Respati Agus Sasangka, Ketua Baru Perbasi Sleman

Sleman – Respati Agus Sasangka dilantik sebagai Ketua Umum
Pengurus Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Kabupaten Sleman masa
bakti 2019-2023 oleh Sekretaris Umum Pengda Perbasi DIY Andreas Candra Wibowo
di Ruang Sekretariat DPRD Sleman, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/12/2019). 

Andreas Candra Wibowo mengucapkan selamat atas dilantiknya
Pengurus Perbasi Kabupaten Sleman masa bakti 2019-2023. “Semoga bisa membawa
kemajuan perkembangan basket di Kabupaten Sleman dan mengharumkan olahraga
basket di DI Yogyakarta,” harap Sekretaris Pengda Perbasi DIY ini.

Di bawah nakhoda Respati Agus Sasangka, olahraga basket
diharapkan bisa memperoleh kemajuan dan kontingen Sleman bisa menjadi juara
umum dalam Porda di tahun mendatang. Ketum Perbasi Sleman yang baru dilantik, Respati
Agus Sasangka yang akrab dipanggil Ade berharap basket menjadi olahraga yang kian
populer di tengah masyarakat.

“Kami akan menjadikan Perbasi sebagai organisasi yang
efektif dengan merangkul semua pihak, dengan personil yang kompeten. Tak kalah
penting melakukan harmonisasi program kompetisi dan pembinaan dengan jalur klub
dan jalur sekolah yang akan melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu
bersaing di kancah nasional,” harap Respati. (Harjito)




Sunmor Sembada, Promosikan UMKM Sekaligus Lestarikan Seni Budaya

Sleman – Sunday Morning (Sunmor) Sembada adalah pasar kaget
yang digelar setiap Minggu Pahing di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman. Dalam
setiap gelarannya, Sunmor Sembada yang diprakarsai Pemerintah Kecamatan Sleman
dan kelompok Informasi Masyarakat (KIM) manggolo Purnomo ini selalu diisi
dengan car free day, produk UMKM, kuliner, literasi, seni, dan budaya.

Dalam gelaran terakhir di tahun 2019, Camat Sleman, Mustadi mengajak
seluruh peserta untuk saling bekerjasama mengevaluasi kegiatan Sunmor ini. “Ini
demi kemajuan bersama pada tahun 2019, untuk perbaikan inovasi pada tahun depan
2020 agar lebih baik dari tahun sebelumnya,” ujar Mustadi saat menghadiri
Sunmor Sembada di Lapangan Denggung, Kabupaten Sleman, Minggu (8/12/2019).

Mustadi juga menyatakan Kecamatan Sleman berkomitmen menjaga
keberlangsungan seni dan budaya yang ada. Sunmor Sembada edisi kali ini diisi
dengan tampilnya kesenian tradisional kuda lumping atau Jathilan yang semua pemain dan penabuh gamelannya masih anak-anak usia
sekolah menengah pertama (SMP). Mereka tergabung dalam Satrio Mudo Wiromo yang
berasal dari Dusun Beteng, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman. “Ini salah satu
bukti bahwa kita menjaga kesenian tradisional asli dari Yogyakarta,” kata
Mustadi.

Di bidang ekonomi, Sunmor Sembada menjadi usaha untuk
menampilkan potensi UMKM yang ada, melatih belajar menjadi pengusaha, dan mempromosikan
serta mempublikasikan produk UMKM.

Selain di bidang UMKM dan kesenian, pihak pengelola Sunmor
Sembada juga mengajak warga pengunjung untuk mengenal literasi, caranya dengan
menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan yang lokasinya tepat di samping
lokasi Sunmor Sembada ini untuk buka melayani masyarakat pada hari Minggu.
Selain itu ada mobil perpustakaan keliling dari forum taman bacaan masyarakat
yang selalu menggelar lapak buku bacaan di setiap gelaran Sunmor.(Agus Nur Widayadi/KIM
Sleman)




Rumah Pintar Pemilu Sarana Edukasi Proses Demokrasi

Forum Kelompok Informasi Masyarakat (FKIM) Kabupaten Sleman
menggelar rapat koordinasi (Rakor) di sela-sela kunjungannya di Rumah Pintar
Pemilu (RPP) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman, Sabtu (7/12/2019).
Rombongan yang berjumlah 30 orang pengurus dan anggota FKIM Sembada ini
diterima oleh Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi
Masyarakat KPU Kabupaten Sleman, Aswino Wardhana didampingi staf bagian teknis
dan Hupmas, Sunarsih di ruang rapat KPU Kabupaten Sleman.

