PPID Perlu Tingkatkan Kompetensi

Hazwan Iskandar Jaya, Ketua Komisi Informasi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (KID DIY) menyampaikan bahwa Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) harus memiliki sertifikasi, sehingga perlu adanya kompetensi yang harus dirumuskan bersama oleh seluruh PPID di kabupaten, kota, dan DIY.

“Minimal unit kompetensi yang harus dikuasai adalah memahami bagaimana manajemen pengelolaan informasi, manajemen pengelolaan dokumentasi, dan penyelesaian sengketa informasi. Dengan kompetensi itu, PPID bisa mempunyai daya tawar kepada pemerintah daerah sehingga posisinya bisa diakui karena memiliki kebermanfaatan yang nyata dalam melayani masyarakat,” ujar Hazwan saat menghadiri Forum PPID se-DIY di Mangrove Pantai Pasir Kadilangu, Temon, Kabupaten Kulonprogo, Senin (21/10/2019).

Untuk
mewujudkan PPID yang lebih baik lagi, KID DIY melakukan pendampingan terhadap
PPID di Kabupaten maupun kota. Pendampingan dilakukan untuk mengetahui
permasalahan, kekurangannya, sehingga KID
DIY bisa memberi masukan yang efektif dan terukur
sehingga bisa memberikan hasil yang optimal
dalam pendampingan.

Hazwan
juga
memaparkan ke depannya akan ada peraturan baru terkait
dengan kelembagaan dan memberikan dorongan lebih terkait dengan keterbukaan
informasi. “Perubahan kelembagaan merupakan keniscayaan, adanya perubahan itu  kita tidak boleh anti perubahan, karena
dengan perubahan itu akan membuat kita lebih dinamis, punya daya kreasi
inovasi, mungkin ke depannya
akan ada hal-hal dan pemikiran baru yang bisa disinergikan lagi antara KID
dengan PPID Pemda Kabupaten Kota,” ungkap Hazwan.

Pejabat
Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) menjadi salah satu
bagian yang penting dalam proses pemerintahan di setiap daerah karena PPID merupakan
garda depan untuk bisa memberikan pelayanan informasi yang valid, akurat, dan
betul-betul bermanfaat bagi masyarakat luas. Di kabupaten/kota DIY terdapat dua level PPID yaitu seluruh sekretaris dinas sebagai
PPID pembantu dan kepala
dinas komunikasi dan informatika sebagai
PPID Utama. (Berita: Anis, Foto: Faridz)




Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi tahun 2019

Sleman – Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman kembali selenggarakan Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi tahun 2019. Event yang diselenggarakan ketujuh kalinya ini resmi dibuka oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo di lapangan Pemda Sleman, Minggu (20/10).

Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari kelompok seni, paguyuban, masyarakat, pelajar, mahasiswa dan pelaku pariwisata turut sert dalam kegiatan Pelangi Buadya Bumi Merapi tahun 2019 ini.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih mengatakan bahwa kegiatan Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupaka ajang kreativitas tampilan keberagaman seni, budaya dan pariwisata yang berada di seluruh Kabupaten Sleman.

“Maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini (Pelangi Budaya Bumi Merapi) memang ajang kreativitas keberagaman seni, budaya, dan pariwisata yang dikemas menjadi salah satu daya tarik pariwisata di Kabupaten Sleman dan menjadi event tahunan unggulan yang mendukung kepariwisataan di Sleman,” kata Sudarningsih.

Dalam kegiatan yang mengusung tema Ning Nong Ning Gung ini, para peserta mengikuti pawai budaya yang dimulai dari Lapangan Tridadi menuju lapangan Pemda Sleman. Selain melakukan pawai budaya, seluruh peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan display dengan menampilkan berbagai potensi budaya dan seni.

Sementara itu, Bupati Sleman, Sri Purnomo yang berkesempatan membuka secara resmi kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas penyelenggaraan Pelangi Budaya Bumi Merapi tahun 2019.

“Pelaksanaan Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan salah satu  wujud nyata dari rasa cinta kita yang tinggi terhadap dunia kesenian dan kebudayaan serta upaya kita dalam pelestariannya,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo, kebudayaan memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa. Kebudayaan dinilai sebagai investasi untuk membangun masa depan.

