Kalurahan Donoharjo Terima Kunjungan dari Kemenko Kemaritiman

Rabu (28/10/2020) dilaksanakan kunjungan dari Kemenko Kemaritiman dan Investasi di wilayah Kalurahan Donoharjo untuk melihat adanya kemungkinan kerjasama dengan instansi terkait maupun instansi lainnya dalam rangka mengembangkan kegiatan G2RT (Global Gotong Royong Tetrapreneur) di wilayah Donoharjo.

Diawali kunjungan dan diskusi di Pendopo Serbaguna Embung Jetis Suruh, dilanjutkan peninjauan ke lokasi pembuatan manisan dan abon pepaya, usaha kerajinan bambu dan usaha budidaya, pembibitan ikan serta pembuatan pelet ikan Budi Fish Farm.

Dalam sambutannya, Setyo dari Biro Bina Pemberdayaan Setda DIY menyampaikan harapannya agar usaha di Donoharjo ke depan semakin baik, taraf hidup masyarakat juga semakin membaik dari waktu ke waktu.

Sementara itu Million dari Kemenko Kemaritiman dan Investasi, sebagai Kepala Bidang Tata Kelola Perencanaan dan Informasi menyampaikan bahwa Kemenko Kemaritiman dan Investasi melakukan kunjungan langsung kepada masyarakat pelaku usaha untuk melihat kemungkinan kerjasama yang bisa dilakukan bersama kemenkomrves, baik dalam hal fasilitas, pembiayaan, perizinan seperti PIRT, sertifikat halal, dan sebagainya.

“Kita akan melihat potensi apa saja yang ada di masyarakat yang bisa dikembangkan. Berusaha melihat usaha usaha yang sudah bergerak di masyarakat. Karena itu kami membutuhkan profil yang jelas, konsep yang besar, yang dapat memberdayakan banyak kelompok dan masyarakat, meminimalkan atau bahkan mengolah limbah menjadi hal yang bermanfaat,” jelas Million lagi.

Budi, pemilik usaha pembibitan, budidaya, pembuatan pelet ikan Budi fish farm berharap Donoharjo bisa membuat desain yang besar, yang bisa memadukan potensi Embung dan Budi Fish Farm agar Kemenko Kemaritiman bisa mendorong realisasinya dan bisa memberikan kemanfaatan bagi sebanyak mungkin masyarakat.

Adapun Carik Donoharjo, Anang Patri Widyantoro berharap ada perhatian langsung dari Pemerintah Pusat untuk membantu pemberdayaan masyarakat Kalurahan Donoharjo terutama di Bidang Pertanian dan Perikanan. (Endarwati, KIM Donoharjo)




Tapak Suci Kapanewon Turi Dikukuhkan

Pelantikan Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Kapanewon Turi Periode 2020 – 2024 kian menambah catatan penting langkah dakwah karena di Muhammadiyah tapak suci bukan sekadar olahraga dan bela diri tapi bagian dari dakwah bilhal.

Kepengurusan dilantik pada Rabu (28/10/2020) di Gedung Olah Raga Kelurahan Donokerto Turi Sleman. Acara ini berlangsung dengan semarak dihadiri oleh jajaran Pimpinan Daerah 03 Tapak Suci Kabupaten Sleman dan tokoh legendaris Tapak Suci yaitu Pendekar Besar Bazar Marzuki, Tripika (Panewu, Polsek, Koramil), Lurah se-Kapanewon Turi, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Adapun susunan kepengurusan adalah Ketua Drs Sukiman, Sekretaris Azis Yon Haryono, Bendahara Supriyanto Arfan Fahrudin dan jajaran pengurus lain dengan bidang kepelatihan oleh romdon.

Menurut Azis selaku Sekretaris terlantik, inisiatif untuk membangkitkan lagi perguruan yang menjadi salah satu organisasi otonom di Muhamadiyah ini diawali dengan rapat kecil yang diikuti para tokoh Tapak Suci di era 80an dan generasi muda Muhammadiyah Turi yang ingin melihat kejayaan masa lalu terulang lagi.

“Dari rangkaian pertemuan ini melahirkan kesepakatan untuk segera dibentuknya formatur pembentukan perguruan tapak suci cabang Turi,” tambah Azis.

Peserta pelatihan yang diagendakan secara rutin di GOR Donokerto ini berjumlah sekitar 45 siswa dengan berbagai usia dari remaja hingga dewasa. (Arief Hartanto)




Tanamkan Generasi Muda Peduli Lingkungan

Sebagai tonggak sejarah yang mempersatukan beragam suku bangsa di Indonesia kala itu, maka momentum Sumpah Pemuda menjadi sangat penting untuk terus dimaknai dan dihidupkan. Begitu juga dalam merawat dan menjaga lingkungan. Semua warga lintas generasi dan lintas teritori harus bersatu, berkomitmen bergerak dalam pelestarikan alam.

