Relawan AmbulansMU Bergerak Bantu yang Membutuhkan

Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah merupakan
unsur pembantu pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah yang diberi mandat untuk
mengelola program kesejahteraan sosial.

Menurut Ridwan Furqoni, Ketua MPS PWM (Majelis Pelayanan Sosial Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah), salah satu program kesejahteraan sosial adalah
AmbulansMU. Program Ambulans Muhammadiyah DIY ini tersebar di 46 titik se-DIY
dengan 50 pengemudi utama yang senantiasa siaga. 

“AmbulansMU adalah gerakan layanan sosial Muhammadiyah dengan mobil ambulans. MPS PWM DIY sebagai majelis yang diberi tanggung jawab untuk mengelola dakwah layanan sosial ini berupaya meningkatkan kualitas layanan sosial melalui mobil ambulans khususnya layanan transportasi orang sakit,” ujar Ridwan.

Salah satu kiprah tim AmbulanMu terlihat pada Rabu (22/7/2020)
pukul dini hari. Tim mendapat mengantar salah satu pasien bernama Arif
yang semalaman sudah berjuang di ICU RSUP Dr Sardjito dan sekitar pukul dini
hari dinyatakan meninggal dunia.

Tanpa pikir panjang tim AmbulansMU bersiap untuk keperluan perjalanan yang diawaki Juang Mahron dan Ahma Ddjamil menuju Ruang Forensik RSUP Dr Sardjito dan langsung berangkat ke rumah duka di Banjarnegara barat.  (Arief Hartanto)




Perindag Sleman Gelar Sayembara Desain Pasar Godean

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan gelar sayembara desain Pasar Godean. Kepala Disperindag Kabupaten Sleman, Raden Rara Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan bahwa sayembara desain ini merupakan upaya untuk merevitalisasi Pasar Godean menjadi satu ikon agar menjadi percontohan yang berbeda dengan pasar-pasar yang selama ini telah direvitalisasi.

“Sampai saat ini sudah ada 91 peserta yang mendaftar baik kelompok maupun perorangan. Peserta tidak hanya dalam negeri tapi juga dari luar negeri seperti Eropa, Malaysia dan Singapura,”ujarnya selepas melakukan penjelasan sayembara arsitektur Pasar Induk Godean di Ruang Sembada Kantor Setda Sleman, Kamis (23/7/2020).

Mae menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan sayembara ini pihaknya bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY. Adapun total hadiah yang diperebutkan sebesar Rp ,- dengan rincian juara I Rp ,-, juara II Rp ,-, juara III Rp ,- , harapan I Rp ,- dan harapan II Rp ,-.

“Pemenang akan ditentukan pada bulan September 2020 nanti dengan juri kehormatan Bapak Bupati Sleman,” kata Mae.

Mae berharap melalui sayembara ini dapat menghasilkan sebuah pasar tradisional yang tidak hanya baik secara fisik namun juga memenuhi berbagai aspek. Aspek tersebut diantaranya ekonomi, kebersihan, keamanan, artistik serta berstandar nasional Indonesia.

“Jadi bukan bangunan fisik saja namun harapannya desain yang dihasilkan dapat menyajikan ruang perdagangan dimana ada interaksi yang hangat antara penjual dan pembeli serta mempertahankan ruh ketradisionalan sebuah pasar. Ruh ketradisionalan yang dimaksud yaitu guyub, urup, penuk, prasojo, unik, ndalan dan kalangan,” jelas Mae.

Mae menambahkan bahwa Pasar Godean berdiri di atas lahan seluas meter persegi dengan pedagang dengan berbagai komoditas dagangan. Pasar Godean juga memiliki kekhas-an tersendiri sebagai pasar belut dan sepeda.

“Sebelum sayembara, kami juga melakukan kesepakatan bersama dengan pedagang Pasar Godean terkait jumlah pedagang, nama pedagang, komoditas disepakati agar nanti pada proses relokasi dan penempatan kembali tidak ada masalah,” pungkasnya. (Humas Sleman)




Evaluasi Dorong Kembali Kegiatan KWT di Seyegan

Nandur opo
sing dipangan, mangan opo sing ditandur, turah didol.
Slogan Kelompok Wanita Tani (KWT)
Kabupaten Sleman demikian terkenal di masa pandemi. Slogan itu juga digaungkan
oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman saat mengadakan evaluasi KWT di wilayah
Kecamatan Seyegan, Rabu (22/7/2020).

