Menyiapkan Pengelolaan Pamsimas yang Mandiri dan Berkelanjutan

Ngaglik – Keberlanjutan merupakan kunci sukses KPSPAMS (Kelompok Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi), karena itu fokus utama penanganan pasca program Pamsimas adalah keberlanjutan,  dan diharapkan program dapat dikembangkan dalam konteks desa.

Hal ini disampaikan Sigit Praptono, staf ahli  Program
Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) dalam acara sosialisasi
Kelompok Keswadayaan Masyarakat Tingkat Desa di Aula Balai Desa Donoharjo, Kecamatan
Ngaglik, Kabupaten Sleman, Rabu (11/3/2020).

Untuk melihat apakah SPAMS memiliki keberlanjutan dapat
dilihat dengan tiga indikator. Pertama, 
jika SPAMS terbangun dimanfaatkan oleh masyarakat atau berfungsi baik. Kedua,
badan pengelola SPAMS secara aktif melaksanakan tugas dan fungsinya, dan ketiga
adalah adanya penerapan iuran atau tarif pelayanan air minum dan sanitasi
dengan menerapkan prinsip full cost recovery atau tarif yang diterapkan
mencapai harga pokok produksi.

“Tantangannya adalah belum sinkronnya perencanaan,
pelaksanaan dan pemantauan berbagai program dan anggaran untuk air minum dan
sanitasi di perdesaan, dan belum optimalnya lembaga yang menangani pengelolaan
air minum dan sanitasi di perdesaan,” jelas Sigit Praptono lagi.

Karena itu Sigit mengharapkan, pemerintah desa memiliki
komitmen yang kuat dalam mendukung dan mengupayakan keberlanjutan serta
pengembangan pelayanan air minum dan sanitasi di desa. Upaya yang bisa dilakukan
adalah pengintegrasian perencanaan air minum dan sanitasi ke dalam RPJMDesa dan
membangun kemitraan.

Adapun menurut Agus Waseso dari Dinas Pemberdayaan
Masyarakat dan Desa Kabupaten Sleman, tujuan kegiatan sosialisasi KPSPAMS
(Kelompok Pengelola Sarana Penyediaan Air Minum dan Sanitasi) dan PAMDES
(Penyediaan Air Minum Desa) adalah silaturahmi paska program pendampingan
kepada pengurus KPSPAMS/PAMDES untuk bisa membuat dokumen perencanan
pembangunan agar prasarana air minum melalui diintegrasikan dalam dokumen
RPJMDes dan RKPDes sehingga diharapkan ada dukungn APBDes dalam pengganggaran.

“Ke depan, diharapkan munculnya lembaga pengelola air
minum di tingkat desa yang dikuatkan dengan 
terbitnya peraturan bupati yang direncanakan bisa terbit di tahun 2021.
(Endarwati/KIM Ngaglik).




Keluarga Jadi Faktor Pendukung Perokok Bisa Berhenti

Data
tahun 2019 dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyatakan bahwa ada 31% keluarga
yang melakukan aktivitas merokok di dalam rumah.

Data
ini disampaikan Dulzaini, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
Menular, Dinas Kesehatan Sleman dalam kegiatan workshop kesehatan yang digelar
oleh Pusat kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Cangkringan bertempat di
The Cangkringan Jogja Villa and Spa, Rabu (10/03/2020).

Dulzaini
juga mengatakan bahwa berkisar 20% anak sekolah sudah aktif merokok di tahun
2019. 

“Secara
angka survei menunjukkan pengurangan dari tahun sebelumnya namun dirasa masih
sangat perlu upaya untuk mengurangi angka tersebut dari setiap tahunnya,”
bebernya.

Sementara
itu, Suparmono, Camat Cangkringan memaparkan kondisi di wilayah Cangkringan
yang mana Indeks Kesehatan Keluarga (IKS) tercatat masih rendah yaitu di angka 0,2-0,3
dari angka 0,8 yang harus diupayakan.

Rendahnya
IKS ini menurut Suparmono disebabkan karena masih banyak keluarga yang melakukan
aktivitas merokok di dalam rumah. “Masih ada angka keluarga perokok yang
belum sadar akan bahaya merokok di dalam rumah, nampaknya bisa saja si perokok
tidak atau belum merasakan dampak dari rokok namun tanpa disadari ada anggota
keluarga yang merasakan dampak akibat rokok, sebagai contoh anak yang terganggu
kesehatan karena seorang bapak sering merokok di rumah,” beber Suparmono.

