HUT Ke 42, RSUD Sleman Luncurkan Smart Hospital

Bupati Sleman, Sri Purnomo luncurkan RSUD Sleman sebagai Smart Hospital di Ruang Pronojiwo Lantai 5 RSUD Sleman, Sabtu (29/11/19). Peluncuran ini juga disertai dengan peresmian lima nama baru ruangan di RSUD Sleman ditandai dengan penekanan tombol bersama yang dilakukan Bupati Sleman, Plt. Direktur RSUD Sleman dan Kepala BKAD Kabupaten Sleman.

Plt. Direktur RSUD Sleman, Joko Hastaryo menjelaskan bahwa peluncuran Smart Hospital tersebut merupakan tantangan di era revolusi industri 4.0 sekaligus mendukung keberhasilan perwujudan smart regency di tahun 2021 sesuai visi Bupati Sleman. Lompatan prestasi di era revolusi industry 4.0 menurutnya merupakan hasil dari inovasi.

“Smart hospital sebagai bagian integral dari smart regency adalah perwujudan nyata kumpulan inovasi untuk peningkatan pelayanan kesehatan. Selain itu kami juga ingin mewujudkan RSUD Sleman sebagai Green Hospital,”tutur Joko.

Joko mengatakan bahwa implementasi smart hospital yang telah dilakukan RSUD Sleman diantaranya yaitu selain pendaftaran mandiri dengan mesin antrian juga dilakukan pendaftaran secara online maupun berbasis android untuk memudahkan pasien yang akan mengakses layanan kesehatan.

“Kami juga melakukan komputerisasi pelayanan menuju paperless dan masih banyak lagi,” jelas Joko.

Terkait peresmian nama baru lima ruangan di RSUD Sleman, Joko menyampaikan nama kelima ruangan tersebut yaitu Pronojiwo, Turgo, Plawangan, Pandawa dan Ngampon yang merupakan nama-nama bukit di Kabupaten Sleman.

“Sambil menyongsong pesatnya perkembangan teknologi, kami tetap selalu berpijak ke bumi Sleman Sembada. Salah satunya penamaan ruang pertemuan yang ada di RSUD Sleman kami beri nama-nama bukit di Kabupaten Sleman,” tambahnya.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menyambut baik peluncuran smart hospital ini. Hal ini sesuai dengan tema HUT ke 42 RSUD Sleman yaitu ‘ Bersama RSUD Sleman Menuju Smart Hospital di Era 4.0’.

“RSUD Sleman sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di Kabupaten Sleman terus berupaya melakukan perbaikan-perbaikan dalam pelayanannya. Salah satu jaminan pelayanan adalah sertifikat akrediasi RSUD Sleman dengan status lulus tingkat Paripurna,” kata Sri Purnomo.

Ia menjelaskan bahwa RSUD Sleman merupakan rumah sakit daerah yang didukung dengan SDM berkompeten dan memadai serta sarana prasarana yang lengkap. Terlebih pada HUT ke 42 ini RSUD Sleman juga meluncurkan fasilitas pelayanan gigi komprehensif, klinik Jantung, klinik estetika dan lainnya.

“Ini saya harapkan menjadi momentum RSUD Sleman untuk meningkatkan komitmen, semangat, kepedulian dan gerakan nyata pembangunan kesehatan untuk masyarakat Sleman,” pungkasnya. (Dik)




Wujudkan RTH, Desa Sinduharjo Tanam 200 Pohon

Ngaglik – Sekitar 50 anggota taruna Akmil berbaur dengan warga masyarakat Desa Sinduharjo mengikuti acara bulan bakti gotong dengan pembersihan lokasi dan penanaman pohon pada tanah kas desa di samping SMK Bina Harapan, Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (29/11/2019).

Kegiatan ini diawali dengan upacara penyerahan 200 bibit tanaman oleh Camat Ngaglik, Subagyo yang diterima oleh perwakilan dari taruna dan warga masyarakat, disaksikan oleh Muspika Kecamatan Ngaglik, komandan Akmil, Pemerintah Desa, dan warga Desa Sinduharjo.

“Bulan bakti gotong royong di desa Sinduharjo ini adalah penanaman pohon di lahan tanah kas desa seluas 2 Ha, dengan harapan bisa menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), dan dapat digunakan warga sebagai wahana rekreasi,” kata HD Sumarno, Kasi Kesejahteraan Desa Sinduharjo di sela-sela penanaman pohon.

