Perusahaan Diminta Laporkan Hasil Penerimaan Tenaga Kerja

Sleman – Dinas Ketenagakerjaan
dan Transmigrasi DIY berharap perusahaan
aktif melaporkan hasil penerimaan
tenaga kerja selama jangka waktu 1 bulan terhitung setelah diadakannya Job Fair 2019.

“Pelaporan
hasil penerimaan tenaga kerja itu penting, mau satu orang atau tidak ada
seorang pun yang diterima harus ada pelaporan kepada kita. Karena hal ini bisa
jadi sebagai bahan evaluasi Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi DIY agar
adanya keberlanjutan. Jangan sampai perusahaan yang rajin ikut terus dalam job
fair
tapi nggak
pernah ngasih laporan,” ujar Tunggul
Bomoaji, Kepala Seksi
Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasaan Kesempatan Kerja Disnakertrans DIY saat memantau Job Fair 2019 di Universitas
Gadjah Mada (UGM), Sleman,
DIY, Selasa (8/10/2019).

Lebih lanjut, Tunggul menyampaikan bahwa upaya-upaya penyaluran
tenaga kerja terus dilakukan pihaknya, salah satunya melalui Job Fair ini. “Pelaksanaan
job fair ini merupakan upaya mempertemukan pencari kerja dengan pemberi
kerja secara langsung, lebih dari itu, tujuan diadakannya job fair ini
sampai pada memperhatikan penempatan tenaga kerja. Ada berapa sih pengunjung yang
mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

Job Fair ini terselenggara berkat kerjasama Universitas
Gadjah Mada, Kementerian Tenaga Kerja, dan Disnakertrans DIY. Ada 112 stanyang siap menerima tenaga
kerja, diisi perusahaan BUMN, nasional, dan multinasional yang
bergerak di berbagai sektor usaha antara lain, industri start up,
telekomunikasi dan teknologi informasi, perbankan, retail, agro industri, dan
jasa.

Tak lupa Tunggul menekankan sesuai
dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan,
penyelenggaraan job fair ini tidak dipungut biaya alias gratis bagi
pencara kerja.

Rifki
Ahmad, mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Islam Indonesia menyatakan adanya
job fair sangat membantu para pencari kerja untuk mendapatkan informasi
lebih lanjut karena
bisa secara langsung menanyakan kepada perusahaan yang diminatinya.

“Lebih membantu daripada
di website-website lowongan pekerjaan, kalo misalkan di website-website nggak bisa secara langsung, nggak tahu lebih banyak tapi
beda kalo job fair kita bisa tau lebih banyak dan lebih jelas,” pungkasnya.

“Job
Fair Career Expo
” yang mengusung tagline Be Hero For Your Life masih akan berlangsung pada
tanggal sampai 10 Oktober 2019, setiap harinya dibuka mulai
pukul di Grha Sabha Buana,
UGM. (Rep Bilal)




Job Fair 2019 Sediakan Lowongan bagi Difabel

Sleman – Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY menyelenggarakan Job Fair untuk memberikan peluang kepada para pencari lowongan dalam mendapatkan pekerjaan. Kegiatan ini bertempat di Grha Sabha Pramana Jalan Bhinneka Tunggal Ika No. 1, Bulaksumur, Depok, Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman dan dilaksanakan tiga hari berturut-turut mulai dari tanggal 8-10 Oktober 2019.

Pada Job Fair kali ini tercatat ada 112 perusahaan yang ikut meramaikan, mulai dari perusahaan swasta, BUMN hingga beberapa lembaga pendukung. Perusahaan yang ikut dalam Job Fair kali ini merupakan perusahaan yang sudah difilter berdasarkan kriteria yang dibutuhkan baik oleh Sekolah Vokasi UGM maupun dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY.

Menurut Tunggul Bomoaji, Kepala Seksi Pelindungan dan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Penempatan Kerja Disnakertrans DIY, salah satu kriteria perusahaan yang dibutuhkan dalam Job Fair ini adalah perusahaan yang memiliki lowongan untuk penyandang difabilitas karena berdasarkan ketentuan dari Kementerian Ketenagakerjaan setidaknya bagi perusahaan swasta harus menyediakan 1 persen lowongan untuk difabel dan 2 persen untuk BUMN.

