Perdana Puskesmas Ngemplak Gelar Lokakarya Mini Lintas Sektor

Menindaklanjuti
penyelenggaraan program pemerintah di ranah kesehatan, kolaborasi dan sinergi
memang harus dilaksanakan secara bersama dan lintas sektoral. Selasa
(28/1/2020), kegiatan rapat koordinasi pimpinan Muspika Kecamatan Ngemplak
sekaligus lokakarya mini lintas sektor perdana 2020 digelar di Sinduharjo,
Ngaglik.

Acara
dihadiri seluruh lintas sektor yang ada di Kecamatan Ngemplak, antara lain dari
Kepala Desa, PKK, karang taruna, Forum Komunikasi Pimpinan Bidang Pertanian,
Perikanan, Pengairan, sekolah, dan pasar.

Camat
Ngemplak, Siti Wahyu Purwaningsih, menyampaikan pemerintah bersama masyarakat perlu
bahu-membahu mengatasi berbagai masalah di masyarakat terutama masalah kesehatan,
lingkungan, dan sosial.

“Bagaimana
mengantisipasi dan mencegah Demam Berdarah, ketahanan pangan dan keamanan,” jelasnya.

Camat
Ngemplak menekankan perlunya pembinaan dan pelatihan sebagai aksi nyata dalam
memberikan literasi dan edukasi.

“Tahun
2020 ini Kecamatan Ngemplak menganggarkan PUPM 30% untuk pembangunan non fisik
masyarakat,” urai Siti melengkapi keterangannya saat membuka acara.

Sebagai
unit di masyarakat yang mengampu dan menjadi rujukan kesehatan, Puskesmas
Ngemplak (Puskesmas Ngemplak I dan Puskesmas Ngemplak II) telah melaksanakan
berbagai upaya sebagai tindak lanjut terhadap capaian kesehatan masyarakatnya. Camat
Ngemplak mengimbau untuk terus meningkatkan sinergisitas dan kolaborasi antara
kegiatan yang ada di Puskesmas Ngemplak ini, dengan lintas sektor dan
organisasi untuk menyelesaikan masalah di masyarakat tersebut.

“Salah
satunya dengan menjalin kerjasama yang dituangkan dalam bentuk MOU,” tambahnya.

Di
lain kesempatan drg. Nurhastiani yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas
Ngemplak II mengatakan telah melakukan pendekatan aktif kepada masyarakat sebagai
upaya peningkatan derajat kesehatan melalui program-program inovasi yang
direncanakan dan telah sukses dilaksanakan.

“Salah
satunya mengusung program edukasi bebas rokok yang telah berdampak di beberapa
desa,” ucap drg Nurhastiani.

Kegiatan lokakarya mini lintas sektor perdana 2020 diakhiri dengan penandatanganan MOU yang dilakukan oleh Camat Ngemplak, sekolah se-Kecamatan Ngemplak, Kepala UPT se-Kecamatan Ngemplak, Muspika Ngemplak, lintas sektoral, Akademisi UII, STIKES Panti Rapih, LSM UNALA, sebagai komitmen dukungan kepada Puskesmas Ngemplak baik I dan II dalam peningkatan mutu layanan. (KIM Ngemplak/Nuradi)




Dua Arca Kuno Ditemukan di Ngemplak

Ngemplak – Operator ekskavator yang sedang membuat galian untuk pembuangan limbah kotoran sapi menemukan dua arca kuno dari batu andesit di Dusun Kalijeruk, Desa Widodomartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Selain dua arca itu, di sekitar lokasi penggalian juga ditemukan struktur batu candi berupa susunan batu-batu kotak persegi panjang.

Kedua arca yang ditemukan diidentifikasi sebagai Arca Nandi dan
Arca Agastya, yang secara umum kondisinya masih bagus dan bentuknya masih terlihat
jelas. Arca Agastya berukuran 70 cm, dengan kondisi tangan kanan arca hilang, tapi
secara umum masih bagus. Sedangkan arca Nandi sedikit lebih kecil, berukuran 63
cm dan kondisinya telinga kanan hilang.

Begitu ditemukan Selasa (28/1/2020) siang, kedua arca ini langsung dievakuasi oleh Polsek Ngemplak pada hari itu juga. Sedangkan di lokasi penemuannya dipasang garis kuning.

Aiptu Winarto, petugas di loket pelayanan Polsek Ngemplak
memberikan keterangan. Warga di sekita lokasi sudah lama mengetahui ada susunan
bebatuan yang mirip struktur candi. “Menurut informasi dulu pemilik di situ,
dulu memang pernah saat akan penggarapan tanah ditemukan batu sejenis itu,
namun karena masyarakat mungkin tidak begitu paham itu batu apa. Setelah
ditemukan dua arca itu baru (paham), dan akan ditindaklanjuti Balai Pelestarian
Cagar Budaya (BPCB),” ujar Aiptu Winarto saat ditemui di Polsek Ngemplak,
Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Rabu (29/1/2020).

Aiptu Winarto menambahkan untuk pekerjaan galian pembuangan limbah
kotoran sapi boleh dilanjutkan, karena setelah diselidiki BPCB kemungkinan
sudah tidak ada arca lagi. Sedangkan struktur batu candi berupa susunan batu
kotak persegi panjang yang ada di dekat lokasi penemuan arca dinyatakan tidak
boleh dibongkar dan akan diselidiki lebih lanjut oleh BPCB.

 “Arca itu ditemukan
di kedalaman 1 meter, sedangkan sekarang galiannya sudah lebih dalam jadi diindikasikan
sudah tidak ada lagi. Namun kalau ada, dimohon untuk segera melaporkan,” tutup Aiptu
Winarto.