Sebanyak 4 KWT
di 4 desa dikunjungi Tim Penggerak PKK yang dipimpin oleh Kustini Sri Purnomo.
Keempat KWT tersebut adalah KWT Mekar, Dusun Jamblangan, Desa Margomulyo, KWT
Makmur Lestari, Dusun Somorai, Desa Margoagung, KWT Ngudi Rahayu, Dusun Ngaran,
Desa Margokaton, dan KWT Karya Manunggal, Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih.

Dalam program Ibu
Menyapa kali ini, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman menekankan peran KWT
di masa pandemi Covid-19 maupun secara umum menempatkan KWT sebagai bagian dari
upaya Kabupaten Sleman dalam mempertahankan status lumbung padi DIY.

“Tanah
pertanian yang subur, sumber mata air yang bersih merupakan aset yang harus
dilestarikan,” tandas Kustini.

Kustini pun mengajak
seluruh anggota memanfaatkan lahan ataupun perkarangan rumah untuk budi daya sayuran,
buah, tanaman hias dan obat, sekaligus pemenuhan protein keluarga dengan budi
daya ikan.

Sebagai bentuk
apresiasi kepada KWT, Pemerintah Kabupaten Sleman dalam hal ini Dinas
Pertanian, Perikanan dan Peternakan telah memfasilitasi sarana yang dibutuhkan
KWT seperti pemberian pupuk, bibit, dan media tanam.

Pun untuk penyemangat
KWT yang kegiatannya mengalami pasang surut tersebut, Tim Penggerak PKK
Kabupaten Sleman mengadakan evaluasi kepada KWT yang ada di seluruh wilayah
kabupaten.

“Harapannya
dengan adanya reward kepada KWT, dapat memacu kembali kegiatan Kelompok
Wanita Tani ini di tingkat dusun,” ujar Kustini.

Dalam kegiatan
evaluasi tersebut, Tim Penggerak PKK didampingi tim juri yang terdiri dari perangkat
daerah terkait, praktisi, dan pemerhati masalah pertanian. Banyak yang didapat
dalam kegiatan ini, tim dapat melihat inovasi yang ditampilkan oleh KWT, dari hasil
pemanfaatan lahan sendiri, pembuatan makanan olahan sampai memadukan
pemanfaatan lahan dengan ekowisata seperti mina kalen (sungai-red)
yang dikelola oleh KWT Karya Manunggal, Cibuk Kudul, Desa Margoluwih.

Di akhir
kunjungan di masing masing KWT, Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman memberikan
bantuan berupa budik damber (budidaya ikan dalam ember) atau mina sayur,
polyback, pupuk, dan bibit tanaman sayuran. (Sutarto Agus/KIM Kec. Seyegan)




Rayakan Hari Anak di Tengah Pandemi, Anak Indonesia Gembira di Rumah

Jakarta – Sejak pandemi
Covid-19 melanda, hampir semua masyarakat merasakan dampaknya,
tidak terkecuali anak-anak. Mereka dihadapkan pada perubahan pola hidup, namun tetap
harus diupayakan terpenuhi hak-haknya, bergembira, sehat, kuat, penuh
kreativitas, tetap ceria, dan semangat menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh
(PJJ) dalam naungan perlindungan keluarga.

Mengusung
tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”
dan tagline “Anak Indonesia Gembira di Rumah”, Kementerian Pemberdayaan
Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Kantor Staf Presiden (KSP)
dan Organisasi Aksi Solidaritas Kabinet Kerja (OASE Kabinet Kerja)
menyelenggarakan puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2020 pada 23 Juli
2020 secara virtual dengan melibatkan seluruh anak Indonesia, termasuk Anak
yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK).  

“Anak-anak Indonesia yang ibu kasihi,
meski kita tengah berada dalam masa pandemi Covid-19, kalian harus tetap
semangat meraih cita-cita.  Ibu ingin mengajak kalian
agar memanfaatkan waktu untuk mengembangkan diri secara kreatif dengan hati
yang gembira. Selamat
Hari Anak Nasional 2020. Tetap gembira di rumah, ya,” tutur Menteri PPPA,
Bintang Puspayoga di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Menteri Bintang mengatakan perubahan yang
terjadi sejak pandemi Covid-19 melanda negeri kita membuat tahun ini bukanlah
tahun yang mudah untuk anak-anak, khususnya dalam menjalankan proses belajar.
Mereka tidak bisa pergi ke sekolah, bertemu teman-teman, guru, dan tidak bisa
bermain di luar rumah karena harus berjarak sementara waktu. Ia berpesan agar
anak-anak Indonesia tetap semangat beradaptasi dengan kebiasaan baru, terutama
dalam hal menerapkan protokol kesehatan.