Dalam Job Fair ini, terdapat 12 Perusahaan yang tercatat membuka lowongan untuk para penyandang difabilitas dengan 170 lowongan perkerjaan. Sampai dengan Selasa (8/10/2019) pukul 10, terhitung lebih dari 450 penyandang difabilitas yang sudah mendaftar secara online untuk ikut mendapatkan pekerjaan.

Salah satu stan yang menarik perhatian dalam Job Fair kali ini adalah Kerjabilitas. Kerjabilitas ini merupakan lembaga pendukung dimana ia berbentuk platform online yang menghubungkan para penyandang difabilitas dengan perusahaan atau penyedia kerja inklusi.

Kerjabilitas sebagai perantara sangat membantu para penyandang difabilitas untuk mendapatkan perkerjaan. Melalui Kerjabilitas, para penyandang difabel akan mendapatkan informasi lowongan perkerjaan, cara membuat CV yang baik, tips dalam wawancara, bahkan mereka akan diantarkan ke perusahaan yang secara langsung meminta untuk dicarikan pekerja difabel. Tidak sampai disitu, Kerjabilitas juga akan memantau terkait apakah ada yang diterima dan dimana ia ditempatkan.

Account Executive Kerjabilitas, Sella Monika mengungkapkan harapannya kepada perusahaan agar lebih peduli terhadap pencari kerja penyandang difabilitas. “Banyak sekali dari mereka juga memiliki latar belakang pendidikan tinggi bahkan sampai S2 yang mampu dan pantas mendapatkan pekerjaan,” ujar Sella saat ditemui di Job Fair.

Ditambahkan Sella, bukan hanya perusahaan yang harus peduli terhadap hak-hak difabilitas, sudah seharusnya juga tugas bagi kita semua untuk menciptakan ruang hidup yang inklusif dan menganggap mereka adalah orang-orang spesial. “Semoga adanya Kerjabilitas ini dapat membantu para penyandang difabilitas dimanapun untuk lebih mandiri dan berdaya,” pungkas Sella.(Rep Purnama)




Job Fair 2019 di UGM Gunakan Pendaftaran Online

Sleman – Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
kembali menyelenggarakan Job Fair pada tanggal 8-10 Oktober 2019, di Graha Saba
Buana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kabupaten Sleman, DIY. Ini merupakan kali
ketiga Job Fair dilaksanakan untuk periode tahun 2019, setelah sebelumnya  telah diadakan pada bulan Juli di UPN dan
September di UIN Sunan Kalijaga. Job Fair kali ini merupakan hasil kerja sama
antara Disnakertrans DIY bersama Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan
Vokasi UGM.

Yang menarik
pada Job Fair kali ini, adanya pemberlakuan sistem pendaftaran berbasis online melalui situs web
. Sistem pendaftaran secara online ini baru digunakan dalam Job Fair DIY periode tahun 2019 ,
dan telah mengalami perkembangan pada kali ketiga aplikasi ini digunakan
sebagai alat bantu pendaftaran para pencari kerja.

Tunggul Bomoaji,
Kepala Seksi Pelindungan dan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan
Kerja Disnakertrans DIY mengatakan bahwa sistem ini digunakan agar data para
pencari kerja di Job Fair tidak hilang. “e-Bursakerja ini sudah terkoneksi
dengan server dari kementerian langsung, sehingga data para pencari kerja
maupun lowongan kerja yang ada di Job Fair yang berlangsung di seluruh
Indonesia dapat didata dengan cepat,” jelas Tunggul ketika ditemui di Graha
Saba Buana UGM, Selasa (8/10/2019).

Ia juga
menegaskan bahwa dengan berlakunya sistem pendaftaran melalui laman web ini,
para pengunjung Job Fair tidak harus mengantre lama lagi ketika ingin
mengunjungi Job Fair. “Intinya, kami berharap bahwa dengan berlakunya sistem
ini, para pengunjung hanya membutuhkan “scan code” untuk masuk dalam Job Fair
ini, tidak butuh lagi antre-antre panjang untuk mengisi formulir sehingga lebih
efektif dan efisien.”

