Jagabaya Kademangan Demakidjo menggandeng Yayasan Sioux Ular Indonesia yang bergerak di bidang edukasi, penelitian, sosial dan kemanusiaan, terutama dalam kaitan penanganan ular Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertajuk Snake Awareness Program bagi para relawan yang digelar di Pendopo Kekandhangan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Minggu (26/7/2020) pagi.
Giat yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas relawan ini dipandu oleh Josh Handani, dan dihadiri oleh Kepala Seksi Pelayanan Desa Banyuraden, Muhajir serta Direktur Badan Usaha Milik Desa Banyuraden sekaligus Pengelola Kekandhangan, Murdiyanto.
Workshop diikuti oleh perwakilan dari berbagai komunitas relawan antara lain Difabel Siaga Bencana (Difagana) Daerah Istimewa Yogyakarta, Rescue Banyuraden, Banser Persada Sleman, Sigap, Relawan Jagabaya, Tim Reaksi Cepat Gamping, BPBD Gunung Kidul, Pemadam Kebakaran Kulon Progo, termasuk Ketua KIM Pararta Guna Kecamatan Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo.
Dalam sambutan pembukanya, Ketua Jagabaya Kademangan Demakidjo, Yuniawan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia, Aji Rachmat Purwanto yang telah bersedia menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman berkaitan dengan mitigasi dalam menghadapi ular secara sukarela, seperti slogan yang dimiliki Jagabaya ‘Dari Desa Untuk Indonesia’.
Sebelum memaparkan materi inti tentang biologi ular, Penanganan gigitan ular, identifikasi ular, serta teknik menangani ular, Aji Rachmat memperkenalkan profil lembaga yang dipimpinnya. Ia menuturkan bahwa Yayasan Sioux Ular Indonesia adalah Lembaga nonpemerintah, swadaya, swadana, dan swakarsa yang lahir pada bulan November tahun 2003 silam.
“Adapun misi Yayasan Sioux adalah menjadi lembaga yang mapan dan mandiri di bidang studi ular untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ular dengan jalan merubah paradigma masyarakat tentang ular sehingga ular dapat terhindar dari ancaman kepunahan akibat ulah manusia,” tutur Aji Rachmat di hadapan peserta workshop.
Selanjutnya, Aji memberikan tips guna membedakan ular berbisa tinggi dan rendah. Menurutnya ular berbisa rendah memiliki ciri gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif, beraktivitas pada siang hari, membunuh mangsanya dengan membelit, bentuk kepalanya bulat telur atau oval, tidak memiliki taring bisa, gigitannya tidak mematikan, serta setelah menggigit biasanya langsung pergi.
Sedangkan ciri ular berbisa tinggi antara lain gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri, beraktivitas pada malam hari, membunuh mangsa dengan menyuntikkan bisa, bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna, memiliki taring bisa, racun mematikan, kanibal karena memakan ular lain, serta setelah menggigit masih tetap tinggal di tempat.
Setelah peserta menerima materi teori secara keseluruhan, workshop dilanjutkan dengan praktik penerapan teknik menangani ular dari jenis yang tidak berbisa hingga ular yang berbisa tinggi yaitu jenis kobra dan king kobra dengan arahan dan pengawasan dari relawan Shioux menggunakan pengait, kain sarung, dan sapu ijuk sehingga aman dari gigitan ular.
“Sebelum melakukan handling, saya sarankan untuk mempersiapkan diri dengan beberapa Alat Pelindung Diri (APD) seperti memakai pakaian yang nyaman dan bercelana panjang, bersepatu, serta menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari semburan ular kobra,” pesan Aji mengakhiri workshop. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)