KIM Ikut Sosialisasikan Pemilihan Kepala Daerah Serentak 2020

Sebagai salah satu bentuk pengembangan dan pemberdayaan mitra strategis yaitu Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) dalam upaya ikut menyosialisasikan Pemilihan Kepala Daerah Serentak tahun 2020 kepada seluruh masyarakat maka Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan Forum Sosialisasi secara daring bagi KIM Wilayah Indonesia Barat dengan format webinar, Selasa (10/11/2020).

Kegiatan yang dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting ini mengangkat tema Pemilihan Serentak 2020 Cerdas, Sehat dan Damai diikuti oleh 200 orang perwakilan pegiat KIM provinsi, kabupaten, kota di wilayah yang menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, termasuk perwakilan pegiat KIM Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo.

Webinar dibuka dengan pengantar diskusi oleh Dirjen Informasi Komunikasi Publik sekaligus Keynote Speech, Prof. Dr. Widodo Muktiyo yang menyampaikan tentang tujuan diadakannya kegiatan yakni membekali pegiat KIM dengan wawasan dan pemahaman serta kesiapan yang perlu dilakukan dalam menghadapi kondisi yang mengharuskan masyarakat menjadi pemilih yang cerdas pada Pilkada serentak tahun 2020 dalam kondisi damai dan aman dari wabah Covid-19.

Di samping itu, pegiat KIM diharapkan bisa ikut menggaungkan pilkada serentak yang cerdas, sehat, dan damai hingga ke seluruh lapisan masyarakat, serta meluruskan disinformasi dan melakukan countering hoax terkait pilkada serentak melalui kanal-kanal yang dimiliki oleh KIM sehingga dapat membangun kesadaran dan optimisme masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan cerdas dalam pilkada serentak tahun 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Para pegiat KIM perlu dibekali dengan wawasan dan pemahaman yang mumpuni terkait pilkada serentak tahun 2020. Masyarakat memerlukan informasi tentang bagaimana menjadikan situasi memilih yang aman dari wabah Covid-19 yang masih melanda Indonesia. Saya berharap dengan adanya webinar ini pegiat KIM dapat menjadikan informasi sebagai makanan yang menyehatkan bagi masyarakat dengan melakukan literasi digital yang sehat,” tutur Prof. Widodo.

Sebagai narasumber forum sosialisasi ini yakni Komisioner KPU Republik Indonesia, Pramono Ubaid Tanthowi yang membahas tentang era adaptasi kebiasaan baru dalam pemilihan serentak tahun 2020, Kepala Bagian Yaninfodok Divisi Humas Kepolisian Republik Indonesia, Kombes (Pol) Tjahyono Saputro, serta Praktisi media sosial, Wicaksono Ndoro Kakung yang dipandu presenter TV, Insan Nur Akbar.

Dalam pembahasan materinya, Pramono Ubaid Tanthowi menginformasikan bahwa terdapat 12 hal baru dalam pemungutan suara di tempat pemungutan suara (TPS) dalam kondisi pandemi Covid-19. Hal-hal baru tersebut diantaranya petugas KPPS harus memakai alat pelindung diri, penyemprotan disinfektan secara berkala, pengecekan suhu tubuh, wajib mencuci tangan, wajib memakai masker, tidak berkerumun dan kontak fisik, menjaga jarak minimal 1 meter, mengenakan sarung tangan plastik, tinta ditetes, pengaturan jadwal kedatangan, adanya bilik khusus bagi pemilih yang bersuhu diatas 37,3 derajat celcius, serta maksimal 500 pemilih setiap TPS.

“Guna mencegah terjadinya klaster baru penyebaran virus Covid-19, seluruh penyelenggara pemilu dan masyarakat pemilih harus taat mematuhi regulasi yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum seperti yang tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 6 tahun 2020 tentang pelaksanaan pemilihan kepala daerah serentak lanjutan dalam kondisi bencana nonalam Covid-19,” tegas Pramono. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Waspadai Gejala Baru Covid-19

Menghadapi masa pandemi Covid-19 yang tidak tahu kapan akan berakhir menuntut setiap orang harus lebih waspada agar tetap sehat dan terhindar dari penularan Covid-19.

