Reses di Gamping, Gus Hilmy Sampaikan Keberhasilan Jalin Kemitraan

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Hilmy Muhammad melakukan jaring aspirasi di 30 titik wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, reses kali ini memang berbeda dari sebelumnya yang hanya dilaksanakan pada 15 titik. Hal ini merupakan perwujudan dari janji politik untuk tidak melupakan masyarakat yang telah memilihnya pada pemilu 2019 lalu. Salah satu lokasi yang menjadi tujuan jaring aspirasi adalah Kecamatan Gamping melalui pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama di bilangan Ambarketawang.

Rombongan DPD RI ini disambut Rois Syuriah MWCNU Gamping, KH. Ahmad Mabarrun di kantor sekretariatnya didampingi Ketua Tanfidziyah, H. Saliman , dan Mustasyar, KH. Muhammad Nasrulloh beserta jajaran pengurus lainnya, Minggu (26/7/2020).

Dalam giat jaring aspirasi yang digelar di Masjid Nurul Huda tersebut, pria yang akrab disapa Gus Hilmy menyampaikan berbagai capaiannya dalam menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga dan kementerian sehingga dapat membantu distribusi program dan bantuan di antaranya program inkubasi bisnis telah mendapatkan 27 paket bantuan berupa peralatan dari Balai Latihan Kerja (BLK), bantuan pembangunan masjid dan mushala, bantuan renovasi untuk pondok pesantren, Madrasah Diniyah, dan Taman Pendidikan Alquran, serta bantuan untuk kelompok petani ikan.

“Bantuan tersebut telah didistribusikan tepat sasaran. Namun terdapat kendala di bawah, yaitu kelengkapan administrasi kelembagaan dan kesulitan penerima program dalam membuat proposal serta penyiapan syarat-syaratnya. Di sinilah pentingnya kelengkapan dokumen administrasi kelembagaan, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, kita sudah siap. Urusan dengan negara memang harus tertib administrasi,” kata pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut.

Kendala tersebut diakui sendiri oleh peserta reses, seorang warga Kecamatan Gamping menyatakan bahwa pihaknya sulit untuk membuat proposal. Karena itu dirinya berharap agar selain mendistribusikan program, Tim Teknis Gus Hilmy diharapkan dapat memberikan pelatihan penyusunan proposalnya.

Reses tersebut dilakukan oleh Gus Hilmy untuk menjaring aspirasi masyarakat paling bawah, terutama terkait dengan pembangunan dan kemajuan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dari berbagai sektor. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Jagabaya Demakidjo Gelar Workshop Penanganan Ular Tingkatkan Kapasitas Relawan

Jagabaya Kademangan Demakidjo menggandeng Yayasan Sioux Ular Indonesia yang bergerak di bidang edukasi, penelitian, sosial dan kemanusiaan, terutama dalam kaitan penanganan ular Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertajuk Snake Awareness Program bagi para relawan yang digelar di Pendopo Kekandhangan, Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Minggu (26/7/2020) pagi.

Giat yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas relawan ini dipandu oleh Josh Handani, dan dihadiri oleh Kepala Seksi Pelayanan Desa Banyuraden, Muhajir serta Direktur Badan Usaha Milik Desa Banyuraden sekaligus Pengelola Kekandhangan, Murdiyanto.

Workshop diikuti oleh perwakilan dari berbagai komunitas relawan antara lain Difabel Siaga Bencana (Difagana) Daerah Istimewa Yogyakarta, Rescue Banyuraden, Banser Persada Sleman, Sigap, Relawan Jagabaya, Tim Reaksi Cepat Gamping, BPBD Gunung Kidul, Pemadam Kebakaran Kulon Progo, termasuk Ketua KIM Pararta Guna Kecamatan Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua Jagabaya Kademangan Demakidjo, Yuniawan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia, Aji Rachmat Purwanto yang telah bersedia menjadi narasumber untuk berbagi pengalaman berkaitan dengan mitigasi dalam menghadapi ular secara sukarela, seperti slogan yang dimiliki Jagabaya ‘Dari Desa Untuk Indonesia’.

