Dusun Mendiro Hadirkan Konsep Unik dalam Pemilihan Ketua Pemuda

Sleman – Dusun Mendiro, Sukoharjo,
Ngaglik, Sleman gunakan konsep unik dalam memilih Ketua Pemuda, Minggu
(13/10/2019).

 “Acara
pemilihan ketua pemuda ini baru pertama kali diadakan dengan model seperti ini,
mengawinkan demokrasi yang modern melalui pemungutan suara dengan budaya guyon
dan pastinya lebih bersahaja,” kata Yunanto, Ketua Panitia Pemilihan.

Dikatakan Yunanto, pada periode sebelumnya,
pemilihan ketua pemuda hanya melalui musyawarah dengan melibatkan pemuda
Mendiro saja.

“Kita ingin ketua yang baru ini
mempunya legitimasi yang kuat untuk persiapan kita menuju desa wisata, supaya pemuda
ini punya komitmen yang jelas karena sudah dipercaya oleh semua lapisan
masyarakat Mendiro baik pemudanya maupun orang tuanya,” jelas Yunanto saat
ditanya tujuan yang ingin dicapai melalui pemilihan dengan model yang berbeda
ini.

Menurut Yunanto, antusias warga sangat
luar biasa, seluruh elemen masyarakat mendukung acara ini. “Sampai-sampai
masyarakat membantu dari segi finansial berupa urunan dan tanpa bantuan itu
acara ini mustahil untuk diadakan,” pungkasnya.

Sebelumnya, PPKP (Panitia Pemilihan
Ketua Pemuda) yang terdiri dari 7 orang telah dibentuk untuk membantu
mensukseskan acara pemilihan ini. Adapun rangkain acaranya dibuat dengan sangat
menarik. Pertama, para calon ketua beserta pendukungnya berkumpul di Juko, lalu
diarak menuju Pasar Serum dengan teriakan yel-yel dari masing-masing calon.
Kedua, bakal calon menyampaikan visi misi di depan umum, setelahnya pencoblosan
pun dimulai.

Adapun data untuk pemilih tetap dan
pemilih sementara sudah dipersiapkan secara matang oleh panitia PPKP. Ada
batasan yang sudah ditentukan untuk bisa menggunakan hak suaranya melalui
pencoblosan, seperti mempunyai KTP dan berdomisili di Mendiro serta yang sudah
ber-KTP Mendiro tetapi tidak berdomisili di Mendiro.

Hal unik dari pemilihan ketua pemuda
terlihat dari sisi umur pemilih. Warga berusia 14 tahun sudah memiliki hak
suara dalam pemilihan ketua pemuda ini.

“Kita ikut sertakan usia 14 tahun yang
artinya di bawah umur sesuai KTP (17 tahun), tujuannya sebagai pembelajaran
bagi pemilih pemula serta sebagai pembelajaran untuk pemilihan ketua pemuda
desa selanjutnya agar tidak timpang tindih terlalu jauh,” ucap Yunanto.

Salah satu warga mengungkapkan harapan ke
depannya untuk ketua pemuda, yakni dapat menjadi agen perubahan menuju desa
wisata. “Saya berharap nantinya pemuda berfokus pada publikasi dan arus
informasi promosi yang kuat menuju desa wisata. Selain itu, seperti kegiatan
pembersihan lingkungan yang dilakukan 1 bulan sekali, mengelola IPAL (Instalasi
Pengelolaan Air Limbah), mengelola kafe limbah sekaligus menjaga budaya rapat
rutin dapat diteruskan kedepannya,” kata Suron. (Rep Bilal)




Akalpa, Tonjolkan Keunikan Kayu Kokka pada Produk Jam Tangan

Sleman
– Berawal dari sebuah obrolan bersama temannya yang baru pulang dari Kairo,
Khoiruzzad (29) mendapatkan ide untuk menghasilkan sebuah produk khas, yang
unik dan susah ditemukan. “Jadi waktu ngobrol-ngobrol sama teman-teman, nah
disitu aku kepikiran. Kan lagi banyak ya produk-produk yang pembuatannya itu
dari kayu, pakai kayu impor. Nah kenapa kita gak bisa seperti itu juga,”
ujar pria yang biasa disapa Izzad ketika ditemui di rumah produksi usahanya di
daerah Godean, Kamis (10/10/2019).

