BPN Serahkan Sertifikat PTSL Warga Donoharjo

Sertifikat adalah simbol harmonisnya hubungan silaturahmi dan kekeluargaan yang ada di masyarakat. Demikian disampaikan Lurah Desa Donoharjo Hadi Rintoko, dalam sambutannya di acara penyerahan sertifikat PTSL (Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap) di Aula Balai Kelurahan Donoharjo, Senin (2/11/2020).

Sebab menurut Lurah, jika masih ada sengketa atau perselisihan, tidak akan terjadi kata sepakat dan sertifikat tidak akan pernah jadi. Karena itu puji syukur dan ucapan terimakasih disampaikan Lurah Desa kepada kelompok masyarakat maupun seluruh warga sehingga Pemerintah Desa sebagai jembatan program PTSL dengan target dapat terselesaikan dengan baik.

Kepala BPN, R Rudi Prayitno dalam sambutannya menyampaikan bahwa akibat Covid-19 terpaksa 6 desa harus dibatalkan. Desa Donoharjo termasuk yang dapat berlanjut meskipun jumlahnya dikurangi dari menjadi .

Kegiatan ini sudah dipersiapkan sejak tahun 2019 dengan mengkomunikasikan program kepada Lurah Desa Donoharjo. Karena komponen yang harus ada agar kegiatan dapat berjalan adalah BPN, Pemerintah Desa, Pokmas dan Masyarakat yang bersedia menyelenggarakan PTSL.

“Di Donoharjo ini, sertifikat yang sudah dibagikan sebanyak 720 bidang, yang hari ini dibagikan 618 bidang dan yang masih dalam proses di BPN sebanyak 1162 bidang,” jelas R Rudi Prayitno lagi.

618 bidang sertifikat tersebut akan diserahkan kepada warga Padukuhan Brengosan, Wonosari, Suruh Maron, Balong, Banteran, dan Ngepas Lor.

Di sela pembagian sertifikat Jogoboyo Donoharjo R Fendi Aji Putra menjelaskan bahwa sertifikat masal terakhir diadakan di Donoharjo pada tahun 1985 padahal banyak warga yang belum memiliki sertifikat atau masih Letter C, sehingga Pemerintah Desa Donoharjo menyambut baik kegiatan program PTSL yang ditawarkan oleh Pemerintah melalui BPN.

“Jika seluruh masyarakat sudah memiliki sertifikat, maka akan berdampak positif di antaranya peningkatan PAD (Pendapatan Asli Desa), peningkatan ketertiban pajak, sewa tanah menjadi lebih tertata dan perekonomian warga juga bisa naik karena sertifikat yang dimiliki bisa dimanfaatkan untuk meminjam dana bagi pengembangan usaha masyarakat,” jelasnya lagi.

Hudi Wantoro salah satu anggota Kelompok Masyarakat Padukuhan Wonosari menyampaikan pendapatnya bahwa PTSL ini sangat berguna bagi masyarakat karena masyarakat yang semula malas mengurus sertifikat sangat terbantu apalagi ditangani oleh Pokmas, warga cukup mengumpulkan persyaratan.

“Masyarakat sangat terbantu dari segi waktu dan biaya. Namun sebagai program yang menggunakan aplikasi, maka akan menjadi masalah jika tidak bisa melengkapi persyaratan sehingga sertifikat akan ditahan di BPN,” jelasnya. (Endarwati, KIM Donoharjo)




MWC NU Ngaglik Gelar Rapat Kerja Tahun 2020

Bertempat di Gedung IPHI Ranting Kalurahan Sukoharjo, Organisasi Kemasyarakatan Majelis Wilayah Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kapanewon Ngaglik mengadakan Rapat Kerja Tingkat MWC NU Ngaglik, Minggu (1/11/2020).

Rapat ini dimaksudkan untuk mengevaluasi dan merencanakan serta menindaklanjuti hasil Praraker MWC NU Ngaglik pada bulan Agustus 2020 yang lalu.

Rapat Kerja Pleno ini mengesahkan hasil praraker yang telah disepakati bersama setelah mendapatkan tambahan ataupun pengurangan rencana program MWC NU Ngaglik. Demikian pengantar dari penyelenggara Raker, Nugroho Bayu Santoso selalu Ketua III MWC NU Ngaglik.

