Ribuan Massa Rayakan Hari Jadi Muhammadiyah ke-107

Hari
jadi ke-107 Muhammadiyah berlangsung meriah dihadiri oleh 3 ribu peserta, Minggu
(12/1/2020) bertempat di Lapangan Lumburejo, Tempel.

Acara
dikemas dalam bentuk Pawai Ta’aruf dan Gelar Pentas Seni. Ketua Panitia Bisron
Irfan menandaskan acara ini juga dimeriahkan dengan senam massal, donor darah,
pawai ta’aruf, pentas kesenian, serta pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
gratis.

Wakil
Bupati Sleman, Sri Muslimatun dalam sambutannya mengucapkan selamat hari jadi Muhammadiyah
ke-107.

“Mewakili
Pemerintah Kabupaten Sleman kami sampaikan apresiasi atas kegiatan yang
melibatkan seluruh potensi dari warga Muhammadiyah, serta melibatkan potensi
lokal UMKM yang menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat,” tukas Sri Muslimatun. 

Dalam
kesempatan tersebut, Sri Muslimatun juga mengimbau para peserta yang hadir
untuk memberi perhatian kepada anak-anak di lingkungan sekitar. “Terkait peristiwa
aktual tertangkapnya oknum klitih yang terjadi di Sleman, mari kita berikan
perhatian lebih terhadap anak-anak di sekitar kita, anggaplah semua anak-anak
kita juga,” imbaunya.

Acara ini digelar sekaligus untuk menyongsong Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta pada tanggal 1 hingga 5 Juli mendatang. (Arief Hartanto)




Dukung Tumbuhnya Ekonomi Kreatif Wujudkan Masyarakat Makmur Sejahtera

Kabupaten Sleman kerap kali menjadi objek studi komparasi bagi kabupaten/kota lain di Indonesia. Senin (13/1/2020) ini giliran Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara yang hadir mengunjungi Kabupaten Sleman.

Dipimpin
Bupati Ir Soekirman, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai membawa 45 personel
dalam kunjungannya. Soekirman mengatakan
kedatangan pihaknya bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan urusan
pemerintahan umum Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Kami ini datang untuk
belajar karena dari segala apapun mulai dari umurnya, kekayaannya,
keteraturannya pasti Sleman lebih pengalaman,” tutur Soekirman saat
ditemui di Pendopo Parasamya, Kabupaten Sleman.

Soekirman bercerita
terjalinnya kerja sama dengan Kabupaten Sleman ini sebelumnya telah dilakukan
melalui penandatangan MoU terkait pemberdayaan wisata desa. “Dulu melalui Dinas
Pariwisata Serdang Bedagai kami belajar pariwisata di Sleman salah satunya di Kecamatan
Ngaglik tentang pengembangan homestay dan kini kami sudah memiliki dua homestay
yang juga telah mendapat perhatian dari Kementerian Desa bahkan rencananya
Menteri Desa akan hadir untuk melihat wisata tani yang ada di Serdang Bedagai,”
tutur pria yang secara pribadi telah mengenal Bupati Sleman, Sri Purnomo sejak
tahun 2008 ini.

Keterbukaan Kabupaten Sleman
sebagai tempat menimba ilmu daerah lain ini diapresiasi oleh Soekirman sehingga
pihaknya dapat menuai inspirasi dari pembangunan di Kabupaten Sleman. “Saya
berharap pertemuan ini bisa membangun networking dan melalui teknologi
informasi yang sudah canggih komunikasi bisa berlanjut mulai hari ini sampai
selama-lamanya, dan proses belajar ini juga bisa berlanjut sehingga bisa
menambah pengetahuan dan keterampilan dari kami,” ujarnya.

Harapan ini tentu disambut
baik oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo. Sri Purnomo menyampaikan bahwa pertemuan formal
ini hanyalah bentuk awal komunikasi antar dua kabupaten. “Kita di era teknologi
komunikasi, awalnya melalui pertemuan formal kemudian lewat grup untuk
berkomunikasi agar penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di dua
kabupaten ini dapat berjalan sukses,” sambung Sri Purnomo.

Dalam kunjungan kali ini,
tak lupa Sri Purnomo mengenalkan produk-produk asli Sleman kepada para tamu. “Sajian
merupakan hasil dari kebun petani Sleman, seperti kelengkeng, salak pondoh,
rambutan yang dipetik dari kebun rumah dinas jadi kami tidak beli dari luar,”
kelakarnya.

Selain produk hasil bumi Sleman,
Sri Purnomo juga mengenalkan produk olahan UMKM Sleman, seperti bakpia dan keripik
Salak. Produk-produk ini dikatakan Sri Purnomo dipasarkan guna mendukung desa
wisata di Sleman.

“Destinasi wisata di Sleman
pada tahun 2019 pengunjungnya melebihi target, kami awalnya mematok target 10
juta pengunjung dan ternyata di akhir tahun mencapai angka pengunjung,
beberapa desa wisata bahkan belum memberikan laporan pengunjung,” jabar Sri
Purnomo.

