Bimtek Pembuatan Vlog Bagi Pegiat Informasi di Sleman

Sleman – Pandu Digital Kabupaten Sleman bersama Saka Kominfo dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) mengikuti bimbingan teknis (Bimtek) pembuatan vlog dan editing video hasil vlog yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Sleman, Minggu (27/10/2019) .

Kegiatan yang dilaksanakan di Laboratorium Komputer Dinas Kominfo Sleman ini menghadirkan narasumber pakar digital dari Sleman Creative Space, Dony Ignazio didampingi Yoga, sebagai mentor editing video.

Bimtek dibuka oleh Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Sleman, Noor Hidayati, didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik, Yudiarto Setiawan. “Di zaman digital ini, jurnalistik bukan hanya berupa tulisan saja. Namun, bisa berbentuk video untuk menyampaikan berita atau informasi kepada masyarakat. Sehubungan dengan itu, Dinas Kominfo Sleman mengadakan bimtek vlog bagi pegiat informasi yang berada didalam keluarga besar Kominfo Sleman,” tutur Noor Hidayati.

Sebelum peserta melakukan praktik membuat rekaman video, Dony Ignazio memberikan paparan mengenai tips pembuatan vlog bagi pemula agar hasil karya vlog lebih menarik dan tidak menyalahi dari segi artistiknya.

Dony menyampaikan, pengertian vlog adalah sebuah video yang mempunyai tema tertentu yang dikemas dalam konsep dokumentasi jurnalistik dan dimuat dalam sebuah website. Biasanya video vlog berisi tentang ketertarikan, opini maupun pikiran, hampir mirip dengan tayangan televisi, walaupun dalam proses pembuatannya tidak serumit pembuatan tayangan televisi.

“Vlog dapat dibikin menggunakan kamera maupun smart phone ditambah peralatan pendukung seperti tripod, gimbal, dan mic nirkabel untuk menghasilkan video yang kualitas gambar dan audionya bagus. Selain peralatan, perlu mempersiapkan tema dan materi vlog yang akan dibuat, serta menentukan lokasi pengambilan gambar yang disesuaikan dengan alur ceritanya,” ungkap Dony.

Setelah melakukan perekaman video di lapangan, peserta dibimbing untuk melakukan pengeditan dan penggabungan rekaman video menggunakan aplikasi Adobe Premiere Pro, serta mempertunjukkan hasil karya masing-masing kelompok peserta. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Ketoprak sebagai Media Pembelajaran Sejarah

Putri pertama Sri Sultan HB X, GKR Mangkubumi menyatakan
bahwa ketoprak memegang fungsi penting dalam pendidikan sejarah, utamanya
sejarah Kasultanan Yogyakarta. “Sebagian masyarakat sekarang lebih percaya
dan nyaman mempelajari sejarah melalui media pertunjukan  ketoprak daripada membeli atau membaca buku
sejarah. Karena itu seniman ikut bertanggung jawab atas materi seni yang
disajikan,” ujar GKR Mangkubumi saat acara gelar budaya di Tobong Brayut,
Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, Jumat (25/10/2019).

Pementasan ketoprak dalam gelar budaya di Tobong Brayut
mementaskan Lakon Ki Ageng Mangir yang diadopsi dari novel karya Pramoedya
Ananta Toer. Risang Yuwono sebagai penggagas dan penyelenggara acara menjelaskan
bahwa kebudayaan hadir untuk mempersatukan, bukan untuk memecah belah siapa
yang paling asli atau siapa yang paling pribumi. “Kisah Mangir kami
usahakan untuk menghapus jejak-jejak perpecahan dan bibit kebencian yang tumbuh
di antara asal-usul dan derik (klaim) keaslian yang digolong-golongkan,” terang
Risang Yuwono.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelestarian Pengembangan Adat
Tradisi Lembaga Budaya dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Eni Lestari Rahayu
menyampaikan pesan Ngarso Dalem (Sri Sultan HB X) tentang wacana perlunya mempelajari
pola pengembangan ketoprak seperti apa. Pembelajaran pola pengembangan ketoprak
ini kemungkinan akan dikomandani maestro ketoprak Bondan Nusantara bersama
tokoh-tokoh seni tradisi pertunjukan yang kompeten.

