Kelola Sampah Kunci Lingkungan Permukiman Bersih Sehat

Ngaglik – Sampah merupakan permasalahan yang tak pernah usai. Efek yang diakibatkan oleh sampah terhadap lingkungan makin hari makin parah seiring bertambahnya penduduk.

Permasalahan akan selalu ada apabila masyarakat tidak atau belum menyadari akan arti penting pengelolaan sampah di lingkungan sendiri. Pengelolaan sampah tersebut harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilir untuk itu kesadaran masyarakat menciptakan lingkungan bersih dan sehat harus senantiasa ditumbuhkan dimulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah tangga.

Demikian disampaikan Nurlailah dari Lembaga Grahatma Semesta dan Perkumpulan Sasmita yang merupakan koordinator acara Bazar, Pameran, Workshop dan Lokalatih Kewirausahaan berbasis Sumber Daya Lokal dengan tema “Wujudkan Lingkungan Pemukiman Sehat dan Bebas dari Sampah” yang berlangsung di halaman Masjid Baitul Hasanah Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (17/11/2019).

Lebih lanjut dikemukakan bahwa pengelolaan sampah bertujuan untuk meminimalisir dampak pencemaran terhadap lingkungan dengan mengurangi penggunaannya dan mengubah menjadi bahan yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Pengelolaan sampah dapat berupa pengomposan sampah organik, memilah dan mengolah sampah anorganik menjadi barang-barang yang mempunyai nilai ekonomi.

“Hal ini sejalan dengan visi Dusun Penen dalam menjaga kebersihan dan penghijauan lingkungan dengan semboyan Penen “Berseri” atau Bersih, Elok, Ramah, Sehat, Edukatif, Rapi, dan Indah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh warga untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi kawasan yang sehat dan bebas sampah, di antaranya dengan memilah, memilih dan mengolah sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos melalui proses pengomposan menggunakan komposter Takakura, sedangkan sampah anorganik dikelola oleh melalui bank sampah atau diolah menjadi produk daur ulang,” terang Nurlailah.

Selain pengolahan sampah, warga Penen juga melakukan kegiatan yang menitikberatkan pada penghijauan dan pemanfaatan lahan pekarangan di sekitar wilayah hunian. Kegiatan ini bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dan mendorong kemandirian pangan keluarga. Selain tanaman sayur dan buah, tanaman obat keluarga (TOGA) juga mereka budidayakan.

Masyarakat Dusun Penen bersama dengan mitra yaitu Grahatma Semesta dan Perkumpulan Sasmita telah bekerjasama untuk mengembangkan beragam model pengelolaan lingkungan permukiman terpadu. Di antaranya model budi daya tanaman dengan sistem aquaponik, yang menggabungkan budi daya tanaman dengan budi daya ikan. Budi daya dan pemanfaatan toga menjadi beragam ramuan sehat yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, serta pengolahan sampah organik rumah tangga dengan komposter Takakura.

“Model pengolahan sampah yang sederhana dan dapat diterapkan di tiap rumah tangga. Sebagian dari hasil dari kegiatan tersebut , hari ini akan dibagikan kepada partisipan pelatihan,” ungkap Nurlailah.

Nurlailah berharap pelatihan dan workshop akan meningkatkan kepedulian dan inisiatif warga dalam pengelolaan lingkungan pemukiman yang sehat dan bebas dari sampah. Siapapun yang hadir bisa melihat apa yang dikembangkan di Dusun Penen, dan diharapkan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, dengan kegiatan tersebut dapat dijadikan media untuk tumbuh dan berkembangnya semangat kewirausahaan dan keberdayaan ekonomi masyarakat.

Selain pelatihan/lokalatih kewirausahaan komunitas, juga dilakukan workshop pengelolaan lingkungan pemukiman yang diikuti oleh perwakilan masyarakat yang ada di wilayah Donoharjo dan sekitarnya. Acara juga dihadiri dinas terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Kesehatan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, jajaran pemerintahan Kecamatan dan Desa Donoharjo.

