Susur Sungai, Wahana Keakraban dan Latihan Destana Donoharjo

Mampu dan mau menjadi kekuatan kemanusiaan tanpa pamrih dalam perjuangan kemanusiaannya, yang kehadirannya menjadi penyejuk bagi siapa saja adalah sebuah harapan besar dari Lurah Donoharjo, Hadi Rintoko terhadap keberadaan Destana Donoharjo. Hal tersebut disampaikannya usai dilaksanakan kegiatan susur sungai bersama Destana Donoharjo, Minggu (25/10/20).

Agus Hardiyo Pancoro, Ketua Destana Donoharjo dalam pesannya sebelum berangkat menyampaikan agar para peserta tetap menjaga kedisiplinan, kekompakan, serta kerja sama.

“Nikmatilah perjalanan sehingga selain terhibur juga tidak terasa berat. Tapi tetap harus yakin akan mampu. Karena tanpa keyakinan maka sulit bagi kita untuk menyelesaikan rute yang sudah dipersiapkan. Sebagai relawan, kita sendiri harus sehat dan kuat, dan kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan latihan fisik dalam menghadapi pandemi Covid-19. Jadi semuanya harus yakin bisa menyelesaikan rute, dan tetap semangat,” seru Agus kepada 55 peserta yang terdiri dari Destana, Perangkat Desa, PPS, serta Relawan Donoharjo dan Rajawali.

Peserta berangkat dari halaman Kantor Desa Donoharjo menuju Pos I Gondang Cangkringan kemudian memulai susur sungai menuju Pos II di Plunyon, dilanjutkan jalan bersama naik ke Pos III di Petilasan Mbah Maridjan Kinahrejo.

Totok, salah satu peserta menyampaikan kesannya dan harapannya.

“Luar biasa untuk saling menjaga kekompakan di antara anggota relawan, semoga Kota Jogja tetap aman dari banjir lahar dingin atau bencana alam lainya,” ujarnya.

Untuk menghadapi itu, dikatakan Totok Tim Relawan Donoharjo selalu siap mengantisipasi keadaan alam.

“Kita sebagai relawan menolak punah. Dalam arti kita sebagai relawan harus siap siaga di depan meminimalisir korban bencana. Kita juga wajib ‘Memayu Hayuning Bawana‘ yaitu turut serta menjaga kelestarian/keseimbangan alam semesta,” jelasnya lagi.

Sementara itu peserta lainnya, Susy Kristianingsih, Ketua PPS Donoharjo menyampaikan bahwa susur sungai adalah kegiatan yang melelahkan namun sangat menyenangkan sebab menambah wawasan juga pengalaman tentang kegiatan di alam terbuka. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Internet Gratis Tingkatkan Peluang Usaha Warga

Pemkab Sleman meresmikan program internet gratis bagi warga di Balai Pertemuan RW 33 Perum Sleman Permai II, Sanggrahan, Tlogoadi, Mlati, Sleman pada Senin (26/10/2020). Peresmian tersebut dihadiri oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo, Kepala Diskominfo Sleman, Eka Suryo Prihantoro, dan Anggota Komisi X DPR RI, Esti Wijaya.

Menurut Sri Purnomo, ketika pandemi Covid-19 internet menjadi kebutuhan yang penting. Dikatakannya, selain kegiatan belajar dari rumah, kegiatan ekonomi juga bergantung pada internet.

“Harapan dari program internet gratis ini turut mencerdaskan anak-anak bangsa, selain itu usaha UMKM dapat meningkatkan penjualannya melalui sistem online,” tutur Sri Purnomo.

Internet gratis yang terpasang ini dapat terkoneksi lebih dari 40 device maka dari itu fasilitas ini dapat dimanfaatkan oleh warga semaksimal mungkin.

“Program internet gratis ini nantinya akan diperluas di tiap-tiap dusun, namun penggunaan internet gratis tetap perlu dibimbing oleh orang-tuanya” tambahnya.

Joko Susiono, Ketua RW 33 Sanggrahan menambahkan bahwa status warga RW 33, 80% adakah pekerja informal, 10% adalah Aparatur Sipil Negara dan terakhir 10% pensiunan. Oleh karena itu, ketersediaan internet ini menurutnya dapat membantu warga yang berprofesi sebagai pekerja informal, salah satunya petani anggur Ukraina.

“Warga RW 33 sangat membutuhkan peningkatan pendapatan pada usaha-usaha konvensional salah satunya penjualan bibit anggur Ukraina dengan menggunakan sistem penjualan online,” ujarnya.

