Kenduri Banyu Udan 2019, Sehat dengan Air Hujan

Ngaglik – Sehat
dengan air hujan, itulah tema acara Kenduri Banyu Udan yang diselenggarakan
oleh Komunitas Banyu Bening Tempursari, Sardonoharjo. Kenduri Banyu Udan 2019
atau yang keempat ini berlangsung di Dusun Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, pada
Sabtu (30/11).
Agus Prasetyo selaku Ketua Panitia menjelaskan bahwa acara kenduri ini dimaksudkan sebagai pengingat kita manusia yang diberikan tugas dan tanggung jawab oleh Allah SWT sebagai khalifah di bumi untuk memetri bumi dan memayu hayuning bawono (merawat dan memperindah bumi dan seisinya-red), sebuah tanggung jawab yang berat sekaligus agung untuk umat manusia.
Sehat dengan air hujan,
tema tersebut dipilih untuk menggedor kesadaran kita bahwa air hujan itu memang
menyehatkan. Sekian lama kita terdogma dengan paham bahwa air hujan itu jelek,
tidak sehat, menimbulkan
penyakit, dan lain sebagainya.
“Di Komunitas Banyu
Bening kami membuktikan kebalikannya. Air hujan sama sekali bukan sumber
masalah kesehatan. Air hujan adalah air istimewa yang menyehatkan. Ada banyak
bukti empirik dan saintifik. Ada banyak testimoni dan pengakuan terkait hal
tersebut. Kami di sini menyaksikan keajaiban-keajaiban air hujan itu,” jelas
Agus.
Ketua Komunitas sekaligus
pendiri Banyu Bening Sri Wahyuningsih menambahkan melalui kenduri tersebut pihaknya mengajak banyak orang
untuk lebih dekat dan mengenal fungsi air hujan.
“Kami sengaja membuat
Kenduri Banyu Udan setiap tahun, selain sebagai ucapan rasa syukur atas berkah
dari air hujan, juga merupakan sarana sosialisasi mengenai pentingnya air
hujan,” katanya.
Dengan pemanfaatan air
hujan ini diharapkan Sri tidak
terjadi lagi eksploitasi air tanah yang berlebihan yang berpotensi memunculkan
permasalahan air di lingkungan. “Selain itu masyarakat juga dapat menghemat pengeluaran
untuk mendapatkan air bersih,” lanjutnya.
Kenduri Banyu Udan kali ini dihadiri lebih dari 300 partisipan yang terdaftar dari seluruh Indonesia dan segala lapisan masyarakat. Dari ujung paling timur Indonesia hadir perwakilan pegiat air hujan dari Merauke dan Timika. Hadir juga rekan-rekan pegiat air hujan dari Maluku, Bangka Belitung, Ternate, Jakarta, Surabaya, dan berbagai tempat.
Tamu hadir dari seluruh lapisan masyarakat baik pejabat, pengusaha, praktisi, akademisi, rohaniawan yang juga semuanya adalah tokoh-tokoh pegiat air hujan. Seluruh lapisan masyarakat pelan-pelan menyadari bahwa air hujan itu adalah berkah untuk kita semua. Ada banyak ASN, TNI, Polri, Mahasiswa, Ibu Rumah Tangga yang lambat laun bergabung dengan komunitas ini dan membentuk komunitas air hujan masing-masing di lokasi masing-masing.
Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menyampaikan kekagumannya dan sangat
mengapresiasi acara Kenduri Banyu Udan dan seluruh pegiat air hujan. Ia
berharap semoga komunitas seperti ini semakin banyak tumbuh seantero Indonesia.
Sri Muslimatun yang pada September lalu juga meresmikan Sekolah Air Hujan Banyu
Bening sangat berharap di Sleman akan ada banyak tempat dan komunitas serupa.
“Kita diberi karunia dari
Allah SWT yang diturunkan dari langit, sudah seharusnya kita siapkan
tempat-tempat terbaik untuk menyimpan air hujan agar panennya baik dan air
hujan tidak membludak menimbulkan banjir,” terangnya.
Pelaksanaan Kenduri Banyu
Udan 2019 ini diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah
Provinsi Bangka Belitung dengan Komunitas Banyu Bening. MoU tersebut berisikan
kesepakatan alih teknologi pengelolaan air hujan secara terintegrasi untuk
solusi air bersih di Provinsi Bangka Belitung. Penandatanganan MoU tersebut
dilaksanakan oleh Wakil Gubernur Provinsi Bangka Belitung, Abdul Fatah dan Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih. (Andy Ahmad Akbar Z/KIM Sardonoharjo)
