Belajar dan Berani Kunci Jadi Pelaku Usaha Kuliner

Cangkringan – Melihat potensi perempuan yang berprofesi
sebagai pengusaha dan calon pengusaha kuliner di Desa Argomulyo membuat Pemerintah
Desa Argomulyo merasa perlu mengadakan kegiatan Pelatihan Manajemen Kuliner.

Menghadirkan 2 narasumber pelaku usaha kuliner yang berasal
dari wilayah Cangkringan, pelatihan berlangsung pada Rabu (11/12/2019)
bertempat di Aula Balai Desa Argomulyo Cangkringan.

Ir Haryadi selaku Kepala Seksi Pelayanan Desa Argomulyo
menyampaikan kepada para peserta pelatihan agar bersedia belajar bersama dalam
hal manajemen untuk melakukan usaha, sekaligus bisa menangkap peluang usaha kuliner
terutama bagi para perempuan dan PKK di Desa Argomulyo.

“Dan tentunya bisa menyerap lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Widi selaku narasumber pertama membeberkan bahwa sebagai
pelaku usaha kuliner harus mau belajar serta berani membuat sebuah produk
dengan visi dan misi yang konsisten.

“Dalam hal berusaha kuliner dalam hal keuntungan harus
berani berkisar 35% dari modal yang dikeluarkan, misal kita bermodal seribu setiap
produk maka kita berani menjual dengan harga 1350,” ujar pemilik Warung Widi HD
ini.

Sementara Naryono selaku narasumber kedua, pemilik warung
RBM (Resto Bonda Merapi) menyampaikan setiap pelaku usaha pasti memiliki visi
dan misi serta sejarah dalam menjalankan usaha berbeda-beda.

“Jangan pernah membandingkan kemampuan diri sendiri dengan
kesuksesan oranglain. Fokus dengan apa yang kita upayakan,” sarannya kepada
para peserta.

Naryono menambahkan bahwa masyarakat ke tempat kuliner bukan
hanya untuk makan saja melainkan juga untuk refreshing.

“Oleh karena itu buat produk sekreatif mungkin dan memiliki
citarasa yang enak dan konsisten,” tambahnya.

Di akhiri oleh Naryono membeberkan bahwa dalam setiap usaha
harus peduli terhadap lingkungan dengan bersiap dalam mengelola sampah dan
limbah, jangan hanya senang dengan hasil tanpa memperhatikan dampak lingkungan.
(KIM Cangkringan/Marmansyah)




Upaya Ngaglik Turunkan Angka Kemiskinan

Ngaglik – Angka kemiskinan Kecamatan Ngaglik di tahun 2019 ini turun dari 6,1% menjadi 5,3%. Hal ini berkat dukungan berbagai pihak dari tingkat dusun, desa, pun kecamatan sendiri. Hal ini diungkap Camat Ngaglik, Subagya saat menerima kunjungan Tim Evaluasi TPK Award, Selasa (10/12/2019) di Kantor Kecamatan Ngaglik.

Subagya
membeberkan keberhasilan ini tak lain berkat gerakan baru dalam penanggulangan
kemiskinan yang dijalankan Wahana
Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Kecamatan Ngaglik.

“WKSBM ini sebagai wahana untuk koordinasi dan sinkronisasi program
di lapangan dan dengan digerakkan WKSBM ini ternyata masyarakat menyambut baik
dan sangat positif,” beber Subagya.

Tak
hanya itu, diakuinya MUI Kecamatan Ngaglik pun punya peran di sini, seperti
memotivasi organisasi masyarakat Islam bahkan takmir masjid agar memanfaatkan
dana yang ada untuk   kepentingan
lingkungan masyarakat sekitar masjid.

Ditambahkan
Kriswanto, Kepala Baznas Sleman, di Kecamatan Ngaglik juga sudah berdiri UPZ
dari Baznas Sleman dan nantinya akan mendirikan Z Mart di Masjid Baiturrahman
Klidon untuk tempat belanja para penerima manfaat dengan kartu atau voucher
belanja.

“Itu
semua tidak lain untuk membantu masyarakat yang berhak menerima dan ke depan
diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan Ngaglik,” tambahnya.

Sementara
itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Eko Suhargono, yang hadir dalam
evaluasi berpesan agar bantuan kemiskinan dalam bentuk apapun baik itu dana
langsung atau program-program dapat tepat sasaran.

“Data
masyarakat miskin ini harus valid jangan sampai tidak kena sasaran utamanya
bantuan untuk kemiskinan sehingga harapannya penurunan angka kemiskinan bisa
dilaksanakan dengan baik,” tukasnya. (KIM Ngaglik/Srp)