Dalam sambutannya, Aswino menuturkan bahwa RPP merupakan
sarana edukasi masyarakat mengenai proses demokrasi. Di dalamnya terdapat
banyak informasi dan sejarah pemilihan umum di wilayah Kabupaten Sleman. “RPP
tidak hanya sebagai sumber pengetahuan pemilu, namun juga digunakan sebagai
tempat penyimpanan data proses pemilu dari tahun ke tahun. Tujuannya agar
masyarakat mengetahui sejarah pemilu di Kabupaten Sleman,”  tutur Aswino bersemangat.

Selanjutnya, Aswino berharap kepada pengurus maupun anggota
FKIM Sembada untuk membantu KPU Kabupaten Sleman dalam mensosialisasikan pemilihan
Bupati dan Wakil Bupati Sleman yang akan diselenggarakan pada 23 September 2020
mendatang beserta maskotnya Yu Sal dan Kang Man, yang melambangkan petani salak
sleman mengenakan batik khas sleman, Sinom Parijotho Salak.

Setelah selesai melakukan tanya jawab dengan komisioner KPU
Sleman, FKIM Sembada melakukan rapat koordinasi di ruang rapat utama. Rakor
dipimpin oleh Ketua FKIM Sembada, H. Suripto didampingi Sekretaris, Adnan Iman
Nurtjahjo sebagai moderator.

Ketua FKIM Sembada mengapresiasi 14 KIM tingkat kecamatan
dan tingkat desa yang sudah menghadiri pertemuan kali ini dengan jumlah peserta
terbanyak dibandingkan peserta rakor FKIM pada bulan lalu. Selain menjadi ajang
silaturahmi antar KIM se-Kabupaten Sleman, rakor juga dapat dijadikan sebagai
wadah tukar informasi berkaitan dengan pembentukan KIM di tingkat desa, serta
pengelolaan KIM dan potensi daerah masing-masing. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta
Guna Kec Gamping)




Hotel Diminta Gunakan Produk UMKM

Sleman – Pengusaha hotel di Sleman diharapkan memakai produk hasil olahan UMKM, terutama di bidang kuliner. Misalnya untuk sajian snack dan welcome drink.

“Sebaiknya mengambil dari UMKM Sleman, kalau tidak ada baru
mengambil dari kabupaten dan kota lain. Silakan dieksplor sesuatu yang khas Sleman,”
ujar Pustopo, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Sleman di
saat Temu Usaha Kemitraan UMKM Bidang Makanan dan Minuman dengan Usaha Hotel
dan Restoran di Omah Kecebong, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Senin
(9/12/2019).

Di hadapan manajemen hotel, restoran, serta pelaku UMKM,
Pustopo menerangkan bahwa kemitraan yang terjalin antara hotel dan UMKM akan
memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Pihak hotel dapat memberikan
sajian khas Sleman, dan UMKM juga dapat memasarkan produknya. “Kerjasama tidak serta
merta harus dipaksakan, tapi UMKM-nya juga harus meningkatkan diri, menyesuaikan
dengan standar hotel,” lanjut Pustopo.

Untuk menumbuhkan dan melindungi usaha mikro menjadi usaha
yang tangguh, maju, mandiri, dan berdaya saing, Pemerintah Kabupaten Sleman menerbitkan
Perda Nomor 19 Tahun 2019 tentnag Pemberdayaan Usaha Mikro. Pasal 11 dalam
Perda ini mencantumkan bahwa dalam rangka perlindungan aspek pemasaran, pusat
perbelanjaan, toko swalayan, dan hotel bintang empat wajib menampung produk dan
menyediakan ruang usaha bagi pelaku usaha mikro.

Para perwakilan manajemen hotel yang hadir menyatakan
mendukung adanya kemitraan dengan UMKM ini. Didik Priyo, Executive Assistant
Manager  Hotel Grand Keysha menyatakan ini adalah hal yang positif. “Kami
memakai jamu (sebagai sajian) sudah 2 tahun ini. Kami juga mengambil bakpia dari
UMKM kecil di Sleman, dijadikan sajian welcome.
Semoga kemitraan ini bisa berkelanjutan dengan baik,” ujar Didik. Satu hal
penting yang ditekankan Didik adalah konsistensi UMKM dalam memasok produknya ke
hotel.