Pendaftaran Job
Fair secara online ini cukup mudah, para pencari kerja hanya perlu mengakses
laman . Setelah itu, muncul tampilan beranda dengan
beberapa pilihan. Para pencari kerja dapat melakukan pendaftaran dengan
meng-klik pilihan pendaftaran pencari kerja. Kemudian akan muncul formulir
registrasi yang berisikan kolom-kolom yang harus diisi oleh para calon
pengunjung Job Fair, seperti lokasi Job Fair yang akan dikunjungi, nomor induk
kependudukan, data diri, maupun pengalaman dan keterampilan yang dimiliki.
Setelah itu para pengunjung akan diminta untuk mengunggah beberapa berkas
seperti KTP, ijazah, foto, dan lamaran.

Penggunaan
sistem pendaftaran melalui web ini mendapatkan tanggapan positif dari
pengunjung Job Fair kali ini. Melia, salah seorang pengunjung menyatakan
apresiasinya, ”tentu sangat membantu ya bagi para pencari kerja, jadinya lebih
gampang aja,” aku Melia. Namun ia juga menambahkan ada kesulitan untuk
pengunjung yang misalnya belum lulus dan belum dapat ijazah, karena diminta mengunggah
ijazah saat mendaftar melalui laman web tersebut.(Rep Faridz)




Kembangkan UMKM, Sleman Raih Penghargaan Tertinggi Natamukti Nindya

Bogor – Pemerintah
Kabupaten Sleman menerima penghargaan Natamukti Award dengan kategori Natamukti
Nindya atas upayanya yang dinilai telah berhasil mengembangkan UMKM secara
komprehensif. Penghargaan yang diinisiasi oleh organisasi International Council
for Small Businnes (ICSB) ini disampaikan
oleh Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah RI yang diwakili Sekretaris Menteri Koperasi
dan UMKM Republik Indonesia Prof.
Rully Indarta didampingi Presiden ICSB 
Indonesia kepada Bupati Sleman, Sri Purnomo dalam puncak rangkaian acara
Galang UKM Indonesia 2019 di IPB
Convention Center, Kota Bogor,
Jawa Barat, Senin (7/10/2019).

Kabupaten Sleman merupakan satu-satunya kabupaten yang
menerima penghargaan dengan kategori Natamukti Nindya yang merupakan
penghargaan tertinggi dalam meningkatkan daya saing UMKM baik regional maupun
Internasional.

“Kami sangat
mengharapkan sinergitas antara pusat dan daerah serta konsistensinya para
pemangku kepentingan untuk selalu meningkatkan peran dan daya saing serta
tumbuh kembangnya UMKM di daerah, termasuk dukungan kebijakan permodalan, dan
perijinan,” ujar Prof. Rully Indarta, Sekretaris Menteri Koperasi
dan UMKM RI saat membacakan
sambutan Menteri Koperasi dan UMKM RI Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

Natamukti Award dibagi menjadi 3 kategori, yaitu Penghargaan
Natamukti, Natamukti Nindya Ganapravara, dan Natamukti Nindya. Penghargaan Natamukti
diberikan kepada kota dan kabupaten yang berhasil dalam memasarkan, mendorong
peningkatan kualitas, serta membangun ekosistem UMKM di daerahnya. Penghargaan
Natamukti Nindya Ganapravara diberikan kepada kota dan kabupaten yang telah
memenangkan penghargaan Natamukti Nindya di tahun sebelumnya dan berhasil
mempertahankan performa UKM-nya di tahun
berikutnya, sedangkan Penghargaan Natamukti Nindya merupakan penghargaan
tertinggi yang diberikan kepada kota dan kabupaten dalam meningkatkan daya
saing UMKM secara keseluruhan, baik di tingkat nasional bahkan internasional.