“Semoga ketoprak tonil atau tobong satu-satunya di Yogyakarta
ini bisa selalu pentas secara permanen, berkala, dan berkelanjutan. Kami sedang
mengusahakan agar di tobong ini dapat memperoleh peralatan musik gamelan,
sehingga di masa depan bukan lagi dari gamelan besi, namun jauh lebih
berkualitas adanya. Semoga kita bisa lestarikan terus,  karena siapa lagi yang akan melestarikan
kalau bukan kita,” jelas Eni Lestari.

Diprakarsai Dinas Kebudayaan DIY, pentas yang dihadiri
ratusan penonton yang memenuhi tobong itu juga didukung oleh sejumlah sponsor
dan dimeriahkan pembagian aneka doorprize seperti bebek, ayam, dan bibit
tanaman yang diperoleh secara swadaya untuk seluruh warga yang datang. (KIM
Ngaglik/Endarwati).




Festival UMKM Angkat Potensi Anak Berkebutuhan Khusus

Sleman – Festival UMKM Sembada
yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UMKM pada 24-25 Oktober 2019 memberikan
kesempatan bagi masyarakat untuk mempromosikan produk UMKM mereka. Banyak UMKM asli
Sleman yang memanfaatkan bazar ini untuk memperkenalkan UMKM merekla agar lebih
berkembang. Namun, uniknya ada peserta UMKM yang berasal dari kelompok
masyarakat khusus, yaitu dari Sekolah Luar Biasa (SLB), tepatnya SLB PGRI
Minggir yang berada di Balangan, Sendangrejo, Minggir, Kabupaten Sleman. Sekolah
Luar Biasa yang memiliki slogan SPAGI SEKOLAH HEBAT ini memanfaatkan Festival
UMKM Sembada ini sebagai wadah untuk membina keterampilan sosial bagi para
siswanya.

“Karena kan yang paling penting
bagi para anak difabel ini kesiapannya agar bisa masuk dunia kerja nantinya,
makanya keterampilan sosialnya harus dilatih,” ujar Eni Kusumawati, salah satu
Pembina di SLB Minggir ketika ditemui di stand pameran UMKM pada Jumat
(25/10/2019).

Eni menambahkan bahwa keikutsertaan
dalam acara pameran seperti festival UMKM ini sebagai latihan untuk anak-anak
berkebutuhan khusus agar mereka dapat terbiasa berinteraksi dan bersosialisasi
dengan masyarakat lainnya.

“Ini keikutsertaan yang pertama untuk
UMKM seperti ini. Mereka itu banyak yang memiliki skill yang bagus, tapi maunya
di sekolah saja, nyamannya di sekolah saja. Ke masyarakat itu kurang,” tambah
Eni.

SLB Minggir telah tiga tahun belakangan
ini memanfaatkan hasil karya dari anak-anak berkebutuhan khusus yang menjadi
siswanya untuk untuk dijadikan sebagai usaha UMKM. Anak-anak itu dibina untuk
membuat beberapa kerajinan tangan seperti merchandise dan keterampilan dari
botol, serta ada juga kerajinan membatik sebagai bentuk pelatihan untuk
anak-anak sendiri, agar nantinya memiliki skill dalam berkarya. Untuk
pembinaannya tersendiri, Eni mengungkapkan tidak terlalu susah. “Dibilang susah
sih enggak, tapi dibilang mudah juga enggak. Ya dibawa enjoy aja,” aku Eni.

Eni juga memberikan apresiasinya
ketika SLB Minggir diikutsertakan dalam acara festival UMKM Sembada ini. “Senang
bisa diajak. Bisa mengajarkan keterampilan sosial untuk anak-anak,” ujarnya.