Sebelum memaparkan materi inti tentang biologi ular, Penanganan gigitan ular, identifikasi ular, serta teknik menangani ular, Aji Rachmat memperkenalkan profil lembaga yang dipimpinnya. Ia menuturkan bahwa Yayasan Sioux Ular Indonesia adalah Lembaga nonpemerintah, swadaya, swadana, dan swakarsa yang lahir pada bulan November tahun 2003 silam.

“Adapun misi Yayasan Sioux adalah menjadi lembaga yang mapan dan mandiri di bidang studi ular untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ular dengan jalan merubah paradigma masyarakat tentang ular sehingga ular dapat terhindar dari ancaman kepunahan akibat ulah manusia,” tutur Aji Rachmat di hadapan peserta workshop.

Selanjutnya, Aji memberikan tips guna membedakan ular berbisa tinggi dan rendah. Menurutnya ular berbisa rendah memiliki ciri gerakannya cepat, takut pada musuh, agresif, beraktivitas pada siang hari, membunuh mangsanya dengan membelit, bentuk kepalanya bulat telur atau oval, tidak memiliki taring bisa, gigitannya tidak mematikan, serta setelah menggigit biasanya langsung pergi.

Sedangkan ciri ular berbisa tinggi antara lain gerakannya lambat, tenang, penuh percaya diri, beraktivitas pada malam hari, membunuh mangsa dengan menyuntikkan bisa, bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna, memiliki taring bisa, racun mematikan, kanibal karena memakan ular lain, serta setelah menggigit masih tetap tinggal di tempat.

Setelah peserta menerima materi teori secara keseluruhan, workshop dilanjutkan dengan praktik penerapan teknik menangani ular dari jenis yang tidak berbisa hingga ular yang berbisa tinggi yaitu jenis kobra dan king kobra dengan arahan dan pengawasan dari relawan Shioux menggunakan pengait, kain sarung, dan sapu ijuk sehingga aman dari gigitan ular.

“Sebelum melakukan handling, saya sarankan untuk mempersiapkan diri dengan beberapa Alat Pelindung Diri (APD) seperti memakai pakaian yang nyaman dan bercelana panjang, bersepatu, serta menggunakan kacamata untuk melindungi mata dari semburan ular kobra,” pesan Aji mengakhiri workshop. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Museum Gunungapi Merapi Siap Dibuka Awal Agustus

Bupati Sleman Sri Purnomo
meninjau simulasi kegiatan pariwisata Museum Gunungapi Merapi (MGM), Jumat (24/7/2020). Dirinya melihat bagaimana kelayakan MGM untuk mulai dibuka
kembali di era
Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Sri Purnomo mengumumkan MGM akan dibuka kembali
pada awal bulan Agustus.

MGM dikatakannya siap untuk dibuka dengan perubahan, yakni adanya kawasan wajib masker, tempat cuci tangan, hand sanitizer di pintu masuk, pengecekan suhu, penanda jaga, juga daftar hadir untuk mengantisipasi apabila terjadi sesuatu maka bisa ditelusuri siapa saja pengunjung museum hari itu. Bahkan, untuk wisatawan yang berasal dari luar daerah harus menunjukkan hasil rapid test kepada petugas.

“Akan dibuat simulasi video juga, bisa
diakses di akun Instagram Museum Gunung Merapi Sleman,” tandas Sri Purnomo.

Ditambahkan Sri Purnomo, pengunjung yang masuk akan dibatasi dengan setiap kloter 50 pengunjung. Pun, dibagi
lagi menjadi 2 kelompok yang berisi kurang lebih 8
pengunjung. Tiga edukator disiapkan untuk
memandu setiap
kelompoknya.

Sri Purnomo berharap, wisatawan bisa tenang ketika mengunjungi MGM mengingat selain sudah memenuhi protokol kesehatan, pembayaran sudah menggunakan e-payment dengan biaya masuk museum sebesar 5 ribu rupiah, petugas juga menggunakan perlengkapan seperti masker, face shield, maupun sarung tangan.

Terkait perbaikan dari sisi bangunan, Pemkab Sleman pun
telah menganggarkan dari dana keistimewaan. Renovasi akan difokuskan pada bangunan
yang keropos dan atap yang bocor untuk mengantisipasi adanya kecelakaan.