Pemberi
penghargaan ini adalah International Council for Small Business (ICSB), sebuah organisasi nirlaba
internasional yang didirikan
tahun 1955 dan bertujuan
mendukung pertumbuhan dan perkembangan usaha kecil dan menengah di seluruh
dunia yang pada gilirannya dapat memberikan dampak ekonomi dan sosial yang
positif bagi suatu negara. Organisasi ini mempertemukan para akademisi,
peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari seluruh belahan dunia yang
berfungsi sebagai empat pilar utama ICSB untuk berbagi pengetahuan dan
keahliannya di bidang masing-masing. Saat ini terdaftar 70 chapters di berbagai
negara yang telah menjadi anggota ICSB termasuk ICSB Indonesia sebagai salah
satu afiliasi yang dibentuk pada tahun 2015 lalu.

Sebagai penggerak roda perekonomian utama di Indonesia,
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi perhatian pemerintah dan lembaga
internasional saat ini. Peran pemerintah daerah dalam mendukung UMKM menjadi
pilar pendorong utama ekonomi lokal, selain juga kontribusi dari berbagai pihak
seperti praktisi bisnis, akademisi dan peneliti.

Sleman, sebagai penerima Natamukti Nindya, saat ini tercatat
memiliki UMKM. Pemerintah
Kabupaten Sleman melalui Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah terus berupaya
memberikan pendampingan, pelatihan, dan konsultasi bagi UMKM agar mereka bisa
meningkatkan kualitas produk, manajeman, dan pemasarannya. Tahun 2019 ini Dinas
Koperasi Usaha Kecil Menengah menargetkan peningkatan kualitas kelembagaan 130
UMKM dan lahirnya 200 wirausahawan baru.




Rumah Kreatif Sleman, Wadah UMKM Berbagi dan Konsultasi

Rumah
Kreatif Sleman adalah sebuah wadah bentukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kabupaten Sleman untuk memberikan bimbingan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah
(UMKM). Berdiri sejak pertengahan 2017, saat ini sudah sekitar UMKM yang
tergabung dan kurang lebih sepertiganya masih aktif mengikuti kegiatan baik
secara online (grup WA) maupun offline.

Kegiatan
offline yang diadakan yaitu setiap hari Jumat ada Kelas IKM Berbagi dengan
menghadirkan narasumber dari pelaku usaha yang sudah sukses agar bisa membagi
pengalamannya kepada anggota RKS lainnya. Selain itu setiap hari Rabu ada Forum
Group Discussion dan Kamis ada pelatihan Kelas Besar dan Kecil.

Selain
pelatihan, RKS juga memfasilitasi kebutuhan para pengembang UMKM dalam bentuk
konsultasi serta pendampingan. Bagi UMKM yang telah tergabung dalam RKS dan
ingin produknya bisa dipajang di Galeri Upakarti Sleman yang berada di Lantai 1
Gedung Disperindag bisa mendaftar terlebih dahulu dan akan dilakukan kurasi
oleh penyuluh.

Syarat
pokok untuk bergabung RKS adalah produksi usaha IKM (Industri Kecil Menengah)
berada di wilayah Sleman dan merupakan produk langsung bukan kulakan. “Untuk
persyaratan yang boleh ikut adalah tempat produksinya berada di Sleman,
merupakan produk sendiri dan kualitas bagus, kalau (produknya hasil) kulakan
tidak bisa diloloskan karena meskipun bagus tetap saja tidak bisa karena tujuan
kita adalah mengangkat IKM-IKM yang ada di Sleman”, ungkap Andi, surveyor RKS
saat ditemui, Senin (7/10/2019).

UMKM
dikelompokkan menjadi beberapa kategori tergantung dengan produk UMKM itu
sendiri, diantaranya fashion, aksessoris, craft, makanan, furniture, dan
baru-baru ini RKS memunculkan kategori produk jasa semisal bengkel alat-alat
elektronik dan pijat bayi.

Untuk
memasarkan produk UMKM, Disperindag juga membuat aplikasi Cari Aku agar
memudahkan wisatawan memperoleh informasi tentang lokasi UMKM. Aplikasi ini bisa
diunduh melalui ponsel Android, dan saat ini masih terus disempurnakan.(Rep
Anis)