SDN Ngemplak 2 Umbulmartani, Ikuti Lomba SPBA

Ngemplak – Pengurangan risiko bencana hendaknya menjadi pengetahuan
serta pemahaman semua stakeholder yang berada di daerah rawan bencana Merapi
seperti di daerah Kecamatan Ngemplak.

SD Negeri Ngemplak 2 menjadi salah satu sekolah dasar yang
mengikuti Lomba Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang digelar oleh BPBD
Sleman.  Menurut Sumarah, , Kepala
Sekolah SD Ngemplak 2, hal ini merupakan suatu kehormatan.

“Tahun ini kami mendapat kehormatan untuk mengikuti
Lomba Satuan Pendidikan Aman Bencana 
yang diadakan oleh BPBD Kabupaten Sleman karena sebelumnya sekolah kami
sudah mendapatkan pelatihan yang intens dari BPBD Sleman,” ujarnya, Selasa
(5/11/2019).

Disampaikan Sumarah, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk tolok
ukur sejauh mana pemahaman serta pelaksananaan pengurangan risiko bencana
tentang bencana erupsi Merapi di sekolahnya, yang beberapa waktu lalu dikukuhkan
sebagai SPBA.

Kegiatan ini diikuti oleh 250 orang yang terdiri dari siswa, guru, Destana, PMI, Puskesmas, Polsek, Babinsa, Koramil Kecamatan Ngemplak, PKU Pakem, serta MDMC PDM Sleman. (Harjito Mergan Sumberagung Moyudan)




Libatkan Siswa SD dalam Simulasi Mitigasi Bencana

Turi  – Pagi itu
kondisi Merapi mengalami peningkatan ke level awas, siswa dan guru SDM
Girikerto meskipun panik tetap berupaya untuk melakukan evakuasi secara
aman.  Sekilas itulah yang bisa dilihat
pada penilaian Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) SD Muhammadiyah Girikerto,
Turi, Selasa (5/11/2019).

Tujuan kegiatan ini menurut Nurul Muslichatin selaku Kepala
Sekolah adalah sebagai upaya  meningkatkan
kesadaran dan mitigasi bencana sejak dini bagi sekolah yang berada di daerah
rawan bencana Merapi. Nurul mengatakan 120 siswanya mengikuti simulasi ini
bersama dengan 11 orang tim dari LSM dan BPBD Sleman sebagai penilai, dan 30
tim siaga bencana terdiri dari siswa, guru, serta komite SD Muhammadiyah
Girikerto.

Menurut Rini selaku Ketua Penilai dari BPBD Sleman, melalui simulasi
ini terjalinlah kerja sama yang baik antara sekolah dengan pihak terkait
khususnya skolah penyangga, kelurahan, dan warga sekitar sekolah.

“Harapannya terus bisa bersinergi apabila terjadi ancaman
bahaya erupsi Merapi,” ujarnya.

Dikatakannya, hal ini sangat krusial mengingat sekolah yang
berada pada kawasan rawan bencana.

“SD Muhammadiyah Girikerto sudah mengalami peningkatan dalam hal penanggulangan bencana setelah menerima pelatihan dari BPBD Sleman,” tandasnya.

Sementara itu Sumaryanta, Kepala Desa Girikerto berharap simulasi ini bisa menjadi pengalaman dalam hal pengurangan risiko bencana dan dapat meningkatkan kesiapsiagaan bencana. (Arif H)




Safari Maulid Pererat Silaturahmi Antar Dusun

Ngaglik – Dalam rangka
memperingati kelahiran Nabi Muhammad
SAW
(12 Rabiul Awal-red)
atau jatuh tanggal 9 November 2019, jemaah
pengajian sewilayah Candi
lama mengadakan acara Safari Maulid. Kegiatan ini dilaksanakan selama 12 malam
dimulai dari Senin (28/10/19) hingga Jumat (8/11/19). Jemaah pengajian sewilayah Candi lama meliputi 12
dusun yang bergantian menjadi tuan rumah, dimulai dari Dusun Candi Winangun, Nglanjaran,
Candikarang, Candi 2, Bonjotan, Candisari, Bendolole, Candi 3, Ngangkruk, Tegalrejo,
Turen dan diakhiri Dusun
Candirejo.

Kegiatan Safari Maulid bertujuan untuk menyiarkan agama Islam dan menyambung silaturahim antar dusun dengan menghidupkan seni hadroh. Acara dibuka dengan membaca tahlil bersama lalu dilanjutkan dengan asmaul husna dan bersalawat diiringi alunan hadroh lalu ditutup mahalul qiyab.

Marwiyanto selaku Koordinator Acara mengaku jika peringatan Maulid Nabi sudah berlangsung selama 30 tahun dan semakin lama antusiasmenya semakin banyak.

“Kegiatan sudah berjalan 30 tahun yang menetap di Dusun Candi Winangun. Kemudian 4 tahun terakhir Candi 3 dan Bendolole ikut bergabung dan saat ini sudah ada 12 dusun yang bergabung,” ujarnya, Selasa (5/11/19).

Marwiyanto menambahkan awal mula kegiatan ini berlangsung. “Saya punya keinginan salawatan ini muter sewilayah Candi lama, lalu saya undangi masing-masing dusun sebanyak 2 orang. Lalu terbentuklah Safari Maulid ini,” tukasnya.

