Berburu Oleh-oleh Khas Sleman dengan Aplikasi Cariaku

Sleman – Pada Juli 2019 lalu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman telah meluncurkan sebuah aplikasi pendukung informasi publik mengenai hasil UMKM/IKM khas Sleman melalui aplikasi bernama Cariaku. Ini merupakan sebuah langkah yang dilakukan oleh Disperindag sebagai dukungan terhadap Kabupaten Sleman untuk menjadi Smart Regency, di mana salah satu indikasinya adalah kemudahan bagi publik untuk mendapatkan informasi.

Cariaku sendiri merupakan sebuah aplikasi yang memungkinkan para wisatawan baik yang berasal dari mancanegara maupun lokal untuk mencari dan mendapatkan informasi mengenai produk yang menjadi ciri khas Kabupaten Sleman sebagai oleh-oleh.

Produk-produk dalam
aplikasi Cariaku merupakan produk asli Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)
masyarakat Kabupaten Sleman yang terdaftar di Rumah Kreatif Sleman. Andi, salah
satu surveyor dari Rumah Kreatif Sleman menyatakan bahwa aplikasi ini sebagai
salah satu sumber informasi untuk turis-turis agar mudah mendapatkan info
mengenai oleh-oleh khas sleman.

“Nanti melalui aplikasi ini, akan ditujukan ke lokasi terdekat dari apa yang ingin dilihat,” terang Andi saat ditemui di Rumah Kreatif Sleman, Senin (7/10/2019). Ia juga menegaskan bahwa produk-produk IKM yang terdaftar merupakan produk terbaik dan asli dari masyarakat Sleman.

“Produknya telah melewati beberapa quality control agar kualitasnya terjamin karena kan membawa nama baik Sleman. Produk-produk yang masuk itu sudah lengkap semuanya, seperti izin usahanya, kalau untuk makanan sudah lolos segala ujinya, maupun juga produknya itu harus terpercaya dan memiliki visi yang jelas. Takutnya kan kalau visinya tidak jelas, nanti produknya udah terdaftar, eh waktu dicari sudah tidak ada di lokasi,” tambahnya.

Aplikasi Cariaku telah tersedia di Google Playstore, dan telah dapat diunduh bagi pengguna Android. Tampilannya sederhana dan user friendly sehingga para pengguna tidak akan kesusahan dan bingung ketika menggunakannya untuk pertama kali.

Setelah aplikasi dibuka,
pengguna akan disajikan pilihan kategori produk yang ingin dicari. Kategorinya antara
lain dari Makanan dan Minuman, Batik, Kerajinan, Fashion, Dekorasi Rumah, dan Oleh-oleh
Khas Sleman.

Pengguna tinggal mengetuk
gambar kategori untuk menentukan kira-kira ingin mencari apa, seperti ketika
ingin mencari batik, hanya dengan mengetuk gambar batik pengguna akan diarahkan
ke pilihan-pilihan produk batik yang ditawarkan oleh UMKM dari Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman berupa kain batik, maupun produk
jadi seperti tas maupun dompet. Begitu juga dengan kategori lainnya yang bisa
digunakan untuk mencari pilihan-pilihan yang ditawarkan dari kategori tersebut.

Ketika telah mendapatkan
pilihan produk yang menarik, pengguna bisa langsung mengetuk gambar produk yang
tersedia untuk mengetahui informasi detail mengenai produk tersebut yang berisi
tentang deskripsi singkat produk, alamat toko, jam operasional, info kontak
yang dibutuhkan untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai produknya
lengkap dengan peta lokasi.

Selain melalui kategori, para pengguna juga dapat memanfaatkan pilihan lokasi terdekat untuk mengetahui pilihan-pilihan produk, yang lokasinya berdekatan dengan lokasi pengguna. Hal ini sangat memudahkan bagi para pengguna yang tidak memiliki ide ketika akan membeli oleh-oleh khas Sleman untuk dibawa ke daerah asal mereka. Sama dengan pilihan kategori, pilihan menu ini telah terkoneksi langsung dengan google maps sehingga memudahkan untuk pencarian lokasi.

Selain itu ada juga pilihan menu lokasi searah, yang dapat digunakan pengguna yang telah menentukan rute dari perjalanan sehingga tidak membuang waktu untuk berkeliling lagi mencari oleh-oleh.