Saat
itulah dia bersama temannya menemukan sebuah ide untuk mengembangkan suatu
produk, yang saat ini dikenal dengan brand Akalpa, sebuah brand kerajinan
tangan khas terbuat dari kayu.

Akalpa
sendiri berfokus pada jam kayu sebagai produk andalannya. Uniknya, bahan dasar jam
adalah kayu kokka. Kayu kokka sendiri merupakan kayu yang hanya bisa didapatkan
di benua Afrika saja. Kayu ini hanya bisa didapatkan setiap periode 50 tahun.

“Selain
itu, bahan kokka ini katanya bermanfaat juga untuk kesehatan kita, sudah ada
penelitiannya,” jelas Izzad mengenai alasan pemilihan kayu kokka sebagai bahan
dasar usaha kerajinannya. Pun, ia bercerita bahwa bahan kokka ini telah ada
sejak zaman nabi dan menjadi bahan dasar untuk perahu Nabi Nuh dan untuk
tongkat Nabi Musa.

Izzad
membeberkan, nilai jual utama dari jam tangan produksinya selain dari bahan
dasarnya kokka, adalah motif jam yang dihasilkan. “Karena kan setiap kokka itu
dibelah, mempunyai alur yang berbeda-beda, itu nanti menjadi motifnya. Jadi
setiap masing-masing jam pasti memiliki motif yang berbeda,” tukasnya. Kesan
berbeda juga bisa didapat dari konsumen yang diperbolehkan menambahkan nama
mereka di produk yang akan mereka beli.

Izzad
juga menjelaskan bahwa konsumen tidak perlu mengkhawatirkan ketahanan produknya
karena telah terjamin, “Bahan kokka ini keras banget, waktu awal mau dipotong
dicoba pakai gergaji biasa, malah gak kuat gergajinya. Harus menggunakan
gergaji besi atau gergaji mesin,” ungkap Izzad, sambil memperlihatkan bahan
kokka tersebut.

Untuk
penjualannya, produk Akalpa ini bisa dipesan online melalui Instagram, dengan
nama akun akalpaofficial. Sementara untuk toko offline sendiri, Izzad mengakui
bahwa mereka belum mempunyainya. Namun, para konsumen bisa melihat
produk-produk Akalpa di Galeri Upakarti Sleman, di lantai 1 Dinas Perindustrian
dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman. Selain itu produknya bisa
dilihat di The House of Raminten yang berada di Jalan Kaliurang Km. 16.

Konsumennya
sendiri kata Izzad mayoritas berasal dari Pulau Jawa, dengan pembeli terbanyak
dari Jakarta. Harga satuan produknya berkisar antara Rp sampai dengan
Rp , tergantung dari bentuk motifnya.

Dalam
pengembangan usaha kerajinannya, Izzad menyinggung kontribusi Rumah Kreatif
Sleman (RKS), Dinas Perindag Sleman. Ia mengakui bahwa Rumah Kreatif Sleman
memiliki andil yang cukup besar dalam pengembangan usahanya. “Jadi awalnya
dapat ide itu, saya masih bingung langkah selanjutnya itu apa. Terus saya
langsung daftar ke Rumah Kreatif Sleman, itu pada tahun 2017,” aku Izzad.

RKS
kemudian memberikan bimbingan untuk mengembangkan usahanya. Bantuan-bantuan
yang diberikan antara lain berupa edukasi mengenai pemasaran, memberikan
pelatihan dan seminar, seperti pelatihan mengenai market plus dan penggunaan
media sosial. Selain itu, RKS juga memfasilitas Akalpa untuk mengikuti acara
pameran. “Bahkan kemarin ini sampai ikut pameran ke Korea lho mas, dari RKS
menawarkan. Laku juga disana produknya, unik kalo kata orang sana,” tutup Izzad.
(Rep Faridz)




Tambah Frekuensi Latihan, Dojo Donoharjo Siap Hadapi Kejurda 2019

Ngaglik
– Menghadapi laga di Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2019, Karate Tunas Bangsa (KTB)
Dojo Donoharjo gencar melaksanakan persiapan di antaranya dengan meningkatkan
frekuensi latihan dari yang semula 2 kali menjadi 3 kali seminggu.

