Jemput Bola Penggemar Durian dengan Bazar

Durian adalah salah satu buah yang meski berharga mahal namun memiliki penggemar fanatik. Minat masyarakat yang begitu besar akan buah durian ini membuat Madalena Sembiring, pemilik Toko Sada Arih Durian Medan mengadakan bazar durian di Sleman City Hall, Jalan Magelang, Kabupaten Sleman.

Madalena mengaku ini kedua kalinya ia mengadakan bazar setelah yang pertama di Jogja City Mall. Bazar kedua ini dibukanya karena banyaknya para pengunjung yang datang dari para peminat dan penggemar durian, sekaligus Madalena ingin mengenalkan tokonya yang berada di Jalan Magelang, Kutu Tegal, Mlati, Sleman. Bazar ini berlangsung sampai 20 Oktober 2019 mendatang dan dibuka pukul WIB.

Durian yang dijual merupakan stok langsung dari Medan yang dikirim menggunakan mobil box yang dilengkapi pendingin. “Karena saat ini nggak musim durian, maka kita bisa sediain durian, mau musim mau enggak kita tetep sediain. Di Sumatra itu terus-terusan ada durian sepanjang tahun, dan khasnya durian Medan ini memiliki rasa manis, pahit, dan legit,” ungkap Magdalena saat ditemui di sela melayani pembeli di bazar durian Sleman City Hall, Jumat (18/10/2019).

Durian Medan dijual dengan berbagai variasi harga tergantung dari ukurannya, kecil 100ribu dapat 3, sedang satuannya 50ribu-75ribu, yang besar 100ribu. Selain durian utuh, ada juga olahan durian yang ditawarkan seperti pancake, durian kupas dan es krim dengan harga durian kupas 125ribu, pancake 80ribu, dan paketan durian 150ribu (durian kupas plus pancake durian).

Madalena memberikan garansi rasa. “Misal ada pelanggan yang beli terus mendapatkan durian yang rasanya nggak enak, mentah, kecut bisa dikembalikan kesini lagi dengan membawa nota pembelian,” ujar Madalena.

Stefani, salah satu pengunjung mengungkapkan rasa senangnya dengan adanya bazar durian ini. “Harapannya waktunya dipanjangin, ditambah spotnya karena kita tinggal di Kota Yogya, atau bisa juga muter tiap minggu,” kata Stefani.(Rep Anis)




Pordes, Ajang Pembinaan Sekaligus Persahabatan

Ngaglik – Pekan Olahraga Desa (Pordes) Sardonoharjo Tahun 2019 resmi dibuka di Lapangan RBC Pedukuhan Bulusan, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (18/10/2019). Dihadiri oleh perangkat desa, lembaga desa, tokoh masyarakat, dan Muspika Kecamatan Ngaglik, Pordes Sardonoharjo ini dibuka secara resmi oleh Kepala Desa didampingi Camat Ngaglik, Kapolsek dan Danramil ditandai dengan pemukulan gong dan pemukulan bola voli pertama.

Kepala Desa Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho dalam sambutannya menyampaikan harapannya pada pelaksanaan Pordes ini. “Pelaksanaan pordes setiap tahunnya diharapkan mampu membawa manfaat kepada masyarakat. Fungsi dari pelaksanaan pordes ini yang pertama adalah fungsi pembinaan jadi kita membina potensi generasi muda kita. Yang kedua adalah fungsi persahabatan, dengan kegiatan kompetisi ini kita mengharapkan persahabatan atau rasa kekeluargaan kita semakin kuat,” ujar Harjuno Wiwoho.

Pordes Sardonoharjo tahun ini bertema ”Melalui Pordes Sportivitas dalam Berolahraga”. Cabang olahraga yang dipertandingkan tahun ini adalah bola voli, bulutangkis, catur, futsal dan atletik. Peserta lomba seluruh cabang berasal dari masing-masing pedukuhan yang ada di Desa Sardonoharjo.

Camat Ngaglik, Subagyo menyampaikan selamat kepada Desa Sardonoharjo yang bisa melaksanakan Pordes tahun ini dan menyampaikan apresiasinya kepada karang taruna yang menjadi panitia pordes.”Semoga bisa memunculkan atlet yg berprestasi,” harap Subagyo.

