Safari Maulid Pererat Silaturahmi Antar Dusun

Ngaglik – Dalam rangka
memperingati kelahiran Nabi Muhammad
SAW
(12 Rabiul Awal-red)
atau jatuh tanggal 9 November 2019, jemaah
pengajian sewilayah Candi
lama mengadakan acara Safari Maulid. Kegiatan ini dilaksanakan selama 12 malam
dimulai dari Senin (28/10/19) hingga Jumat (8/11/19). Jemaah pengajian sewilayah Candi lama meliputi 12
dusun yang bergantian menjadi tuan rumah, dimulai dari Dusun Candi Winangun, Nglanjaran,
Candikarang, Candi 2, Bonjotan, Candisari, Bendolole, Candi 3, Ngangkruk, Tegalrejo,
Turen dan diakhiri Dusun
Candirejo.

Kegiatan Safari Maulid bertujuan untuk menyiarkan agama Islam dan menyambung silaturahim antar dusun dengan menghidupkan seni hadroh. Acara dibuka dengan membaca tahlil bersama lalu dilanjutkan dengan asmaul husna dan bersalawat diiringi alunan hadroh lalu ditutup mahalul qiyab.

Marwiyanto selaku Koordinator Acara mengaku jika peringatan Maulid Nabi sudah berlangsung selama 30 tahun dan semakin lama antusiasmenya semakin banyak.

“Kegiatan sudah berjalan 30 tahun yang menetap di Dusun Candi Winangun. Kemudian 4 tahun terakhir Candi 3 dan Bendolole ikut bergabung dan saat ini sudah ada 12 dusun yang bergabung,” ujarnya, Selasa (5/11/19).

Marwiyanto menambahkan awal mula kegiatan ini berlangsung. “Saya punya keinginan salawatan ini muter sewilayah Candi lama, lalu saya undangi masing-masing dusun sebanyak 2 orang. Lalu terbentuklah Safari Maulid ini,” tukasnya.

Ia berharap agar kegiatan ini bisa berkembang di luar Candi lama, terlebih bisa sampai se-Desa Sardonoharjo. “Bisa istiqomah serta semata-mata mencari rida Ilahi,” imbuhnya. (ISW/ KIM Sardonoharjo)




Literasi Tak Hanya Membaca Buku, Tapi Juga Berkarya

Ngemplak – Anggapan masyarakat selama ini adalah literasi hanya berkutat pada kegiatan membaca buku. Faktanya  ternyata bukan sebatas itu saja karena literasi juga berarti mempraktekkan isi buku yang telah dipahaminya menjadi suatu karya yang mempunyai manfaat dan bernilai ekonomi.

Demikian cita-cita yang terus diwujudkan oleh Nuradi Indra Wijaya melalui Rumah Pintar Mata Aksara yang ia dirikan bersama sang istri Heni Wardatur Rohmah di Jalan Kaliurang Km 14 Dusun Tegal Manding, Desa Umbul Martani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Dengan sesanti “Dari Buku Menjadi Karya”, Rumpin Mata Aksara menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber ilmu dan keterampilan bagi masyarakat.

Nuradi mengisahkan Mata Aksara  pada awalnya adalah perpustakaan keluarga
yang bertujuan mendorong anak dan keluarga agar gemar membaca. Seiring
berjalannya waktu dan peminat yang semakin banyak, taman bacaan masyarakat
tersebut kemudian berkembang dan dipercaya menjadi rumah pintar di tahun 2014.

“Untuk menunjang kegiatan literasi, Mata Aksara telah
banyak melakukan kegiatan dan acara yang kesemuanya adalah untuk mendukung
masyarakat dalam mendapatkan informasi yang benar dan bermanfaat kemudian
diaplikasikan untuk kegiatan bermanfaat, syukur-syukur bernilai ekonomi.
Seperti di Mata Aksara, selain terdapat perpustakaan juga ada unit pengembangan
produksi,” kata Nuradi saat ditemui, Rabu (6/11/2019).

Kegiatan Mata Aksara dibagi ke dalam beberapa sentra di antaranya
sentra buku dimana masyarakat bisa pinjam dan baca buku. Untuk lebih dekat
menjangkau masyarakat, perpustakaan keliling dengan motor pintarnya siap
berkunjung ke dusun, pedesaan, sekolah, hingga area publik seperti saat ada car free day.

Lalu ada kelas parenting yang melibatkan orang tua untuk
membangun budaya baca di lingkungan keluarga. Lingkungan sekolah pun tak luput
dari sentuhan Mata Aksara dengan 
melakukan pendampingan penyelenggaraan Gerakan Literasi Sekolah.

