Desa Berkarakter, Antara Komitmen dan Implementasi

Seyegan
– Bertempat di RM Muara Kapuas, Dinas Pemberdayaan
Masyarakat Desa (PMD)
Kabupaten Sleman mengadakan Pembinaan Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD) untuk
14 desa yang ditunjuk pada Rabu (16/10/2019). Kegiatan ini dihadiri kurang
lebih 75 peserta yang terdiri dari unsur PKK, LPMD, karang taruna, dan BPD.

Sungkawati Budi Rahayu, Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan dan Kapasitas Masyarakat Dinas PMD Sleman pada kesempatan tersebut menagih komitmen desa dalam membentuk desa berkarakter.

“Tahun 2019 ini merupakan tahun implementasi desa berkarakter sehingga diharapkan desa dapat menampilkan karakter masing-masing dengan indikator,” ujar Sungka.

Ada 7 indikator sebagaimana tercantum dalam Perda no. 4/92 tentang Gerakan Pembangunan Desa Terpadu Sleman Sembada. Perda itu disampaikan Sungka sudah dituangkan dalam RPJMD tahun 2016-2021.

Dikatakannya lagi, pada tahun 2018, Bupati Sleman mengeluarkan Perbup no. 37.2/2018 tentang Desa Berkarakter.

“Untuk itulah diharapkan pada tahun 2019 ini sudah masuk tahapan implementasi. Namun kenyataannya belum ada satu desa pun yang mencanangkan sebagai desa berkarakter,” kata Sungka.

Sungka berharap, dengan menghadirkan LKD yang ada di desa ini, kegiatan yang ada kaitannya dengan desa berkarakter dapat dikawal dan diimplentasikan. (KIM Seyegan/Agus)




Gizi Seimbang Upaya Atasi Stunting

Depok – Sosialisasi Gizi Seimbang menjadi rangkaian
kegiatan peringatan Hari
Cuci Tangan Sedunia
di Kecamatan Depok pada Rabu (16/10/2019).

Dra. Hj. Sri Muslimatun, , Wakil Bupati
Sleman, berlaku sebagai narasumber dalam acara ini. Sri Muslimatun mensosialisasikan
kembali tentang “Tumpeng Gizi Seimbang” yang menggambarkan 4 prinsip gizi
seimbang yaitu aneka ragam makanan sesuai kebutuhan, kebersihan, aktivitas
fisik, dan memantau berat badan ideal.

Sri Muslimatun berharap, audiens yang
mengikuti sosialisasi ini dapat mengimplementasikan dalam kesehariannya agar
mengurangi angka stunting di Kabupaten Sleman.

“Peranan kader sangat diperlukan saat di dusun
maupun di posyandu karena fungsi kader adalah menjadi tangan kanan petugas
puskesmas, membuat menu gizi seimbang di posyandu serta dapat mensosialisasikan
di masyarakat,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, menurut Sri Muslimatun guru-guru
dan lintas sektoral juga memiliki peranan penting terhadap gizi seimbang ini. “Harapannya
guru dan lintas sektoral dapat memberikan sosialisasi saat rapat forkompim
maupun kepada orang tua wali murid,” katanya. (Ardhitya Sejati)




Depok Ajak Anak Terapkan Kebiasaan Cuci Tangan

Depok –  Puskesmas Depok 1, 2 dan 3 bekerja sama dengan IGTKI Kecamatan Depok memperingati Hari Cuci Tangan Sedunia, Rabu (16/10/2019). Hadir pada kegiatan tersebut adalah Wakil Bupati Sleman, Forkompim Kecamatan Depok, Kepala Puskesmas Depok I, 2 dan 3, guru, serta siswa-siswi TK se-Kecamatan Depok.

Toto Suharto,
., selaku Kepala Puskesmas Depok III dalam sambutannya, menyampaikan
bahwa kegiatan hari cuci tangan sedunia diperingati sebagai upaya penanggulangan
penyakit yang disebabkan dari bakteri seperti diare. Toto juga mengatakan 5
waktu penting  dalam mencuci tangan.

“Sebelum
dan setelah makan, setelah BAB, sebelum memegang bayi dan balita, sebelum menyajikan
makanan dan setelah bermain,” imbaunya.

Sementara
itu, Abu Bakar, ., selaku Camat Depok menjelaskan, Hari Cuci Tangan Sedunia
di Kecamatan Depok mengusung tema yaitu “Anak Sehat Dimulai dari Tangan Yang Bersih”.

“Tujuannya
untuk mengajak dan memberikan contoh kepada semua anak-anak TK di Kecamatan
Depok untuk berperilaku hidup sehat yaitu dengan melaksanakan mencuci tangan
dengan menggunakan air mengalir dan sabun,” katanya.

Abu
Bakar berharap dengan adanya Hari Cuci Tangan Sedunia
ini anak-anak di Kecamatan Depok dapat mempraktekkan cuci tangan sehari-hari
dan dapat terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Senada
dengan Abu Bakar, Dra. Hj. Sri Muslimatun, , Wakil Bupati Sleman yang
hadir juga menjelaskan bahwa cuci tangan, merupakan cara yang sederhana, mudah,
murah dan bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit.

