Nuning Suryatiningsih, Pejuang Difabel yang Sukses Berprestasi

Pulang sekolah itu hari begitu panas. Nuning, seorang gadis kecil berjalan dengan tongkatnya karena kaki kirinya terkena polio sejak bayi. Sesampai di rumah dirinya segera duduk di sudut rumah sambil menangis.

Ayahnya yang merupakan guru di sebuah sekolah dasar segera mendekatinya, menanyakan penyebab kesedihannya. Nuning yang masih kecil ketika itu mengungkapkan bahwa dirinya selalu tersisih karena tidak bisa bermain dengan teman-temannya. Ketika itu ayahnya menyemangati bahwa dirinya pasti bisa melakukan apa yang bisa dilakukan teman-temannya. Ayahnya terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa perbedaan dirinya dengan teman lainnya hanyalah kaki kirinya sementara kaki kanan, tangan, dan semua hal lainnya dirinya pun memiliki.

“Kamu pasti bisa!”. Kata-kata itulah yang selalu diyakinkan ayahnya terhadap dirinya. Ayahnya tak kenal lelah dan menyerah untuk mendorong dan memberikan semangat kepada putrinya. Hal tersebut yang selalu membuat dirinya merasa berbesar hati.

Reaksi teman, saudara dan lingkungan sekitar juga banyak yang menyarankan agar Nuning disekolahkan di Sekolah Luar Biasa. Namun ayahnya tidak mengikuti anjuran itu. Dia yakin bahwa anaknya memiliki potensi, kemampuan, dan kecerdasan yang sama dengan anak-anak lainnya. Jenjang pendidikan yang dilalui sejak sekolah dasar tidak melalui sekolah khusus. Sejak kecil sudah dibiasakan bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di lingkungan tempat tinggalnya sehingga Nuning bisa berkembang dan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Alhasil, Nuning selalu masuk di sekolah umum dan menamatkan sekolah di SD N Jambon I Trihanggo Gamping Sleman, SMP N 7 Yogyakarta, SMA N 4 Yogyakarta, dan Fakultas Hukum UII.

Apa yang dijalaninya itu bukan tanpa tantangan. Ketika kecil, teman-temannya tidak memanggil dirinya dengan panggilan namanya tapi dengan sebutan atas kekurangan dirinya. Setiap kali hal tersebut disampaikan kepada ayahnya, ayahnya menyuruhnya untuk tidak menghiraukannya. “Justru kamu harus memacu diri dan tunjukkan bahwa dirimu jauh lebih baik dan lebih berprestasi daripada mereka yang telah menyebutmu demikian,” kata ayahnya yang membuat Nuning termotivasi.

Dukungan keluarga terutama ayahnya tersebut yang menjadikan perempuan yang lahir di Yogyakarta 13 Mei 1962 tersebut sukses di berbagai bidang pekerjaan yang digelutinya. Catatan karisnya dimulai dari tahun 1990 sampai 1994 sebagai Asisten Peneliti pada Pusat Penelitian Pembangunan Pedesaan dan Kawasan (P3PK) – UGM, tahun 1994 sampai 1997 bekerja di PPRBM YPAC ( Pusat Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat Yayasan pembinaan anak cacat) Pusat di Surakarta, tahun 1997 sampai 2002 bekerja di PKPEK (Perkumpulan untuk Kajian dan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan), tahun 2003 sampai 2013 sebagai Anggota KPU (Komisi Pemilihan Umum) Kabupaten Sleman, tahun 2003-2019 sebagai direktur CIQAL dan tahun 2019 sampai sekarang sebagai Ketua Yayasan CIQAL (Center for Improving Qualified Activity in Live of people with disabilities), dan aktif bergabung di OHANA (Organisasi Harapan Nusantara).

Selain itu, sejumlah penghargaan juga pernah diperoleh di antaranya sebagai Inisiator Pemilu Aksesibel dari KPU Pusat pada tahun 2014, Pengelola LKS tingkat nasional pada tahun 2011, Gender Champion pada tahun 2014 dan tahun 2019. Nuning juga pernah menjadi delegasi Indonesia di New York, sebagai fasilitator dan pembicara di berbagai training yang diselenggarakan OHANA, COQAL, maupun lembaga lain.

Menurut Nuning, agar penyandang disabilitas bisa setara, bisa mengikuti proses kehidupan yang sama seperti yang lain, sangat besar peran orang tua dan keluarga. Selain itu juga penting peran masyarakat maupun pemerintah.

Menurutnya, semua orang itu memiliki potensi, hanya masalah keragaman yang berbeda. Mereka juga membutuhkan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak yang sama. Mereka bisa dimaksimalkan sejak dini jika sejak awal mereka sudah mendapatkan support dari keluarga karena interaksi yang pertama ada di keluarga.