Sementara itu KH. Muhammad Hasyim selaku Rois Syuriah MWC NU Ngaglik menyambut antusias atas terselenggaranya Raker MWC NU Ngaglik ini.

“Diharapkan bahwa semua pengurus meneguhkan komitmen bersama setelah dilantik bulan Juli 2018 berarti sudah setengah perjalanan pengabdian masa khidmat 2018-2023,” ujarnya.

Selanjutnya Raker ini juga diharapkan dapat mengevaluasi program yang telah disepakati melalui musker MWC NU Ngaglik tahun 2018.

“Mungkin bisa saja ditambah atau dikurangi program yang memang belum dan sulit untuk dilaksanakan, di samping itu juga menyesuaikan program kondisi pandemi Covid-19 ini misalnya dalam dakwah bisa melalui virtual meeting ataupun daring,” tambahnya.

Dalam raker dilaksanakan pula aksi donor darah dan Rapat Rutin Pengelola Ambulan seluruh MWC NU se-Kabupaten Sleman. (KIM Ngaglik/ Srp)




Berdayakan PKK, Buat Hand Sanitizer Sendiri

Ngaglik – Dalam rangka pemberdayaan masyarakat sebagai upaya mencegah penyebaran Covid19, tim penggerak PKK Kalurahan Donoharjo mengadakan serangkaian kegiatan pelatihan pembuatan hand sanitizer dan pembuatan masker di Padukuhan Jetis Suruh, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Senin (2/11/2020).

Wuri Handayani, tenaga pengajar di SMK Kesehatan Amanah Husada Kabupaten Bantul yang menjadi narasumber pelatihan tersebut menyampaikan bahwa pembuatan hand sanitizer tergolong sederhana namun harus sesuai dengan standart yang dirilis oleh WHO (World Health Organization) baik mengenai resep, cara pembuatan, maupun cara menggunakan hand sanitizer yang benar.

Di hadapan ibu-ibu anggota PKK sebagai peserta pelatihan, Wuri mengatakan bahwa pembuatan hand sanitizer ada 2 macam yaitu secara kimiawi maupun alami/herbal.

“Secara kimiawi bahan yang digunakan adalah alkohol 70 persen sebanyak 3 gelas dengan asumsi 1 gelas sama dengan 250 ml, gliserol 1/4 gelas, Aloe Vera gel 1/2 gelas sebagai pelembab, minyak esensial 3 tetes sebagai aroma atau pewangi bisa menggunakan aroma lavender, sereh, ekstrak bunga dan lain-lain sesuai selera,” terangnya.

Sedangkan alat yang digunakan dalam pembuatan hand sanitizer di rumah adalah gelas belimbing, corong, botol 1 liter untuk mencampur bahan serta botol plastik atau spray untuk membagi hand sanitizer yang sudah jadi.

Cara pembuatan adalah dengan mengukur semua bahan sesuai takaran, masukkan alkohol pada botol 1 liter, masukkan gliserin dan Aloe Vera gel, tambahkan minyak esensial atau pewangi. Tutup botol agar tidak menguap, kocok botol secara perlahan hingga tercampur rata. Bagi hand sanitizer yang sudah jadi ke dalam botol spray dan simpan selama 2-3 hari untuk memastikan tidak ada mikro organisme pada wadah tersebut. Setelah itu hand sanitizer bisa digunakan.

Wuri mengatakan bahwa hand sanitizer berbasis alkohol lebih efektif dalam membunuh kuman penyakit tetapi untuk mendapatkan bahannya relatif sulit dan harus ada syarat khusus yang harus diikuti.

“Pembuatan hand sanitizer yang lebih mudah dalam hal ketersediaan bahan adalah dengan membuatnya menggunakan daun sirih. Caranya dengan merebus 1,5 ons daun sirih dengan 1000 ml setara 4 gelas air sampai mendidih. Biarkan sampai dingin dan bisa digunakan. Hand sanitizer dari daun sirih ini hanya bertahan 3 hari saja karena mudah basi,” tuturnya. Wuri menuturkan bahwa cara menggunakan hand sanitizer adalah dengan mengusapkan pada telapak tangan sama seperti langkah mencuci tangan yang benar. Hand sanitizer sebaiknya digunakan di saat darurat saja karena untuk mensterilkan tangan yang terbaik adalah tetap menggunakan air dan sabun pada air yang mengalir. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)