Melalui Aplikasi Cariaku ini, UMKM Sleman memiliki wadah untuk mempromosikan produk-produk andalan mereka sehingga usaha mereka dapat berkembang untuk lebih besar lagi. Saat ini, aplikasi ini masih terus dikembangkan untuk semakin memudahkan pengguna. (Rep Muhammad Faridz Maulana)




Temu Antar Pegiat PIK R di Bukit Klangon

Cangkringan
– Mengusung tema “Berkembang Bersama Pusat Informasi dan Konseling
Remaja, Menjadi Millenial yang Kreatif, Inovatif, dan Mandiri”, PIK R (Pusat Informasi & Konseling
Remaja) Se-Kabupaten Sleman berkumpul dalam gathering di
Pendopo Wisata Alam Bukit Klangon, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (6/10/2019). Kegiatan ini
diikuti oleh semua PIK R yang ada di Kabupaten Sleman, baik itu PIK R tingkat kecamatan
ataupun tingkat dusun.

Yang
istimewa, acara ini bertepatan dengan ulang tahun ke-10 PIK R Lentera
Merapi Kecamatan
Cangkringan yang ditandai dengan pemotongan tumpeng. Hanafi, Ketua
Forum PIK R Kabupaten Sleman menyampaikan selamat kepada PIK R
Lentera Merapi atas ulang
tahunnya yang ke-10.

“PIK R
Lentera Merapi ini sebagai PIK R
tertua di Sleman. Harapannya
Lentera Merapi bisa menjadi panutan bagi PIK R di kecamatan lain dan menjadi pusatnya remaja di
Cangkringan, baik itu konsultasi masalah kesehatan reproduksi
ataupun lifeskill-nya,” kata Hanafi.

Turut hadir
dalam kesempatan ini adalah Pemerintah Kecamatan Cangkringan, penyuluh KB, Perangkat Desa
Glagaharjo, Puskesmas Cangkringan, dan Babinkamtibnas Desa Glagaharjo. Kegiatan diisi dengan penampilan tari, outbound, penampilan musik dari
tiap-tiap perwakilan, dan pemberian
materi oleh Edward Theodorus selaku Inisiator program pendidik sebaya dan kedua MYA Rozzaq dari Aisthesis CreativeSpace.

Gathering seperti ini rutin diadakan
oleh Forum PIK R Kabupaten
Sleman. Ajang bertemunya remaja pegiat konseling remaja ini diselenggarakan setiap dua
bulan dengan tempat yang berpindah-pindah antar kecamatan di Sleman, dan acaranya
bisa dikemas sesuai dengan kondisi tuan rumah. (KIM Cangkringan/Sumarno)




Pentingnya Literasi Keuangan dalam Keluarga

Ngaglik – Himpunan Mahasiswa (Hima) Akuntansi Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY) bekerjasama dengan Pemerintah Desa Sukoharjo dan
Perpustakaan Generasi Sukoharjo Cerdas (GSC) melaksanakan aksi untuk negeri di
Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Sabtu (5/10/2019).

Aksi untuk negeri ini merupakan bentuk pengabdian masyarakat
oleh mahasiswa. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengembangkan keilmuan
program studi akuntansi untuk masyarakat sehingga bisa diaplikasikan di
kehidupan sehari-hari.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan Hima Akuntansi UNY
adalah talkshow dengan topik Literasi Keuangan yang membicarakan pengelolaan
keuangan di dalam keluarga dengan narasumber Dr. Ratna Candrasari, SE., .,
Ak sebagai Dosen Akuntansi UNY. Ratna menyampaikan bahwa keuangan itu pada
dasarnya cukup untuk hidup tetapi tidak cukup jika untuk menuruti gaya hidup
manusia.

“Semakin tinggi pemasukan maka tingkat pengeluaran yang akan
dikeluarkan akan semakin banyak pula, hal ini karena pada dasarnya sifat
manusia adalah bentuk suatu keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ulas
Ratna.

Dipaparkan Ratna, pengendalian diri dalam memanajamen keuangan
bisa dimulai sejak anak usia dini yaitu 3-7 tahun. Pada umur tersebut anak bisa
diajarkan bagaimana cara untuk menekan keinginan sepintas yang ada di dalam
dirinya. Jika pada masa emas tersebut anak dapat dididik secara baik maka
pengelolaan di masa dewasanya akan baik pula. 

