DLH Sleman Sosialisasikan Penanganan Sampah B3 Domestik

Bertempat di Ruang Rapat UPTD Persampahan, Kamis (28/5/2020),
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman memberikan sosialisasi tentang
penanganan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
kepada pengelola Bank Sampah yang ada di wilayah Kabupaten Sleman.

Bertindak sebagai pemateri adalah Junaidi, Kepala Bidang Kebersihan
dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau DLH Sleman dan Andri Harsoyo, Kepala Seksi Pengelolaan
Persampahan DLH Sleman. Acara dimulai pada pukul dengan tetap mematuhi
protokol Covid-19.

Dalam pengarahannya, Junaidi menekankan bahwa penanganan
sampah B3 perlu keseriusan yang amat sangat karena untuk melindungi masyarakat
dan lingkungan dari potensi risikonya. Junaidi juga menjelaskan dasar hukum,
kebijakan, dan teori sampah B3 domestik.

“Sampah B3 yang masuk ke Bank Sampah dikumpulkan dan
dicatat, kemudian oleh Bank Sampah dibawa ke TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah
Reuse, Reduce, dan Recycle) terdekat sebagai titik kumpul. Dari
TPS3R dibawa dan dikumpulkan lagi di Tambakboyo sebagai TPST (Tempat
Pengolahan Sampah Terpadu) yang berlokasi di Kecamatan Depok. Oleh
Transporter, sampah B3 tersebut akan diambil dan dikirim ke Cilengsi,” jelas
Junaidi panjang lebar.

Sementara itu Andri Harsoyo, menambahkan terkait mekanisme
TPS3R sebagai titik kumpul sebagaimana PP 101/2014 tentang B3.

“TPS3R harus dilengkapi izin transporter sebagai pengangkut
B3,” ujarnya.

Dijelaskan pula bahwa DLH Sleman untuk sementara fokus pada
penanganan sampah B3 yang padat.

“DLH masih menentukan potensi sampah B3 yang disepakati
untuk dikelola terpisah. DLH juga mempunyai tanggung jawab mengangkut sampah B3
dari titik kumpul TPS3R melalui UPTD nya,” tambah Andri.

Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan forum tanya jawab
dengan peserta dan disepakati untuk kegiatan simulai penanganan sampah B3 pada Jumat
(29/5/2020) di TPS3R Bening, Krandon, Wedomartani, Ngemplak Sleman. (Sutarto
Agus/KIM Seyegan)




Kreatif di Masa Pandemi Hadapi Krisis Ekonomi Unik

Setelah pemerintah memberlakukan program physical distancing semua kegiatan mulai diatur dengan sistem Work From Home (WFH). Alhasil, pandemi Covid-19 ini tidak hanya berefek pada kesehatan, melainkan mengubah kebiasaan bersosialisasi yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan mental dan finansial.

Azzahra Salsabila seorang pelajar kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Depok, Kabupaten Sleman mengajak masyarakat untuk tetap produktif meski virus corona masih mewabah dan belum ditemukan vaksinnya. Dirinya mengatakan bahwa pandemi telah memukul semua sektor kehidupan masyarakat, dan perekonomian diprediksi terpuruk lebih dalam dibandingkan krisis-krisis sebelumnya saat ditemui di kediamannya Padukuhan Salakan, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kamis (28/5/2020).

“Sesuatu yang menggunakan kreativitas dan berinovasi, sebetulnya akan memunculkan peluang usaha atau bisnis baru yang menguntungkan. Bagi yang terdampak Covid-19, ini yang harus disikapi bagaimana satu keluarga dapat menghasilkan di tengah krisis. Oleh karena itu, untuk bertahan dalam situasi krisis seperti sekarang ini di antaranya buka usaha sendiri. Namun, harus melalui kajian dan cermat dalam melihat peluang bisnis, seperti yang saya lakukan dengan membuka usaha makanan sempol ayam dan baquet bunga berlabel Ikhtiar Yummy dan Ikhtiar Florist dengan memanfaatkan media sosial Instagram dalam memasarkan produk,” lanjut Azzahra.

