Gunakan Agensi Hayati Guna Tangani Organisme Pengganggu Tanaman

Kelompok Tani
Sedyo Makmur dengan arahan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, didampingi
oleh Regu Perlindungan Tanaman (RPT) melaksanakan penyemprotan tanaman padi
guna pencegahan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan memanfaatkan agensi
hayati, Senin (29/6/2020) di Bulak sawah Padukuhan Kebur, Desa Argomulyo,
Kecamatan Cangkringan.

Kegiatan ini
bermula dari kegelisahan warga kelompok tani yang menyampaikan kepada PPL
pertanian tentang daun padi muda yang menguning seperti terkena jamur. Laporan
ini direspon cepat dengan kegiatan penyemprotan dengan agensi hayati dari dinas
pertanian sedang anggota kelompok tani yang melaksanakan penyemprotan.

Camat Cangkringan, Suparmono menyampaikan data dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia, akibat Covid-19 ini cadangan pangan dunia pada bulan Agustus akan mengalami krisis.

“Namun kita percaya bahwa dengan untuk Indonesia terutama di wilayah Kabupaten Sleman cadangan pangan kita akan aman, dikarenakan para petani yang terus bekerja,” tandas Suparmono.

Sementara itu, Suharno
selaku Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian
Kabupaten Sleman mengatakan, sekarang para petani harus sudah sadar kembali
menerapkan penggunaan agensi hayati atau pestisida alami guna menangani OPT.

“Banyak alternatif pestisida alami yang bisa digunakan warga yang pastinya aman, mudah mendapatkan, serta berada di lingkungan kita. Memang efeknya tidak langsung seketika hasilnya namun residu yang ditinggalkan tidak akan berbahaya bagi manusia,” ujarnya.

Suharno memberikan contoh agensi hayati, seperti dengan beveriabasiana yang berupa jamur untuk mengendalikan walang sangit, sundep beluk yang mana OPT yang terkena semprotan akan mati perlahan seperti terkena jamur, serta pupuk organik dengan Mikro Organiseme Lokal seperti dari gedebok pisang atau akar bamboo, dan lain sebagainya yang telah difermentasi sehingga akan memacu petumbuhan tanaman. (KIM Cangkringan/Marmansyah)




Listrik Gratis Untuk Masyarakat Tidak Mampu, Ini Syarat dan Cara Pengaduannya

[metaslider id=15971 cssclass=””]

Hampir saban hari, Sugiyanto (42) harus menyiapkan tenaga lebih mendorong gerobak baksonya menelusuri jalanan Desa Mandaranrejo, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur. Dagangan Sugiyanto kini nyaris bertolak belakang sebelum adanya pandemi. Jika biasanya ia hanya perlu berkeliling sebentar di daerah sekitar rumah, kini ia butuh waktu lebih lama mencari pembeli, dari gang ke gang, kadang melintasi desa tetangga.

Sejak virus Corona tipe baru
menyebar luas dan kebijakan pembatasan sosial diterapkan, kondisi Desa
Mandaranrejo serasa lebih senyap. Masyarakat pun mulai enggan keluar rumah.
“Wabah COVID-19 ini membuat pendapatan saya menurun,” keluh pria paruh
baya seraya berbalut masker di wajahnya. Keluhan Sugiyanto cukup beralasan
mengingat ia harus menafkahi istri, dua putri kecil, dan memenuhi kebutuhan
sehari-hari rumah tangganya, termasuk tagihan listik. 

Tak perlu lama, keluhan
Sugiyanto terjawab. Pemerintah mencanangkan program perlindungan bagi
masyarakat miskin dan rentan miskin, salah satunya keringanan pembayaran tarif
listrik. Tak tanggung-tanggung, pelanggan listrik 450 VA seperti Sugiyanto
telah digratiskan, sementara diskon 50% diberikan bagi pelanggan 900 VA
bersubsidi selama enam bulan, yakni April hingga September 2020. Total, sekitar
31 juta pelanggan sudah menikmati keringanan tagihan listrik tersebut.

Saat ini, fokus pemerintah
adalah untuk masyarakat seperti Sugiyanto yang berada pada 40% kondisi sosial
ekonomi terendah sesuai Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari
Kementerian Sosial. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keuangan
negara. “Alhamdulilah, program ini sangat membantu mengurangi beban
perekonomian keluarga,” ucap Sugiyanto.

Pengaduan Subsidi Listrik
Lebih Mudah       

Kabar baik tak hanya menjadi
milik Sugiyanto dan pelanggan penerima listrik subsidi yang terdata di DTKS.
Masyarakat yang berhak mendapatkan subsidi listrik tapi belum menerimanya pun
dapat menyampaikan pengaduan kepesertaan subsidi listrik ke desa/kelurahan.
Masyarakat mengisi Formulir Pengaduan Kepesertaan Subsidi Listrik untuk Rumah
Tangga yang tersedia di desa/kelurahan setempat. Selanjutnya, pengaduan akan
diteruskan petugas melalui kecamatan setempat ke Tim Posko Penanganan Pengaduan
Pusat lewat web .

