Nyaman dan Aman Armada Trans Jogja yang Lewati Sleman

Bus Trans Jogja menambah armada baru untuk jalur yang melewati beberapa kapanewon di Sleman. Bus-bus yang melewati Kapanewon Ngemplak dari Bandara menuju Kapanewon Pakem terlihat masih baru dengan fasilitas yang berfungsi dengan baik, seperti tempat dudu, AC, hingga pintu otomatisnya.

Pengemudi Transjogja dengan rute Bandara menuju ke Pakem tersebut, Jarot Supardi mengatakan bahwa pagi hari bus memang masih sepi tetapi mulai jam ke atas bus mulai ramai mulai dari anak anak, dewasa, sampai lansia.

Masih menurut Jarot bahwa rombongan para lansia, anak-anak serta orang tua naik bus ini mungkin karena masih gratis hingga 31 Desember 2020.

“Sebelum nanti diberlakukan dengan bayar langsung mungkin ada perubahan jumlah penumpang,” paparnya Minggu (8/11/2020).
Jarot bertutur bahwa bus ini melaju dengan pelan, tidak boleh melebihi kecepatan 40 km/jam.

“Karena lebih dari itu maka akan bunyi suara tanda melebihi kecepatan dan driver bisa mendapatkan sanksi atau peringatkan dan semua termonitor dengan alat khusus melalui monitor cctv, setiap bus juga dilengkapi GPS bus nomor berapa sampai di mana termonitor terus,” imbuhnya.

Jarot menambahkan ada 45 armada bus yang beroperasi di 3 kapanewon di Sleman, yakni 15 di Kapanewon Pakem, 19 di Kapanewon Ngaglik, dan 11 di Kapanewon Godean.

“Setiap pemberhentian yang telah ditentukan selalu diinformasikan secara otomatis memakai audio dan ada juga informasi terkait protokol kesehatan antara lain cuci tangan disiapkan handsanitizer, pakai masker, jaga jarak, dan lainnya,” tutur Jarot.

Jarot berharap bus Trans Jogja ini bisa mengurangi kepadatan kendaraan serta membantu masyarakat mengurangi pengeluarannya pada biaya transportasi karena masih bisa dijangkau oleh masyarakat. (KIM Ngaglik/Srp)




Lembaga Penanggulangan Bencana Sleman Bersiap Hadapi Erupsi Merapi

Berdasarkan info dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, status aktivitas Gunung Merapi ditingkatkan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III) berlaku mulai tanggal 5 November 2020 pukul WIB.

Kondisi Siaga Merapi ini disikapi Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PDM Sleman dengan melaksanakan tugas Persyarikatan Muhammadiyah khususnya di bidang kebencanaan dengan melakukan respon bila terjadi bencana secara terpadu melalui komando yang dikoordinasikan oleh LPB. Koordinasi bersama pimpinan wilayah dan Pusat Lembaga penanggulangan bencana terus dilakukan baik melalui daring maupun luring untuk mempercepat dan efisiensi koordinasi.

Ditemui Minggu (8/11/2020) di Pakem, M Fauzan selaku Ketua LPB PDM Sleman beserta jajaran memutuskan untuk mengadakan rencana Posko Utama dan Posko Layanan di Kompleks SMK Muh Pakem, PKU Cangkringan dan Gedung Dakwah PCM Turi dan dilanjutkan dengan koordinasi kepada masing-masing cabang untuk segera bergerak.

Untuk barak-barak pengungsian telah mulai dihuni oleh warga rentan dan anak-anak terutama di wilayah Kapanewon Cangkringan.

“Tentunya mereka sangat membutuhkan akan layanan medis dan kesehatan apalagi saat ini kita masih berada dalam situasi Pandemi Covid-19 yang belum mereda maka kami meminta bantuan pendampingan tim medis dan psikososial untuk mendampingi pengungsi di Glagaharjo Cangkringan dengan berkoordinasi dengan wilayah untuk bisa memberikan pendampingan dengan menggandeng berbagai Amal Usaha Muhammadiyah dan pihak terkait yang kompeten di bidangnya,” ujar Fauzan.

Sementara itu, dikatakan Fauzan para relawan muslim beserta KOKAM dan puluhan armada ambulanceMu, Lazismu juga telah disiagakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan siap bergerak untuk membantu masyarakat apabila benar-benar terjadi erupsi. Di samping berbagai persiapan juga terus dilakukan seperti penyiapan relawan yang menangani unsur psikososial dan juga tidak terlewatkan relawan rohani yang melakukan pendampingan keagamaan kepada warga di pengungsian agar bisa terus terjaga ibadahnya dengan baik dan senantiasa mengingat kebesaran Sang Pencipta di lingkungan barak pengungsian. (Arief Hartanto)




Donoharjo Bersiap Jadi Desa Penyangga Bencana

Status Merapi yang akhir-akhir ini meningkat menjadikan semua pihak harus waspada dan melakukan antisipasi apabila terjadi bencana. Hal tersebut yang tengah dilakukan Pemerintah Kalurahan Donoharjo bersama Destana Donoharjo pada Minggu (8/11/2020) di Area Parkir Desa Donoharjo.

Dalam sambutannya, Lurah Donoharjo, Hadi Rintoko menyampaikan bahwa meski pandemi Covid-19 belum selesai, sebagai desa penyangga, maka Donoharjo dituntut secara kemanusiaan dan prosedur untuk bersiap-siap menghadapi semua kemungkinan mengingat status Merapi yang mulai meningkat.