“Sebab,
ada beberapa penyakit penyebab kematian yang dapat dicegah dengan cuci tangan
yang benar, seperti penyakit Diare dan ISPA yang sering menjadi penyebab
kematian anak-anak. Demikian juga penyakit Hepatitis dan Typhus,” papar Sri
Muslimatun kepada anak-anak yang hadir.

Usai
sambutan, acara dilanjutkan dengan peragaan cuci tangan oleh anggota Saka Bakti
Husada (SBH) Kecamatan Depok diikuti oleh seluruh audiens yang hadir. (Ardhitya
Sejati)




Wajib Jaga Data Diri Pelapor Aduan

Admin pengelola pengaduan harus bisa menjaga dengan ketat data diri pelapor. Demikian disampaikan Syarifah Thurrayah, Analis Pengaduan Masyarakat Dinas Kominfo Kabupaten Sleman dalm Bimtek Pengelolaan Pengaduan Pelanggan (P3), Selasa (15/10/2019) di Aula A Puskesmas Godean I.

“Perlu digaris bawahi bapak
ibu, dalam mengelola pengaduan data diri pelapor itu salah satu informasi yang
dikecualikan, jadi mohon bapak ibu untuk sangat-sangat menjaga identitas
pelapor karena kita bisa berurusan dengan Ombusman RI, sampai sengketa dan lain-lain
itu akan menjadi rumit,” ungkapnya.

Sebelumnya, wanita yang akrab disapa Ayya ini menjelaskan pada para peserta Bimtek tentang apa saja yang diperlukan dalam mengelola pengaduan di antaranya dasar hukum, sarana dan prasarana, SDM, SOP, serta kegiatan monitoring evaluasi.

Disampaikan Ayya, dasar hukum pengelolaan aduan yakni sesuai dengan SK Bupati Sleman Nomor 6.5 tahun 2019 mengenai tim koordinasi pengelolaan pengaduan, untuk puskemas sudah diwakilkan oleh admin di Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Sementara sarana dan prasarananya adalah memiliki kanal pengaduan yakni bisa melalui website, email, Facebook, Instagram, atau Twitter.

Aya membeberkan, banyaknya
aduan yang masuk melalui berbagai kanal di atas bukan merupakan pertanda buruk
bagi sebuah instansi. Hal ini bisa disebut bentuk kepedulian masyarakat dengan
pelayanan yang ada. “Sehingga semakin banyak aduan juga harus disertai dengan
peningkatan terselesaikannya pengaduan,” bebernya.

Alih-alih memberi jawaban aduan secara reaktif, Ayya berharap para admin mampu menjawab aduan secara responsif.

“Sampaikan respon awal sesegera mungkin dengan cara yang baik, tidak terbawa emosi, utamakan akurasi bukan prediksi jadi jawaban yang akan diberikan terlebih dahulu dikoordinasikan ke internal atau pada yang lebih berwenang, kemudian solutif bukan normatif atau jawaban lengkap dan rinci disertai bukti, serta menggunakan kata maaf, terimakasih, baru kemudian menyampaikan solusi dengan empati,” jabar Ayya. (Rep Anis)




Menjaga Lahan dengan Pertanian Organik

Setelah melalui perjalanan panjang selama
hampir empat bulan, Sekolah Lapang (SL) Pertanian Organik di Kelompok Tani Ngudi Mulyo akhirnya resmi ditutup. Penutupan lahan ajar peserta
pelatihan ini dilakukan oleh Kepala UPTD BP 4 Wilayah 6 Ngemplak Cangkringan,
Purwati Widaningsih yang ditandai dengan panen raya bersama dengan peserta SL Pertanian
Organik di Dusun Jaranan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman,
Selasa (15/10/2019).

SL pertanian organik tersebut berlangsung selama 8 kali pertemuan, dengan  pemateri dari Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. Setelah dihitung, panen raya ini menghasilkan 6,2 kg/ubin, hingga perhektarnya menghasilkan 9,7 ton gabah. Ini menunjukkan hasil padi yang sangat baik.

“Kalau saja semua petani menerapkan sistem pertanian padi organik maka lahan pertanian di Sleman khususnya di kelompok tani Ngudi Mulya, akan terjaga kesuburannya karena penggunaan bahan kimia yang berlebihan maka dalam jangka panjang akan merusak dan mengurangi kesiburan tanah,” ujar Purwati Widaningsih.

Purwati melanjutkan, meskipun belum secara murni menerapkan sistem pertanian organik
tetapi setidaknya melalui Sekolah Lapang
ini sudah mengurangi penggunaan baik pupuk maupun obat kimia. Dalam Sekolah Lapang ini,
untuk pupuk hanya menggunakan pupuk organik atau kompos dan sedikit NPK Kujang dengan
kadar/volume 250 kg/ha.

Untuk menuju pertanian organik tidak bisa seketika, namun perlu proses yang dimulai dari petani sendiri dengan cara mengurangi penggunaan pupuk dan bahan kimia. “Kalau masyarakat sudah menerapkan pertanian organik, maka lahan pertanian akan terjaga dengan baik,” pungkas Purwati di hadapan 25 petani peserta Sekolah Lapang.(Suyanto)