Selain itu Mata Aksara juga melaksanakan pendampingan pada
taman bacaan masyarakat serta perpustakaan desa. “Telah banyak perpustakaan
desa yang didampingi berhasil menjadi 
pemenang lomba perpustakaan tingkat nasional,” aku Nuradi yang juga
ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca Sleman ini.

Sarana kegiatan yang lain adalah adanya sentra permainan
bagi anak agar suasana belajar menjadi menyenangkan dan tidak membosankan. Pada
sentra permainan ini anak diajak mengenal dan memainkan kembali permainan
tradisional agar tetap lestari keberadaannya. Termasuk juga disini adalah kelas
catur yang diselenggarakan sekali seminggu.

Kemudian masih ada sentra panggung untuk menumbuhkan keberanian
dan rasa percaya diri anak tampil dan berbicara di depan umum.  Kegiatan belajarnya meliputi menari, membaca dengan
suara nyaring, dolanan anak serta kelas bercerita atau mendongeng.

Ada pula sentra komputer sebagai wadah kegiatan yang
berhubungan dengan teknologi informasi yang berbasis internet sehat.
Pembelajaran yang sudah dilaksanakan seperti desain grafis termasuk editing
foto dan pembuatan vlog. “Internet sehat dimaksudkan agar masyarakat mampu
menyaring informasi yang masuk dengan bijak yang dilandasi dengan buku di
perpustakaan sebagai referensinya. Ini sekaligus sebagai penangkal informasi
yang tidak benar (hoaks),” tukas Nuradi.

Nuradi menambahkan di era serba digital ini, buku bukanlah satu
satunya sumber pengetahuan, namun bisa juga diperoleh melalu media internet.
Keduanya merupakan sumber informasi handal dalam meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan di abad 21 ini. Dari sinilah akan muncul kreativitas di semua
jenjang masyarakat, sehingga mendorong munculnya ekonomi kreatif.

Selanjutnya ada sentra menulis merupakan kegiatan yang
memberikan keterampilan dalam kepenulisan. Kegiatannya biasa dilaksanakan
bersama  sekolah, masyarakat,
perpustakaan desa, dan komunitas ibu-ibu. “Target menulisnya adalah
membuat sebuah buku, sehingga peserta menjadi bersemangat dan bangga dengan
hasil karyanya,” tutur bapak dua anak yang juga pegiat anti korupsi ini.

Berbagai pelatihan ketrampilan pun dilaksanakan di Mata Aksara dalam sentra kriya dengan praktek rajut, shibori, menjahit, memasak, membatik dan lainnya. Selain itu ada sentra lingkungan yang memfasilitasi kegiatan di bidang pertanian seperti pembuatan pupuk cair, hidroponik dan Aqua phonik.

Ke depan Nuradi berharap akan semakin banyak pihak  yang tertarik dan bersedia bekerjasama
memajukan literasi, bukan saja yang berada di lingkungan formal seperti sekolah
atau lembaga pendidikan tetapi juga pemerintah, pelaku usaha, karang taruna,
PKK atau kelompok yang fokus di bidang informasi seperti Kelompok Informasi
Masyarakat. (KIM Ngaglik/Upik Wahyuni)




Website Pemerintah Perlu Gunakan Bahasa Indonesia yang Tepat

Sesuai
dengan peraturan Undang-Undang No 24
Tahun 2009 Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang resmi dan wajib digunakan dalam
menulis informasi di media massa. Penggunaan bahasa tersebut perlu dikemas
berdasarkan pada nilai-nilai berita agar berita yang disampaikan melalui media
apapun menjadi efisien serta bisa tersalurkan tanpa menimbulkan kegaduhan.

“Karena
membaca itu kita tidak bisa melihat karakter fisik orang yang menulis, apakah
dia sedang bahagia atau marah, tetapi bagaimana suasana hati kita pada saat
membaca itu sehingga kita perlu bijaksana untuk menulis. Jangan sampai menulis
berita apapun di dalam media informasi yang kita miliki menimbulkan kegaduhan,”
ujar Purwati, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Sleman saat menjadi narasumber pada kegiatan Diskusi Kebahasaan pada
Badan Publik, Media Massa, dan Media Luar Ruang yang diselenggarakan oleh Balai
Bahasa DIY di Ruang Praja 1 Sekretariat Daerah Kabupaten
Sleman, Selasa (5/11/2019).

Berita
yang layak ditayangkan dalam
media sosial maupun website memiliki indikator yang bisa menjadi alternatif bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD), yakni aktual/terkini, magnitude (cakupan),
dampak, proximity (kedekatan),
unik/ tidak biasa,
ketokohan, human interest,
dan konflik. Selain itu berita akan bernilai lebih jika mengandung unsur 3e+1n yakni
educating (mendidik), enlightening (mencerahkan), empowering (memberdayakan), nationalism
(kebangsaan/NKRI).