Pelajar yang memiliki jiwa seni dan wirausaha ini menambahkan bahwa guna mengatasi rasa bosan selama di rumah saja, ia mencoba beberapa hal baru dengan kerja produktif dan ternyata bisa dijadikan sumber pemasukan. Sebelum memulai usaha, Azzahra memilih produk atau layanan yang akan dijual yang tingkat permintaannya tinggi, pun mempertimbangkan target atau segmen sebagai pangsa pasarnya.

“Krisis ini berbeda dan lebih unik dibandingkan krisis-krisis ekonomi sebelumnya. Selain penanganannya berbeda, pandemi ini juga memengaruhi perilaku dan pola aktivitas ekonomi, usaha, serta peluang bisnis. Saran saya jika mau memulai usaha di tengah krisis seperti ini yaitu mempertimbangkan sebuah produk yang dihasilkan, memperhatikan market, serta jaringan,” pesan pemilik ribuan followers di Instagram mengakhiri percakapannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




IKABA Bagikan Seribu Masker Gratis untuk Masyarakat

Pandemi
Covid-19 semakin nyata di depan mata, per 21 Mei 2020 secara nasional terjadi
lonjakan jumlah penderita baru yakni mencapai seribu orang setiap harinya.

Rendahnya
kesadaran masyarakat terhadap bahaya dari Covid-19, terbukti dengan masih
banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker ketika berada di ruang publik.
Padahal pemakaian masker sangat penting untuk mencegah penularan Covid-19.

Kondisi
ini menggugah keluarga besar IKABA (Ikatan Keluarga Alumni SMP Bangunkerto)
untuk mengadakan pembagian seribu masker gratis kepada masyarakat di sekitar
Turi dan Tempel. Bertempat di Perempatan Lampu Merah Ngablak, Turi dan Sedogan
pada Sabtu (22/5/2020), IKABA menggelar acara bertajuk Aksi Pembagian Masker
Gratis IKABA Turi, Peduli Covid-19 sebagaimana disampaikan oleh Astuti Widayati,
Ketua IKABA.

“Kegiatan
ini didanai dari donasi dari segenap alumni yang peduli dengan kesehatan
masyarakat, sumbangan berupa dana maupun juga masker,” ujar Astuti.

Agenda
kali ini dikatakan Astuti merupakan yang kedua kalinya setelah pada akhir April
2020 lalu.

“Kegiatan
ini tidak lain karena kepedulian dan kekompakan dari alumi SMPN 2 Turi dalam
kiprahnya di masyarakat dan tak lupa juga kami mengucapkan selamat Idul Fitri
1441 H, semoga dengan kondisi sulit ini justru semakin mendekatkan rasa
keimanan kita kepada Allah SWT dan kita bisa memetik hikmah dari peristiwa ini,”
tambahnya. (Arief Hartanto)




BST Upaya Jaga Daya Beli Masyarakat di Masa Pandemi

Guna menjaga daya beli masyarakat yang terdampak Covid-19,
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pemerintah Kabupaten Sleman
memberikan Bantuan Sosial Tunai (BST) kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM)
untuk wilayah Kecamatan Gamping berupa uang tunai senilai 600 ribu rupiah
setiap bulan selama tiga bulan.

Sejalan dengan hal itu, Camat Gamping, Ikhsan Waluyo
meninjau penyaluran bantuan sosial (bansos) di Pendopo Kecamatan Gamping bersama
Kapolsek Gamping, Kompol Aan Andrianto, Kamis (21/5/2020). “Bantuan berupa uang
tunai tersebut merupakan Bansos Pemerintah DIY untuk masyarakat Kecamatan
Gamping yang tersebar di lima desa yaitu Desa Ambarketawang, Desa Balecatur, Desa
Banyuraden, Desa Nogotirto, dan Desa Trihanggo selama masa pandemi yang
diberikan dalam waktu sepekan,” terang Ikhsan Waluyo.