Kegiatan Bazar menampilkan beragam produk pangan alami dan produk industri kreatif berbasis sumber daya lokal. Sementara itu pameran menampilkan produk-produk tekno sosial ramah lingkungan seperti alat komposter untuk pengolahan sampah organik, inovasi pemanfaatan limbah minyak jelantah serta beragam produk yang bertujuan memperluas gerakan tolak sampah.

Acara semakin meriah dengan tampilnya kesenian yang sampai saat ini masih dilestarikan masyarakat Penen diantaranya gejog lesung Sedyo Laras, dan tari-tarian yang ditampilkan oleh anak-anak Dusun Penen yang tergabung dalam Sanggar Dinda Art Dance.(KIM Ngaglik/ Upik Wahyuni)




Pengelolaan Sampah yang Benar Dimulai dari Rumah Tangga

Ngaglik – Hulu dari persoalan sampah ada pada rumah tangga. Berdasar survei Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional)  tahun 2014, cara rumah tangga memperlakukan sampah untuk di pedesaan mayoritas dengan membakar, dan di perkotaan dengan menyerahkan kepada petugas sampah.

Shely dari komunitas Zero Waste, suatu komunitas yang
bergerak dalam upaya mengurangi sampah menghimbau masyarakat untuk mencegah,
memilah, dan mengolah sampah. “Cegah dengan tidak menggunakan barang yang
berpotensi menjadi sampah, pilah sesuai jenisnya, dan olah menjadi kompos atau
serahkan kepada lembaga pengolah,” ujar Shely saat mengisi workshop Wujudkan Lingkungan
Permukiman Sehat dan Bebas dari Sampah di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo,
Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Minggu (17/11/2019).

Shely juga menghimbau kepada setiap rumah tangga untuk
memakai barang yang ada, meminjam, menukar, baru kemudian alternatif untuk membeli.
Selain itu Shely juga mengajak untuk menolak pemakaian tisu, sedotan, sterofoam,
dan bahan lain yang sulit terurai.

Mengajak warga mengelola sampah dengan benar memerlukan motivator
karena tidak semua orang mau melakukan perubahan, meskipun banyak pula
orang-orang yang memiliki potensi sebagai penggerak dan sebagai aktor
perubahan. Aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang berbasis
komunitas akan selalu membutuhkan gerakan bersama untuk mewujudkan perubahan. Melalui
kader penggerak masyarakat, Pemerintah Desa Donoharjo pun rajin mendorong warga
agar mengelola sampah yang benar.

Endar, salah seorang kader penggerak masyarakat Padukuhan
Penen pada kesempatan yang sama menjelaskan apa yang sudah mereka lakukan dalam
mendorong masyarakat agar mengelola sampah. 
“Secara garis besar ada tiga hal yang sudah kami lakukan. Pertama,
pengelolaan kebersihan dengan menjaga kebersihan secara individual masing-masing
rumah dan pekarangan, pemeriksaan jentik nyamuk oleh pemuda bekerja sama dengan
puskesmas dan melakukan kegiatan Jumat bersih, dan bersama-sama melakukan
kebersihan kampung meliputi kebun kosong, jalan, dan fasilitas umum,” ujar
Endar.

Hal kedua adalah melakukan pengelolaan sampah dimana setiap
keluarga melakukan pemilahan sampah sejak dalam rumah tangga. Sampah anorganik
dikelola bank sampah, dan sampah organik dikelola dengan pembuatan kompos rumah
tangga dengan metode Takakura.

Dan yang terakhir adalah penghijauan.  “Disepakati oleh warga, bahwa pengelompokan
dan pendirian rumah bibit untuk tanaman buah di RT 1, tanaman hias di RT 2, tanaman
obat keluarga di RT 3, dan tanaman sayuran di RT 4,” ujar Endar.

Menyampaikan materi pengelolaan lingkungan berbasis
komunitas, Endar berharap kegiatan yang sudah mereka rintis bisa menjadi
inspirasi untuk diterapkan di wilayah lain dengan hasil yang jauh lebih baik
daripada di Padukuhan Penen.(KIM Ngaglik/Endarwati)




Gendhis Manis Pelopori Desa Umbulmartani Layak Anak

Ngemplak
– Anak-anak tampak senang dan bergembira dengan hadirnya Sanggar Gendhis Manis.
Sanggar ini melaksanakan kegiatan rutin tiap hari Jumat dan Sabtu, berupa
pelatihan tari yang diadakan di rumah Lurah tepatnya Dusun Kledokan, Desa
Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak.