Peringatan HAN dilakukan sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus bangsa. Di masa pandemi Covid-19 ini, peringatan HAN merupakan momentum untuk meningkatkan kepedulian semua pilar bangsa Indonesia, baik orangtua, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media massa, dan pemerintah terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak.

Melalui kepedulian dalam menghormati, menghargai, dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, serta memastikan segala hal yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan 79,55 juta anak Indonesia secara optimal (Profil Anak Indonesia 2019). Oleh karena itu, seluruh kegiatan dalam rangkaian dan acara puncak HAN 2020 ditujukan untuk mewujudkan anak Indonesia gembira di rumah selama pandemi Covid-19.

“Jadikan Peringatan HAN sebagai momentum membangun kekuatan untuk mewujudkan pemenuhan hak anak dan memberikan perlindungan bagi mereka. Stop kekerasan, perlakuan buruk, perundungan, dan eksploitasi pada anak. Semua anak adalah anak kita, melindungi mereka merupakan tanggung jawab kita bersama. Mari kita bangun semangat bersama, kita bersatu untuk melalui pandemi ini. Semuanya kita lakukan demi terwujudnya anak terlindungi, Indonesia maju,” tegas Menteri Bintang. (Humas KemenPPPA) 




Sukses Selenggarakan Perlindungan Anak, Sleman Raih Anugerah KPAI 2020

Anak adalah makhluk yang harus
dididik, mereka bisa memahami berbagai hal dari diajari dan mengikuti contoh. Orang tua sebagai yang
paling dekat dengan anak harus mengasuh, merawat dan mengawasi anak agar
anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu beradaptasi, unggul dan memiliki arah
untuk membangun bangsa. Demikian disampaikan Muhajir Effendy, Menteri Koordinator
Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia
dalam acara anugerah KPAI 2020, Rabu (22/7/2020).

“Untuk membangun bangsa maka
kita harus menanamkan nilai kebangsaan dan rasa nasionalisme sejak dini,” ujar Muhajir melalui konferensi
video.

Dikatakan Muhajir, KPAI
melihat bagaimana komitmen
Sleman dalam hal tersebut sehingga Sleman berhak mendapatkan apresiasi dalam kategori Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota yang memiliki komitmen terhadap perlindungan anak dan pelaporan
berbasis SIMEP (Sistem Monitoring dan Evaluasi Perlindungan Anak). Kabupaten Sleman menjadi salah satu dari 3 kabupaten yang
meneriman penghargaan ini.

Sementara itu, Mafilindati
Nuraini, Kepala Dinas P3AP2KB yang ditemui di Sleman Smartroom Dinas Kominfo Sleman membeberkan
hal yang mendasari KPAI memberikan
anugerah tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Sleman karena di Kabupaten
Sleman ini sudah terbentuk lembaga Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).

Unit
ini menurutnya
terbentuk sudah lebih lama daripada kabupaten/kota yang lain, yakni  sejak tahun 2015 dan sudah
menyesuaikan dengan nomor faktur yang diatur dari Kementerian PPPA.

Selain UPTD di Kabupaten Sleman, disampaikan Linda juga
sudah terdapat pengelolaan terhadap anak yang berhadapan hukum dengan dibangun
tim atau Forum Komunikasi Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) terpadu.

“Sudah ada MOU antara bupati dengan aparat-aparat hukum sehingga dalam
mendampingi anak yang memiliki konflik hukum selalu mengedepankan perlindungan
anak,” ungkap Linda.

Linda
menambahkan, jumlah kekerasan terhadap anak di masa pandemi di Kabupaten Sleman
bulan Juni ada 53
kasus dengan berbagai sebab. Kasus kekerasan terhadap orang dewasa ada 117.

“Dilihat
dari data tahun lalu jumlah ini terhitung rendah. Pencapaian ini berkat komitmen
Pemerintah Kabupaten Sleman dalam penyelenggaraan perlindungan anak dan
melaporkan capaian berbasis Sistem Informasi Monitoring Evaluasi Dan Pelaporan (SIMEP),” tambah Linda.  (Rep Tia)