Peringati Hari Anak, Karang Taruna Desa Kepuharjo Gelar Latihan Bola

Karang
Taruna Arga Loka Taruna Karya Desa Kepuharjo menggelar latihan sepak bola untuk
anak-anak usia di bawah 14 tahun, Minggu (26/7/2020) di Kepuharjo Sport Center.

Ginanjar,
Ketua Karang Taruna Desa Kepuharjo mengungkapkan acara tersebut dilaksanakan
untuk memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli lalu.

“Ada
lapangan yang bisa meningkatkan minat anak-anak untuk bermain bola tidak melulu
bermain gawai,” imbuhnya.

Ginanjar
membeberkan, sebanyak 56 anak dari 8 dusun di Desa Kepuharjo terjun dalam kegiatan
ini. Minatnya pun tergolong tinggi, seperti yang dirasakan Iqbal salah satu
peserta pelatihan yang merasa sangat antusias hingga datang lebih awal dari
jadwal latihan. Iqbal juga mengaku sehari sebelumnya membeli sepatu bola baru
untuk latihan di hari tersebut.

Ke depan,
Ginanjar sendiri berencana akan rutin mengadakan acara ini bagi anak-anak.

“Bahkan akan
ada sekolah sepak bola nantinya,” tandasnya. (Andi Ferdana/KIM Cangkringan)




Latsar TRC Gamping Tingkatkan Peran Serta dan Daya Kerja Relawan Tangani Bencana

Guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang penanggulangan bencana, sejumlah relawan yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat (TRC) Kecamatan Gamping mengikuti kegiatan latihan dasar (Latsar) kebencanaan yang digelar di Embung Kaliaji, Donokerto, Turi, Sabtu (25/7/2020).

Menurut ketua TRC Gamping, H. Deny Hendrawan Latsar diikuti oleh 36 peserta dari unsur relawan, 17 orang pelatih, dan 12 orang sebagai tenaga pendukung. Peserta yang mengikuti kegiatan selama dua hari ini menerima materi pelatihan berupa Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD), penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), water rescue, tali temali, vertical rescue, serta susur sungai.

Kegiatan yang dihadiri Wakil Kepala Seksi Operasional Badan SAR Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta, Ade Budi secara resmi dibuka oleh Camat Gamping, Ikhsan Waluyo seraya menyemangati para relawan agar menggunakan kesempatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam penanggulangan bencana terutama di wilayah Kecamatan Gamping.

Adapun sejumlah pelatih yang memberikan materi latsar diantaranya Kepala Seksi kedaruratan dan Operasional Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, munadi yang memaparkan tentang kedaruratan dan kerelawanan, Perwakilan dari Badan SAR Nasional DIY, Ardian memberikan pengetahuan tentang PPGD, Perwakilan dari Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman, Daryono dan Wakiran yang memaparkan tentang penggunaan APAR guna mengendalikan kebakaran kecil, Gayus Adventure menyampaikan materi vertical rescue, serta praktik susur sungai di bawah pengawasan Seto Ideru.

“PPGD adalah serangkaian usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian. Pertolongan pertama dapat dilakukan oleh relawan yang sudah dibekali pengetahuan teori dan praktek bagaimana merespon dan melakukan pertolongan pertama di lokasi kejadian. Hal ini sangat penting diketahui oleh para relawan karena kita tidak dapat selalu mengandalkan layanan ambulan atau paramedis tiba di lokasi kejadian,” tegas Ardian dari Basarnas DIY.

Ardian menambahkan, tujuan pertolongan pertama adalah menyelamatkan korban, meringankan penderitaan korban, mencegah cedera menjadi lebih parah, mempertahankan daya tahan korban, serta mencarikan pertolongan yang lebih lanjut.

Di sela-sela kegiatan latsar Ketua TRC Gamping, H. Deny Hendrawan berharap dengan selesainya latsar ini bias menghasilkan relawan yang tangkas dan Tangguh dalam menghadapi bencana, serta dapat meningkatkan peran serta dan daya kerja relawan dalam penanggulangan bencana. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Public Hearing Kenalkan Lebih Jauh tentang RTH pada Masyarakat

Pada Jumat (24/7/2020) bertempat di Kecamatan Ngaglik telah
diselenggarakan Public Hearing tentang Raperda Ruang Terbuka Hijau oleh anggota
DPRD Sleman, Abdul Kadir, dengan mengundang dua narasumber yaitu Dwi Anta
Sudibya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman dan Aksan Susanto, Konsultan
Lingkungan.