“Keberagaman budaya daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah dinamika perkembangan dunia,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Purnomo bersama dengan sejumlah pejabat OPD Pemerintah Kabupaten Sleman berkesempatan menyaksikan secara langsung penampilan budaya dan seni dari sejumlah peserta Pelangi Budaya Bumi Merapi 2019.




Bikers Subuhan Jogja Kunjungi Masjid At-Taqwa Pakem

Pakem – Halaman Masjid At-Taqwa Pakem dibanjiri oleh ratusan
sepeda motor, baik sepeda motor matic maupun sepeda motor unik atau modifikasi,
Sabtu pagi (19/10/19).

Pimpinan para bikers ini, Anis, menjelaskan bahwa bikers Subuhan ini bertujuan untuk memakmurkan masjid Allah. “Banyak di antara para komunitas bikers yang lain hanya sekadar touring dan menyambangi kota-kota besar. Untuk komunitas kami memang sengaja kami buat agar tetap mensyukuri nikmat Allah berupa indahnya pemandangan, indahnya fajar pagi subuh, serta turut serta memakmurkan masjid Allah,” paparnya di atas mimbar.

Di sisi lain, Tri Winarko selaku Ketua Takmir Masjid At-Taqwa
Pakem juga merasa bangga karena masih banyak para pemuda khususnya bikers yang
mau melestarikan budaya salat subuh berjemaah. “Ini adalah aset yang penting
sehingga diharapkan acara seperti itu tidak hanya dilaksanakan saat ini saja,”
ucap Tri Winarko.

 Acara ini diakhiri
dengan penyerahan bantuan, berupa sandal masjid, beberapa sajadah, kaos BSJ,
beberapa tikar masjid, dan beberapa barang lainnya. (KIM Pakembinangun/Asr)




Bangun Nilai Budaya Guna Antisipasi Efek Perkembangan Teknologi

Sleman – Dalam rangka mendukung penguatan pembangunan karakter bangsa serta penanaman nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan adat dan budaya, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi RI menyelenggarakan kegiatan pertunjukan Kesenian Rakyat Wayang Kulit, Jumat (18/10/2019). Acara ini merupakan hasil kerjasama dengan Masyarakat Adat Wonorejo sebagai rangkaian acara Merti Bumi, yang dilakukan di Padukuhan Wonorejo, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Acara dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Hj. Sri Muslimatun dan juga Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo, beserta pejabat dan tokoh lainnya, seperti Eka Suryo Prihantoro, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Sleman dan Suyanto, Camat Pakem.
Dalam sambutannya, Sri Muslimatun menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan Merti Bumi ini. Merti bumi ini menurut Muslimatun merupakan bentuk rasa syukur warga lereng merapi terhadap rahmat yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa.
Selain itu, Muslimatun juga menyoroti pagelaran wayang yang dapat dijadikan sebagai wadah komunikasi untuk membangun masyarakat berbudaya dan berjiwa pancasila. Dikatakannya, banyak nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai paduan hidup di dalam lakon-lakon pewayangan, terutama yang terkandung dalam simbol-simbol yang disampaikan dalam lakon wayang tersebut.
“Lakon dan kisah yang diceritakan dalam pewayangan dapat menjadi pendidikan karakter bagi kita. Lakon Pandawa Kumpul ini misalnya, yang merepresentasikan para Pandawa dalam memperbaiki kesalahan dan berkomitmen dalam menguatkan kebenaran,” ujar Muslimatun.
Mulimatun pun menggarisbawahi kesesuaian lakon pewayangan dengan kondisi yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Menurut Muslimatun, esensi dalam lakon Pandawa Kumpul yang berupa komitmen menguatkan kebenaran sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Sikap tersebut sesuai diterapkan dengan kondisi saat ini, di mana masyarakat dibanjiri informasi dari berbagai kanal media, yang rawan memecah belah kerukunan antar warga,” ungkap Muslimatun.
Untuk itu dirinya berpesan agar masyarakat selalu berhati-hati dengan banyaknya informasi yang beredar dari berbagai media.
“Jangan sampai tersulut sehingga sampai memecah belah persatuan,” tutupnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Widodo Muktiyo. Menurut Widodo, perkembangan teknologi saat ini menyebabkan informasi itu akan sangat mudah tersebar. Hal ini akan menyebabkan rawannya tersebar informasi yang tidak benar, atau hoaks.
“Kita harus siap mental dalam menghadapi perkembangan teknologi ini. Ketika ada informasi kita harus memahaminya dahulu, terus crosscheck lagi dengan sumber lainnya,” ungkap Widodo di sela-sela acara pagelaran Wayang Kulit.
Widodo membeberkan, pagelaran budaya seperti wayang kulit ini dapat membangun nilai-nilai budaya yang kaya dengan kearifan lokal untuk mengantisipasi efek perkembangan teknologi.
“Selain itu dapat juga menyebarkan kebaikan, kebenaran, toleransi, dan semangat menegakkan kebenaran,” tambahnya.
Widodo juga menekankan agar kita berhati-hati dalam menyikapi informasi yang kita dapat.
“Jangan main copy paste saja, terus disebar. Pahami dulu informasi yang didapat, harus masuk akal, konkret dan nyata. Nanti kalau langsung disebar, kalau salah malah bahaya. Ingat, semua info yang kita sebar menggunakan Hp meninggalkan jejak digital,” pesannya. (Rep Faridz)




