Persiapan Ponpes As-Salafiyah Mlangi Hadapi Kondisi New Normal

Kesiapan menghadapi aktivitas new normal terus dilakukan berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dalam pondok pesantren (Ponpes). Dalam menghadapi keadaan new normal, pesantren juga melakukan berbagai persiapan, yaitu dengan menyiapkan protokol kesehatan untuk melakukan aktivitas belajar mengajar para santri.
Menurut pengasuh Ponpes As-Salafiyah, KH Zar’anudin di sela-sela kunjungan Wakil Bupati Sleman, Hj Sri Muslimatun, Jumat (12/6/2020), lembaga pesantren yang terletak di wilayah Padukuhan Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping ini sudah menyiapkan diri karena aktivitas pesantren harus dimulai lagi termasuk para santri yang akan kembali ke pesantren untuk menempuh pendidikan.
KH Zar’anudin mengungkapkan bahwa ponpes asuhannya siap menghadapi kondisi new normal dengan menyiapkan berbagai prosedur dan sistem yang disesuaikan dengan protokol kesehatan bagi para santri seperti penyediaan tempat cuci tangan, hand sanitizer, masker, hingga beberapa ruang isolasi mandiri sebagai tempat karantina saat santri datang dari luar daerah masuk ke pesantren.
“Sebagai entitas pendidikan yang bertujuan mencetak para generasi penerus bangsa, lembaga pesantren juga memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan kegiatan pendidikan bagi para santri. Apalagi dalam proses belajar di pesantren sudah ada kurikulum yang telah disusun bagi santri selama berada di ponpes. Kita berharap para santri bisa menyelesaikan pembelajarannya hingga tuntas sebelum terjun di masyarakat. Meskipun selama pandemi ini, aktivitas pembelajaran terus berjalan walau secara online,” Ungkap KH Zar’an.
Ia menambahkan, kedatangan para santri ke pesantren juga dilakukan secara bertahap. Setiap tahap dibatasi antara 40 hingga 50 santri yang diperbolehkan hadir yang diawali pada 1 Juli 2020 mendatang dan tahap selanjutnya dilakukan 15 hari setelahnya. Hal ini dilakukan hingga semua santri hadir semuanya dengan syarat membawa surat keterangan bebas Covid-19 dari daerah asalnya masing-masing.
Wakil Bupati Sleman, Hj Sri Muslimatun menyambut baik upaya ponpes kembali menjalankan aktivitas pendidikan pada kondisi new normal mendatang. Dirinya berpesan agar standar protokol kesehatan harus tetap diberlakukan untuk mengantisipasi munculnya klaster baru dari lingkungan pesantren, dan harus menjalankan secara maksimal pola hidup bersih dan sehat.
Hj Sri Muslimatun menambahkan, kebijakan aktivitas pesantren dan santri diberlakukan sama dengan perguruan tinggi yakni mengacu pada Surat Edaran Bupati Sleman Nomor : 443/01352 tentang panduan penerimaan kedatangan mahasiswa dari luar daerah, yang menyebutkan para santri harus membawa surat keterangan sehat bebas Covid-19 dari daerah asal, melakukan karantina mandiri, serta melapor ke asrama dan pemerintah setempat.
“Santri bisa beraktivitas normal selama bisa menunjukkan hasil rapid diagnostic test (RDT) Covid 19 dengan hasil nonreaktif yang masih berlaku. Untuk Lembaga pesantren juga harus memenuhi ketentuan yang sudah diatur. Antara lain melaporkan para santri yang datang dan kondisi kesehatannya secara berkala, menyiapkan fasilitas kesehatan serta ruang karantina mandiri yang memadai. Aktivitas pembelajaran dan ibadahnya juga harus menerapkan physical distancing selama masa pandemi ini,” pesan Wakil Bupati Sleman ini.
Turut mendampingi Wakil Bupati Sleman dalam peninjauan ini anggota DPRD DIY, Syukron Arief Muttaqin beserta para staf pengajar pesantren. Syukron menambahkan bahwa pemerintah wajib hadir di lembaga pesantren dalam menghadapi situasi new normal karena keberadaan ponpes tidak kalah penting dengan entitas Pendidikan lainnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Banyak mahasiswa di wilayah DIY yang berdomisili di pesantren. Oleh karena itu, pemerintah juga harus hadir dengan kebijakannya dan memperhatikan ponpes menghadapi new normal ini,” tutur Syukron Arif menutup perbincangannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)