Pungki (45), salah satu
pelanggan warga asal Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah berhasil mendapat
subsidi listrik setelah mengajukan pengaduan. Awal Juni ini Pungki bahkan sudah
mendapatkan haknya untuk listrik bersubsidi. “Saat ini tarif listrik di rumah
saya sudah memasuki tarif subsidi dan dan saya sudah menerima stimulus token
bulan ini sebanyak 45,8 kWh,” ungkap Pungki senang.

Prosedur pengaduan kini juga lebih mudah dengan hadirnya aplikasi mobile PEDULI. Aplikasi ini dapat diakses melalui smartphone berbasis Android dan sudah dapat diunduh melalui Playstore sejak Januari 2020. “Dengan adanya aplikasi mobile PEDULI, masyarakat juga dapat melakukan pengaduan mandiri melalui smartphone. Selain meringkas tahapan pengaduan, waktu yang digunakan juga lebih efisien,” ujar Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi, Jumat (26/6/2020), di Jakarta.

Ada empat fitur dalam
aplikasi PEDULI. Fitur Cek Nomor Induk Kependudukan (NIK) Basis Data Terpadu
(BDT) memudahkan masyarakat untuk mengecek NIK apakah masuk daftar rumah tangga
kurang mampu sesuai BDT atau tidak. Selanjutnya, ada fitur Cek Subsidi Listrik
untuk pengecekan identitas pelanggan (IDPEL PLN) yang menerima subsidi listrik.
Ada pula fitur Pengaduan Subsidi untuk melakukan pengaduan dan melihat riwayat
pengaduan. Terakhir, fitur Informasi Pengaduan digunakan untuk mengecek hasil
pengaduan.

Untuk melakukan pengaduan
kepesertaan subsidi listrik melalui PEDULI, masyarakat perlu mengisi profil
pada aplikasi tersebut. Kemudian, isi formulir dengan lengkap yang melingkupi
identitas pelapor, kepemilikan listrik, pemanfaatan listrik, daftar anggota
rumah tangga, dan kepemilikan kartu sosial.

Kehadiran aplikasi PEDULI mendapat apresiasi
dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(PAN-RB). Aplikasi yang dirintis sejak tahun 2017 tersebut mampu menembus Top
99 Inovasi Pelayanan Publik pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2020.




Hari Keluarga Nasional ke-27: Momen Keluarga Indonesia Bangkit dari Covid-19

jakarta – Pandemi Covid-19 melanda dunia, memberikan dampak besar untuk kehidupan keluarga-keluarga di Indonesia. Di sisi lain, situasi ini justru merekatkan hubungan keluarga, semakin guyub, semakin akrab. Peran keluarga makin terasa. Kita harus kembali ke lingkup terkecil dan yang sangat berharga, yaitu keluarga. Keluarga adalah sumber yang selalu menghidupkan, memelihara, memantapkan serta mengarahkan kita. Keluarga adalah sumber kebahagiaan dan keceriaan, pusat cinta dan kasih sayang yang senantiasa menopang semangat kita. Keluarga adalah perisai dalam menghadapi segala persoalan.

Survei Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terhadap 20 ribu keluarga di
Indonesia mengungkapkan bahwa sebagian besar keluarga
di Indonesia tangguh dalam menghadapi COVID-19 karena mampu menerima, saling
mendukung, serta menghindari pertengkaran di masa pandemi ini.

Di balik
tangguhnya keluarga Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19, terdapat peran
istri dalam mempertahankan keharmonisan rumah tangga. “Kalau
kita tanya siapa yang melakukan pekerjaan di rumah, survei mengatakan 49,1
persen suami istri, tapi 34,3 persen mengatakan istri dominan, 15,9 persen
istri saja dominan,” kata dr. Hasto
Wardoyo
, (K), Kepala BKKBN di Jakarta, Senin (29/06/2020).

Terkait pengasuhan
anak, survei BKKBN mengungkapkan bahwa suami dan istri melakukannya
bersama-sama (71,5 persen). Namun
21,7 persen menyatakan bahwa istri lebih dominan dan 5,8 persen mengatakan
istri saja.

Untuk pemenuhan atau pembelian kebutuhan rumah tangga, 53,8 persen keluarga
mengatakan bahwa peran tersebut dibagi rata antara suami dan istri. Namun 22,8
persen menyatakan bahwa istri lebih dominan dan 11,1 persen hanya istri saja.
Hanya 8,3 persen yang menyebut suami lebih dominan dan 4 persen yang mengatakan
hanya suami saja.