Salah satu pelaku UMKM yang hadir, Puri Handayani dari Griya
Olah Salak, Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi menyatakan harapannya agar
produknya bisa diambil oleh hotel-hotel yang ada di Sleman. “Semoga bisa
menjalin kerjasama dengan hotel dan sektor pariwisata, agar produk kita juga
bisa masuk ke showroom mereka.”

Puri Handayani dan kawan-kawannya di Griya Olah Salak saat
memproduksi beragam produk kuliner berbahan baku Salak Pondoh yang dikenal
sebagai buah khas Sleman. Buah Salak ini diolah menjadi bakpia, geplak,
campuran bumbu pepes, rendang, manisan, wajik, dan madumongso. Untuk bakpia,
Griya Omah Salak saat ini dalam sebulan mampu memproduksi 350 kotak, dengan isi
15 bakpia dalam satu kotaknya.

Meski demikian, sebagai pelaku usaha kecil rumahan dengan
modal terbatas, Puri juga mengaku kesulitan kalau harus menggunakan sistem
konsinyasi (jual titip). Saat ini Puri baru bisa menjual dengan sistem bayar
tunai atau minimal dengan panjar.




Revitalisasi SAKA Untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Sleman – Revitalisasi Satuan Karya (Saka) merupakan salah satu agenda dari Kwartir Nasional untuk menghadapi era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Revitaliasi merupakan tindakan yang terencana secara sistematik, konseptual dan multi dimensi, untuk menggiatkan kembali Saka baik sebagai satuan organisasi maupun satuan penyelenggara pendidikan kepramukaan.

Hal tersebut dikarenakan adanya tuntutan, tantangan, dan arah baru sebagai dampak perubahan lingkungan kehidupan, seperti lahirnya generasi milenial, revolusi industri 4.0, potensi bonus demografi, program nasional generasi emas 1945, serta adanya tuntutan implementasi Renstra dan Dasar Karya Kwarnas Gerakan Pramuka masa Bakti 2018-2023.

Anis Ilahi, selaku Tim Revitalisasi Saka Tingkat Nasional menjelaskan bahwa hingga tahun 2019 Kwartir Nasional Gerakan Pramuka memiliki 11 Saka yang telah bermitra dengan berbagai lembaga negara dan kementerian. Di antaranya ada yaitu Saka Bahari, Saka Bakti Husada, Saka Bhayangkara, Saka Dirgantara, Saka Kencana, Saka Taruna Bumi, Saka Wana Bakti, Saka Wira Kartika, Saka Widya Budaya Bakti, Saka Kalpataru, dan Saka Pariwisata. Revitalisasi ini memerlukan kolaborasi antar Saka tersebut.

Anis juga menyampaikan salah satu faktor pendorong internal revitalisasi adalah aspek historis yang menekankan pendidikan kepramukaan berorientasi mengembangkan karakter dan kecakapan hidup sejalan dengan kebutuhan anak muda dan remaja Indonesia sebagai potensi kekuataan bangsa.

“Pada aspek historis sebenarnya aspek kepramukaan itu dua, mengembangkan pendidikan karakter dan mengembangkan kecakapan hidup. Kecakapan hidup itu apa? Adalah keterampilan-keterampilan yang digunakan untuk kehidupan, tapi selama ini beban gerakan pramuka hanya pada pendidikan karakter sehingga kita lupa untuk membangun kecakapan hidup itu,” ungkapnya dalam acara Temu Pinsaka IX Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Sleman di Smartroom Dinas Kominfo Kabupaten Sleman, Sabtu (7/12/2019).

Pendidikan keterampilan pramuka berbasis kecakapan hidup yang perlu dikembangkan adalah life skill yaitu keterampilan hidup yang dikembangkan dalam pendidikan Saka agar peserta didik memiliki kemampuan untuk berperilaku adaptif, positif dan responsif dalam memenuhi kebutuhan serta menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari dengan efektif.

Selain itu, soft skill yaitu keterampilan yang dikembangkan agar seorang anggota Saka memiliki kemampuan dalam bekerjasama dengan orang lain (interpersonal skills) serta kemampuan mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) dalam mengembangkan kompetensi yang telah dimiliki secara optimal, produktif, inovatif dan marketable.

Yang terakhir hard skill yaitu peningkatan kemampuan anggota Saka dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan teknis yang telah dipelajarinya untuk mengembangkan job creation, profesi, dan bidang kerja yang diinginkan serta pengembangan program volunter secara profesional.(Rep Anis)