“Permohonan anggaran ini sudah disetujui dan akan dianggarkan dari dana keistimewaan untuk penyempurnaan gedung MGM tahun 2021 mendatang. Dokumen perencanaan sudah siap baik itu untuk renovasi juga untuk pengembangan lingkungannya,” imbuh HY Aji Wulantara, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. (Rep Tia)




Muspika Gamping Gelar Senam Bersama Jaga Kebugaran dan Produktivitas

Guna menjaga kebugaran dan produktivitas kerja di lingkungan kerjanya Pemerintah Kecamatan Gamping menggelar kegiatan senam aerobik di halaman Kantor setempat, Jumat (24/7/2020) pagi. Senam diikuti oleh Camat Gamping, Ikhsan Waluyo didampingi Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi, Komandan Koramil 17/GP, Mayor Jalu Susilarjo bersama Wadanramil 17/GP, Kapten Kusno, serta Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo bersama anggotanya.

Dalam kegiatan ini Pemerintah Kecamatan Gamping juga mengundang beberapa institusi yang ada di wilayahnya diantaranya Komando Rayon Militer 17/GP, Balai Penyuluh keluarga Berencana, Kantor Urusan agama, Unit Pengelola Kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan, Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan, serta PPK Gamping.

“Senam termasuk salah satu aktivitas olah raga yang bermanfaat untuk menjaga kebugaran tubuh kita, apalagi dalam masa pandemi wabah Covid-19 yang masih melanda di wilayah Kabupaten Sleman. Selanjutnya, untuk mencegah penularan virus Corona kita harus mengenakan masker dan rutin membersihkan tangan setelah melakukan aktivitas menggunakan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih tangan berbahan alkohol, serta selalu jaga jarak yang aman dengan orang yang batuk atau bersin dan mengikuti arahan otoritas kesehatan gugus tugas pencegahan wabah Covid-19,” tegas Ikhsan mengakhiri percakapannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Program Bunda Menyapa Ketua TP-PKK Sleman Sapa KWT Putri Mulia Bedog

Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Mulia Padukuhan Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping mendapat kunjungan lapangan dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman, Hj. Kustini didampingi Camat Gamping, Ikhsan Waluyo dan Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi dalam agenda Bunda Menyapa, Kamis (23/7/2020) pagi.

Maksud kedatangan Ketua TP-PKK Kabupaten Sleman ini untuk memotivasi anggota KWT Putri Mulia yang berjumlah 40 orang agar tetap menjaga semangat guna menghidupkan organisasi KWT yang telah berdiri sejak 15 Agustus 2016 lalu. Turut hadir dalam kunjungan ini, Ketua KWT Putri Mulia, Sumartini Bersama Kepala Padukuhan Bedog, Sumarso sekaligus Penasehat KWT Putri Mulia.

Dalam sambutannya, Ketua TP-PKK Kabupaten Sleman, Hj Kustini berpendapat bahwa saat ini program PKK sangat banyak dan bervariasi sehingga dapat mengembangkan keahlian atau keterampilan ibu-ibu kader PKK seperti program ketahanan pangan, kesehatan dengan pos pelayanan terpadunya, dan kegiatan lainnya semakin berkembang. Selain itu banyak diselenggarakannya perlombaan guna memacu kreativitas dan inovasi ibu-ibu PKK di padukuhan maupun desa.

“Organisasi PKK saat ini lebih demokratis, lebih maju, dan lebih transparan dibandingkan dengan PKK beberapa tahun yang lalu karena dalam menentukan sebuah keputusan para ibu diajak bermusyawarah untuk pengambilan sebuah keputusan,” tutur Hj. Kustini bersemangat.

Dihadapan para hadirin, Ketua KWT Putri Mulia, Sumartini sambil menunjukkan produk makanan hasil olah keterampilan KWT merasa bangga dan bersyukur lantaran dengan usianya yang baru menginjak empat tahun sudah menorehkan beberapa prestasi yang membanggakan yaitu meraih juara 2 Adhikarya Pangan Nusantara tahun 2019 dalam kategori pemanfaatan lahan pekarangan, serta memperoleh juara harapan 1 Lomba Taman Toga Naturindo Fresh seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2020.

Kesempatan ini juga dimanfaatkan Hj. Kustini untuk menginformasikan peran PKK di saat pandemi dan pasca pandemi wabah Covid-19 yang melanda dunia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)