Untuk itu, salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Puskesmas Ngaglik II adalah dengan penyuluhan tentang gejala penderita Covid-19 kepada kader Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) wilayah dampingan di Kalurahan Donoharjo, Sariharjo dan Sukoharjo, Ngaglik Selasa (10/11/2020) di Bantarjo, Donoharjo.

Tantri, yang merupakan penanggung jawab program Posbindu menjelaskan bahwa gejala baru Covid-19 yang harus diwaspadai yaitu anosmia, hiposmia, dan ageusia.

Tantri menjelaskan bahwa pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh University College London ditemukan bahwa 77,6% dari 567 pasien yang positif Covid-19 mempunyai gejala anosmia yaitu hilangnya fungsi indra penciuman yang biasanya sering kita alami jika sedang pilek, sinus atau penyakit pada tulang atap rongga hidung karena infeksi, tumor, cedera kepala, dan sebagainya. Untuk mengetahui, kita bisa mencium aroma yang sering kita cium seperti parfum, kopi, dan sebagainya. Dilanjutkan Tantri, Hiposmia adalah menurunnya indra penciuman sedangkan ageusia adalah kehilangan indra perasa sehingga jika mengecap makanan menjadi hambar.

“Kita akan mengambil contoh reaksi terhadap makanan soto yang sudah dimasak dengan bumbu, aroma, dan rasa yang sama seperti sebelumnya, maka penderita anosmia tidak akan mencium aroma soto lezat yang sebelumnya terasa menggugah selera. Jika terjadi penurunan dalam kemampuan mengirup aroma dan mengecap rasanya, itu dinamakan gejala hiposmia. Adapun penderita ageusia tidak lagi bisa merasakan asin, manis gurih dari soto sehingga soto terasa hambar tanpa rasa,” jelas Tantri lagi.

Menurut Tantri, ketiga gejala tersebut kadang tidak mengganggu aktivitas dan relatif dianggap tidak sebagai keluhan berat sehingga sering diabaikan. Padahal gejala awal Covid-19 bisa hanya anosmia saja tanpa ada gejala demam atau batuk.

“Jika mengalami anosmia maka harus segera melakukan isolasi mandiri, segera pergi ke faskes terdekat, lakukan pemeriksaan dan tes swab, jika terbukti positif ikuti anjuran faskes dan memberi kabar kepada orang-orang yang kontak erat dengan dirinya dalam tiga hari terakhir agar wadpada. Jika tidak terbukti positif Covid-19 maka segera periksa untuk dugaan penyakit lain ke dokter THT,” jelas Tantri lagi.

Sementara itu, Theodorus Indarto yang juga merupakan Humas Satgas Covid Puskesmas Ngaglik II mengingatkan tentang prosedur pelaksanaan Posbindu. Pertama adalah melakukan persiapan dan berkoordinasi dengan tokoh masyarakat, dukuh, RT, dan RW. Lalu menginformasikan ke masyarakat waktu, tempat, prosedur, dan ketentuannya. Ketika melaksanan Posbindu petugas, kader dan peserta harus sehat tidak menderita PTM (Penyakit Tidak Menular), juga tidak sedang demam, batuk, ataupun pilek.

Sebelum pelaksanaan seluruh yang hadir dicek suhu menggunakan thermogan, melakukan cuci tangan, memakai masker, jaga jarak, bersikap hati-hati untuk kontak dengan orang lain, dan petugas mengenakan APD.

“Kita harus membiasakan diri dengan kebiasaan baru Cita Mas Jajar. Cuci tangan, memakai masker, dan jaga jarak. Setelah selesai kegiatan Posbindu, jangan lupa untuk melakukan pembersihan disinfektan terhadap seluruh alat yang digunakan, lepaskan APD, dan pulang dari Posbindu harus mandi. Hal terakhir ini yang sering kali diabaikan. Kita sedang mengalami masa transisi, jadi dalam penyelenggaraan Posbindu kita semua harus hati-hati dan waspada. Hal yang paling riskan saat ini adalah ketika masyarakat menganggap Corona tidak ada lagi sehingga tidak waspada. Hal tersebut berpotensi menjadi penyebab penularan Covid 19,” jelas Theo lagi. (Endarwati/KIM Donoharjo)