Ketua
PKK Desa Umbulmartani, Indah Lestari menjelaskan, saat ini ruang dan sarana
bermain anak sangat berkurang. Tempat bermain anak kini banyak menjadi menjadi
kawasan ekonomi. Belum lagi kehadiran gadget yang kian hari semakin menjangkiti
anak menjadi pribadi yang anti sosial.

Gejala
sosial inilah yang kemudian ditangkap oleh Indah, untuk kembali menghidupkan
dan menyediakan sarana bermain bagi anak-anak di lingkungannya.

Meski
tergolong baru sanggar ini mempunyai jumlah peserta sekitar 35 orang anak (TK,
SD, SMP). Anak-anak didampingi oleh 2 orang guru tari yang mengajarkan dari
dasar-dasar tari hingga tarian Jawa baik tari kreasi baru maupun tari klasik
yang digemari oleh anak-anak pada umumnya seperti Tari Rampak, Tari Candhik
Ayu, dan Tari Gambyong.

Berbeda
dengan hari biasanya sanggar ini mengadakan kegiatan berkolaborasi dengan Mata
Aksara sebagai salah satu lembaga yang fokus pada kegiatan minat baca dan
literasi, Sabtu (16/11/219).

Menurut Rahma, menari itu dasarnya juga membaca. “Bahwa dengan banyak membaca cerita, memberikan dasar pemahaman bagi anak didiknya terhadap pengetahuan seni tari, terutama menguatkan olah rasa yang dituangkan dalam gerakan tarian. Di sinilah pentingnya literasi,” ujar lulusan sarjana seni tari ISI Yogyakarta ini.

Acara pun dimulai, perhatian anak nampak tertuju pada saat buku cerita mulai dibacakan dengan nyaring oleh Adi. Intonasi yang unik dan karakter suara tokoh yang ada dalam buku rupanya mencuri perhatian anak untuk terus mendengar dan menyimak isi cerita, yang sesekali diselingi  ekspresi suara tertawa dan canda riang anak menanggapi alur cerita.

Selanjutnya
parade mendongeng dengan membaca nyaring pun kemudian dilakukan oleh
masing-masing anak sanggar secara bergantian.

“Saya
tidak menyangka anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Ternyata
kegiatan menari sesekali diselingi kegiatan membaca sangat positif dan membuat
anak menjadi semakin semangat karena tidak bosan,” ungkap Indah istri Lurah
yang juga Bunda PAUD dengan optimis.

Sanggar
seni dan tari Gendhis Manis, diharapkan menjadi pelopor di salah satu padukuhan
untuk mendukung Desa Layak Anak.

Kegiatan
ini didukung oleh orangtua, masyarakat dan dunia usaha. Rumah makan yang
terkenal di Kledokan inipun ikut berpartisipasi meminjamkan salah satu
fasilitas ruangan dan konsumsi saat latihan.

Selain
itu anak-anak sanggar juga sering tampil di event Raminten Berbudaya, juga
kegiatan pentas yang diselenggarakan oleh Desa Umbulmartani yang ke semuanya
adalah potensi lokal milik Desa Umbulmartani.

Untuk mencukupi kebutuhan operasional sanggar, dilakukan sumbangan gotong royong untuk kas. “Semuanya kembali ke siswa sanggar, di antaranya untuk membeli kaos seragam dan perlengkapan saat pentas seni,” Rahma menambahkan.

Ditanya
terkait izin sanggar dan kepengurusan, ditanggapi dengan ringan oleh Indah
Lestari, bahwa akan segera dibenahi kepengurusan untuk kelengkapan izin sanggar.
“Namun yang paling penting bagaimana kegiatan ini benar-benar memberi ruang
bagi anak-anak di dusun dan desa untuk memperoleh haknya yaitu mempunyai ruang
bermain dan belajar, dengan didukung oleh seluruh komponen masyarakat,”
tutupnya. (Nuradi/KIM Ngemplak)




Bangun Sumur Bor di Tanah Kering Wangon Serut Gedangsari

Penyerahan bantuan sumur bor untuk warga Wangon Serut Gedangsari bekerja sama Lembaga Penanggulangan Bencana Pimpinan Daerah Muhammadiyah (LPB PDM) Sleman, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Baitul Mal Bank Muamalat Yogyakarta, danLembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Muhammadiyah (LAZISMU) PCM Gedangsari pada Minggu (17/11/2019) dibingkai dalam acara Pengajian Tasyakuran 107 Tahun Muhammadiyah.  