Setelah acara pembukaan langsung dilanjutkan dengan pertandingan pertama cabang bola voli antara Pedukuhan Blekik yang berhadapan dengan Pedukuhan Wonosobo di pertandingan pertama, kemudian dilanjutkan Pedukuhan Gondangan melawan Pedukuhan Pencarsari. Pordes Desa Sardonoharjo ini akan berlangsung hingga 30 Oktober 2019. (KIM Sardonoharjo/ESK)




Abon Pepaya, Inovasi yang Membuahkan Prestasi

Kalasan – Abon identik berbahan
dasar daging, namun salah satu warga Dhuri, Tirtomartani, Kalasan, Sleman
justru menggunakan pepaya sebagai bahan dasar pembuatan abon. Berawal dari
perlombaan yang dilaksanakan Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Sleman
mengenai pemanfaatan lingkungan sekitar, Tri Suhartati memulai inovasi membuat
abon pepaya.

“Awalnya ikut perlombaan
Dinpar lalu mencoba mengolah pepaya menjadi abon pepaya dan Alhamdulillahnya
mendapatkan juara,” pungkas Suhartati di kediamannya, Kamis (17/10/2019).

Inovasi yang membuahkan
prestasi ini, diakui Suhartati tercetus karena melihat lingkungan sekitarnya di
mana pohon pepaya dengan mudah bertumbuh. Proses produksi yang terbilang
sederhana dan rasa yang dinilai sedap pun membulatkan tekad Suhartati untuk
menjajakan produknya kepada masyarakat luas.

Suhartati sengaja memilih pepaya
setengah matang untuk produknya. “Itu karena masih ada rasa manisnya, jadi kita
tidak perlu menambahkan gula lagi takutnya kalau kebanyakan gula pas digoreng
jadi gosong dan hasilnya pun jadi jelek berwarna hitam,” kata Suhartati.

Dimulai dengan mengupas pepaya
dan memeras airnya, pepaya setengah matang selanjutnya dibumbui dengan bawang
merah, bawang putih, jintan, garam, serai, dan lengkuas sebelum pada akhirnya
digoreng. Tak lupa, sebelum melalui proses penggorengan, pepaya lebih dulu dibalut
dengan tepung.

“Jenis pepaya yang digunakan
pun bisa jenis apa saja, yang terpenting setengah matang dan mengkal,” tegasnya.

Setiap minggunya, Suhartati
berhasil memproduksi abon pepaya sebanyak 200 hingga 250 toples dengan masing-masing
beratnya 200 gram. Satu toples yang mampu bertahan dalam kemasan hingga 3 bulan
ini ia jual seharga Rp 20 ribu.  

Dengan dua varian rasa, original dan pedas, abon pepaya miliknya telah membawa Suhartati mengikuti berbagai pameran UMKM. “Beberapa kali juga, kita mengikuti pameran UMKM, kaya sekarang kita sedang ngikutin pameran UMKM Nasional di UGM,” tukasnya.

Konsumennya pun telah
tersebar di berbagai kota di Indonesia, seperti Kudus, Labuan Bajo, Jakarta,
Surabaya, Semarang, Cilacap, Papua, dan NTB.

“Awalnya pemasaran hanya dilakukan dari mulut ke mulut sampai akhirnya dipasarkan secara online,” imbuh Suhartati.

Ke depan, dirinya berencana tak hanya memproduksi abon pepaya saja, ia berharap ingin menanam pohon pepaya di depan rumah dan akan memberikan nama sebagai Rumah Pepaya. “Namun, ini masih proses,” tutur wanita yang mulanya menggeluti bisnis katering ini. (Rep Bilal)




Memberdayakan Peternak Susu Sapi dengan Produk Es Krim dan Gelato

Ngaglik – Berawal dari tahun 2011, Andro yang saat itu berstatus sebagai mahasiswa
Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertemu dengan peternak sapi
saat melakukan penyuluhan di Kecamatan Pakem. Disitu ia menemukan bahwa para
peternak ini menjual susu mereka kepada industri dengan harga murah, sekitar
per liter padahal seharusnya susu itu bisa dijual dengan harga .

Mengetahui hal itu, Andro berinisitif  untuk membeli susu dari peternak dengan harga yang pantas namun dengan syarat para peternak ini dapat menjanjikan kualitas dari susu tersebut. Kemudian  Andro terus menjalin kerjasama secara intensif dengan para petani melalui pelatihan-pelatihan tentang bagaimana memeras susu yang baik, kapan dan jam berapa idealnya dilakukan dan sebagainya.

Akhirnya Andro memutuskan untuk membuat produk berupa es krim cup, gelato, dan susu dengan merek Sweetsundae yang berbahan dasar susu segar dari peternak. Saat ini Sweetsundae sudah membuka gerainya di Jalan Nglempong Sari, Nomor 18A, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik.