Dikatakan
Senpai Eko, Pelatih Karate Dojo Donoharjo saat ditemui seusai latihan di Aula
Balai Desa Donoharjo, Ngaglik, Sleman pada Minggu (13/10/2019), hal dilakukan agar
para atlet menampilkan semangat dan performa terbaiknya saat pertandingan
nanti.

Kejurda
INKANAS (Institut Karatedo Nasional) 2019, lanjut Eko, akan dilaksanakan pada Sabtu
(9/11/2019) bertempat di Gelora Olahraga (GOR) Klebengan, Depok, Sleman. Acara
yang digelar oleh FORKI (Federasi Olah raga Karate Indonesia), perguruan
INKANAS DIY beserta Polisi Daerah (Polda) DIY ini memperebutkan piala Kapolda
dan beberapa penghargaan bergengsi lainnya.

Kejurda
karate tersebut adalah kegiatan rutin tahunan yang diikuti oleh atlet karate di
bawah naungan perguruan INKANAS yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di
wilayah DIY sehingga diperlukan persiapan fisik, teknik, dan mental yang lebih
memadai.

“Dojo
Donoharjo saat ini memiliki lebih dari 100 kohai dengan rentang umur 5-20 tahun,
pada Kejurda nanti akan menurunkan 23 atlet terbaiknya dengan ambil bagian di
kumite (tanding) dan kata (seni). Kita berharap mendapatkan penghargaan di
setiap nomor yang dipertandingkan,” kata senpai Eko.

Senpai
Eko berharap olah raga bela diri asal Jepang ini akan semakin digemari khalayak
luas terutama para kawula muda dengan harapan semakin terwujud generasi yang
kuat, berani, tangguh, disiplin, dan jujur.

“Dengan
keikutsertaan di event bergengsi ini diharapkan dapat melihat potensi para
atlet dengan harapan melahirkan atlet karate berprestasi yang dapat
mengharumkan nama daerah,” imbuhnya. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)




Baitul Arqom PCA Turi Kenali Tantangan Dunia Pendidikan

Semangat
38 peserta mewarnai gelaran acara Baitul Arqom PCA Turi pada Sabtu (12/10/19)
hingga Minggu (13/10/19). Hj. Kusmiyati, Ketua PCA Turi menyampaikan tujuan
diadakannya Baitul Arqom ini adalah untuk memperkuat ideologi, menanamkan nilai-nilai
akidah dan ibadah, memperkuat semangat, serta menjadi tambahan wawasan kemuhammadiyahan
dan profesionalisme bagi guru TK ABA/PAUD sebagai pendidik anak bangsa.

Hal
senada diungkap Hj. Titik Sihyati selaku Ketua Panitia sekaligus MOT (Master of
Trainer), yang berharap acara ini mampu mengangkat kualitas diri para guru TK
ABA/PAUD se-Turi.

“Baik
dari segi spiritual maupun profesionalisme dan terutama mampu menjadi pendidik
yang bisa menanamkan nilai akidah dan bekal bagi generasi penerus dalam era
emas tumbuh kembang anak,” tutur Titik.

Acara
yang berlangsung di Kawasan wisata Kaliurang ini dihadiri unsur pimpinan PDA (Pimpinan
Daerah Aisiyah) dan PDM (Pimpinan Daerah Muhammadiyah) Sleman serta PCA
(Pengurus Cabang Aisiyah) dan PCM (Pengurus Cabang Muhammadiyah) Turi.

Peserta
pelatihan diberi berbagai materi terkait akidah, fikih thoharoh
implementasi pendidikan keluarga sakinah, pun etos kerja guru untuk generasi
berkemajuan yang disampaikan oleh pemateri dari PDM dan PDA Sleman.