Purwati berharap agar masing-masing OPD lebih giat lagi dalam mempromosikan apa yang dilakukan dan bisa dipamerkan secara positif kepada masyarakat melalui media massa yang dimiliki seperti website atau media sosial dan bisa mengelolanya secara optimal. Hal tersebut dimaksudkan agar selain sebagai bentuk pertanggungjawaban OPD, masyarakat mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh OPD termasuk tujuan dan hasil dari kegiatan yang dilakukan.

“Harapannya
teman-teman OPD bisa memberikan informasi yang sifatnya lokal. Jadi bagaimana
website OPD itu bisa memberikan prosedur-prosedur pelayanan agar lebih mudah dan
cepat, bisa diakses, kegiatan-kegiatan dimasukkan ke media sosialnya. Dari
informasi-informasi yang diberikan kepada masyarakat tersebut kita akan bisa melihat
bagaimana respon masyarakat. Sebab kebijakan itu tidak akan baik output atau outcome
nya kalau kita tidak bisa melihat respon dari masyarakat yang menerima kebijakan,”
pungkasnya.(Rep Anis)




Melatih Fisik dan Mental dengan Gobak Sodor

Sleman
– KORPRI Kabupaten
Sleman dalam perayaan ulang tahunnya
yang ke-48 mengadakan beberapa perlombaan olahraga tradisional di Lapangan Pemda Sleman, Kabupaten Sleman, Selasa
(5/11/2019). Menurut Sumadi, Ketua Dewan Pengurus KORPRI
Sleman, lomba olahraga tradisional
ini diadakan untuk meningkatkan kebugaran fisik maupun mental, meningkatkan
kekompakkan, serta menjalin silaturahmi antar
pegawai.

Lomba
yang selalu diadakan setiap tahunnya ini diikuti oleh perangkat daerah, kecamatan,
dan UPT. Salah satu cabang yang dipertandingkan dalam lomba olahraga
tradisional ini adalah Gobak Sodor.

Menurut Sumadi, banyak manfaat yang didapatkan ketika
memainkan permainan gobak sodor ini seperti meningkatkan kebugaran jasmani
(fisik), kesehatan mental (keceriaan, kegembiraan), meningkatkan ketangkasan
dan kekompakkan. “Dari semuanya, yang terpenting adalah dapat melestarikan
olahraga tradisional yang kita miliki,” ujar Sumadi.

Gobak
Sodor diyakini berasal dari
Yogyakarta. Dilansir
dari penelitian Linda Dwi dari
Universitas Muhammadiyah Malang (2017), nama Gobak Sodor berasal
dari kata Gobag dan Sodor. Kata Gobak memiliki arti bergerak dengan bebas,
sedangkan Sodor berarti Tombak. Jumlah pemain dalam gobak sodor harus berjumlah
genap antara 6-10 orang. Kemudian dibagi menjadi dua tim, tim jaga dan tim
serang. Tiap tim beranggotakan 3-7 orang.

Yang
harus dipersiapkan dalam permainan ini adalah lapangan yang berbentuk persegi
panjang dengan ukuran 9x4m, atau lapangan bulu tangkis, yang dibagi menjadi 6
bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur.

Adapun
cara bermain Gobak Sodor adalah setiap
orang di grup jaga membuat penjagaan berlapis dengan cara berbaris ke belakang
sambil merentangkan tangan agar tidak dapat dilalui oleh lawan. Satu orang
penjaga lagi bertugas di garis tengah yang bergerak tegak lurus dari penjaga
lainnya. Selama permainan berlangsung, salah satu kaki penjaga harus tetap di
atas garis jaga. Jika pemain lawan tersentuh maka pemain pun gugur. Kemenangan
akan diperoleh grup jaga jika
berhasil mengenai seluruh pemain lawan.

“Adanya perlombaan ini, seakan mengingat pada masa kecil dulu karena sekarang kan sudah jarang yang memainkan gobak sodor ini. Makanya saya senang,” ujar Sutoyo dari Kecamatan Godean saat mengikuti perlombaan Gobak Sodor ini.(Rep Bilal)




Bangun Kesadaran Bencana dengan Aplikasi Lapor Bencana Sleman

Sleman
– Informasi yang cepat dan tepat merupakan kunci utama untuk mengatasi kondisi
darurat bencana. Hal inilah yang menjadi dasar utama BPBD Sleman meluncurkan
aplikasi sadar bencana yaitu Lapor Bencana Sleman, sebuah aplikasi yang
memudahkan masyarakat untuk memberikan informasi darurat secara cepat dan
tepat.