Prestasi ini diungkapkan Sri
Purnomo salah satunya karena Sleman membuat kalender event yang dipublikasikan
melalui surat kabar lokal dan media sosial. Selain itu, banyaknya pihak yang
terlibat juga digarisbawahi Sri Purnomo menjadi dukungan terhadap perkembangan
pariwisata di Sleman.

“Banyak yang terlibat dalam pengembangan ini menjadikan ekonomi kreatif bisa tumbuh bagus sehingga bisa membantu mengurangi jurang ekonomi masyarakat Sleman dan masyarakat pun lebih makmur sejahtera,” tukas Sri Purnomo.




Kesenian Angguk Hadapi Tantangan Zaman

Ngaglik – Menjadi tantangan tersendiri manakala kesenian
tradisional dihadapkan pada perkembangan jaman, dimana kesenian rakyat tidak
boleh kehilangan ruhnya namun tetap harus bisa mengikuti selera pasar.

Demikian disampaikan oleh Suwaji Ketua Paguyuban Angguk
Lentur Puji Rahayu saat ditemui di rumahnya Dusun Bakalan, Desa Donoharjo, Kecamatan
Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (8/1/2020).

“Kemajuan teknologi yang mampu menembus ruang dan waktu
membuat dunia seakan tidak berjarak. Hal inilah yang menyebabkan informasi
tentang pola kehidupan dan budaya dari segala penjuru masuk dan  berpengaruh di banyak segi kehidupan. Tak
terkecuali di bidang kebudayaan dan kesenian, kemajuan zaman faktanya mampu
merubah selera masyarakat dalam mengapresiasi seni dan budaya yang  telah ada. Hal tersebut mestinya tidak
dijadikan penghalang untuk tetap melestarikan budaya dan seni yang telah kita
miliki sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu,” tambah Suwaji.

Paguyuban Angguk Lentur Puji Rahayu yang telah ada sejak zaman
penjajahan Belanda selalu melakukan inovasi agar tetap  langgeng melewati waktu.

Suwaji mengisahkan pada awal berdirinya paguyuban, kesenian
yang dibentuk adalah selawatan dengan alat musik rebana sebagai syiar agama
Islam. Selanjutnya selawatan tersebut berkembang bukan saja sebatas seni suara
tetapi juga seni gerak yaitu tarian Angguk yang dimainkan oleh pria dengan
iringan terbang, kenong, bedug, serta kencreng.

“Dinamakan Angguk karena seni tari ini didominasi oleh
gerakan mengangguk-anggukkan kepala,” terang Suwaji.

Seiring perkembangan zaman dan selera masyarakat, dengan
tidak meninggalkan pakem yang sudah ada, kini kesenian Angguk di Dusun Bakalan
dimainkan oleh penari putri saja. Anggota paguyuban saat ini berjumlah 60 orang
termasuk pengurus, pengrawit dan  penari
aktif yang berkisar 30 orang. 

Angguk ditarikan 6-16 orang setiap tampil tergantung
besarnya panggung atau even yang diikuti. Angguk juga biasa digunakan untuk
acara  penyambutan tamu, ambil bagian di
acara festival kesenian, sebagai hiburan di acara besar atau pentas di acara
pernikahan. Tiap kali pentas Angguk bisa disajikan dalam beberapa babak dengan
durasi total 3- 7 jam tergantung permintaan penyelenggara.

Menurut Suwaji beberapa judul tarian yang dipentaskan dan
menjadi favorit bagi penonton adalah Jejeran Tari Pancasila, Ikan Cucut, Saya
Cari, Ibarat Gunung, Bongso Kito, dan masih banyak  lagi.

Kostum yang dipakai adalah baju ala militer zaman Belanda
dengan bagian dada, pundak, dan punggung diberi hiasan, celana pendek, topi,
selendang, kacamata hitam, dan  kaos kaki
yang merupakan ciri khas dari kesenian Angguk dan tidak dimiliki oleh jenis
tarian lain. Musiknya berupa kendang, terbang, kenong, kencreng, serta alat
musik modern seperti drum, keyboard, dan bass. Selain musik, tari angguk juga
diiringi lantunan lagu yang berisi tentang petuah dan nasehat tentang
kehidupan.

“Agar pentas tidak membosankan tampilan dikemas
sedemikian rupa untuk menarik penonton misalnya diselingi dengan lagu dangdut,
campur sari atau lagu lain yang saat ini sedang digemari oleh masyarakat saat
ini,” tambah Suwaji yang menyatakan bahwa Angguk yang dipimpinnya pernah pentas
hampir ke seluruh hotel ternama di Yogyakarta, selain itu telah melanglang ke
kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota lain di wilayah Jateng
dan Jatim.