Public Hearing diselenggarakan dengan tetap mengikuti protokol Covid-19 yaitu menyediakan cuci tangan, menggunakan masker, dan jaga jarak.

Dijelaskan Dwi Anta Sudibya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area yang memanjang berbentuk jalur dan atau area mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

“Dalam penataan ruang diatur bahwa 30% suatu wilayah/area
harus berupa RTH yang terdiri dari 20% publik dan 10% privat,” beber Dwi Anta.

Ditambahkannya, RTH publik adalah RTH yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota/kabupaten yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum, contohnya taman kota, hutan kota, sabuk hijau (green belt), RTH di sekitar sungai, pemakaman, dan rel kereta api. Sedangkan RTH Privat adalah RTH milik institusi tertentu atau orang perseorangan yang pemanfaatannya untuk kalangan terbatas, antara lain kebun atau halaman rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.

Dwi Anta kemudian menjelaskan manfaat RTH yakni untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, serta mencegah terhadap kerusakan lingkungan.

Selain itu dijelaskan pula empat fungsi RTH, yakni fungsi
ekologis, antara lain paru-paru kota, pengatur iklim mikro, sebagai peneduh,
produsen oksigen, penyerap air hujan, penyedia habitas satwa, penyerap polutan
dalam udara, air dan tanah, serta penahan angin. Fungsi sosial budaya adalah
untuk menggambarkan ekspresi budaya lokal, media komunikasi, dan tempat rekreasi
warga. Fungsi ekonomi adalah untuk sumber produk yang bisa dijual seperti
tanaman bunga, buah, daun, dan sayur mayur. Beberapa juga berfungsi sebagai
bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain. Sementara, fungsi
estetika antara lain untuk meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota
baik skala mikro (halaman rumah atau lingkungan pemukiman), maupun makro
(lansekap kota secara keseluruhan), menciptakan suasana serasi dan seimbang
antara area terbangun dan tidak terbangun.

Di sisi lain, Aksan Susanto, Konsultan Linkungan mengemukakan gagasan menarik dalam Public Hearing ini yaitu dibangunnya RTH sekaligus membangun jalur sepeda di sepadan sungai.

Track di sepadan sungai yang tertata dengan baik
akan memiliki manfaat ganda, pertama sebagai RTH jalur wisata sepeda dan kedua
mencegah orang buang sampah dan BAB di sungai sehingga kelestarian sungai tetap
terjaga,” usulnya. (KIM Moyudan/Harjito)




Reses di Gamping, Gus Hilmy Sampaikan Keberhasilan Jalin Kemitraan

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Hilmy Muhammad melakukan jaring aspirasi di 30 titik wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, reses kali ini memang berbeda dari sebelumnya yang hanya dilaksanakan pada 15 titik. Hal ini merupakan perwujudan dari janji politik untuk tidak melupakan masyarakat yang telah memilihnya pada pemilu 2019 lalu. Salah satu lokasi yang menjadi tujuan jaring aspirasi adalah Kecamatan Gamping melalui pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama di bilangan Ambarketawang.

Rombongan DPD RI ini disambut Rois Syuriah MWCNU Gamping, KH. Ahmad Mabarrun di kantor sekretariatnya didampingi Ketua Tanfidziyah, H. Saliman , dan Mustasyar, KH. Muhammad Nasrulloh beserta jajaran pengurus lainnya, Minggu (26/7/2020).

Dalam giat jaring aspirasi yang digelar di Masjid Nurul Huda tersebut, pria yang akrab disapa Gus Hilmy menyampaikan berbagai capaiannya dalam menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga dan kementerian sehingga dapat membantu distribusi program dan bantuan di antaranya program inkubasi bisnis telah mendapatkan 27 paket bantuan berupa peralatan dari Balai Latihan Kerja (BLK), bantuan pembangunan masjid dan mushala, bantuan renovasi untuk pondok pesantren, Madrasah Diniyah, dan Taman Pendidikan Alquran, serta bantuan untuk kelompok petani ikan.

“Bantuan tersebut telah didistribusikan tepat sasaran. Namun terdapat kendala di bawah, yaitu kelengkapan administrasi kelembagaan dan kesulitan penerima program dalam membuat proposal serta penyiapan syarat-syaratnya. Di sinilah pentingnya kelengkapan dokumen administrasi kelembagaan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, kita sudah siap. Urusan dengan negara memang harus tertib administrasi,” kata pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut.