Nisa, marketing Sweetsundae mengatakan bahwa yang menjadi pembeda produk
ini dengan produk lainnya adalah es krim yang dijual 100 persen berbahan susu
segar, bukan susu bubuk. “Kemudian untuk gelato ini tanpa perasa, pengawet, dan
pewarna. Sampai saat ini untuk es krim, produk ini
lebih terkenal dan sering melayani catering, kemudian untuk gelato, kami memilih melakukan
kerjasama dengan distributor dan reseller. Sweetsundae juga sudah memiliki
banyak mitra di dalam maupun luar pulau Jawa,” terang Nisa saat mengikuti pameran UMKM di Cafe G45
Space, Jalan Damai, Kecamatan
Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (16/09/2019).

Nisa juga mengatakan alasannya ikut dalam kegiatan pameran ini yaitu karena
masih jarang sekali kegiatan seperti ini dilakukan di sebuah cafe, selain itu
di sisi lain juga ia melihat bahwa ada potensi untuk membangun relasi dan
kerjasama dengan cafe G45 Space.

Salah satu
kegiatan yang menarik menurut Nisa adalah
workshop mengenai Instagram Marketing. “Saya tertarik ikut lagi karena dari G45 sendiri pernah mengadakan sebelumnya, dan
menurut saya itu bagus dan edukatif sekali sih buat kami (pelaku UMKM),” pungkas
Nisa.

Cafe G45 Space mengadakan kegiatan Expo UMKM pada tanggal 15-16 Oktober 2019 lalu. Kegiatan ini digelar dengan beberapa rangkaian acara, diantaranya yaitu pameran UMKM, workshop, seminar, dan hiburan musik.  Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan UMKM yang ada di Sleman, membangun kerjasama sekaligus memberdayakan UMKM melalui workshop dan seminar yang diisi oleh pakar pangan dan pakar marketing.(Rep Purnama)




Payfazz Berkomitmen Bantu Perkembangan UMKM Sleman

Sleman
– Pemerintah Kabupaten Sleman menerima audiensi dari PT Payfazz Teknologi
Nusantara perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta, bertempat di Smart Room Dinas
Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Sleman, Kamis (17/10/2019).
Payfazz melalui aplikasinya melihat peluang untuk membantu pengembangan
masyarakat, terutama di bidang UMKM melalui sistem finansial yang efisien dan
efektif.

Payfazz
sendiri merupakan platform layanan keuangan yang melayani transaksi secara
online. Mereka memberikan kemudahan transaksi keuangan ketika masyarakat mengalami
keterbatasan dalam mengakses finansial.

“Jadi
prinsipnya Payfazz merupakan mediator agar masyarakat mendapatkan layanan
finansial,” ujar Archie Anugrah, Head of CEO Office Payfazz Indonesia ketika
memberikan penjelasan mengenai Payfazz.

Nantinya,
masyarakat Sleman dapat menggunakan Payfazz untuk melakukan transaksi keuangan
dalam berbagai hal, seperti pembayaran token listrik, pulsa, dan lainnya.

Selain itu, masyarakat Sleman juga bisa menjadi agen Payfazz sebagai pendapatan pasif mereka setiap bulannya. Para pelaku usah UMKM juga dapat memanfaatkan Payfazz Mart untuk mengembangkan usaha. Dengan program tersebut, para pelaku UMKM di Sleman akan mudah menjalankan usaha dengan digitalisasi UMKM mereka.

“Artinya, para pelaku UMKM dapat dengan mudah untuk membeli dan mendata ketersediaan bahan baku. Mereka akan mudah mengelola UMKM,” tambah Archie mengenai keunggulan program Payfazz Mart.

Pemaparan
Payafazz ini mendapatkan sambutan positif dari Eko Suryo Prihantoro, Kepala
Dinas Diskominfo Sleman yang memimpin sesi audiensi. Menurut Eka, Payfazz
menawarkan pilihan untuk para pelaku UMKM di Sleman dan Sleman siap
mempertimbangkan kemungkinan kolaborasi ke depannya.

“Tapi,
nantinya akan dibicarakan lagi mengenai perkembangannya, soalnya ini baru
pengenalan tahap awal,” ujarnya.

Eka
juga menambahkan agar nantinya jika kerjasama terjadi, Payfazz sanggup memberikan
data pengguna Payfazz di Sleman, sekaligus mempromosikan UMKM mereka jika
agennya adalah pelaku UMKM di Sleman. (Rep Faridz)