Selain itu, menurut Sumarno, penanaman pohon ini juga untuk mendukung program literasi Desa Sinduharjo yang sudah dilaksanakan dan dapat dukungan dana dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.(KIM Ngaglik/Spn)




Lulus Uji Fungsi, 25 Sarana Air Bersih di Sleman Siap Diresmikan

Ngaglik – Uji fungsi program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tahun anggaran 2019 Kabupaten Sleman telah dilaksanakan tanggal 11 – 29 Nopember 2019. Uji fungsi ini dilakukan untuk mengecek apakah sarana prasarana air minum dan sanitasi yang telah dibangun bisa berfungsi dengan baik atau tidak, dan air bisa dengan lancar mengalir ke rumah-rumah warga.

“Hasil uji fungsi bagus, semua sudah berfungsi dan air sudah sampai ke masyarakat,” jelas Bayu Aji Priwantoro, staf PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) air minum Balai PPW (Prasarana Permukiman Wilayah) saat memantau sarana air bersih di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (29/11/2019).

Bayu Aji menyampaikan harapannya agar prasarana air minum yang sudah dibangun ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat dan dapat dikelola dengan baik sehingga lebih berkembang dan mandiri. “Sebisa mungkin pengembangan project ini dapat diperluas dengan ketersediaan anggaran APBDes untuk kegiatan air minum tiap tahunnya,” ujar Bayu Aji.

Uji fungsi dilakukan di 25 desa atau seluruh lokasi program Pamsimas tahun 2019, sebelum sarana air bersih tersebut diresmikan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Senin (2/12/2019) mendatang di Lapangan Padukuhan Klangkapan II, Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan.(KIM Ngaglik/Endarwati)




Membuat Kompos Rumah Tangga dengan Metode Takakura

Ngaglik – Metode
Takakura ditemukan oleh Profesor Koji Takakura, peneliti asal Jepang yang melakukan
riset di Surabaya dalam rangka mencari sistem pengolahan sampah organik. Metode
ini sangat sederhana dan bisa diterapkan pada skala rumah tangga baik di
wilayah perkotaan yang terkendala persoalan lahan maupun di pedesaan.

Endarwati, salah
seorang kader penggerak masyarakat di Padukuhan Penen, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman berbagi cara menerapkan metode Takakura ini. “Kebanyakan
masyarakat dalam pengelolaan sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir yaitu
dikumpulkan, diangkut, dan dibuang atau bagi masyarakat pedesaan dengan
dibakar. Padahal untuk sampah
organik bisa diolah
dengan cara pengomposan menggunakan Metode Takakura,” ujar Endarwati saat ditemui di kediamannya,
Jumat (29/11/2019).

Sederhananya,
metode ini adalah memasukkan sampah rumah tangga ke dalam keranjang khusus
selama beberapa waktu. Bahan yang digunakan adalah keranjang bisa
terbuat dari plastik, bambu,
atau bahan lain yang dindingnya
berlubang agar sirkulasi udara. Kemudian kardus yang besarnya sesuai dengan
besar keranjang. Kardus berfungsi sebagai tempat proses pengomposan dan juga
untuk menjaga kelembaban. Bahan lainnya adalah sekam, dedak, dan bio starter atau bakteri pengurai.

“Bakteri
pengurai bisa dibuat sendiri dengan campuran air 12 liter, tape ketela 0,5 kg , tempe 0,25 kg, susu fermentasi 1 botol, dan tetes tebu 2 gelas yang kesemuanya dimasukkan ke dalam galon air dan diperam selama
2 minggu,” ujar wanita yang
akrab dipanggil Mbak Endar ini.

Selanjutnya
ada juga biang bakteri padat yang dibuat dengan campuran dedak dan sekam dengan perbandingan
1:2 kemudian ditambah bakteri cair yang telah dibuat tadi serta diberi air
secukupnya untuk menjaga kelembaban. Setiap hari campuran ini diaduk untuk
mempercepat proses pembusukan. Setelah diperam minimal 7 hari baru bisa
dipergunakan.

Cara pembuatan kompos dengan metode Takakura ternyata sederhana, dengan memasukkan kardus
sesuai ukuran keranjang, setelah itu diletakkan sekam yang sudah dijahit
menggunakan kain jaring sehingga menyerupai bantal. Sekam ini berfungsi menyerap
air lindi agar bagian alas tidak terlalu lembab.