“Padahal salah besar karena jika selalu dibantu justru bisa menimbulkan ketergantungan. Penyandang Disabilitas termasuk keberagaman manusia yang tidak harus dilihat kondisi fisiknya. Dukungan seharusnya dilihat setiap kasus yang berbeda. Jadi, meski difabel berat sekalipun, jika diajari tentang kebiasaan, hal tersebut bisa dibiasakan dan bisa mendorong untuk menjadi mandiri,” jelasnya, Rabu (2/12/2020).

Menurut Nuning, masyarakat juga memiliki peran yang sangat besar untuk mendorong agar penyandang difabel diberdayakan sesuai dengan tingkat kedifabelannya.

“Jadi masyarakat juga harus peduli, turut memantau dan mendorong kelurga yang memiliki penyandang difabel agar memperlakukan penyandang difabel sesuai harkat dan martabat manusia. Yang sangat penting juga, masyarakat jangan justru membully penyandang difabel. Anak anak diajari untuk menghargai sesama termasuk penyandang difabel, tumbuhkan empati dan belas kasih terhadap penyandang difabel yang ada di sekitar mereka,” imbuhnya.

Tentang peran negara, Nuning menjelaskan bahwa sekarang Indonesia sudah meratifikasi konvensi hak-hak disabilitas. Itu artinya Indonesia punya kewajiban untuk membuat laporan setiap 4 tahun sekali ke PBB.

“Seharusnya semua dinas sensitif terhadap disabilitas. Seharusnya semua dinas memiliki program yang mainstream (mengarusutamakan) difabel agar penyandang difabel juga memiliki kesetaraan dan harkat dan martabat yang sama sebagai manusia pada umumnya,” jelasnya menutup pembicaraan. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Cerdas dan Bijak Mengonsumsi Obat

Puskesmas 2 Ngaglik mensosialisasikan tentang gerakan masyarakat cerdas menggunakan obat (Germa Cermat) yang merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Rabu (2/12/20) di Donoharjo.

Dalam acara yang dihadiri oleh Bambang, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Ngaglik, Kamituwo, Dukuh, PKK, Babinsa dan Kamtibmas Donoharjo itu, Rismadasari, Apoteker Puskesmas 2 Ngaglik memberikan pesan kepada masyarakat bahwa ketika mendapatkan obat diminta menanyakan dengan lima O.

“Yang pertama obat ini apa nama dan kandungannya, yang kedua obat ini apa khasiatnya, ketiga obat ini berapa dosisnya, yang keempat bagaimana cara menggunakannya, dan yang kelima obat ini apa efek sampingnya,” beber Risma.

Risma juga menyampaikan tentang Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) terhadap obat yang kita terima.

Dapatkan obat dengan benar menurut Risma adalah dengan membeli obat dari apotek terpercaya atau puskesmas. Sementara, menggunakan obat dengan benar dimulai dengan membaca aturan pakai dan mengonsumsinya sesuai petunjuk.

Menyimpan obat pun dikatakannya perlu di tempat sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung. Obat bentuk cair tidak boleh disimpan di almari pendingin. Simpan dalam kemasan aslinya dalam wadah yang tertutup rapat.

“Obat luar dan obat minum harus disimpan terpisah. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Penyimpanannya kadang disepelekan. Misal sirup, disimpan di kulkas. Padahal jika tak ada petunjuk disimpan di kulkas, kandungannya malah bisa rusak. Sirup setelah dibuka, disimpan maksimal 1 bulan di suhu ruangan,” jelasnya lagi.

Ditambahkan Risma, obat juga harus dibuang jika sudah expired atau rusak. Ciri-ciri obat rusak jika telah lewat tanggal kadaluarsanya dan telah berubah warna, bau, dan rasanya.

“Membuang obat juga ada aturannya. untuk obat sirup, cairannya dibuang dulu. Labelnya dihilangkan baru dibuang dalam bentuk botol saja. Jika berupa tablet, dibuka, dan ditumbuk atau dihancurkan baru dipendam dan kemasannya bisa dibuang agar tidak disalahgunakan. Untuk salep diencerkan baru dibuang,” imbuh Risma. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Lukis Genthong Tutup Rangkaian Kenduri Banyu Udan Ke-5 Tempursari

Lomba melukis genthong dengan tema Cita Mas Jajar menutup rangkaian kegiatan Kenduri Banyu Udan ke 5 yang diselenggarakan oleh Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening yang terletak di Padukuhan Tempursari, Sardonoharjo, Sleman, Minggu (29/11/2020).

