Grojogan Watu Purbo, Objek Wisata Baru yang Tawarkan Pemandangan Alam

Sleman
tidak pernah berhenti menawarkan sajian wisata alternatif yang menarik,
pemandangan alam nan eksotik, artistik nan menggelitik untuk dikulik.

Apalagi
di era industri 4.0 di mana dunia digital bisa memberikan warna serta sebaran
yang masif di dunia maya sehingga masyarakat bisa mengakses objek wisata
tersebut. Meskipun wisata tersebut berada di pelosok terpencil sekalipun, namun
jika sudah menjadi topik teratas dalam media sosial di manapun pasti diburu.

Salah
satu yang sedang naik daun saat ini adalah Grojogan Watu Purbo terletak di
Dusun Bangunrejo, Desa Merdikorejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman.
Destinasi yang masih terhitung baru ini sebenarnya adalah aliran sungai Kali
Krasak yang berhulu di Gunung Merapi. Aliranya terbentuk dari 6 buah sabo dam
yang tersusun bertingkat dengan ketinggian 3 sampai 7 meter sehingga tercipta
air terjun atau dalam bahasa Jawa disebut grojogan. 

Tempat
ini juga menjanjikan spot foto selfi yang begitu menarik dan aliran sungai
serta taman bunga yang indah. Pun, wisatawan dapat menikmati kuliner pedesaan
yang menggugah selera dengan dilatarbelakangi birunya Gunung Merapi.

Salah
satu pengunjung Grojogan Watu Purbo, dr. Raudi Akmal, yang menyempatkan untuk
menyusuri objek ini Sabtu (25/1/2020) mengatakan tempat ini berpotensi menjadi
objek wisata alternatif baru di Sleman. 

Raudi
berharap ke depan lokasi ini juga bisa menjadi area edukasi. ”Tidak melulu
orang datang untuk berselfi, wisata ini bisa dikonsep untuk mengetahui fungsi dari
dam. Area sekitarnya juga bisa dikelola misal untuk ajang outbond dengan
menikmati pemandangan alam yang ada di sekitarnya,” saran Raudi. (Arif
Hartanto)




Kontribusi Mahasiswa UGM Hijaukan Lahan Kritis Sleman

KKN
PPM UGM 2019-2020 yang diterjunkan di Kepuharjo pada Sabtu (25/1/2020)
melakukan kegiatan penanaman pohon di sebelah barat Bunker Kaliadem. Lokasi
penanaman di barat Bunker Kaliadem ini dipilih karena area tersebut menurut
observasi yang sudah dilakukan mahasiswa KKN PPM UGM merupakan lahan kritis.

Program
penanaman ini sendiri merupakan salah satu program peduli lingkungan dari
mahasiswa KKN PPM UGM. Selain itu, tim KKN PPM UGM juga ingin berkontribusi
menghijaukan kembali lahan-lahan kritis yang terkena erupsi Merapi 2010. Dua
jenis pohon yang ditanam pun dipilih, yakni pohon akasia dan sengon, yang mana
dapat menghambat longsor saat ditanam di lereng-lereng gunung.

Kegiatan
ini dihadiri oleh Suparmono, Camat Cangkringan, perwakilan dari Koramil
Kecamatan Cangkringan, Perwakilan Polsek Cangkringan, Perangkat Desa Kepuharjo,
BPD Desa Kepuharjo, dan berbagai komunitas yang ada di Desa Kepuharjo.

Suparmono
dalam sambutannya mengungkapkan penanaman pohon ini nantinya tidak hanya dirasakan
oleh warga sekitar saja tapi juga warga yang berada jauh dari lokasi penanaman.
Hal ini karena pohon adalah penghasil oksigen serta berfungsi menyimpan ketersediaan
air. (KIM Cangkringan/Andi Ferdana)




Tingkatan Ekonomi Keluarga, Sleman Beri Pelatihan Pengolahan Makanan bagi Kaum Perempuan

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman pada Kamis (23/1/2020) dan Jumat (24/1/2020) mengadakan pelatihan bagi ibu-ibu dari Desa Kepuharjo dan Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. Khusus bagi Desa Kepuharjo peserta yang terlibat dalam pelatihan tersebut adalah ibu-ibu yang tergabung dalam Desa Prima.

Dalam
pelatihan tersebut ada dua bahan dasar yang digunakan. Untuk peserta dari Desa
Glagaharjo makanan olahan dibuat dengan bahan dasar pisang sedangkan peserta
dari Desa Kepuharjo menggunakan bahan dasar ubi. Kedua bahan tersebut dipilih
karena bahan-bahan tersebut mudah dijumpai di wilayah Glagaharjo dan Kepuharjo.

Ambar
selaku Kasi Pemberdayaan Perempuan Dinas P3AP2KB Sleman menjelaskan bahwa
pelatihan ini berasal dari Pagu Usulan Partispasi Masyarakat sehingga
diharapkan pelatihan bisa tepat sasaran dan tidak hanya berhenti saat pelatihan
telah selesai.

“Harapannya
ibu-ibu bisa mempraktekkan sehingga membantu meningkatkan perekonomian keluarga,”
tutur Ambar.

Pelatihan
kali ini dilaksanakan di Budi Mulia Culinary School yang beralamat di Jalan
Raya Tajem, Kenayan, Wedomartani, Ngemplak. Ambar lebih lanjut menjelaskan
memilih lokasi tersebut sebagai lokasi pelatihan karena tempat tersebut sudah
bersertifikat, memiliki peralatan yang lengkap, serta mentor yang mumpuni.

Daliyem,
salah satu peserta pelatihan mengungkapkan perasaan senangnya bisa mengikuti
program tersebut. Daliyem pun tidak mempermasalahkan lokasi pelatihan yang
cukup jauh dari rumahnya.

“Karena
peralatan di sana sangat lengkap dan sekalian refresing,” imbuhnya. (KIM
Cangkringan/Andi Ferdana)