Hal ini pun didukung oleh Bupati Sleman yang bersedia membantu menyediakan lahan kosong untuk ditanami bersama-sama dengan menggunakan sistem bagi untung. (Rep Izzat, Foto Gassing)




Hobi Ternak Ikan yang Jadi Profesi

Ngaglik – Berkunjung ke UPR (Usaha Pembenihan Rakyat) Budi Fish Farm, mata kita dimanjakan dengan indahnya puluhan kolam yang tertata rapi, bersih, air melimpah dengan  ikan warna warni ,  mulai ikan bibit/benih berbagai ukuran,  ikan konsumsi sampai indukan. Suara gemericik air yang berasal dari pancuran  dan umbul buatan yang sejatinya berfungsi menambah oksigen di dalam air kolam itu menambah suasana tenang dan damai. Siapa sangka usaha perikanan air tawar dengan omset ratusan juta per bulan itu berawal dari hobi semata.

“Sebagaimana anak kecil yang hidup di pedesaan dengan sumberdaya alam berupa air yang melimpah, kami sangat menyukai kolam dan ikan,” kata Albertus Budi Setiawan mengawali kisahnya saat ditemui di rumah sekaligus usaha pembibitan ikannnya di Padukuhan Donolayan, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (26/10/2020).

“Sampai remaja dan dewasa pun tetap pelihara ikan meskipun itu hanya sebatas untuk bersenang senang saja,” lanjutnya.

Hingga pada tahun 2008 Budi Setiawan yang saat itu bekerja di sebuah hotel ternama di Yogyakarta memberanikan diri menjadikan kesenangan budidaya ikan air tawar sebagai pekerjaan sambilan untuk menambah penghasilannya.

“Sampai pada tahun 2010, saat erupsi gunung Merapi berdampak sangat serius pada pariwisata di Yogyakarta, hotel menjadi sepi sampai berbulan-bulan, dan saya memilih untuk resign dari hotel tersebut dan serius menekuni budidaya ikan air tawar yang semula hanya lele dan gurame saja,” imbuhnya.

Budi meyakini usahanya sangat prospektif ketika ia meminjahkan (pengembangbiakan) lele dan gurame yang semula ingin dibesarkan untuk ikan konsumsi, malah laku keras dan kewalahan menerima pesanan benih ikan.

“Pesanan benih ikan bukan sebatas lele dan gurame saja tetapi patin, nila, ikan hias seperti koi, komet dan ikan terapi. Pesanan yang semula lokal Jogja dan sekitarnya, dengan promosi melalui internet kini Budi Fish Farm telah mengirim benih ikan ke seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Karena pesanan dalam jumlah besar membuatnya kewalahan, Budi pun kemudian merangkul petani ikan di wilayah Jogja dan sekitarnya sebagai mitra kerja.

“Ada tantangan tersendiri ketika kita memiliki mitra kerja. Para petani ikan telah bertahun-tahun memelihara ikan dengan cara ia sendiri, sementara kita pun harus mengutamakan kualitas agar tidak kehilangan pasar. Di sinilah kami kemudian melakukan pembinaan dan  menerpakan Standar Operasi Prosedur (SOP) sangat ketat agar kualitas tetap terjaga mengingat pesaing kita banyak dan pengiriman sampai ke luar pulau, dimana daerah tujuan itu pun memiliki standar mutu benih ikan yang harus kita ikuti,” tambah Budi yang kini mempunyai 38 petani ikan sebagai mitra kerja.

SOP itu meliputi  pembuatan kolam, pengisian air, pemilihan calon induk, karantina indukan, pemberian pakan, peminjahan, pendederan, penebaran benih, seleksi benih hingga pengemasan dan distribusi benih.

” Dengan SOP yang ketat dan sesuai dengan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB), kami telah mendapatkan sertifikat CPIB tersebut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI ” kata Budi yang juga telah mendapatkan sertifikat CKIB (Cara Karantina Ikan yang Baik).

Budi menambahkan ia memilih usaha pembenihan ikan karena keuntungan yang lumayan, sekali pemijahan bisa mendapatkan ribuan benih ikan disamping itu resiko kegagalan yang relatif lebih sedikit dibanding pembesaran ikan.