Berlatar hal tersebut, para pegiat sungai yang tergabung dalam Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) bersama Karang Taruna “Parikesit” Kalurahan Wedomartani, Pramuka Saka Kalpataru Sleman, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman dan warga sekitar bantaran sungai menggelar Upacara Bendara Peringatan Sumpah Pemuda ke-92 di Jembatan Dam Sungai Kuning, Sempu, Wedomartani, Ngemplak Sleman, Rabu (28/10/2020) pagi.

Upacara bendera yang berlangsung kidmat dipimpin langsung Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya. Sudibya menyampaikan pentingnya generasi muda untuk kian peduli kelestarian lingkungan khususnya sungai.

“Sungai-sungai kita ini kian tercemar. Bukan hanya disebabkan perilaku warga yang membuang sampah ke sungai tapi juga aturan yang mengizinkan sejumlah usaha membuang limbahnya ke sungai,” terang dia.

Sudibya menambahkan, perlunya keterlibatan masyarakat dalam ikut menjaga lingkungan. “Jika melihat ada industri atau unit usaha yang membuang limbah atau sampahnya ke sungai, segera lapor kami,” tandasnya.

Menurutnya, sejumlah titik sungai yang masih bersih, seperti di Dam Kali Kuning Sempu ini, perlu dijaga. Air yang jernih menjadikan ikan-ikan sungai hidup bebas tanpa terganggu limbah dan sampah.

“Momentum Sumpah Pemuda memberi pengingat pada kita semua, khususnya generasi muda, generasi milenial ini bersatu merawat dan melindungi sungai dari beragam polutan pengganggu,” kata dia.

Setelah upacara dilanjutkan bersih Sungai Kuning, Sempu sepanjang 800 meter dan penebaran sekitar 200 bibit ikan wader dan melem, yang merupakan ikan asli sungai. Sebagai bentuk apresiasi dilakukan potong tumpeng oleh Kepala DLH Sleman yang diserahkan kepada perwakilan pemuda karang taruna setempat.

Dalam acara sarasehan yang juga dihelat di pinggir sungai dan beralas rerumputan khas pinggir sungai, Ivan salah satu pegiat Sungai Adem, Girikerto, Turi, mengatakan, acara bincang lingkungan ini bagus apalagi digelar di pinggir sungai. “Tempat seperti ini membuat kita kian akrab dan cinta dengan lingkungan, kita jadi ingin terus lihat sungai yang bersih,” ujarnya.

Restu Wahyuni dari Karang Taruna “Parikesit”, berkeinginan menjadikan bantaran sungai yang masih asri ini sebagai “kampung karang taruna”. Hal ini berguna untuk kegiatan anak-anak muda dalam melestarikan alam.

Hadir pula dalam bincang-bincang pinggir sungai Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Krido Suprayitno. Pihaknya sangat mendukung gerakan pelestarian sungai yang dimotori anak muda generasi milenial ini.

“Kami senang dengan keterlibatan generasi milenial dalam pelestarian lingkungan. Kami akan dukung pemanfaatan lahan kas desa yang dikelola karang taruna setempat,” tegas dia.

Hal senada disampaikan pengelola Wisata Ledok Blotan, Abdullah Lubis. Pihaknya terus mengelola lingkungan pinggir di daerahnya. “Ternyata wisata pinggir sungai peminatnya banyak. Jika bisa dikelola warga khususnya anak-anak muda setempat, tentu lebih pas. Jadi tidak perlu bingung cari kerjaan ke luar kota,” ungkapnya.

Sarasehan dan bincang-bincang sungai yang dikemas santai dengan formasi duduk di alam bebas, menjadikan sejumlah persoalan lingkungan mampu terungkap lugas. Sesekali ada canda, tawa juga ajakan yang menuntut konsistensi. Demikianlah merawat dan melindungi sungai, butuh generasi yang peduli guna menjaga agar lingkungan lestari. (KIM Ngemplak/Bibit Babe)




Nomenklatur Baru Semangat Baru Tingkatkan Kinerja Pamong Kalurahan

Ngaglik – Berdasarkan Undang-undang No. 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Lurah Donoharjo Hadi Rintoko melantik dan mengambil sumpah janji 22 pamong Kalurahan Donoharjo di Balai Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Selasa (27/10/2020).

Pengambilan sumpah dan pelantikan ini merupakan penyesuaian terhadap nomenklatur atau penamaan baru dari jabatan yang selama ini telah diemban, disesuaikan dengan penyebutan pada Undang-undang Keistimewaan DIY.

Penamaan baru di lingkungan pamong Kalurahan Donoharjo yang dilantik dan diambil sumpah janjinya tersebut adalah carik (sebelumnya disebut sekretaris desa) dijabat oleh Anang Patri Widyantoro, Kepala Urusan Tata Laksana (jabatan lama Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum) Pandoyo, Kepala Urusan Danarta (jabatan lama Kepala Urusan Keuangan) Sugandono, Kepala Urusan Pangripta ( jabatan lama Kepala Urusan Perencanaan) Sefita Ayu Permata Sari, jagabaya (jabatan lama Kepala Seksi Pemerintahan) R. Fendi Aji Putra, Ulu-ulu (jabatan lama Kepala Seksi Kesejahteraan) Seto Aji Kusumantoro, Kamituwo (jabatan lama Kepala Seksi Pelayanan) Dani Presetyo. Untuk jabatan Dukuh tidak ada perubahan nama.