Faktor lain yang dapat menjadikan masayarakat boros dalam
manajemen keuangan adalah pada pembiayaan yang boros kecil, maksudnya disini
adalah pengeluaran kecil-kecil yang tidak terlalu dibutuhkan sehingga
menjadikan pengeluaran menjadi banyak. Untuk meningkatkan perekonomian,
masyarakat dapat beinvestasi mulai saat ini untuk bekal di masa depan. Dengan
berinvestasi maka masyarakat secara tidak langsung dapat menabung untuk
persiapan kebutuhan di masa yang akan datang seperti halnya investasi emas,
menabung sedikit demi sedikit, serta mengurangi pinjaman yang sekiranya tidak
terlalu mendesak.

Perencanaan keuangan keluarga merupakan suatu pengelolaan
keuangan oleh keluarga untuk mencapai tujuan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
keluarga. “Dengan merencanakan keuangan di keluarga maka, setiap keluarga dapat
menahan suatu keinginan yang tidak terlalu penting dengan memilih suatu
kebutuhan yang benar-benar sangat dibutuhkan,” tambah Ratna.

Dengan adanya literasi keuangan harapannya adalah masyarakat
akan semakin cerdas dalam memanajemen keungan keluarga, hal ini merupakan kunci
keluarga di Indonesia sehingga masyarakat siap untuk menghadapi goncangan
krisis ekonomi, tahan terhadap gempuran gaya hidup konsumtif karena
liberalisasi perdagangan, serta serta siap menghadapi godaan utang dan riba. (KIM
Sukoharjo/Nur)




Layanan Gojek Dukung Smart Regency Pemkab Sleman

Pemerintah Kabupaten Sleman menerima audiensi dari PT Aplikasi Anak Bangsa Gojek perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta di Smart Room Dinas Komunikasi dan Informatika, Kabupaten Sleman, Jumat (4/10/2019). Kabupaten Sleman dipilih karena PT Aplikasi Anak Bangsa GOJEK melihat pemerintahnya memiliki potensi untuk bisa berkolaborasi dalam mewujudkan smart regency (kabupaten cerdas).

“GoJek berkembang dari tahun 2010 yang saat
itu masih di dalam negeri hingga sekarang bisa sampai ke luar negeri seperti Thailand,
Vietnam, dan Singapura. Mimpi besar GOJEK adalah menyediakan kecepatan, inovasi,
dan migunani (berguna). Semua produk
bisa berguna untuk masyarakat dari sisi apapun,” papar Syaiful, Hubungan Pemerintahan
DIY-Jateng Gojek.

Dalam audiensi ini, Syaiful memaparkan beragam layanannya yang bisa dikolaborasikan dengan program Pemerintah Kabupaten Sleman. Misalnya GoGlam (layanan kecantikan), GoFood (layanan pemesanan makanan), GoMassage (layanan pemijatan), GoClean (layanan membersihkan rumah), dan GoAuto (layanan montir) yang mendukung smart economy dan punya potensi dikolaborasikan dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian penduduk dan Keluarga Berencana dan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah.

Selanjutnya ada GoCar (layanan transportasi
penumpang dengan mobil) dan GoRide (layanan transportasi penumpang dengan
sepeda motor) yang bisa bersinergi dengan Dinas Perhubungan, Dinas Pendidikan,
dan Dinas Kesehatan dalam mewujudkan mobilisasi.

Adapun Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan
dan Dinas Komunikasi dan Informatika yang mengusung smart living dan smart
branding
, Gojek menawarkan GoPay (layanan pembayaran digital) dan GoTix
(layanan penjualan tiket). Selain itu Gojek masih punya GoBills (layanan
berbagai pembayaran) yang mendukung smart
governance.

Sejauh ini, Gojek menyatakan telah memberikan
dampak bagi Yogyakarta dalam bentuk rata-rata pendapatan pengemudi di atas UMK,
jumlah mitra GoFood di Sleman sudah mencapai angka ribuan, ratusan mitra GoTix dengan
rentang usia 17-55 tahun, serta ramah untuk mitra Gojek yang difabel.

Mae Rusmi, Sekretaris Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Kabupaten Sleman memaparkan bahwa beberapa PKL (pedagang kaki
lima) dan 4 pasar sudah pernah melakukan koordinasi dengan Gojek seperti Pasar
Gentan, Cebongan, Ngijon, dan Kalasan. Di Pasar Gentan sudah ada shelter untuk
penumpang yang mau naik Gojek namun perlu diperbaiki kembali dengan diberi
papan petunjuk info, pelatihan marketing, dan peningkatan kapasitas pedagangnya
yang tujuannya agar pasar tradisional bisa diminati oleh kaum millenial.