“Pada pembenihan ikan, karena ikan masih kecil-kecil bila terjadi kegagalan biaya pakan yang ditanggung masih sedikit dibandingkan bila ikan dipelihara untuk tujuan koonsumsi,” ujarnya.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengkonsumsi protein hewani asal ikan, Budi percaya  usaha pembenihan ikan akan terus bertahan, ini terbukti selama masa pandemi permintaan benih ikan malah menunjukkan peningkatan. “Pelanggan yang datang kebanyakan dari mereka yang kehilangan pekerjaan akibat Covid-19 dan ingin memulai berwirausaha budidaya ikan air tawar,” pungkas Budi penuh optimisme. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




21 Pamong Kalurahan Sukoharjo Disumpah

Sudah sewindu atau 8 tahun Undang-undang nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta diberlakukan. Selama 8 tahun itu pula, masih banyak kendala dalam melaksanakan program program keistimewaan di DIY baik dalam pendanaan dan program kegiatan dan juga dalam menata kelembagaan yang disesuaikan dengan keistimewaan itu sendiri. Namun semua kendala tersebut secara bertahap bisa diatasi seperti pada Senin (26/10/2020) di Balai Kalurahan Sukoharjo dilaksanakan Sumpah Pelantikan Pamong Kalurahan Sukoharjo. Sebanyak 21 orang pamong dilantik oleh PJ Kepala Desa Sukoharjo, Bara Hernowo Natali.

Pengambilan Sumpah Pamong Kalurahan Sukoharjo ini merupakan penyesuaian UU Keistimewaan antara lain Sekretaris Desa menjadi Carik Kalurahan Sukoharjo, Seksi Pelayanan menjadi Kamituwa, Seksi Keuangan menjadi Danarta, Seksi Perencanaan menjadi Pangripta, Seksi Tata Usaha Umum menjadi Tatalaksana, Seksi Pemerintahan menjadi Jagabaya, Seksi Kesejahteraan menjadi Ulu-ulu, serta untuk Dukuh tetap Dukuh. Dengan perubahan Desa menjadi Kalurahan maka semua kelembagaan sejak tanggal 26 Oktober 2020 dimulai nomenklatur dan jabatan baru yang disebut pamong kalurahan.

Panewu Ngaglik, Subagya, dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Lurah Sukoharjo yang telah melantik dan mengambil sumpah seluruh Pamong Kalurahan Sukoharjo.

“Saya ucapkan selamat kepada yang dilantik, semoga dengan pelantikan ini membawa manfaat dan lebih meningkatkan kinerja para Pamong Kalurahan Sukoharjo,” ujarnya.

Subagya juga mengimbau, usai dilantik para pamong segera mengadakan penyesuaian dengan UU yang ada.

“Walaupun kita semua masih menunggu petunjuk tugas pokok dan fungsi lembaga baru yang menjadi Pamong Kalurahan, secara garis besar masih sama fungsinya yakni melayani masyarakat, untuk tugas yang baru pasti nantinya banyak tambahan beban pekerjaan terkait dengan penyesuaian lembaga keistimewaan ini,” imbuhnya. (Kim Ngaglik/Srp)




DPRD DIY Apresiasi Pengembangan Holtikultura di Turi

Sebanyak 50 warga Turi yang tergabung dalam Kelompok Tani Mitra Agro Melodi Pojayan Wonokerto, Kelompok Wanita Tani Subur Gondang Donokerto, serta Warga Tani Muhammadiyah Turi di tengah kondisi pandemi Covid-19 terus bergerak melakukan kegiatan bertani holtikultura dengan mendayagunakan lahan pekarangan. Ini merupakan bentuk ketahanan pangan warga dengan memenuhi kebutuhan pangan secara swasembada.

Hanum Rais, Anggota DPRD DIY yang melihat kesungguhan para petani di Turi ini memberikan apresiasinya.

“Pandemi tidaklah membuat kita terpaku tanpa berupaya agar bisa bertahan hidup secara mandiri, bapak-dan ibu sekalian adalah pejuang kehidupan sejati terutama untuk menjaga ketahanan pangan baik secara keluarga maupun kelompok serta masyarakat,“ ujarnya di sela kegiatan Bimbingan Pemanfaatan Lahan Pekarangan untuk Budidaya Tanaman Holtikultura oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Jumat (23/10/2020) di Joglo Surantanan, Gondang 01, Donokerto, Turi.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan materi oleh Mardiyah dan Agung Abdillah selaku Seksi Produksi Holtikutura.

Diyah menyampaikan bahwa berbagai kebijakanPemerintah Provinsi DIY menyesuaikan dengan kenormalan baru agar ekonomi masyarakat tetap tumbuh di tengah pandemi Covid-19.

“Dengan budidaya holtikultura berupa sayuran ini, masyarakat dapat mengisi kesibukan dengan kegiatan positif juga untuk ketahanan pangan keluarga melalui hasil pekarangan untuk pemenuhan gizi dan vitamin dan juga hiburan agar menumbuhkan semangat,” jelas Diyah.

Aris Suranto selaku Pembina Kelompok Tani menyampaikan terima kasih atas bantuan berupa bibit, pupuk, dan sarana pertaniannya lainnya.

“Harapannya semangat warga semakin terpacu dan bisa menjadi tambahan pemasukan dan kebutuhan pangan bisa dicukupi masing-masing,” ujarnya. (Arief Hartanto)