadakan di mal-mal dan alun-alun yang ada di Yogyakarta. Tahun 2015 ia membuka Seblak Asgar pertama kali di Hartono Mall dengan modal yang ia kumpulkan dari keuntungan hasil penjualan ketika bazar. Saat ini Aldi telah memiliki 8 cabang Seblak Asgar, empat diantaranya berada di Sleman yakni di Hartono Mall, Jogja City Mall , Jogja International Hospital, dan Seturan.

Aldi memaparkan bahwa berkah itu adalah apabila kita diberi rezeki, rezeki itu membuat kita semakin taat dan lebih bermanfaat untuk orang lain. “Ketika memulai usaha agar usaha kita diberkahi Allah, terlebih dahulu kita harus memperbaiki hubungan dengan Sang Pemberi Rezeki, memperbaiki hubungan dengan orang tua, suami atau istri, dan saudara serta tetangga sekitar,” ujar Aldi saat menjadi pembicara Talkshow Bisnis Berkah Omzet Melimpah di Halaman Parkir Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (25/10/2019).

Selain itu, Aldi memiliki kiat produk yang dijual merupakan produk yang patut dijual dan mengandung unsur kebaikan, dan pada saat mencari karyawan tidak hanya skill yang dilihat tapi juga attitude pribadi mereka dalam bekerja.

Bisnis yang dijalankan pun harus bermanfaat dan diniatkan untuk membantu orang lain. “Rezeki diberikan kepada orang yang suka membantu. Jadi tujuan utama bisnis itu adalah untuk membantu bukan hanya untuk mencari profit, karena jika kita tujuannya adalah mencari profit ketika tidak bisa mencapai profit yang diinginkan bisa membuat kita menjadi stres,” aku Aldi.

Selain meluruskan niat, menentukan visi dalam berbisnis juga menjadi salah satu hal yang tidak kalah pentingnya. Aldi pun memberikan tips agar omset yang didapat bisa melimpah, yaitu dengan kiat yang disebutnya Nasibasi (kenali produk, komunikasikan secara baik kepada konsumen dan internal, dan banyak evaluasi). (Rep Anis)




Sabu, Sajikan Nutrisi Buah Lewat Sambal

Buah memiliki banyak kandungan nutrisi yang diperlukan tubuh sehingga menjadi sangat penting untuk dikonsumsi setiap hari. Saat ini sudah banyak inovasi-inovasi yang dikembangkan agar buah tersebut tidak melulu dikonsumsi secara utuh, contohnya dengan membuat berbagai makanan atau minuman berbahan dasar buah. Salah satunya adalah sambal aneka buah (Sabu) yang diproduksi oleh Arra Kitchen yang berproduksi di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Mela Dewi, bagian pemasaran Arra Kitchen memberikan keterangan bahwa usaha sambal buah tersebut merupakan usaha berdua bersama dengan temannya Ardita. Ardita yang pernah tinggal di Makasar mendapatkan inspirasi dari sambal buah mangga yang sering dikonsumsinya ketika di Makasar. Dari situ Ardita kemudian membuat aneka sambal buah seperti sambal mangga, sambal salak, sambal nanas, dan sambal stroberi.

Proses pembuatannya sendiri sama seperti membuat sambal pada umumnya hanya dipadukan dengan irisan-irisan buah yang diblender atau dicampur secara langsung. Buah yang diolah menjadi sambal merupakan buah yang cenderung asam dan setengah mateng. “Buahnya cari yang asam dan menteng (setengah matang) karena ada banyak vitaminnya dan bisa menetralisir kolesterol,” ungkap Mela saat ditemui di stan bazar Festival UMKM di Parkir Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (25/10/2019).

Pemasaran sabu ini masih difokuskan di area Yogyakarta dan Sleman melalui media online seperti instagram, facebook, grabfood, dan gofood. Dijual dengan harga Rp25 ribu per botol, Sabu bisa tahan selama 2-3 hari jika tidak disimpan dalam kulkas dan bisa tahan 2 minggu jika disimpan di kulkas.

Selain sambal aneka buah, Arra Kitchen juga memproduksi ayam panggang blondo dan siomay dimsum. Arra Kitchen sendiri kini salah satu UMKM binaan Pusat Layanan Usaha Terpadu Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sleman dan diikutkan dalam Festival UMKM Sembada 2019 ini.

Adanya Festival UMKM Sembada menjadi motivasi bagi Arra Kitchen agar bisa mengenalkan produknya sehingga bisa dikenal masyarakat. “Agar masyarakat lebih mengenal aneka sambal buah, ke depannya biar lebih berkembang dan kami ingin punya pabrik,” pungkas Mela.(Rep Anis)




Pentingnya Pelaku UMKM Miliki Website Sendiri

Sleman – Para pelaku usaha UMKM perlu memperhatikan pangsa pasar di dunia digital. Pasar digital merupakan pasar yang jangkauannya luas sehingga memiliki peluang yang sangat besar untuk pengembangan suatu usaha.

Inilah yang menjadi pesan penting yang disampaikan Surgana, seorang pengusaha tas kertas ketika menjadi pembicara pada Talkshow Banjir Rezeki di Era Digital di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Jumat (25/10/2019). “Karena pasar digital itu merupakan pasar pasti (sure market),” ungkapnya mengenai market place digital.

“Jadi pengalaman saya, dulu awal saya menjalankan bisnis tas kertas ini, saya langsung membuka toko online. Saya memanfaatkan yang namanya Search Engine Optimization (SEO). Saya langsung membeli suatu domain () untuk memposting hasil karya sederhana tas kertas saya. Tidak berapa lama, langsung ada pelanggan yang menelepon,” cerita pria lulusan Sastra Arab ini mengenai usahanya.

Surgana mengakui, banyak calon pelanggannya yang bahkan berasal dari luar negeri yang kemudian menjadi pelanggan tetapnya melalui internet. “Bahkan, belum lama ini saya dapat pesanan dari Doha Qatar ada yang memesan 100 juta paperbag, dengan kisaran omset milyaran rupiah. Ini semua berasal dari website,” akunya.

Surgana menyarankan bagi para pelaku UMKM untuk mempunyai website sendiri sebagai lapak online mereka. “Jangan ketika kita baru usaha, kita memilih fasilitas-fasilitas start up sebagai wadah lapak kita. Karena di sana, mayoritas pemainnya sudah pemain besar, jadi dengan mudahnya mereka menawarkan harga yang murah dengan kualitas yang bagus. Sementara kita yang baru buka usaha, tidak bisa seperti itu,” ia menekankan.

Oleh karena itu, para pelaku UMKM perlu memiliki tempat tersendiri ketika ingin bersaing melalui jalur digital. “Lebih baik buka website sendiri. Kita bisa mematok harga yang sesuai dengan keinginan kita, tidak terpengaruh dengan pesaing lainnya yang mematok harga yang sangat rendah,” tambahnya.

Surgana juga menyoroti kecenderungan para pelaku UMKM yang tidak memiliki rasa percaya diri terhadap usahanya. “Banyak para pelaku UMKM baru yang tidak percaya diri dengan produknya, sehingga menjualnya dengan harga yang rendah. Hentikan kebiasaan tersebut. Belajarlah untuk mengapresiasi diri kalian sendiri,” tutup Sugana.(Rep Faridz)