Ia juga mengharapkan untuk ke depannya anak-anak berkebutuhan khusus seperti difabel ini lebih diberi ruang lebih untuk dapat terlibat dan berperan dalam kegiatan-kegiatan seperti festival UMKM ini. “Karena mereka itu sama seperti kita, hanya butuh kesempatan,” tutup Eni. (Rep Faridz)




Mewartakan Bencana dengan Perspektif Tangguh Bencana Sleman di Era Teknologi 4.0

Era industri 4.0 yang berbasis teknologi
informasi memberikan kesadaran baru tentang bagaimana penguasaan terhadap media
itu sangat penting, terutama dalam hal penanggulangan kebencanaan. Dalam
menghadapi situasi bencana, ketersedian data dan informasi yang tepat akan
menjadi sangat penting untuk melakukan pengurangan risiko (Disaster Risk Reduction).

Budi Santoso selaku Koordinator Divisi Pengurangan
Risiko Bencana MDMC PP Muhammadiyah menyampaikan paradigma terkait dengan
penanggulangan bencana yang mana saat ini telah berubah. “Sebelumnya dikenal
dengan respon bencana, namun saat ini telah terjadi perubahan melalui konsep
pengurangan risiko bencana maka dari itu peran jurnalistik tangguh bencana sangat
penting dalam era saat ini,” ungkap Budi pada Minggu (27/102019).

Peran jurnalistik dalam pengurangan risiko bencana
ini diamini oleh AR. Hartanto selaku Panitia Pelatihan bertema Mewartakan
Bencana Dengan Perspektif Tangguh Bencana LPB PDM Sleman. “Kesadaran ini
mendorong relawan penanggulangan bencana Muhammadiyah untuk mulai menulis topik
bencana serta pemahaman dan pemanfaatan akan pentingnya menulis tentang
kebencanaan dengan perspektif tangguh bencana,” tandasnya saat acara yang
didukung oleh UNISA (Universitas Aisyiyah) ini berlangsung.

Bertempat di Jalan Ring Road Barat Sleman
Yogyakarta, acara mengundang berbagai narasumber salah satunya Ariful
Amar, CEO . Aril memaparkan Generasi Y yang akrab dengan gadget
memerlukan treatment dan pendekatan yang sesuai dengan gelombang mereka. “Pengurangan
risiko bencana didekati dengan tayangan interaktif yang singkat namun
messagenya tersampaikan dengan jitu mengena,” pungkas Aril.

Acara ini dihadiri sekitar 70 peserta perwakilan sekolah dan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap kegiatan pengurangan risiko bencana. Acara menghasilkan kesepakatan untuk mulai berani menuliskan pengalaman tentang pengurangan risiko bencana di lingkungan masing-masing peserta. (Arif Hartanto)




Karnaval Budaya Modinan Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Gamping – Warga Padukuhan Modinan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman menggelar kegiatan karnaval dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda di Lapangan Kompi Kavaleri Serbu 2 Demakijo, Minggu (27/10/2019). Karnaval bertajuk Berkarya Untuk Bangsa ini menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer mengelilingi wilayah Desa Banyuraden.

Setelah melakukan pengibaran bendera start, Kepala Desa Banyuraden, Sudarisman menuturkan bahwa muda-mudi Modinan patut dibanggakan.

“Selain sebagai ajang berkreasi, kegiatan budaya ini juga sebagai alat menjalin kekompakan dan persaudaraan antar warga,” tuturnya.

Ketua panitia peringatan Hari Sumpah Pemuda Padukuhan Modinan 2019, Aldo Julian menambahkan, karnaval menampilkan potensi budaya warga setempat dan berbagai kreativitas seni yang dimiliki warga, antara lain jathilan, tarian tradisional, dan ogoh-ogoh.

“Karnaval yang berangkat dan berakhir di lapangan ini diikuti oleh warga Modinan dari berbagai usia dan profesi yang didukung oleh Pemerintah Desa Banyuraden,” kata Aldo.

Hal senada juga diungkapkan oleh Wahyu Lempox yang bertindak sebagai Ketua Pemuda Modinan. “Kegiatan ini rutin diadakan setiap dua tahun sekali. Ajang ini kami selenggarakan guna menumbuhkan semangat nasionalisme para generasi muda. Kita ajak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan budaya bangsa Indonesia, serta memperkuat persatuan dan kesatuan,” ungkapnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)