“Untuk GoMart bisa dilakukan namun perlu
adanya penjajakan terlebih dahulu dengan pedagang yang bisa diikutkan. Keuntungan
dengan GoMart pasar memang menjadi sepi tapi transaksi tidak sepi, pasar jadi
bersih karena tidak semua orang masuk, keamanan lebih gampang, timbal balik
banyak tapi saat ini itu masih berjalan pelan,” ujar Mae Rusmi.

Sedangkan GoMassage yang menawarkan spa disebut
sangat prospektif di Sleman karena wisatawan datang dalam kondisi capek, namun kadang
layanannya tidak memuaskan, maka perlu ada sertifikasi atau standar layanan.
Selain itu terkait GoRide dan GoCar keluhan wisatawan adalah wisatawan yang
berlibur ke daerah pingggir Sleman seperti Kaliurang dan Cangkringan bisa
berangkat dengan mudah, tapi pulangnya sulit mendapatkannya sehingga perlu
dilakukan pemetaan di titik perbatasan desa dan kota dengan mendirikan shelter
Gojek

Eka Suryo Prihantoro, Kepala Dinas
Komunikasi dan Informatika turut memberikan tanggapan terkait dengan kolaborasi
dengan Gojek ini. “Nantinya tetap harus berkonsultasi untuk mendapatkan izin
dari atasan, dan  ke depannya akan
mengundang Gojek kembali untuk bertemu dan membahas MoU bersama Bupati Sleman,”
pungkas Eka.(Rep Anis)




Membangun Mental Spiritual dengan Praktik Pengabdian Masyarakat

Ngaglik – Keberhasilan pembangunan suatu negara bukan  saja ditentukan oleh pembangunan fisik semata tetapi juga pembangunan mental spiritual. Upaya membangun mental spiritual ini salah satunya dilakukan Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran dengan menerjunkan mahasiswanya untuk mengabdi di tengah masyarakat dalam kegiatan bernama Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM).

Tahun ini,
sekolah tinggi yang beralamat di Kabupaten Sleman ini
menerjunkan mahasiswanya di Desa Donoharjo,
Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. “Pada tahun 2019 ini penyelenggaraan PPM adalah yang
kelima kalinya, dengan harapan para mahasiswa mampu menjadi motor penggerak
kegiatan sosial keagamaan sekaligus mengabdi di 
tengah-tengah masyarakat,” tutur
Heri Supriyanto,
koordinator PPM di Padukuhan
Suruh, salah satu lokasi PPM, Jumat (3/10/2019).

PPM yang diterjunkan di desa Donoharjo terdiri dari 3 kelompok yang ditempatkan di Padukuhan Brengosan, Kayunan, dan Suruh. Mahasiwa yang terjun ke masyarakat ini berasal dari lintas program studi semisal Pendidikan Bahasa Arab, Ilmu Alquran dan Tafsir, Ilmu Tasawuf, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, dan Komunikasi Penyiaran Islam.

Program yang dilaksanakan selama 40 hari ini diisi dengan berbagai macam kegiatan diantaranya mujahadah rutin Rattib Al Haddad setiap hari Selasa, senam pagi di hari Minggu, pengetahuan fiqih wanita, majelis Yasin, kesenian hadrah, pembaharuan sistem TPA/Taman pendidikan Alquran baik mengenai kurikulum, kepengurusan beserta program kegiatannya, kajian parenting Cara Mendidik Anak Menurut Ajaran Islam, serta wisata religi dengan mengunjungi makam wali ke Semarang, Demak dan Kudus.

“Pelaksanaan PPM tidak terlepas dari visi keilmuan khodimul ilmi yang mewajibkan menuntut ilmu dimanapun dan kapan pun dan visi khodimul umat yang mengharuskan manusia menjaga keutuhan dan kebersamaan. Dengan kata lain selain ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah, mahasiswa dituntut untuk berperan aktif membangun, mengarahkan, membimbing, dan membina rohani umat untuk mencapai kemajuan agar masyarakat menjadi damai, tentram dan semakin takwa kepada Allah SWT,” papar Heri Supriyanto.

Suharti, salah seorang warga Padukuhan Suruh mengaku masyarakat telah merasakan manfaat dengan adanya PPM. “Kami bisa menambah ilmu, pengetahuan, dan wawasan tentang agama Islam, mempererat silaturahim antar warga, selain itu anak anak menjadi lebih pandai dalam membaca dan menghafal Alquran,” aku Suharti. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)