PPK Bersama KPU Sleman Gelar Rakor Sempurnakan DPT Pemilihan

Guna menyempurnakan penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman tahun 2020 yang terbuka, akuntabel, dan partisipatif maka Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman menggelar rapat koordinasi persiapan gerakan mendukung rekam KTP elektronik dan pendataan titik koordinat Kantor Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Kantor Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dilaksanakan di Ruang Rapat KPU Kabupaten Sleman, Jumat (13/11/2020).

Dalam sambutan pembukanya, Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Sleman, Ahmad Baehaqi menyampaikan bahwa dasar hukum kegiatan Gerakan Mendukung Rekam KTP elektronik pada Pemilihan Serentak Tahun 2020 yakni Surat KPU RI Nomor 1017/ Selanjutnya, KPU Kabupaten Sleman bersama PPK dan PPS melakukan pengecekan kembali ke lapangan terhadap sisa data pemilih yang belum melakukan perekaman KTP elektronik bersama Pengawas Pemilihan Kecamatan dan Pengawas Pemilihan Kelurahan.

Ketua Divisi Perencanaan, Data dan Informasi KPU Kabupaten Sleman, Indah Sri Wulandari mengungkapkan bahwa KPU RI telah melakukan penyandingan data pemilih yang belum rekam KTP elektronik dalam DPT pemilihan serentak tahun 2020 dalam bentuk by name by address yang dapat diunduh melalui situs KPU Provinsi. Dalam melaksanakan tugasnya PPS dapat dibantu oleh eks Petugas Pemutakhiran Data Pemilih untuk menemui pemilih yang belum melakukan perekaman KTP elektronik guna membantu memastikan keberadaannya di lapangan.

“Selama kegiatan berlangsung, PPS dapat menyampaikan surat ajakan kepada pemilih yang belum melakukan perekaman KTP elektronik untuk melakukan perekaman dan menjelaskan pentingnya peran KTP elektronik sebagai syarat untuk memilih dalam Pemilihan Serentak Tahun 2020. Jika ditemukan pemilih dengan status belum melakukan perekaman KTP elektronik, PPS dapat mengingatkan pemilih tersebut untuk segera melakukan perekaman KTP-el,” tegas Indah.

Rakor juga membahas tentang pembuatan titik koordinat Kantor PPK, PPS, dan TPS menggunakan aplikasi yang dipandu oleh Penganalisis Program dan Aplikasi KPU Sleman, Andi Syarifudin. Adapun manfaat aplikasi titik koordinat adalah untuk menunjukkan letak atau posisi dari suatu tempat sehingga memudahkan bagi masyarakat menemukan lokasi kantor sekretariat penyelenggara pemilihan maupun mendatangi TPS setempat guna menggunakan hak pilihnya pada 9 Desember 2020 mendatang. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Peran KIM sebagai Wartawan Desa

Ngaglik – Empat tahun berdiri, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kapanewon Ngaglik kini berkembang menjadi kontributor utama jurnalisme warga Kabupaten Sleman dalam memproduksi berita-berita positif.

Selama tahun 2019, ada 165 berita dari KIM se-Kabupaten Sleman yang dimuat di , portal berita milik Kementerian Kominfo. “Dari jumlah itu, 56 persennya atau 95 berita berasal dari Kapanewon Ngaglik,” kata Suripto, Ketua KIM Ngaglik bangga saat memaparkan evaluasi kegiatan KIM Ngaglik di Kantor Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Jumat (12/11/2020).

Meski mendominasi produksi berita di Kabupaten Sleman, Suripto tetap menyoroti keberagaman tema berita yang dipandangnya belum lengkap. “Selama ini bidang yang diberitakan masih terbatas antara lain pertanian dan kehutanan, pekerjaan umum dan perumahan rakyat, bencana, bidang pariwisata, dan kebudayaan serta bidang pemerintahan. Untuk itu diperlukan koordinasi lintas sektoral di tingkat Kapanewon agar berita yang diangkat lebih merata pada semua sektor pembangunan,” tambahnya.

Kapanewon Ngaglik mempunyai KIM di tingkat kalurahan yang terbanyak di Sleman dan mempunyai wartawan desa terbanyak yang mampu memberikan informasi dan mengangkat potensi Kapanewon Ngaglik.

Suripto juga menyampaikan beberapa prestasi yang telah diraih oleh KIM Ngaglik selama periode kepengurusan 2016-2021 diantaranya Juara 1 Lomba Pembuatan Video Blog tahun 2018, Juara 1 Pentas Pertunjukan Rakyat (Petunra) se-Kabupaten Sleman tahun 2019 diwakili KIM Kalurahan Sukoharjo, dan Juara 1 Lomba Petunra secara virtual dengan judul Wadul oleh KIM Kalurahan Donoharjo tahun 2020.

Ditambahkan Suripto, selama sekian tahun berjalan kegiatan KIM belum menampakkan hasil optimal yang bisa dimanfaatkan langsung ke masyarakat karena masih terkendala pada sarana, prasarana, tenaga, sumber dana, dan dukungan dari stakeholder yang berada di wilayah Kapanewon Ngaglik.