“Tentang apa yang harus dipersiapkan, Destana dan Relawan yang lebih paham. Jadi mulai hari ini, kita akan bersiap-siap dengan segala keterbatasan yang ada karena semua terkonsentrasi di penanganan Covid sehingga anggaran sangat terbatas,” ujarnya.

Namun demikian, Lurah Desa Donoharjo tersebut tetap optimis karena Destana dan Relawan Donoharjo sudah teruji dalam menghadapi berbagai situasi.

“Apa yang dilakukan Destana dan para Relawan Donoharjo itu sudah tidak rasional lagi karena sama sekali tidak seimbang antara apa yang diberikan dengan apa yang didapat. Namun segala tindakan yang muncul dari panggilan jiwa memang seringkali menjadi tidak rasional. Karena hal tersebut merupakan realisasi dari keluhuran budi yang semoga mendapatkan balasan yang jauh lebih tinggi dari Allah SWT,” jelas Hadi Rintoko lagi.

Sementara itu Agus Hardio Pancoro, Ketua Destana menyampaikan tentang hal- hal yang perlu dipersiapkan yakni barak dan personil karena ada beberapa hal yang harus ditangani.

Mengacu persiapan tahun 2010 maka barak yang dipersiapkan adalah Lapangan Kalurahan Donoharjo, joglo tanjung, rumah warga di Donolayan dan di Bakalan.

Adapun personil yang dipersiapkan adalah petugas pendataan yang dikelola oleh Sri Hardono dibantu relawan dan Forum Anak Donoharjo, petugas Dapur Umum dikelola oleh Sartini dibantu anggota PKK Donoharjo dan petugas evakuasi dikelola Agus HP dibantu Destana dan Relawan.

Khusus tentang petugas evakuasi, Hendi menjelaskan bahwa menjadi petugas evakuasi harus merupakan panggilan jiwa, memiliki keberanian dan keterampilan, serta alat keamanan pribadi. Perlengkapan keamanan pribadi yang dimaksudkan di antaranya memiliki sepatu standar pengamanan minimal dari kulit, senter, masker, kacamata, sarung tangan kulit, helm dan dompet yang berisi peralatan evakuasi, seperti obeng, pisau, gunting, dan tang (Endarwati/KIM Donoharjo).




FKIM Sembada Tetap Lakukan Koordinasi di Tengah Pandemi Covid-19

Dalam rangka untuk menyelaraskan dan merumuskan program kerja Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sleman, para pegiat KIM mengadakan rapat koordinasi yang digelar di Pendopo Kapanewon Moyudan, Sabtu (7/11/2020) pagi dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Rapat dipimpin oleh Ketua Forum KIM Kabupaten Sleman, H. Suripto dan dipandu Sekretaris, Adnan Iman Nurtjahjo diikuti perwakilan KIM dari Kapanewon Ngaglik, Gamping, Turi, Depok, Seyegan, Ngemplak, Prambanan, serta Moyudan. Turut hadir dalam kegiatan ini, Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Yudiarto Setiawan, serta Panewu Anom Kapanewon Moyudan, Samino.

Dalam sambutan pembuka sebagai tuan rumah, Panewu Anom Moyudan menyampaikan rasa terima kasih atas terselenggaranya rapat koordinasi Forum KIM Kabupaten Sleman di Moyudan, serta mengungkapkan kronologis terbentuknya KIM Kapanewon Moyudan sebelum adanya pandemi Covid-19 melanda. Selanjutnya, ia berharap kepengurusan KIM Moyudan dapat dikukuhkan di akhir tahun 2020 ini.

Informasi terkini juga disampaikan oleh Kepala Seksi Pengelolaan Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Yudiarto Setiawan di antaranya Kementerian Kominfo RI akan mengadakan kegiatan forum sosialisasi KIM secara daring pada hari Selasa tanggal 10 November 2020 melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dengan tema Pemilihan Serentak 2020 Cerdas, Sehat dan Damai yang dapat diikuti oleh perwakilan pegiat KIM dari 2 KIM di setiap Provinsi/Kabupaten/Kota.

“Dinas Kominfo Kabupaten Sleman dalam waktu dekat juga mengadakan kegiatan sosialisasi tentang vaksinasi menghadapi Covid-19 melalui pertunjukan kethoprak dari paguyuban seni Bayu Gito Gati pada hari Senin tanggal 9 November 2020 melalui live streaming Sleman TV, serta pelatihan Digital Online Marketing dengan jumlah peserta 25 orang,” tambah Yudiarto.

Di akhir kegiatan, Ketua Forum KIM Kabupaten Sleman, H. suripto mengungkapkan tentang kendala yang dihadapi pengurus KIM Kapanewon membentuk KIM di Kalurahan. Dirinya berharap agar Dinas Kominfo Kabupaten Sleman dapat membantu melakukan mediasi pegiat KIM Kapanewon dengan pengelola website di setiap Kalurahan agar bisa segera membentuk KIM tingkat Kalurahan.

“KIM dapat berperan sebagai mitra pemerintah dalam menyebarluaskan informasi sekaligus menjadi penampung aspirasi masyarakat di tingkat kalurahan. Sehingga dengan terbentuknya KIM di Kalurahan diharapkan akses informasi yang dibutuhkan masyarakat kian terbuka dan mudah didapatkan. Di sisi lain, KIM juga dapat berdiskusi untuk memilah informasi yang positif, memilih informasi yang sesuai kebutuhan, dan memanfaatkannya untuk kepentingan Bersama anggota KIM,” ucap Suripto. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)