Menurut Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Gamping, Budi
Supriyanto bahwa BST disalurkan kepada warga miskin dan rentan terdampak
Covid-19. Keduanya adalah KPM di luar penerima Program Keluarga Harapan (PKH)
dan Program Sembako. Indeks bantuannya sama dengan program bansos sembako
Presiden, yakni Rp 600 ribu/KK/bulan selama tiga bulan, mulai April, Mei, dan
Juni 2020.

“Adapun jumlah keluarga penerima bansos berjumlah KK.
Dalam penyaluran bansos ini, kami bersinergi dengan Bank Pembangunan Daerah
(BPD) DIY karena jaringannya yang luas. Demi mengejar target penyaluran ke
keluarga penerima bansos, pihak BPD DIY memutuskan untuk memaksimalkan seluruh
cabang dalam penyaluran bansos yang memerlukan waktu selama sepekan untuk
penyalurannya,” ucap Budi.

Di akhir perbincangan, Camat Gamping berharap
pendistribusian bansos dapat lebih cepat dan lancar untuk ke depannya sehingga
bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain itu, masalah belum
tuntasnya data penerima bansos juga dapat segera teratasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM
Pararta Guna Kec Gamping)




Warga Sleman Bagi Kisahnya Ikuti RDT Massal Gratis

Perasaan
lega memenuhi dada Y, dara 29 tahun, saat melihat pengumuman Rapid Diagnostic Test (RDT) yang ia ikuti. SMS blast yang
terkirim untuknya tertulis non-reaktif.

Y,
sebelumnya mengikuti RDT tahap pertama yang digelar Pemkab Sleman pada Rabu
(14/5/2020). Dirinya terdaftar sebagai salah satu pengunjung swalayan besar di
Kabupaten Sleman yang mana karyawannya positif terinfeksi Covid-19.

RDT
bukan menjadi pilihan bagi Y karena kesehatannya menyangkut kesehatan keluarganya
pula. Berbekal pemberitahuan dari teman, Y berinisiatif mendaftarkan dirinya secara
daring ke .

“Setelah
daftar saya dapat jadwal yang langsung muncul setelah pengisian identitas diri
selesai dilakukan. Selain itu, ada pemberitahuan melalui SMS beberapa hari
sebelum tes,” cerita Y saat
dihubungi Rabu (20/5/2020).

Mudahnya
proses ini, tak hanya dirasakan Y sampai di situ saja. Ia membeberkan RDT tahap
pertama yang ia jalani terbilang cukup baik dan tertata.

“Mulai
dari antri mau daftar ulang, pengambilan darahnya, dan sebagainya sudah cukup
bagus dan tertata,” ujarnya.

Meski
demikian, Y mencatat hal-hal detail yang perlu diperbaiki oleh penyelenggara,
yakni bagaimana penulisan nama pada tabung darah yang saat itu masih manual.

“Kalau
diketik dan melalui sistem, potensi tertukar identitas bisa diminimalisir,”
saran Y.

Kini,
Y harus kembali mengikuti prosedur yang ditetapkan Pemkab Sleman, yakni berpartisipasi
dalam RDT tahap kedua yang digelar pada Selasa (19/5/2020), Rabu (20/5/2020),
dan Rabu (27/5/2020).

Ia
bersedia hadir untuk memastikan hasil non-reaktif tersebut benar-benar pasti dan
mendapatkan bukti tertulis.

Bukti
tertulis dikatakan Y merupakan kebutuhan baginya agar ia bisa menggunakan
transportasi umum menuju tempatnya bekerja usai Idul Fitri nanti.

“Karena
akan kembali bekerja di Jakarta setelah hari raya, surat ini akan saya gunakan
untuk memenuhi syarat terbang,” tukas Y.

Y
berharap mekanisme RDT tahap kedua ini lebih lancar dari sebelumnya pun dirinya
kembali memperoleh hasil non-reaktif. Tak hanya itu, ia berharap terus ada langkah
preventif dari Pemkab Sleman dalam penyebaran wabah Covid-19.

“Mungkin
alangkah baiknya Pemkab Sleman juga bisa memberikan informasi mengenai
pencegahan Covid-19 melalui SMS seperti untuk pengumuman tes ini dan terus
memantau ODP di lingkungan Sleman khususnya,” harap Y.