Selain itu,
soal bagaimana mengingatkan hidup sehat dalam keluarga, 82,5 persen menyatakan
membagi peran tersebut rata antara suami dan istri dengan 12,4 persen
mengatakan istri lebih dominan.

“Kemudian
(mengenai) siapa yang mengingatkan berdoa dan beribadah, 86 persen suami istri,
tapi 7,2 persen jauh lebih tinggi daripada suami adalah istri”, papar
Hasto.

Hanya dalam mengingatkan berpikir dan berperilaku positif peran suami lebih
besar yaitu 5,3 persen. Namun angka ini lebih tinggi sedikit dengan peran istri
yaitu 5,2 persen. Sementara 87,9 persen mengatakan bahwa suami dan istri punya
peran dalam tugas tersebut.




MCCC PCM dan KOKAM Prambanan Berbagi Thermometer Gun

MCCC PCM dan KOKAM Prambanan Berbagi Thermometer Gun

Muhammadiyah Covid-19 Command Center Pimpinan Cabang Muhammadiyah Prambanan Sleman pada Sabtu (27/6/2020) membagikan non-contact thermometer gun kepada 10 sekolah baik SD Muhammadiyah maupun TK Aisyiyah di Kecamatan Prambanan.

Sad Fajar Nugroho, Bendahara MCCC PCM Prambanan
menyampaikan, Muhammadiyah terus bergerak untuk kemaslahatan umat, salah satunya
dalam upaya penanggulangan pandemi Covid-19.

“Seperti halnya dengan PCM Prambanan melalui tim MCCC PCM
Prambanan yang dimotori Angkatan Muda Muhammadiyah terus bergerak terjun
langsung ke lapangan,” ujarnya.

Rifki selaku Komandan KOKAM Prambanan yang bertugas di lapangan menambahkan bahwa dalam menghadapi era new normal ini dan mendekati tahun ajaran baru maka tim MCCC PCM Prambanan membagikan thermometer gun secara gratis kepada sekolah-sekolah binaan Muhammadiyah di Prambanan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk membantu sekolah-sekolah
Muhammadiyah untuk bisa menjaga seluruh warga sekolah dari penyebaran Covid-19,”
tambahnya. (Arief Hartanto)




LKS Lansia Suko Manunggal Mulai Kuatkan Kiprahnya

Sejak
berdiri pada tahun 2013, Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Lanjut Usia Suko
Manunggal Desa Sukoharjo yang berpusat di Kompleks Masjid Besar Baiturrahman
Klidon memiliki potensi untuk berkiprah ke dusun-dusun lainnya. Hal ini mengingat
semakin bertambahnya Usia Harapan Hidup para lansia maka semakin bertambah
jumlah lansia di wilayah ini. Di Dusun Klidon sendiri dengan 900 jiwa lebih penduduk,
jumlah lansia sudah mencapai 144 jiwa baik yang potensial dan non potensial.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Minggu (28/6/2020) di Masjid Besar
Baiturrahman Klidon, diadakan pertemuan membahas program kerja LKS Lansia Suko
Manunggal. 

Dalam
kesempatan tersebut Yasmin, Ketua LKS Lansia Suko Manunggal, memaparkan program
LKS Lansia Suko Manunggal tahun 2020, yakni rutin mengadakan kegiatan posyandu
lansia, membantu lansia dalam kegiatan lainnya, dan menyalurkan bantuan dari
Dinas Sosial, Baznas, dan lain sebagainya.

Yasmin
mengharapkan dukungan semua pihak untuk membantu secara aktif baik morel dan
material sehingga program LKS bisa berjalan. 

“Dalam
tahun ini diharapkan ada program Senam Lansia, Program Posyandu Lansia, Program
BKL serta program Lansia Produktif lainnya, ke semuanya dibutuhkan dana
dukungan untuk menggerakkan kegiatan ini,” paparnya.

Sementara
itu Sujadi, Kepala Seksi Pelayanan Masyarakat Desa Sukoharjo menyambut program
lansia ini.

“Pemerintah
desa sangat mendukung dan akan membantu sesuai kemampuan desa sehingga program
lansia bisa dijalankan sesuai tujuan untuk mensejahterakan para lansia di Desa
Sukoharjo,” tegasnya. 

Kegiatan
dilanjutkan dengan diskusi terkait program yang disampaikan Ketua LKS Lansia Suko
Manunggal kemudian menanggapi beberapa usulan tentang cara menggali dukungan
untuk kebutuhan operasional LKS, antara lain partisipasi masyarakat melalui
iuran dari pegawai, pengusaha, dan masyarakat yang peduli lansia termasuk jemaah
yang mampu. (KIM Ngaglik/Srp)