Lukis Genthong Tutup Rangkaian Kenduri Banyu Udan Ke-5 Tempursari

Lomba melukis genthong dengan tema Cita Mas Jajar menutup rangkaian kegiatan Kenduri Banyu Udan ke 5 yang diselenggarakan oleh Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening yang terletak di Padukuhan Tempursari, Sardonoharjo, Sleman, Minggu (29/11/2020).
Sebelum kompetisi dimulai Lurah Sardonoharjo, Herjuno Wiwoho menyampaikan rasa syukurnya dengan adanya acara kenduri banyu udan yang ditutup dengan lomba melukis di media genthong tempat penyimpan air tradisional. Dirinya sekaligus bangga lantaran ada komunitas warga di wilayahnya yang mendirikan sekolah air hujan sebagai tempat belajar mengelola air hujan supaya lebih bermanfaat.
Kenduri banyu udan dihadiri oleh Pembina Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang juga menjabat Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Kesiapsiagaan Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pangarso Suryotomo, serta Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih.
Dalam kesempatan ini Sri Wahyuni berharap agar masyarakat Kabupaten Sleman pada umumnya memiliki kesadaran yang tinggi dalam menjaga kelestarian alam. Tujuannya supaya kondisi air di wilayah Kabupaten Sleman baik kuantitas dan kualitasnya tetap terjaga untuk keperluan sehari-hari masyarakat.
“jika kita sebagai manusia bisa bersahabat dengan alam sekitar, maka secara otomatis alam semesta akan memberikan banyak manfaat kepada manusia. Di Sekolah Air Hujan Banyu Bening masyarakat bisa belajar bagaimana mengubah air hujan menjadi layak sebagai air minum dan memasak,” tutur Yu Ning panggilan akrabnya.
Yu Ning menambahkan, dengan adanya kompetisi melukis genthong ini sebagai sarana memasyarakatkan media penampung air tradional yang sudah digunakan oleh nenek moyang dengan kearifan budayanya. Adapun hasil karya lomba berupa genthong yang sudah dilukis akan dibagikan kepada warga masyarakat di Tempursari sebagai penampungan air hujan.
Prosesi kenduri banyu udan ke 5 tahun 2020 diakhiri dengan penyerahan trophy kejuaraan dan uang pembinaan bagi pemenang lomba lukis genthong yang diberikan kepada Ari Wahyudin (Juara I) pelajar Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Kasihan Bantul, Azzahra Salsabila (Juara II) Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Depok Sleman, Muryanto (Juara III) masyarakat pegiat seni, Febi Oni Rinjani (Juara Harapan I) pelajar SMSR, serta Anfonioli Widodo (Juara Harapan II) pelajar SMSR.
Selanjutnya, lima genthong peraih kejuaraan dijadikan sebagai bukti dan disimpan di Museum Sekolah Air Hujan Banyu Bening sebagai kesan untuk memberi arti kesadaran kembali ke kearifan lokal dan budaya leluhur bangsa Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