Ditambahkan
oleh Suparmono, pihaknya mengimbau kepada kepala dukuh yang hadir sebagai
peserta workshop untuk membuat gebrakan. “Mulai sekarang di Padukuhan harus
berani membuat gebrakan yaitu dalam kegiatan jagong (menengok-red)
bayi tanpa ada aktivitas merokok untuk menghindari anak dari terpapar efek
buruk rokok,” tambahnya.

Farid
Bambang Siswantoro narasumber dari Jogja Sehat Tanpa Tembakau menyampaikan
pengaruh negatif rokok bukan hanya diderita oleh para perokok aktif dan perokok
pasif tetapi banyak fakta bahwa para pekerja atau buruh yang bekerja pada
pabrik pembuat rokok juga sering mengalami gangguan kesehatan yang tidak kalah
mengerikan.

“Sering
terjadi laporan pasien yang sakit terutama anak-anak yang memeriksakan
kesehatan di rumah sakit setelah ditelusuri lebih jauh terkait siapa
keluarganya, pekerjaan orangtuanya ternyata buruh atau pekerja pembuat rokok,”
ungkapnya. 

Fakta
lain disampaikan narasumber kedua, Eko Prasetyo dari Jogja Care House. Eko
mengatakan bahwa banyak kasus pengguna NAPZA dimulai dari rokok.

“Karena
pergaulan memang lebih mudah dimulai oleh para perokok, seperti contoh perokok
lebih mudah mendapat teman hanya dengan modal sebatang rokok maupun korek api,”
tukasnya.

Dikatakan
pula oleh kedua narasumber bahwa para perokok apabila ingin berhenti merokok
perlu dukungan dari lingkungan. “Terutama dari keluarga, seperti contoh apabila
dinasehati oleh istri biasanya lebih cederung tidak mendengarkan dan
ujung-ujungnya debat namun apabila anak yang mengambil peran memberikan nasehat
atau melalukan hal frontal dengan tidak mau mendekat saat ayah tercium bau
rokok pasti seiring berjalannya waktu akan tersadar untuk tidak merokok,”
kelakar Farid.

Sementara
Eko mengatakan terapi dan rehabilitasi memang sangat perlu dilakukan namun
peran keluarga dan lingkungan merupakan faktor pendukung untuk pengguna rokok bisa
sembuh. (KIM Cangkringan/Marmansyah)




Rakor Forum KIM Sembada Bahas Kemajuan Organisasi

Forum Kelompok Informasi Masyarakat (FKIM) Kabupaten Sleman menyelenggarakan rapat koordinasi (Rakor) guna membahas program kerja untuk memajukan Kelompok Informasi yang berada di wilayah 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman di Ruang Rapat Kantor Camat Gamping, Sabtu (7/3/2020).

Rakor rutin bulanan ini dipimpin oleh Ketua FKIM Sembada, H. Suripto dengan dipandu Sekretaris FKIM Sembada, Adnan Iman Nurtjahjo. Turut hadir dalam kegiatan Ketua II FKIM Sembada, H. Suharno, serta Bendahara I, R. Agus Widayadi, dan Bendahara II, Sugeng Raharjo.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua FKIM Sembada menyampaikan apresiasi kepada pegiat informasi dari Kecamatan Gamping, Ngaglik, Turi, Ngemplak, Seyegan, serta Sleman yang telah meluangkan waktu menghadiri pertemuan.

“Saya harapkan untuk rakor di bulan April 2020 mendatang jumlah peserta dapat bertambah karena banyak Kelompok Informasi Masyarakat dari 17 kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Sleman yang sudah terbentuk. Mari kita majukan organisasi yang sudah dirintis bersama-sama ini, lakukan inovasi dan kreativitas dalam pengelolaan informasi dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan nilai tambah,” kata H. Suripto.

Selain membahas progres kegiatan KIM di tiap wilayah, rakor juga membicarakan tentang perlunya dukungan seluruh anggota KIM untuk memajukan koperasi yang menjadi awal usaha guna menyejahterakan seluruh anggota. Suripto berharap seluruh anggota KIM yang ada di 17 kecamatan bisa menjadi anggota Koperasi FKIM Sembada.

“Karena manfaatnya banyak sekali, di antaranya dapat menampung produk anggota untuk dijual kembali oleh koperasi, bunga pinjaman rendah, mendapatkan sisa hasil usaha setiap satu tahun sekali, mendapatkan harga beli produk yang relatif lebih murah dari non-anggota, mendapatkan pengetahuan tentang perkoperasian, memperoleh ilmu berorganisasi, mendapatkan relasi yang lebih luas, terlibat dalam meningkatkan kualitas hidup manusia, pengembangan potensi dan ekonomi yang melibatkan anggota, menjaga dan memperkuat perekonomian, serta menjaga silaturahmi,” tambah H. Suripto. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Kafilah Kabupaten Sleman Kembali Berjaya di FASI XI DIY

Festival Anak Sholeh Indonesia (FASI) XI tingkat DIY kembali
digelar pada Minggu (8/3/2020) bertempat di Kompleks Perguruan SMAM 2
Yogyakarta, SDM Sukonandi, dan Kanwil Kementerian Agama DIY.