Oleh Polsek Ngemplak, temuan arca saat ini sudah diserahterimakan
ke Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta untuk dikaji apakah termasuk dalam
benda cagar budaya atau bukan.




Tenun Serat Alam Diminati hingga Penjuru Negeri

Sleman
– Sejak tahun 1998, Waludin (46) telah menggeluti seni kerajinan tenun. Waludin
mengunggulkan
bahan dasar serat alam dari enceng gondok, akar wangi, lidi, dan mendong untuk menghasilkan produk yang khas dan unik.

Tak disangka, produknya ini ternyata masih sangat diminati oleh masyarakat
khususnya wisatawan dari luar negeri.
Dikatakannya,
produk buatan rumahan ini telah laku terjual hingga ke Jerman dan Jepang.

“Ternyata
di luar negeri
banyak peminatnya, terutama untuk wisatawannya karena mungkin dari pandangan
mereka serat alam ini akan lebih awet dan juga ramah lingkungan,” ujar Waludin, saat ditemui Rabu
(29/1/2020) di Sentra Industri Tenun Gamplong, Dusun Gamplong, Sumberrahayu,
Moyudan.

Waludin
bercerita, keunikan
produknya ada pada bahan dasar yang ia peroleh dari Gunung Kidul, Semarang, hingga Jawa Barat. Bahan dasar ini bersama 10 karyawannya dibuat menjadi
handy craft, taplak meja, pun
alas piring. “Yang dibuat dan juga yang sering dipesan di kita adalah alas piring kemudian taplak meja,” paparnya.

Untuk
jumlah produksi sendiri Waludin menjelaskan bahwa produksi tenun ini tergantung
dari bahan dasar yang
dipilih dan kesulitan motif. “Untuk
produksi kita tergantung bahan juga, kalau
akar wangi itu agak lama, kalau yang lain mungkin
rata–rata untuk produksi yang standar
1 bulan bisa 5 ribu
buah,” jelasnya.

Kesulitan motif dan bahan dasar juga mempengaruhi
harga pasaran produk Waludin. “Mulai
dari
sampai dengan ratusan ribu rupiah, semakin
sulit tingkat pengerjaan maka harga juga semakin tinggi apalagi jika ada permintaan
desain motif,” tandasnya.

Ke depan, Waludin berharap para pengrajin yang dimilikinya mampu regenerasi sehingga kerajinan tenun ini bisa
terus berkembang. “Mungkin ke depannya yang menjadi PR kita bagaimana kalau yang sepuh (tua-red) sudah tidak produktif nah kita harus ada regenerasi,” beber Waludin.
(Rep Naci)




Sinergi Lintas Sektor untuk Tingkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat

Ngemplak – Camat  Ngemplak,  Siti Wahyu Purwaningsih menyampaikan bagaimana menyiapkan diri atas berbagai tantangan. Di antaranya perlunya pemerintah bersama masyarakat  bahu membahu secara bersama mengatasi berbagai masalah yang ada di masyarakat terutama kesehatan, lingkungan, dan sosial. Misalnya bagaimana mengantisipasi dan mencegah demam berdarah, ketahanan pangan, dan keamanan.

Camat Ngemplak ini menghimbau untuk terus meningkatkan sinergisitas antara kegiatan yang ada di Puskesmas dengan lintas sektor dan organisasi untuk senantiasa berkolaborasi menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Salah satunya dengan menjalin kerjasama yang dituangkan dalam bentuk MOU.

Camat Ngemplak juga menekankan perlunya pembinaan dan pelatihan sebagai aksi yang nyata dalam memberikan literasi dan edukasi. “Tahun 2020 ini Kecamatan Ngemplak menganggarkan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat sebesar 30% untuk pembangunan non fisik masyarakat,” urai  Siti Wahyu Purwaningsih saat membuka lokakarya mini lintas sektor di Joglo Asri Resto, Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman, Selasa (28/1/2020).

Lokakarya mini lintas sektor ini untuk mensinergikan kegiatan yang ada dengan program kesehatan sebagai upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kecamatan Ngemplak. Di sektor kesehatan, Puskesmas Ngemplak I dan Puskesmas Ngemplak II memaparkan telah melaksanakan berbagai upaya sebagai tindak lanjut terhadap capaian kesehatan masyarakatnya.

“Isu wabah DBD perlu diwaspadai dengan meningkatkan
pencegahan seperti langkah yang telah umum disosialisasikan seperti kebersihan
lingkungan maupun fogging. Selain itu angka kelahiran tergolong tinggi di
wilayah Ngemplak ini. Namun demikian pelayanan sudah dilakukan secara optimal
kepada masyarakat,” papar dr. Seruni Angreni Susila, Kepala Puskesmas Ngemplak
I.

Adapun Puskesmas Ngemplak II memaparkan program-program
inovasi yang direncanakan dan telah sukses dilaksanakan dengan salah satunya
mengusung program edukasi bebas rokok yang telah berdampak di beberapa desa.

Kegiatan lokakarya mini lintas sektor  perdana 2020 diakhiri dengan penandatanganan perjanjian kerjasama/MOU yang dilakukan oleh Camat Ngemplak, Sekolah se-Kecamatan Ngemplak, Kepala UPT se-Kecamatan Ngemplak, Muspika Ngemplak, lintas sektoral, akademisi UII, STIKES Panti Rapih, dan LSM UNALA sebagai komitmen dukungan kepada Puskesmas Ngemplak I dan II dalam peningkatan mutu layanan. (Nuradi/KIM Ngemplak).