Langen Dolanan Cilik Lebur Modernisasi dan Tradisi

Sleman- Dengan persiapan latihan hanya 2 hari, pertunjukkan seni Langen Dolanan Cilik dari Sanggar Kembang Sakura ini berhasil tampil sukses dan memukau di acara Sleman Gumyak, Jumat (6/3/2020).

Seni Langen Dolanan Cilik yang ditampilkan bercerita tentang cerita beserta tarian tradisional anak-anak dan nini-nini yang dikombinasikan modern dengan tiktok yang sedang populer sekarang ini.

Pertunjukkan Langen Dolanan Cilik dibuat hanya untuk tampil memeriahkan acara dalam Sleman Gumyak ini, pemain yang tampil semuanya merupakan anggota Sanggar Kembang Sakura dari Dusun Mesan Baru, Sinduadi, Mlati, Sleman.

“Jadi kita latihan itu hanya 2 kali karena di sanggar kita itu hanya mengajarkan tarian kreasi sama tarian tradisi, dan ini kita buat khusus untuk acara Sleman Gumyak ini,” ungkap Dewi Listianingrum selaku Pimpinan Sanggar Kembang Sakura saat ditemui di sela penampilan penari sanggarnya.

Dikatakan Dewi, menariknya seni ini adalah tetap memperkuat tradisi tanpa meninggalkannya.

“Walaupun nantinya ada modernisasi. Tetapi namanya tradisi ya tetap harus dilestarikan,” jelasnya.

Langen Dolanan Cilik ini menjadi pengalaman baru dan menyenangkan tersendiri bagi para pemain yang tergabung di dalam cerita dan tarian ini.

“Seru, senang saja, bangga bisa kepilih buat menghibur masyarakat,” ungkap dua pemain Langen Dolanan cilik, Aprilia dan Keysa. (Rep Aldi)




Tari Trengganon, Tarian Salawat Berlatar Belakang Islam

Sleman- Tari Trengganon menjadi salah satu kesenian yang tampil dalam acara Sleman Gumyak Jumat (6/3/2020) di Wisdom Park UGM.

Tari Trengganon termasuk dari kesenian tarian rakyat yang sudah tua. Tari Trengganon ini bisa disebut juga tarian turun temurun dari nenek moyang yang sampai saat ini masih hidup walaupun sudah jarang sekali ditemui. Demikian dikatakan Sayadi, Pembina Tari Trengganon Al-Fatah, usai kelompoknya pentas.

Dijelaskan Sayadi, tarian ini termasuk kesenian atau tarian rakyat dengan jenis tarian salawatan berlatar belakang Islam. Kesenian tari yang berdiri sejak tahun 1980 ini hanya tinggal satu yang masih aktif dan berkembang hingga saat ini, yakni di Desa Parakan Wetan, Sendangsari, Minggir, Sleman.

“Sejarah terian ini dulunya berasal dari Malaysia yang bernama Tarangganu,” tukas Sayadi.

Menurut Sayadi, Tari Trengganon ini memiliki keunikan tersendiri misalnya dari pakaian dan gerakannya.

“Pakaian yang digunakan merupakan perpaduan antara pakaian Melayu dan kain tradisional Jawa, sedangkan gerakannya seperti gerakan silat Melayu. Diiringi oleh lagu dan alat musik tradisional bedug dan rebana yang dibawakan oleh orang-orang tua. Lagu-lagu yang dinyanyikan juga beragam yakni salawat dan lagu daerah Melayu,” ujar Suyadi.

Sayadi mengatakan bahwa pihaknya berupaya terus melestarikan Tari Trengganon tersebut dengan merintis anak-anak yang masih kecil untuk dijadikan penari.

“Agar tidak punah dan masih tetap ada di Indonesia khususnya di Sleman,” kayanya mantab.

Gayung bersambut Egis Firmansyah, salah satu penari mengaku bahwa dirinya mulai belajar tarian tersebut sejak umur 8 tahun.

“Saya sangat senang bisa belajar Tarian Trengganon ini, yang mungkin tidak semua orang bisa memainkan tarian tersebut,” ucapnya dengan bangga. (Rep Septian)