Tidak
lupa untuk meningkatkan kekompakan, kerjasama, dan konsentrasi, peserta diberi
kesempatan mengikuti senam dan outbond bersama tim motivator. Kegiatan ini diharapkan
mampu melatih kreativitas guru dan memberikan inspirasi pembelajaran di luar
kelas sehingga menghadirkan pola belajar yang lebih kreatif pula. (Arif
Hartanto)




41 Negara Pelajari Budaya Sleman di Java Summer Camp 2019

Sleman – Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman kembali mengadakan acara Java Summer Camp (JSC) pada tahun 2019 ini. Ini adalah kali kedelapan acara ini digelar, dimana penyelenggaraannya berlangsung selama 3 hari, yaitu tanggal 11-13 Oktober 2019. Pada kesempatan kali ini, acara mengambil tema “Immersion Culture” atau “Peleburan Budaya”.

Aris Herbandang, Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dispar Sleman menjelaskan pemilihan tema tersebut didasari dari rangakaian kegiatan JSC yang dilakukan. “Jadi sebagai wadah peleburan berbagai perbedaan para peserta JSC untuk bersama-sama mengenal kondisi geografis dan budaya Kabupaten Sleman,” ujar pria yang akrab dipanggil Bandang ini.

Bandang juga menambahkan JSC ini bertujuan untuk mengenalkan potensi destinasi pariwisata dan kebudayaan di Sleman sekaligus mengenalkan keistimewaan Yogyakarta sebagai bagian dari miniature Indonesia. “Juga sebagai media rekruiting agen informasi sekaligus promosi tentang Sleman,” terangnya ketika ditemui saat Java Summer Camp di Desa Wisata Kelor, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Minggu (13/10/2019).

Pada tahun ini, kegiatan JSC diikuti oleh 250 peserta, dimana 97 orang berasal dari 41 negara, antara lain negara-negara eropa seperti, Austria, Belanda, Belgia, Hongaria, Jerman, Belarusia, Inggris, Yunani, Polandia, Portugal, Rusia, Azerbaijan, Turki dan Slovakia. Ada juga negara-negara benua Afrika seperti, Kamerun, Kongo, Nigeria, Madagascar, Mali, Gambia, Ghana, Sierra Leone, Tanzania, dan Zimbabwe. Tidak ketinggalan juga negara-negara Asia seperti Afghanistan, Tajikistan, Bangladesh, Pakistan, Palestina, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Thailand, Laos, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Vietnam dan Mexico sebagai satu-satunya perwakilan dari benua Amerika. Untuk 153 peserta lainnya berasal dari berbagai daerah kabupaten kota.

Selama tiga hari acara, para peserta melakukan berbagai macam rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di dua tempat, yaitu area perkemahan Candi Banyunibo, dan Desa Wisata Kelor, Turi, Sleman. Rangkaian kegiatannya adalah pelatihan (workshop) Shiva Plateu (sejarah keberadaan candi-candi), pelatihan membatik, pelatihan menari dan membuat jaranan (kuda-kudaan) dari pelepah daun salak.

Selain itu ada juga kegiatan kunjungan ke Rumah Dome, Candi Kedulan, Museum Gunung Merapi, dan juga menyaksikan proses pembuatan jadah tempe di Sentra Jadah Tempe Kaliurang. Ada juga acara menyaksikan Sendratari Ramayana dan Jemparingan Mataraman. Rangkaian acara ditutup dengan menari Jathilan bersama yang diikuti oleh seluruh peserta dan panitia.

Acara Java Summer Camp kali ini terselenggara atas dukungan dari berbagai pihak, antara lain BUMDes Desa Bokoharjo, Polsek Prambanan dan Polsek Turi Sleman, Pengelola Desa Wisata Kelor, BPCB DIY, dan Polisi Pariwisata Sleman. Selain itu, ada juga dukungan dari Pemerintah Kabupaten Asmat Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, dan Saka Pariwisata Musi Banyuasin dengan secara khusus datang menjadi peserta JSC 2019. Tidak ketinggalan dukungan dari berbagai macam perguruan tinggi, diantaranya Institut Seni Indonesia, Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Negri Yogyakarta (UNY), Universitas Sanata Dharma, STIP Ampta, dan STIPRAM.(Rep Faridz)