Sebelum kompetisi dimulai Lurah Sardonoharjo, Herjuno Wiwoho menyampaikan rasa syukurnya dengan adanya acara kenduri banyu udan yang ditutup dengan lomba melukis di media genthong tempat penyimpan air tradisional. Dirinya sekaligus bangga lantaran ada komunitas warga di wilayahnya yang mendirikan sekolah air hujan sebagai tempat belajar mengelola air hujan supaya lebih bermanfaat.

Kenduri banyu udan dihadiri oleh Pembina Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang juga menjabat Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Kesiapsiagaan Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pangarso Suryotomo, serta Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih.

Dalam kesempatan ini Sri Wahyuni berharap agar masyarakat Kabupaten Sleman pada umumnya memiliki kesadaran yang tinggi dalam menjaga kelestarian alam. Tujuannya supaya kondisi air di wilayah Kabupaten Sleman baik kuantitas dan kualitasnya tetap terjaga untuk keperluan sehari-hari masyarakat.

“jika kita sebagai manusia bisa bersahabat dengan alam sekitar, maka secara otomatis alam semesta akan memberikan banyak manfaat kepada manusia. Di Sekolah Air Hujan Banyu Bening masyarakat bisa belajar bagaimana mengubah air hujan menjadi layak sebagai air minum dan memasak,” tutur Yu Ning panggilan akrabnya.

Yu Ning menambahkan, dengan adanya kompetisi melukis genthong ini sebagai sarana memasyarakatkan media penampung air tradional yang sudah digunakan oleh nenek moyang dengan kearifan budayanya. Adapun hasil karya lomba berupa genthong yang sudah dilukis akan dibagikan kepada warga masyarakat di Tempursari sebagai penampungan air hujan.

Prosesi kenduri banyu udan ke 5 tahun 2020 diakhiri dengan penyerahan trophy kejuaraan dan uang pembinaan bagi pemenang lomba lukis genthong yang diberikan kepada Ari Wahyudin (Juara I) pelajar Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Kasihan Bantul, Azzahra Salsabila (Juara II) Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Depok Sleman, Muryanto (Juara III) masyarakat pegiat seni, Febi Oni Rinjani (Juara Harapan I) pelajar SMSR, serta Anfonioli Widodo (Juara Harapan II) pelajar SMSR.

Selanjutnya, lima genthong peraih kejuaraan dijadikan sebagai bukti dan disimpan di Museum Sekolah Air Hujan Banyu Bening sebagai kesan untuk memberi arti kesadaran kembali ke kearifan lokal dan budaya leluhur bangsa Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Posgab Sebagai Wahana Peningkatan Kapasitas

Di pos gabungan ini terdapat banyak komponen dan keterwakilan dengan berbagai kemampuan. Mari gunakan cara pandang bahwa kegiatan ini tidak semata sebagai tugas, wahana berkumpul dan mobilisasi, tapi manfaatkan sebagai sebagai sarana untuk saling sharing dan meningkatkan kapasitas diri. Demikian pesan yang disampaikan Yoga, Ketua FKKRS (Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman) dalam acara rapat evaluasi Posko Gabungan Merapi 2020 Donoharjo, Sabtu (28/11/2020) di Aula Balai Kalurahan Donoharjo.

Hadir dalam acara evaluasi tersebut sukarelawan yang tergabung dalam Komunitas Lowo, Rajawali, Destana, Relado, dan Konco Breaker Donoharjo.

Agus sebagai Ketua Rajawali dan Ketua Destana menyampaikan evaluasi piket yang sejak berdiri terbilang cukup lancar meski harus diatur segala sesuatunya dengan keluarga masing-masing.

“Intinya, harus ada sedikit perubahan. Untuk teman-teman yang ada pekerjaan siang, usahakan ada jadwal di malam hari. Karena berharap posko tidak sepi jika ada yang datang misal untuk mendapatkan informasi update kondisi Merapi. Juga sebagai bentuk tanggungjawab tentang informasi terkini kepada masyarakat luas,” jelasnya.

Sementara itu, Bento, Ketua Relawan Lowo mengatakan bahwa kita tidak tahu kapan Merapi erupsi, namun karena sudah membuat posgab, maka perlu mencoba membuat skenario penyelamatan.

Skenario yang pertama, dituturkan Bento ada tim yang akan berkoordinasi tentang pergeseran pengungsi. Kedua akan ada gabungan relawan lain yang akan menempati shelter kita.

“Satu dua relawan akan ada yang membantu atau singgah di posgab,” ujarnya.

Ketiga, pada status awas radius km 10 harus disterilkan minimal untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Dalam hal ini akan dibutuhkan sebuah tim operasi lapangan.