“Karena
masyarakat itu kan ketika mau melaporkan kondisi darurat yang terjadi, harus
melalui telepon. Biasanya infonya tidak lengkap,” ungkap Makwan, Kepala Bidang
Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten
Sleman ketika ditemui dikantornya, Senin (04/11/2019).

Dengan
adanya aplikasi ini, masyarakat Sleman, terutama yang berada di daerah rawan bencana
dapat lebih sadar dan paham mengenai bencana yang terjadi di sekitarnya.
“Terutama yang berada di daerah rawan bencana, diharapkan melalui aplikasi ini
dapat lebih sadar bencana, bisa lebih melibatkan diri untuk mengatasi dampak
bencana,” Makwan menambahkan.

Melalui
aplikasi Lapor Bencana Sleman, masyarakat dapat secara cepat dan tepat
memberikan informasi yang dibutuhkan oleh tim tanggap darurat agar dapat segera
melakukan tindakan pertama untuk menanggulangi dampak bencana. “Biasanya, tim
itu kesusahan untuk menuju lokasi karena tidak tahu lokasi pastinya itu dimana,
koordinat berapa. Dengan adanya sistem Lapor Bencana ini, tim dapat bergerak
dengan cepat menuju lokasi, karena basisnya itu sistem geospasial,
koordinasinya itu langsung terdata ketika melaporkan,” jelas Makwan.

Selain
itu, aplikasi ini juga menjadi alat saring informasi bencana yang palsu atau
hoaks. “Dulu sering ada informasi darurat yang dilaporkan. Tapi waktu dicek ke
lapangan, ternyata tidak ada. Makanya pakai aplikasi ini, tim itu dapat
memastikan dulu kejadian yang sebenarnya. Soalnya ada fotonya harus diambil
waktu kejadian dan tidak bisa diambil dari galeri,” aku pria berkumis ini.

Ia
juga menerangkan fungsi adanya keharusan mengambil foto ketika melaporkan
melalui aplikasi Lapor Bencana ini agar tim tanggap darurat dapat melakukan
assessment awal mengenai kejadian yang terjadi sehingga dapat memudahkan
melakukan persiapan untuk penanggulangan bencana.

”Jadi
melalui foto itu, tim tahu harus bawa apa aja ke lapangan. Butuh gergaji mesin nggak,
butuh damkar, atau butuh berapa orang. Dari foto atau video yang dilaporkan,
kita bisa mempersiapkan semuanya,” terang Makwan.

Aplikasi
Lapor Bencana Sleman telah tersedia di Google Playstore dan sudah bisa diunduh
oleh pengguna Android. Tampilan awalnya cukup sederhana dan pengorperasiannya
sendiri ramah pengguna.

Pengguna
akan disajikan beberapa pilihan menu. Pertama adalah menu Laporan Bencana.
Melalui menu ini, pengguna dapat melaporkan bencana yang terjadi di sekitarnya.
Pengguna tinggal mengisi identitasi diri seperti NIK, nama, nomor seluler,
bencana yang terjadi, alamat seperti kelurahan dan dusun. Pada menu ini, titik
koordinasi pelapor telah tercantum secara otomatis melalui sistem lokasi ponsel
masing-masing. Pengguna juga diminta untuk mengambil foto atau video kejadian
yang terjadi. Laporan yang telah dimasukkan oleh pengguna akan tercatat di menu
History sebagai bukti laporan.

Selain
itu, ada juga menu Jarak Aku Merapi. Makwan menerangkan bahwa menu ini
memungkinkan pengguna mengetahui berapa jarak mereka dengan titik puncak
merapi. Ketika pengguna berada di daerah berbahaya atau zona merah merapi maka
ponsel pengguna akan berbunyi atau bergetar sebagai tanda peringatan agar
segera melakukan evakuasi dari lokasi tersebut. Ini juga sebagai bentuk bantuan
kepastian status bagi warga yang berada disekitar kaki gunung merapi.

“Dengan
menu ini, kita jadi tahu kapan kita harus mengungsi, tidak harus repot menunggu
info lagi karena sistem informasinya sudah terhubung langsung dengan kita,”
papar Makwan.

Makwan
juga menambahkan bahwa konsep yang digunakan dalam aplikasi ini juga dapat
diterapkan oleh keadaan darurat lainnya. Nantinya, aplikasi ini akan
dikembangkan lagi agar dapat mengakomodir keadaan darurat lainnya, seperti
kejadian kebakaran ataupun kebutuhan ambulan darurat. (Rep Faridz)