Kendala tersebut diakui sendiri oleh peserta reses, seorang warga Kecamatan Gamping menyatakan bahwa pihaknya sulit untuk membuat proposal. Karena itu dirinya berharap agar selain mendistribusikan program, Tim Teknis Gus Hilmy diharapkan dapat memberikan pelatihan penyusunan proposalnya.

Reses tersebut dilakukan oleh Gus Hilmy untuk menjaring aspirasi masyarakat paling bawah, terutama terkait dengan pembangunan dan kemajuan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari berbagai sektor. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Jagabaya Demakidjo Gelar Workshop Penanganan Ular Tingkatkan Kapasitas Relawan

Jagabaya Kademangan Demakidjo menggandeng Yayasan Sioux Ular Indonesia yang bergerak di bidang edukasi, penelitian, sosial dan kemanusiaan, terutama dalam kaitan penanganan ular Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertajuk Snake Awareness Program bagi para relawan yang digelar di Pendopo Kekandhangan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Minggu (26/7/2020) pagi.

Giat yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas relawan ini dipandu oleh Josh Handani, dan dihadiri oleh Kepala Seksi Pelayanan Desa Banyuraden, Muhajir serta Direktur Badan Usaha Milik Desa Banyuraden sekaligus Pengelola Kekandhangan, Murdiyanto.

Workshop diikuti oleh perwakilan dari berbagai komunitas relawan antara lain Difabel Siaga Bencana (Difagana) Daerah Istimewa Yogyakarta, Rescue Banyuraden, Banser Persada Sleman, Sigap, Relawan Jagabaya, Tim Reaksi Cepat Gamping, BPBD Gunung Kidul, Pemadam Kebakaran Kulon Progo, termasuk Ketua KIM Pararta Guna Kecamatan Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua Jagabaya Kademangan Demakidjo, Yuniawan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia, Aji Rachmat Purwanto yang telah bersedia menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman berkaitan dengan mitigasi dalam menghadapi ular secara sukarela, seperti slogan yang dimiliki Jagabaya ‘Dari Desa Untuk Indonesia’.

Sebelum memaparkan materi inti tentang biologi ular, Penanganan gigitan ular, identifikasi ular, serta teknik menangani ular, Aji Rachmat memperkenalkan profil lembaga yang dipimpinnya. Ia menuturkan bahwa Yayasan Sioux Ular Indonesia adalah Lembaga nonpemerintah, swadaya, swadana, dan swakarsa yang lahir pada bulan November tahun 2003 silam.

“Adapun misi Yayasan Sioux adalah menjadi lembaga yang mapan dan mandiri di bidang studi ular untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ular dengan jalan merubah paradigma masyarakat tentang ular sehingga ular dapat terhindar dari ancaman kepunahan akibat ulah manusia,” tutur Aji Rachmat di hadapan peserta workshop.

Selanjutnya, Aji memberikan tips guna membedakan ular berbisa tinggi dan rendah. Menurutnya ular berbisa rendah memiliki ciri gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif, beraktivitas pada siang hari, membunuh mangsanya dengan membelit, bentuk kepalanya bulat telur atau oval, tidak memiliki taring bisa, gigitannya tidak mematikan, serta setelah menggigit biasanya langsung pergi.

Sedangkan ciri ular berbisa tinggi antara lain gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri, beraktivitas pada malam hari, membunuh mangsa dengan menyuntikkan bisa, bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna, memiliki taring bisa, racun mematikan, kanibal karena memakan ular lain, serta setelah menggigit masih tetap tinggal di tempat.

Setelah peserta menerima materi teori secara keseluruhan, workshop dilanjutkan dengan praktik penerapan teknik menangani ular dari jenis yang tidak berbisa hingga ular yang berbisa tinggi yaitu jenis kobra dan king kobra dengan arahan dan pengawasan dari relawan Shioux menggunakan pengait, kain sarung, dan sapu ijuk sehingga aman dari gigitan ular.

“Sebelum melakukan handling, saya sarankan untuk mempersiapkan diri dengan beberapa Alat Pelindung Diri (APD) seperti memakai pakaian yang nyaman dan bercelana panjang, bersepatu, serta menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari semburan ular kobra,” pesan Aji mengakhiri workshop. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)