Ia berharap agar kegiatan ini bisa berkembang di luar Candi lama, terlebih bisa sampai se-Desa Sardonoharjo. “Bisa istiqomah serta semata-mata mencari rida Ilahi,” imbuhnya. (ISW/ KIM Sardonoharjo)




Literasi Tak Hanya Membaca Buku, Tapi Juga Berkarya

Ngemplak – Anggapan masyarakat selama ini adalah literasi hanya berkutat pada kegiatan membaca buku. Faktanya  ternyata bukan sebatas itu saja karena literasi juga berarti mempraktekkan isi buku yang telah dipahaminya menjadi suatu karya yang mempunyai manfaat dan bernilai ekonomi.

Demikian cita-cita yang terus diwujudkan oleh Nuradi Indra Wijaya melalui Rumah Pintar Mata Aksara yang ia dirikan bersama sang istri Heni Wardatur Rohmah di Jalan Kaliurang Km 14 Dusun Tegal Manding, Desa Umbul Martani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Dengan sesanti “Dari Buku Menjadi Karya”, Rumpin Mata Aksara menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber ilmu dan keterampilan bagi masyarakat.

Nuradi mengisahkan Mata Aksara  pada awalnya adalah perpustakaan keluarga
yang bertujuan mendorong anak dan keluarga agar gemar membaca. Seiring
berjalannya waktu dan peminat yang semakin banyak, taman bacaan masyarakat
tersebut kemudian berkembang dan dipercaya menjadi rumah pintar di tahun 2014.

“Untuk menunjang kegiatan literasi, Mata Aksara telah
banyak melakukan kegiatan dan acara yang kesemuanya adalah untuk mendukung
masyarakat dalam mendapatkan informasi yang benar dan bermanfaat kemudian
diaplikasikan untuk kegiatan bermanfaat, syukur-syukur bernilai ekonomi.
Seperti di Mata Aksara, selain terdapat perpustakaan juga ada unit pengembangan
produksi,” kata Nuradi saat ditemui, Rabu (6/11/2019).

Kegiatan Mata Aksara dibagi ke dalam beberapa sentra di antaranya
sentra buku dimana masyarakat bisa pinjam dan baca buku. Untuk lebih dekat
menjangkau masyarakat, perpustakaan keliling dengan motor pintarnya siap
berkunjung ke dusun, pedesaan, sekolah, hingga area publik seperti saat ada car free day.

Lalu ada kelas parenting yang melibatkan orang tua untuk
membangun budaya baca di lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah pun tak luput
dari sentuhan Mata Aksara dengan 
melakukan pendampingan penyelenggaraan Gerakan Literasi Sekolah.

Selain itu Mata Aksara juga melaksanakan pendampingan pada
taman bacaan masyarakat serta perpustakaan desa. “Telah banyak perpustakaan
desa yang didampingi berhasil menjadi 
pemenang lomba perpustakaan tingkat nasional,” aku Nuradi yang juga
ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Sleman ini.

Sarana kegiatan yang lain adalah adanya sentra permainan
bagi anak agar suasana belajar menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Pada
sentra permainan ini anak diajak mengenal dan memainkan kembali permainan
tradisional agar tetap lestari keberadaannya. Termasuk juga disini adalah kelas
catur yang diselenggarakan sekali seminggu.

Kemudian masih ada sentra panggung untuk menumbuhkan keberanian
dan rasa percaya diri anak tampil dan berbicara di depan umum.  Kegiatan belajarnya meliputi menari, membaca dengan
suara nyaring, dolanan anak serta kelas bercerita atau mendongeng.

Ada pula sentra komputer sebagai wadah kegiatan yang
berhubungan dengan teknologi informasi yang berbasis internet sehat.
Pembelajaran yang sudah dilaksanakan seperti desain grafis termasuk editing
foto dan pembuatan vlog. “Internet sehat dimaksudkan agar masyarakat mampu
menyaring informasi yang masuk dengan bijak yang dilandasi dengan buku di
perpustakaan sebagai referensinya. Ini sekaligus sebagai penangkal informasi
yang tidak benar (hoaks),” tukas Nuradi.

Nuradi menambahkan di era serba digital ini, buku bukanlah satu
satunya sumber pengetahuan, namun bisa juga diperoleh melalu media internet.
Keduanya merupakan sumber informasi handal dalam meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan di abad 21 ini. Dari sinilah akan muncul kreativitas di semua
jenjang masyarakat, sehingga mendorong munculnya ekonomi kreatif.

Selanjutnya ada sentra menulis merupakan kegiatan yang
memberikan keterampilan dalam kepenulisan. Kegiatannya biasa dilaksanakan
bersama  sekolah, masyarakat,
perpustakaan desa, dan komunitas ibu-ibu. “Target menulisnya adalah
membuat sebuah buku, sehingga peserta menjadi bersemangat dan bangga dengan
hasil karyanya,” tutur bapak dua anak yang juga pegiat anti korupsi ini.

Berbagai pelatihan ketrampilan pun dilaksanakan di Mata Aksara dalam sentra kriya dengan praktek rajut, shibori, menjahit, memasak, membatik dan lainnya. Selain itu ada sentra lingkungan yang memfasilitasi kegiatan di bidang pertanian seperti pembuatan pupuk cair, hidroponik dan Aqua phonik.

Ke depan Nuradi berharap akan semakin banyak pihak  yang tertarik dan bersedia bekerjasama
memajukan literasi, bukan saja yang berada di lingkungan formal seperti sekolah
atau lembaga pendidikan tetapi juga pemerintah, pelaku usaha, karang taruna,
PKK atau kelompok yang fokus di bidang informasi seperti Kelompok Informasi
Masyarakat. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)