Dalam sambutannya, Panewu Ngaglik Subagyo mengatakan bahwa berdasarkan Undang-undang No. 13 tahun 2012 kewenangan DIY sebagai daerah otonom mencakup kewenangan untuk mengatur tata laksana pengisian jabatan, kedudukan, tugas dan wewenang gubernur dan wakil gubernur, kelembagaan pemerintah daerah DIY, kebudayaan, pertanahan dan tata ruang, yang kesemuanya didasarkan pada nilai nilai kearifan lokal dan keberpihakan kepada rakyat.

“Pada hari ini kita telah melaksanakan amanat Undang-undang tersebut dengan menata kembali kelembagaan yang disesuaikan dengan keistimewaan itu sendiri. Penyebutan jabatan baru tersebut sebenarnya tidak asing di telinga kita karena pada zaman dahulu pun penyebutan itu pun telah ada dan kini dihadirkan kembali agar tetap istimewa dan tidak sama dengan daerah lain,” ungkap Panewu Ngaglik ini.

Subagyo berharap dengan tata kerja baru tersebut juga akan membawa semangat baru sebagai pamong praja dalam mengemban tugas untuk melindungi, memberikan pelayanan dan pembinaan kepada masyarakat, serta bersungguh sungguh dalam melaksanakan program dari Kapanewon, Kabupaten, Provinsi maupun dari pusat.

Bersamaan dengan perubahan nomenklatur desa menjadi kalurahan, sebagai pemangku Keistimewaan, kalurahan dapat menggunakan dana keistimewaan agar bisa dinikmati oleh masyarakat khususnya di bidang kebudayaan. “Kebudayaan tidak hanya menyangkut kesenian tetapi hal-hal yang menyangkut masalah cipta, rasa, karsa, dan kearifan lokal untuk terus dikembangkan,” kata Subagyo. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Pamong Praja Harus Siap Mengayomi Masyarakat

Bertempat di Gedung Pertemuan Kalurahan Margoluwih, Selasa (27/10/2020) dilaksanakan pengambilan sumpah/janji dan pelantikan pamong kalurahan. Acara yang digelar pukul tersebut dihadiri oleh Panewu Seyegan dan jajarannya.

Dengan dasar Surat Keputusan Pejabat Lurah No. 67/Kep. Lurah/ 2020 tentang Perubahan nomenklatur/Penyebutan jabatan Pamong Kalurahan, Ageng Wijaya selaku Pejabat Lurah Margoluwih berkenan untuk mengambil sumpah dan melantik 21 pamong Kalurahan Margoluwih.

Setelah diawali dengan pembacaan surat keputusan pejabat lurah dilanjutkan dengan pengambilan sumpah jabatan dan penandatanganan Berita Acara Pengambilan Sumpah Jabatan. Secara simbolis pengambilan sumpah jabatan ini diwakilkan kepada Carik Kalurahan Margoluwih dan diakhiri dengan penyerahan Surat Keputusan Lurah.

Dalam sambutannya, Panewu Seyegan, R. Budi Pramono memberi pengarahan sehubungan dengan perubahan nomenklatur jabatan pamong kalurahan. Hal ini sebagai bagian dari spesifikasi daerah termasuk DI Yogyakarta.

“Nomeklatur baru ini merupakan bagian dari pemangku keistimewaan dari banyak aspek yaitu aspek kelembagaan, aspek perrtanahan, aspek tata ruang dan aspek kebudayaan,” tandas Budi.

Lebih jauh, Budi juga berpesan, sebagai pamong praja untuk menempatkan diri sebagai pelayan kepada masyarakat. Pelayan ini dapat meliputi pelayanan administrasi maupun pemberdayaan masyarakat.

“Tuntutan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat ini. Dapat secara vertikal maupun horisontal. Secara vertikal merupakan pelayanan kepada instansi berjenjang di atasnya dan secara horisontal, pelayanan sesama instansi yang setingkat,” lanjutnya.

Selebihnya, Budi juga berpesan untuk berfilosofi seperti Semar, yang bisa ngemong (mengayomi-red) sesama.

“Pamong jangan diartikan seperti zaman feodal. Artinya pamong pada jaman dulu diartikan sebagai pangreh projo yang artinya penguasa,” katanya.

Dengan adanya perubahan paradigma baru ini diharapkan Budi fungsi pamong sebagai pelayan masyarakat lebih dikedepankan sehingga fungsi pelayanan lebih bisa dirasakan oleh masyarakat. (Sutarto Agus/ KIM Seyegan)