Website Pemerintah Perlu Gunakan Bahasa Indonesia yang Tepat

Sesuai
dengan peraturan Undang-Undang No 24
Tahun 2009 Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang resmi dan wajib digunakan dalam
menulis informasi di media massa. Penggunaan bahasa tersebut perlu dikemas
berdasarkan pada nilai-nilai berita agar berita yang disampaikan melalui media
apapun menjadi efisien serta bisa tersalurkan tanpa menimbulkan kegaduhan.

“Karena
membaca itu kita tidak bisa melihat karakter fisik orang yang menulis, apakah
dia sedang bahagia atau marah, tetapi bagaimana suasana hati kita pada saat
membaca itu sehingga kita perlu bijaksana untuk menulis. Jangan sampai menulis
berita apapun di dalam media informasi yang kita miliki menimbulkan kegaduhan,”
ujar Purwati, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Sleman saat menjadi narasumber pada kegiatan Diskusi Kebahasaan pada
Badan Publik, Media Massa, dan Media Luar Ruang yang diselenggarakan oleh Balai
Bahasa DIY di Ruang Praja 1 Sekretariat Daerah Kabupaten
Sleman, Selasa (5/11/2019).

Berita
yang layak ditayangkan dalam
media sosial maupun website memiliki indikator yang bisa menjadi alternatif bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yakni aktual/terkini, magnitude (cakupan),
dampak, proximity (kedekatan),
unik/ tidak biasa,
ketokohan, human interest,
dan konflik. Selain itu berita akan bernilai lebih jika mengandung unsur 3e+1n yakni
educating (mendidik), enlightening (mencerahkan), empowering (memberdayakan), nationalism
(kebangsaan/NKRI).

Purwati berharap agar masing-masing OPD lebih giat lagi dalam mempromosikan apa yang dilakukan dan bisa dipamerkan secara positif kepada masyarakat melalui media massa yang dimiliki seperti website atau media sosial dan bisa mengelolanya secara optimal. Hal tersebut dimaksudkan agar selain sebagai bentuk pertanggungjawaban OPD, masyarakat mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh OPD termasuk tujuan dan hasil dari kegiatan yang dilakukan.

“Harapannya
teman-teman OPD bisa memberikan informasi yang sifatnya lokal. Jadi bagaimana
website OPD itu bisa memberikan prosedur-prosedur pelayanan agar lebih mudah dan
cepat, bisa diakses, kegiatan-kegiatan dimasukkan ke media sosialnya. Dari
informasi-informasi yang diberikan kepada masyarakat tersebut kita akan bisa melihat
bagaimana respon masyarakat. Sebab kebijakan itu tidak akan baik output atau outcome
nya kalau kita tidak bisa melihat respon dari masyarakat yang menerima kebijakan,”
pungkasnya.(Rep Anis)




Melatih Fisik dan Mental dengan Gobak Sodor

Sleman
– KORPRI Kabupaten
Sleman dalam perayaan ulang tahunnya
yang ke-48 mengadakan beberapa perlombaan olahraga tradisional di Lapangan Pemda Sleman, Kabupaten Sleman, Selasa
(5/11/2019). Menurut Sumadi, Ketua Dewan Pengurus KORPRI
Sleman, lomba olahraga tradisional
ini diadakan untuk meningkatkan kebugaran fisik maupun mental, meningkatkan
kekompakkan, serta menjalin silaturahmi antar
pegawai.

Lomba
yang selalu diadakan setiap tahunnya ini diikuti oleh perangkat daerah, kecamatan,
dan UPT. Salah satu cabang yang dipertandingkan dalam lomba olahraga
tradisional ini adalah Gobak Sodor.

Menurut Sumadi, banyak manfaat yang didapatkan ketika
memainkan permainan gobak sodor ini seperti meningkatkan kebugaran jasmani
(fisik), kesehatan mental (keceriaan, kegembiraan), meningkatkan ketangkasan
dan kekompakkan. “Dari semuanya, yang terpenting adalah dapat melestarikan
olahraga tradisional yang kita miliki,” ujar Sumadi.

Gobak
Sodor diyakini berasal dari
Yogyakarta. Dilansir
dari penelitian Linda Dwi dari
Universitas Muhammadiyah Malang (2017), nama Gobak Sodor berasal
dari kata Gobag dan Sodor. Kata Gobak memiliki arti bergerak dengan bebas,
sedangkan Sodor berarti Tombak. Jumlah pemain dalam gobak sodor harus berjumlah
genap antara 6-10 orang. Kemudian dibagi menjadi dua tim, tim jaga dan tim
serang. Tiap tim beranggotakan 3-7 orang.

Yang
harus dipersiapkan dalam permainan ini adalah lapangan yang berbentuk persegi
panjang dengan ukuran 9x4m, atau lapangan bulu tangkis, yang dibagi menjadi 6
bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur.

Adapun
cara bermain Gobak Sodor adalah setiap
orang di grup jaga membuat penjagaan berlapis dengan cara berbaris ke belakang
sambil merentangkan tangan agar tidak dapat dilalui oleh lawan. Satu orang
penjaga lagi bertugas di garis tengah yang bergerak tegak lurus dari penjaga
lainnya. Selama permainan berlangsung, salah satu kaki penjaga harus tetap di
atas garis jaga. Jika pemain lawan tersentuh maka pemain pun gugur. Kemenangan
akan diperoleh grup jaga jika
berhasil mengenai seluruh pemain lawan.

“Adanya perlombaan ini, seakan mengingat pada masa kecil dulu karena sekarang kan sudah jarang yang memainkan gobak sodor ini. Makanya saya senang,” ujar Sutoyo dari Kecamatan Godean saat mengikuti perlombaan Gobak Sodor ini.(Rep Bilal)