“Apabila ada kegiatan jangan segan hubungi KIM agar kegiatan yang ada di instansi atau lembaga diberitakan melalui Media Center Sleman,” pesan Suripto di hadapan para peserta evaluasi yang terdiri dari unsur muspika, puskesmas, KUA, Baznas, pelayanan pendidikan, koordinator Keluarga Berencana, dan jajaran pemerintah kalurahan di wilayah Kapanewon Ngaglik.

Selain itu, Suripto menambahkan untuk meningkatkan kinerja perlu dilakukan pertemuan rutin pengurus KIM , mengunjungi kalurahan secara bergiliran, perlu dicarikan sumber dana untuk membiayai kegiatan KIM baik di tingkat kapanewon maupun kalurahan. Selain itu perlu diadakan pelatihan yang berkaitan dengan jurnalisme sehingga nantinya akan tercipta wartawan-wartawan desa yang mumpuni.

Suripto berharap akan semakin banyak lagi warga yang mau bergabung dengan KIM sehingga lebih banyak informasi terpercaya yang disebarkan ke masyarakat. Di samping itu ia juga berharap agar makin banyak orang terutama generasi muda tertarik menjadi wartawan desa sehingga potensi yang dimiliki lebih banyak diketahui khalayak.

Pada acara yang sama, Purwati, Sekretaris Dinas Kominfo Sleman dalam sambutannya mengatakan bahwa KIM mempunyai peran yang sangat penting dalam menyebarluaskan informasi, menyaring informasi, serta memberikan inspirasi kepada semua pihak mengingat kedudukan KIM sangat dekat dan berada di tengah-tengah masyarakat.

“Informasi bisa berasal dari pemerintah ke masyarakat tetapi juga datang dari masyarakat ke pemerintah. Banyaknya berita kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat bisa dijadikan acuan pemerintah dalam membuat suatu kebijakan,” kata Purwati.

Lebih lanjut dikatakan, informasi suatu kegiatan yang dikemas dengan apik, cantik, dan obyektif dapat menjadi inspirasi bagi yang menerimanya. Di sini peran KIM sangat strategis bukan saja sebagai penyaring informasi tapi juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat,” kata Mami Ipung, panggilan akrabnya. (Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)




Tak Hanya Manusia, Hewan dan Satwa pun Terdampak Pandemi Covid-19

Tak banyak yang ingin dan mau berkecimpung di dunia kesejahteraan satwa. Selain dianggap hal remeh, masih banyak masyarakat mengesampingkan pentingnya hidup berdampingan secara harmonis dan selaras dengan satwa di sekitar.

Mereka juga beranggapan bahwa keberadaan satwa bukan prioritas, walaupun sama-sama menjadi penghuni di muka bumi ini.

Hal inilah yang menjadi titik awal terbentuknya Animal Friends Jogja (AFJ), sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang kesejahteraan satwa. Sebelum berdiri, para relawan kemanusiaan ini berkonsultasi dengan organisasi yang telah ada yaitu Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang dikelola oleh artis Melanie Subono. Berdiri sejak tahun 2009 dan terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2019, AFJ memiliki berbagai kegiatan untuk melindungi satwa seperti program steril kucing dan anjing serta street feeding atau memberikan makan pada hewan jalanan.

Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap sebulan sekali ini bertujuan untuk mengendalikan ledakan populasi anjing dan kucing jalanan.

“Awal mula terjadinya penelantaran adalah populasi yang berlebihan,” terang Angelina Pane atau yang lebih akrab disapa Ina selaku salah satu pendiri AFJ yang ditemui pada Kamis (12/11/2020).

Hal itulah yang memacu relawan di AFJ untuk menggalang dana agar program steril bersubsidi ini berjalan.

Bekerja sama dengan Klinik Hewan Jogja yang beralamatkan di Jalan Pamularsih No. 55 Klaseman Condongcatur Depok Sleman, dana yang terkumpul dari para donatur digunakan untuk membiayai pengobatan dan jasa dokter hewan.

Namun, adanya pandemi Covid-19 ternyata berdampak pada kegiatan di AFJ. Perekonomian yang kian sulit menyebabkan turunnya donasi dari masyarakat dan donatur. Sebelum pandemi, AFJ mampu melaksanakan steril bersubsidi sebanyak 20 ekor kucing/bulan. Saat ini, mereka hanya mampu membiayai 4 ekor kucing/bulan.

Industri kuliner yang biasanya menjadi tempat bergantung para kucing jalanan mengais sisa makanan, mengalami penurunan penjualan dan tak banyak makanan sisa tersedia bagi mereka. Hal ini menyebabkan banyak kucing jalanan kelaparan dan penelantaran. Tercatat terjadi kenaikan 67% pada kasus penelantaran kucing dan anjing di Yogyakarta.

Relawan AFJ bekerja sama dengan komunitas Peduli Kucing Pasar Jogja melaksanakan program street feeding secara ekstra demi menekan angka tersebut.

“Kami berharap pemerintah dan dinas pertanian dapat membantu program steril bersubsidi ini, agar populasi kucing dan anjing jalanan dapat dikendalikan,” jelas Ina. (Lena Lailasari/KIM Gamping)