“Kita harapkan malam ini bisa dibentuk tim serbaguna untuk pengungsi maupun evakuasi akibat wedus gembel maupun erupsi. Satu tim 25 orang dulu, ada dalam satu komando. Di pos sudah ada ambulans, dua pick up yang membuka jalan menggunakan roda dua. Ada satu motor trail dari Mbah Lotung yang akan ada di posisi depan dan akan datang satu motor trail lagi. 25 orang tersebut siap dengan status awas,” imbuhnya.

Adapun Destana tambah Bento membantu koordinasi dengan pemerintah, masyarakat dan juga pengungsi.

“Ada empat SD yang harus dipersiapkan. Sedangkan untuk rescue dibutuhkan relawan dengan kemampuan khusus,” jelas Bento lagi.

Yoga menambahkan bahwa akan dipersiapkan skenario penanganan sampai ke skenario terburuk, seperti saat tengah malam, hujan deras, listrik mati di mana hal tersebut akan menjadi kajian tersendiri dari BMKG. Pun, akan dikaji pula dalam membuat perencanaan bagi Tim, apakah Erupsi Merapi bersifat explosif, abu vulkanik, atau disertai hujan.

Yoga juga menjelaskan bahwa untuk pos utama di Pakem sudah ada 40 komunitas yang menyatakan siap membantu sementara komunitas dari luar masih ditahan, belum diizinkan masuk. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Bimtek dan Simulasi Aplikasi Sirekap Mobile Bagi Petugas KPPS

Guna mempersiapkan penghitungan dan rekapitulasi perolehan suara di masing-masing Tempat Pemungutan Suara (TPS) maka Panitia Pemungutan Suara (PPS) Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman menggelar kegiatan bimbingan teknis dan simulasi terkait penggunaan aplikasi Sistem Informasi Rekapitulasi (SiRekap) bagi petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di wilayah Kalurahan Trihanggo yang dilaksanakan di Aula Kantor Lurah Trihanggo, Senin (30/11/2020).

Kegiatan dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 terutama pengaturan jarak serta jumlah peserta yang diikuti oleh petugas KPPS-1 (Ketua), KPPS-2 (Operator Sirekap Mobile), dan KPPS4 (Penulis Plano C-Hasil KWK) berasal dari TPS 1 hingga TPS 35 tersebar di 12 Padukuhan se-Kalurahan Trihanggo.

Bimbingan teknis simulasi Sirekap dipimpin oleh Ketua PPS Trihanggo, Ani Kurniani dengan dibantu anggota PPS Divisi Data Informasi, Bayu Okke Ramadhan dan anggota PPS Divisi Sumberdaya Manusia, Mahardhika Rifki serta dimonitoring langsung oleh Ketua PPK Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo selaku Koordinator Wilayah Kalurahan Trihanggo.

Dalam paparan materinya Ketua PPS Trihanggo, Ani Kurniani mengungkapkan bahwa Sirekap merupakan perangkat aplikasi berbasis teknologi informasi dan berfungsi sebagai sarana publikasi hasil penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara, serta alat bantu di pelaksanaan rekapitulasi hasil penghitungan suara pemilihan.

Hal senada disampaikan oleh anggota PPS Trihanggo Divisi Data dan Informasi, Bayu Okke bahwa Sirekap yang dipakai sebagai sarana publikasi hasil pemilihan dan alat bantu dalam pelaksanaan rekapitulasi suara Pilkada Serentak 2020 ada dua jenis yakni Sirekap Mobile dan Sirekap Web yang telah dipersiapkan oleh KPU RI dalam setahun terakhir.

Berdasarkan arahan dari KPU RI melalui KPU Kabupaten Sleman, Ketua PPK Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo menambahkan tentang gambaran umum proses pengisian data hasil pemungutan suara untuk e-rekap Pilkada 2020 melalui aplikasi Sirekap yakni Petugas KPPS memotret formulir C-Hasil KWK menggunakan smartphone berbasis android. Kemudian hasil foto C-Hasil KWK dikirim via aplikasi Sirekap dan hasil foto diterjemahkan oleh sistem Sirekap.

“Aplikasi Sirekap hanya sebagai alat publikasi hasil pemungutan suara dalam Pilkada Serentak tahun 2020, dan merupakan alat bantu bagi badan adhoc pemilihan, namun proses rekapitulasi hasil suara tetap dilakukan secara manual dan bernjenjang untuk penentuan pemenang pemilihan,” terang Adnan.

Lebih lanjut Adnan menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan Sirekap dapat mengubah objek tulisan angka dan tanda di gambar menjadi karakter angka yang dikirim ke smartphone saksi dan pengawas TPS untuk dikoreksi dan disetujui pengawas TPS dan saksi pasangan calon bupati. Kemudian hasil e-rekap tersebut dikirim ke Panitia Pemilihan Kecamatan untuk digunakan sebagai bahan rekapitulasi di tingkat kapanewon menggunakan aplikasi Sirekap berbasis web. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)