Berbeda dengan kesenian serupa yang berasal dari daerah
lain, Angguk Lentur Puji Rahayu Dusun Bakalan tergolong sangat dinamis dengan
diiringi suara musik yang sangat rancak dan energik. Hal yang menarik dari
penampilan Angguk adalah ketika para penari mengalami kesurupan dimana dalam
kondisi ini penari diyakini kemasukan roh halus sehingga bertingkah di luar
kesadarannya.

Selain inovasi pada tarian, musik pengiring, kostum, tata
rias, seni pertunjukannya, Angguk Puji Rahayu juga melakukan pembaharuan pada
teknik penataan panggung, properti yang digunakan, tata suara, tata lampu dan
penampilan para pemain, serta berkolaborasi dengan kesenian modern. Harapannya
agar kesenian tradisional  mampu memikat
penonton dan bisa diterima di berbagai lapisan masyarakat serta tetap terjaga
kelestariannya. (Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)




Cangkringan Serahkan SPPT pada Warganya

Cangkringan – Pemerintah Kecamatan Cangkringan menyerahkan Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT), Kamis (9/1/2019) bertempat di Pendopo Kecamatan Cangkringan. Kegiatan ini dihadiri seluruh Kepala Urusan Keuangan dan Kepala Dukuh se-Cangkringan.

Camat Cangkringan, Suparmono dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh warga Cangkringan karena 2019 Kecamatan Cangkringan dapat 100% melunasi Pajak Bumi Bangunan (PBB).

“Untuk 2020 ini pelunasan PBB ada SPPT dengan nilai sebesar Rp ,00 ,” ujarnya.

Suparmono pun berharap agar tahun 2020 prestasi lunas 100% PBB juga bisa terpenuhi.

Misri selaku perwakilan dari BKAD menuturkan kepada seluruh Kepala
Dukuh agar SPPT disampaikan kepada warga maksimal 30 Januari 2020 dan berharap
seluruh warga Cangkringan melunasi PBB sebelum tanggal 30 September 2020. (KIM Cangkringan/Marmansyah)




Pengurus TRC Gamping Periode 2020-2023 Resmi Dikukuhkan

Gamping – Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Gamping, Eko Relawati mewakili Camat Gamping mengukuhkan kepengurusan Tim Reaksi Cepat (TRC) penanggulangan bencana Kecamatan Gamping masa bakti 2020-2023 di Aula lantai II Kantor Camat Gamping, Rabu (8/1/2020).

Prosesi pengukuhan dihadiri oleh Anggota Koramil 17/Gamping, Serma Tejo Supriyono, Anggota Polsek Gamping, Iptu. Y. Ponidi, Staf Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Ismardiyanto, serta Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Kabupaten Sleman (FKKRS), Yoga Nugroho Utomo.

Selesai dikukuhkan, sebanyak 28 orang pengurus TRC Gamping yang baru mengucapkan sumpah janji di hadapan segenap tamu undangan yang hadir. Dilanjutkan serah terima jabatan dari Antonius Kuwat sebagai Ketua TRC Gamping periode sebelumnya kepada H. Denny Hendrawan sebagai Ketua TRC Gamping yang baru, disusul pemotongan nasi tumpeng yang dilakukan Eko Relawati sebagai simbol wujud syukur kepada Sang Pencipta, sekaligus ungkapan ajaran hidup tentang kebersamaan dan kerukunan sesama manusia.

Dalam sambutannya, Ismardiyanto mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman mengapresiasi keberadaan TRC Gamping dan berharap menjadi Tim tangguh dalam penanggulangan bencana di wilayah Gamping dan sekitarnya.

“Saya ucapkan selamat, semoga pengurus tim reaksi cepat kecamatan gamping yang baru dikukuhkan bisa bekerja secara maksimal, dan bisa bekerjasama dengan BPBD serta semua komponen masyarakat berkaitan dengan kebencanaan yang berada di wilayah Kabupaten Sleman,” ucap Ismardiyanto.

Di akhir acara, H. Denny Hendrawan sebagai Ketua TRC gamping terpilih menyampaikan bahwa TRC merupakan wadah dari komunitas relawan desa yang ada di wilayah Kecamatan Gamping. Untuk itu TRC akan melakukan koordinasi dengan komunitas relawan yang ada di lima desa.

“Paska pengukuhan kepengurusan TRC ini, selanjutnya kami akan memetakan daerah rawan bencana dan potensi bencana yang ada agar diketahui tingkat kerawanannya. Selanjutnya kami akan lakukan mitigasi atau kita kurangi kerawanan tersebut, jika terjadi bencana bisa cepat ditangani dengan kesiapsiagaan kedaruratan dari wilayah masing-masing dibantu TRC. Kita hanya sebagai wadah, tujuan utamanya mendorong komunitas relawan atau Desa Tangguh Bencana (Destana) untuk segera taggap darurat. Besar harapan kami dengan telah dilantiknya pengurus TRC Gamping kegiatan relawan kebencanaan semakin tertata dan menumbuhkan kembali solidaritas para anggota,” pungkas H. Denny. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)