Meskipun puskesmas bergerak di bidang kesehatan, namun upaya melakukan perubahan perilaku bagi kesehatan masyarakat tidak bisa dilakukan sendiri oleh puskesmas.
Oleh karena itu, Puskesmas 2 Ngaglik menyelenggarakan pertemuan dalam rangka pelaksanaan intervensi PIS PK (Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga) untuk sasaran Tersier KPP (Komunikasi Perubahan Perilaku) sekaligus penandatanganan komitmen bersama Inovasi POS LOPER KORAN (Posbindu untuk Kelola Hipertensi dengan Kontrol Teratur dan Minum Obat Rutin) pada Rabu (2/12/20).
Penandatanganan komitmen dilakukan antara Puskesmas 2 Ngaglik diwakili oleh dr Trisni Nur Andayani dan penanggung jawab program PIS PK Umi Khasanah, Panewu Ngaglik yang diwakili Bambang, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Ngaglik, Lurah Donoharjo yang diwakili Dani Prasetyo Kamituwo Donoharjo, Ketua PKK Donoharjo yang diwakili Endarwati, Dukuh se-Donoharjo, serta Babinkamtibmas, Sujana, dan Babinsa, Robert.
Dalam kesempatan tersebut dr Trisni menjelaskan bahwa salah satu prioritas kesehatan masyarakat adalah penyakit hipertensi karena 75,70% di antaranya tidak berobat secara teratur.
Untuk itu diperlukan peran serta masyarakat serta komitmen bersama untuk mendukung inovasi POS LOPER KORAN tersebut. Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga indikatornya ada 13 dan Donoharjo masih merah untuk hipertensi. Oleh karena itu, hipertensi ditetapkan sebagai kesehatan prioritas oleh puskesmas karena capaian penderita hipertensi yang berobat secara teratur hanya 35% sedangkan sebanyak 75 persen belum berobat secara teratur.
“Dari posisi merah, harus lakukan intervensi supaya hipertensi menjadi kuning bahkan hijau,” ujarnya.
Trisni menjelaskan bahwa kajian formatif dengan sasaran primer/individu perilaku saat ini tidak ada keluhan penyakit hipertensi, tidak minum obat teratur, malas antri di puskesmas, berobat jika ada yang mengantar, konsumsi makanan tinggi lemak dan garam, dan tidak rutin olahraga.
Perilaku yang diharapkan kontrol tensi dan berobat teratur, minum obat teratur sesuai anjuran dokter, datang ke puskesmas keliling, tetap berobat secara mandiri ke puskesmas keliling atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, mengkonsumsi makanan rendah lemak dan garam, serta melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari.
Motivasi yang dilakukan agar minum obat teratur agar tekanan darah terkontrol untuk mencegah komplikasi, minum obat sesuai anjuran dokter, adanya puskesmas keliling atau Fasyankes untuk mendapatkan akses pelayanan, pelayanan konsumsi gizi seimbang, melancarkan aliran darah sehingga mampu mengendalikan tekanan darah.
Hambatannya tidak merasakan gejala atau sakit, kurang motivasi, sibuk, tidak ada kendaraan, tingkat kemandirian lansia kurang, kurang pengetahuan faktor ekonomi, sosial budaya, serta kesibukan dan malas gerak.
Upaya yang dilakukan dengan mengajak ke posbindu, melakukan cek tensi untuk mencegah komplikasi.
Saluran komunikasi yang digunakan dengan cek kesehatan, penyuluhan, konseling, GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), CERDIK (Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres), dan aktivitas fisik. Adapun jenis media yang digunakan leaflet, buku kunjungan, posbindu, KMS PTM (Kartu Menuju Sehat Penyakit Tidak Menular), tensimeter, dan gambar Isi Piringku.
Adapun Umi Khasanah sebagai penanggungjawab PIS PK dan KPP menjelaskan bahwa penyusunan strategi komunikasi perubahan perilaku Pemberdayaan Keluarga dengan sasaran anggota keluarga yang menderita hipertensi agar melakukan pemeriksaan secara rutin dan minum obat teratur dibantu konseling dan media leaflet, tensimeter, dan gambar.
“Selain itu dengan penguatan dan pembentukan posbindu masyarakat agar penderita lebih dekat untuk melakukan cek tekanan darah secara rutin dan pelayanan kesehatan yang lebih baik,” jelasnya.(Endarwati/KIM Donoharjo)