Kemudian
masukkan sampah rumah tangga dalam kondisi tercacah. Sampah rumah tangga ini berupa sisa
makanan, sisa sayur, kulit buah, sisa nasi termasuk tulang ikan dan ayam. Setelah
itu keranjang ditutup menggunakan sekam yang sudah dibentuk seperti bantal
kemudian ditutup dengan kain hitam agar terhindar dari lalat dan serangga serta
menjaga kelembabannya. Aduk campuran biang bakteri dan sampah tersebut setiap
hari untuk mempercepat pembusukan.

“Proses
yang berlangsung baik ditandai dengan suhu yang hangat, tidak berbau serta
pembusukan berjalan cepat,”
imbuh Endar.

Umumnya keranjang penuh dalam waktu 2-4 bulan. Bila sudah
penuh ambil sepertiga yang paling atas. Kompos yang sudah diambil didiamkan
dahulu selama 14 hari
baru bisa dipakai sebagai pupuk tanaman. Sedangkan sisanya yang tertinggal di
keranjang dipakai sebagai bakteri untuk proses pengomposan berikutnya.

 “Kelebihan Takakura adalah praktis,
mudah dipindahkan, dan
bisa ditempatkan di mana saja. Prinsipnya asal tidak terkena sinar matahari langsung, kondisinya selalu
lembab, dan memiliki
sirkulasi udara yang baik,”
pungkas Endar. (Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)




Proses Pilkades yang Lebih Cepat dan Akurat dengan e-Voting

Ngaglik
– Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman Bersama Dinas Pemberdayaan
Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Sleman melakukan sosialisasi mengenai penerapan
sistem e-voting dalam
pilkades serentak 2020 kepada anggota
kelompok Informasi Masyarakat (KIM)
se-Kabupaten Sleman di Resto
Lohjinawi, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu
(27/11/2019).

“Tujuannya
menggunakan sistem e-voting ini untuk mendukung Sleman menuju smart
regency
di tahun 2021 yang sesuai dengan peraturan bupati dan untuk menjawab
beberapa kelemahan sistem pemilihan secara manual sekaligus memberikan literasi
mengenai teknologi kepada masyarakat,” kata Sekretaris Dinas Pemberdayaan
Masyarakat Desa Kabupaten Sleman, Budi
Sutamba dalam sambutannya, Rabu (27/11/2019).

Budi Sutamba melanjutkan bahwa
sistem elektronik voting (e-voting) merupakan sebuah sistem yang
memanfaatkan perangkat elektronik dan mengolah informasi digital untuk membuat
surat suara, memberikan suara, menghitung perolehan suara, mengirimkan hasil
serta rekapitulasi, menayangkan hasil, memelihara dan menghasilkan jejak audit.

Kelebihan
pertama yang dimiliki e-voting yaitu pemberian suara lebih mudah hanya
menyentuh panel gambarnya. Sementara sistem pemilihan konvensional masih
menggunakan pencoblosan pada surat suara. Kedua, e-voting dapat
menghitung dan mencetak struk audit. Sementara sistem konvensional mengandalkan
perhitungan manual. Ketiga, sistem e-voting ini aman karena sifatnya
offline. Terakhir, e-voting dapat menghitung hasil dengan cepat dan akurat
karena menggunakan perangkat elektronik. Sementara sistem manual relatif lebih
lama.

Selain
itu, e-voting memiliki keunggulan lainnya antara lain, lebih demokratis
artinya hanya yang memiliki KTP elektronik yang berhak untuk memilih.
Transparan hasil dan proses dapat diaudit. Serta efisien dalam hal biaya, sebab
penggunaan e-voting akan mereduksi penggunaan kertas. Nantinya, mesin e-voting
hanya mengeluarkan struk yang dapat dijadikan sebagai bukti pemilihan.

Hal
ini disambut baik oleh salah satu anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)
Kecamatan Mlati, Roni Eka Prasetyo yang
mengaku senang akan adanya sistem e-voting
dalam pilkades 2020 nanti yang lebih efisien dari pemilihan sebelumnya.
Harapannya, semoga bisa terealisasikan dan berkembang terus.

Selain
ada materi yang diberikan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, para peserta
sosialisasi juga diberikan waktu untuk melakukan simulasi pilkades agar dapat
mempraktekkan secara langsung tata cara pemilihan melalui e-voting. (Rep Bilal)