Gelaran yang tahun ini mengambil tema Bina, Santri, Jujur,
Arif, Ramah, Santun (Bisa Juara Satu) ini merupakan ajang bagi para santri TKA (Taman
Kanak-Kanak Alquran) dan TPA (Taman Pendidikan Alquran) se-Yogyakarta untuk
mengembangkan bakat, berkreasi dan berprestasi.

Lomba yang difestivalkan pun beragam, mulai dari tartil
Alquran, adzan dan ikamah, nasyid islami, peragaan salat, cerdas cermat Alquran,
mewarnai, ceramah agama Islam, hingga kaligrafi.

Kafilah Kabupaten Sleman dengan santri 123 dan 25 official
maupun pendamping siap untuk mempertahankan juara umum yang disangdang pada
tahun sebelumnya. 

Mujiyono didampingi Arif Rahman selaku Ketua Kafilah Sleman
juga berharap, ajang Festival Anak Sholeh Indonesia 2020 ini dapat melahirkan
santri-santri berkualitas serta melahirkan generasi-generasi bangsa yang
tangguh secara mental, berakhlak mulia, dan berdaya saing tinggi.

Setelah bersaing dengan 4 kafilah lain se-DIY, Kafilah
Sleman kembali berjaya dengan tampil sebagai juara umum pada Festival Anak Sholeh
Indonesia 2020. (Harjito, Moyudan)




Manfaatkan Limbah Tak Terpakai Jadi Produk Ramah Lingkungan

Sleman – Sleman Gumyak 2020 yang berlangsung mulai dari tanggal 6 hingga 8 Maret 2020 ini menjadi ajang promosi produk bagi para pengusaha yang ada di Sleman, salah satunya Lusi.

Lusi merupakan salah satu dari beberapa pengusaha yang turut
hadir memperkenalkan produknya dalam acara Sleman Gumyak 2020. Produk Lusi berupa
produk kerajinan tangan berbahan dasar olahan daur ulang sampah. Salah satu
produk yang menyita perhatian pengunjung adalah pot bunga yang terbuat dari
kulit kelapa.

Pot bunga yang diproduksi oleh Lusi dan kawan–kawan ini berbahan dasar kulit kelapa yang dikatakannya merupakan limbah yang tidak terpakai.

“Sebenarnya kita buat pot ini karena awalnya limbah kelapa ini tidak ada yang mau nampung, dijual juga enggak laku limbahnya bahkan kalau di rumah cuma dipakai untuk masak air,” ungkapnya ketika ditemui di stan miliknya pada Jumat (6/3/2020).

Untuk memproduksi pot bunga yang unik ini, Lusi mengaku
tidak sulit selama bahan dasar yang digunakan tersedia. Sementara, menurutnya,
proses tersulit justru ada pada tahap pengeringannya.

“Itu kalau ada stok kulit kelapanya itu bisa cepat, cuma kita yang lama itu cat karena kita pernis, biar tidak lapuk dan mengeringinkannya itu kita butuh 2 hari kalau musim panas tapi kalau musim hujan lama,” jelasnya.

Selain itu Lusi mengatakan jika ketersediaan kulit kelapa
tercukupi, maka sehari kawan-kawan mampu menghasilkan sekitar 10 buah pot bunga.
Untuk harga dari pot bunganya sendiri, Lusi membandrolnya dengan harga yang
terjangkau yaitu Rp 20 ribu per satu potnya.

Lusi menambahkan bahwa, dengan adanya Sleman Gumyak 2020 ini produknya dapat dipromosikan dan dikenalkan kepada masyarakat karena selama ini upaya promosi yang dilakukan oleh Lusi hanya dengan mengikuti event dan juga promosi melalui dinas. “Terus terang kalau saya enggak punya semacam Instagram untuk promosi, jadi kita pasarkan lewat event-event seperti ini jadi kita gabung ke dinas,” pungkasnya.

Ke depannya, Lusi berharap produk–produk yang berbahan dasar
olahan limbah ini lebih diperhatikan oleh pemerintah dan dapat bersaing dengan
produk–produk lainnya. (Rep Naci)