Ketua
Panitia yang sekaligus Ketua LAZISMU Gedangsari, Muhtar Sholikin menyampaikan
bahwa kemarau yang panjang kali ini direspon oleh LPB Sleman dengan mengirimkan
ratusan tangki air sebagai ikhtiar jangka pendek mengatasi kekeringan.

Kemudian
LPB Sleman bersama MDMC PP Muhammadiyah mrancang upaya jangka Panjang dengan pembuatan
sumur bor yang proses persiapan pengeboran dilakukan sejak 24 Oktober 2019.

Pembuatan
sumur bor ini akhirnya membuahkan hasil air bersih dengan kedalaman 102 meter.
Pembuatan sumur bor mengeluarkan dana sebesar 30juta rupiah di antaranya dari Baitul
Mal Bank Muamalat Yogyakarta, swadaya masyarakat Serut 2,5 juta rupiah, material
serta tenaga dan tanah dari keluarga Hasto Wiyono yang digunakan sebagai lahan
sumur bor.

Satmono
Dadi dari PDM Gunung Kidul menyampaikan agar warga Serut tidak ketinggalan untuk
bersedekah dan menyempurnakan distribusi air sampai ke rumah masing-masing.

“Karena
ini juga menjadi kesempatan emas bersedekah yang pahalanya terus mengalir dan
upaya agar sumur bor ini bisa dikelola dengan bijak dengan membentuk kelompok
pengelola secara tertata agar manfaatnya semakin optimal,” tambahnya.

Kekeringan
ini menurutnya bisa mengingatkan barangkali ada hal yang harus dibenahi
bersama-sama dalam menjaga tauhid dan ketaqwaan. (Arif Hartanto)




Takmir Masjid Baiturrahman Salurkan 19 Tangki Air di Ngawen dan Rongkop

Ngawen –Kepedulian sesama umat dan masyarakat perlu ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari.  Demikian yang disampaikan oleh Wakil Ketua Takmir Masjid Besar Baiturrahman Klidon Sukoharjo Ngaglik, Totok Suparwoto, dalam acara Bakti Sosial Bantuan Air Bersih kepada warga Kecamatan Ngawen dan Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Kamis (14/11/2019).

Totok
menyampaikan pihaknya memberikan bantuan sebanyak 19 tangki air bersih ke dua
kecamatan tersebut. Pemberian bantuan secara simbolis dilakukan di Dusun Kepek,
Desa Watu Segar, Kecamatan Ngawen yang diterima Sutopo selaku Kepala Dusun
Kepek dan didampingi perwakilan Pemerintah Gunung Kidul, Sapto. 

Sutopo,
Kepala Dusun Kepek mewakili masyarakat menyampaikan terima kasih atas bantuan
ini. Bantuan ini menurutnya dapat meringankan beban masyarakat terkait
kesediaan air.

“Sekarang
sudah hujan tetapi air belum meresap dan masih sangat kekurangan untuk itu atas
nama masyarakat menyampaikan terima kasih, semoga menjadi ladang amal bagi yang
membantu yaitu takmir Masjid Baiturrahman Klidon,” ujar Sutopo.

Sementara
itu, Sapto, perwakilan dari Pemerintah Gunung Kidul menjelaskan terkait rencana
distribusi air, yakni untuk Kecamatan Ngawen 12 tangki air dan Kecamatan
Rongkop 7 tangki air.

“Hari
ini telah mulai didrop dari rumah ke rumah yang sangat membutuhkan,”
tambahnya. 

Air
bantuan ini nantinya ditambung di sumur gali masing-masing rumah yang sebelumnya
sudah disiapkan pompa untuk mengangkat di penampungan air supaya bisa dialihkan
ke bak mandi dan juga tempat lainnya. (KIM Ngaglik/Srp)