Dukungan Kemenkominfo dalam Pelestarian Adat Budaya di Sleman

Sleman – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI menunjukan dukungannya terhadap pelestarian adat dan budaya di Padukuhan Wonorejo, Desa Hargobinangun, Pakem. Dukungan tersebut terlihat dari jumlah personil yang difasilitasi Kemenkominfo pada pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Merti Bumi Padukuhan Wonorejo, Jumat (18/10/2019).
“Dukungan yang diberikan Kemenkominfo sangat luar biasa, pagelaran wayang kulit ini bukan pegelaran yang kecil yang dihadirkan cuma satu dua orang, ada 70-80 personil mulai dari dalang, sinden, pemain gamelan, penyanyi, belum lagi lighting dan soundsystem, sehingga kami panitia dan segenap masyarakat sekali lagi mengucapkan terimakasih yang tak terhingga,” ucap R Pudyas Eko Suindarto, Ketua Penyelenggara Pagelaran Wayang.
Acara Merti Bumi sendiri sudah berlangsung sejak Kamis (17/10/2019) dengan kegiatan Pengajian Akbar dipimpin oleh Ustaz Eko Susilo dari Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Klaten. Kemudian Pagelaran Wayang ini menjadi event kedua, yang akan disusul dengan tirakatan bersama pada Sabtu (19/10/2019) dan Kirab Kebangsaan yang diikuti kurang lebih 1000 peserta dari komunitas, forum-forum, tokoh masyarakat dan masyarakat luas sebagai penutup pada Minggu (20/10/2019).
Merti Bumi di Padukuhan Wonorejo mengangkat tema Merti Bumi, Berkah Mili. Eko membeberkan, tema dipilih karena pihaknya memiliki harapan kepada seluruh masyarakat terutama warga Wonorejo untuk memelihara alam untuk mendapatkan keberkatan. “Ya saya berharap dengan adanya acara ini, Dusun Wonorejo yang memiliki arti hutan yang makmur atau sejahtera ini dapat lebih merawat alam, karena kami yakin jika kita merawat alam sebaik-baiknya, maka berkah akan mengalir dari Yang Maha Esa,” ungkap Eko
Sementara itu, Pagelaran Wayang Kulit disisipkan sebagai salah satu rangkaian acara karena memiliki alasan yang kuat, demikian menurut Eko.
Disampaikan Eko, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan adat dan budaya yang merupakan jati diri bangsa terutama yang berasal dari tanah Jawa karena sudah menjadi acara turun temurun dari sesepuh, dimana pada zaman dulu Sunan Kalijaga mengenalkan Islam ke masyarakat melalui kesenian Wayang Kulit, “Bahkan dulu dahulu, Sunan Kalijaga menyiarkan Islam melalui wayang kulit, ya yang pertama intinya mempertahankan budaya,” pungkas Eko.
Selain untuk melestarikan adat, wayang kulit ini dinilai Eko merupakan kesenian dan hiburan yang sampai saat ini masih dicintai oleh masyarakat. “Jadi kami ingin masyarakat sini merasa terhibur dan mendapatkan tontonan juga,” tambah Eko. (Rep Purnama)