Pemuda Muhammadiyah Sleman Tebar Ribuan Benih Nila di Pakem

Minggu (8/3/2020) di Padukuhan Purworejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman diadakan kegiatan tebar ribuan benih nila di beberapa kolam milik warga setempat. Menurut Kepala Dukuh Purworejo, Eko Nugroho Muhammad, agenda ini merupakan kerjasama pihaknya dengan program Tebar Bibit Ikan Perdana sebagai Program Pemberdayaan Umat Bidang Pemberdayaan Perikanan dan Pertanian Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Sleman.

Sementara Eko Sumardiyanto Ketua PDPM Sleman mengatakan Pemuda
Muhammadiyah Sleman mencoba berkontribusi bagi upaya pemberdayaan ekonomi kader
dan keumatan.

“Sebagai sebuah organisasi kepemudaan dengan potensi
kader dan jejaring yang ada khususnya di tingkat desa dan kecamatan yang cukup
banyak hendaknya bisa menjadi motor penggerak secara kolektif dalam sebuah
gerakan pemberdayaan ekonomi keumatan. Hal ini diawali dengan penebaran benih nila
untuk mengembangkan jaring ekonomi perikanan yang sangat potensial di
Pakem,” tegas Eko.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula Ketua Pimpinan wilayah
Pemuda Muhammadiyah Yogyakarta, Anton Nugroho beserta rombongan didampingi
jajaran Sleman Pemuda Muhammadiyah Sleman, Arif Hakim selaku sekretaris, Aat
selaku bendahara, Ahmad S Sinatra, Amin Darojat, Abdurrahman Darojat,
Parijoabuzayan, Mbah Kasur, dan Sarjiyanto. (Arief Hartanto)




KPPS Kebur Kidul Sosialisasikan E-Voting Secara Mandiri

Kelompok
Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pilkades Padukuhan Kebur Kidul melakukan
sosialisasi secara mandiri untuk Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) secara e-voting
kepada warga Padukuhan Kebur Kidul, Jumat (06/03/2020) di Masjid Istiqlal
Padukuhan Kebur Kidul, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan.

Wibowo
Budi Susanto selaku Ketua KPPS Dusun Kebur Kidul menyampaikan sosialisasi
mandiri ini dilakukan karena masih banyak warga yang belum mengetahui tentang e-voting
terutama warga lanjut usia.

“Sosialisasi
dilakukan dengan memutar video simulasi penggunaan e-voting yang diperoleh saat
mendapat bimbingan teknis KPPS yang dilaksanakan oleh Desa Argomulyo dari Dinas
PMD Sleman. Diharapkan agar warga yang belum mengetahui e-voting menjadi paham,”
jelas Wibowo.

Disampaikan
oleh Wibowo kepada warga bahwa tanggal 29 Maret 2020 nanti ketika Pilkades
berlangsung untuk membawa undangan saat ke TPS.

“Cek
undangan yang dibawa atas nama pemilih atau tidak tertukar oleh anggota keluaga
yang lain dan apabila ada warga yang memiliki hak pilih namun masih bingung
dalam menggunakan alat e-voting dapat didampingi terutama oleh keluarga pemilih
dengan mengisi surat pernyataan yang sudah disiapkan,” bebernya.

Pendamping
dikatakan Wibowo diutamakan keluarga agar menghindari prasangka buruk terhadap
KPPS.

“Apabila
ada pemilih yang kehilangan undangan atau sudah lebih dari 6 bulan menjadi
warga Kebur Kidul dan sudah ber e-KTP namun tidak masuk dalam Daftar Pemilih
Tetap (DPT) maka masih dapat menggunakan hak pilih dengan menunjukkan identitas
yaitu e-KTP dan dilayani setelah pukul WIB,” lanjutnya.

Miskad
selaku angota KPPS menambahkan bahwa Pilkades ini adalah momen terbaik untuk
menguji pendewasaan diri warga untuk terus menjaga kerukunan dan tenggang rasa meski
ada perbedaan pilihan.

“Karena
dalam setiap pemilihan apapun baik Pilkades, Pilkada, Pemilu tidak akan luput
dari perbedaan pilihan dari setiap warga. Beda pilihan namun tetap seduluran
(bersaudarared),” ungkapnya. (KIM Cangkringan/Marmansyah)




Langen Dolanan Cilik Lebur Modernisasi dan Tradisi

Sleman- Dengan persiapan latihan hanya 2 hari, pertunjukkan seni Langen Dolanan Cilik dari Sanggar Kembang Sakura ini berhasil tampil sukses dan memukau di acara Sleman Gumyak, Jumat (6/3/2020).

Seni Langen Dolanan Cilik yang ditampilkan bercerita tentang cerita beserta tarian tradisional anak-anak dan nini-nini yang dikombinasikan modern dengan tiktok yang sedang populer sekarang ini.

Pertunjukkan Langen Dolanan Cilik dibuat hanya untuk tampil memeriahkan acara dalam Sleman Gumyak ini, pemain yang tampil semuanya merupakan anggota Sanggar Kembang Sakura dari Dusun Mesan Baru, Sinduadi, Mlati, Sleman.

“Jadi kita latihan itu hanya 2 kali karena di sanggar kita itu hanya mengajarkan tarian kreasi sama tarian tradisi, dan ini kita buat khusus untuk acara Sleman Gumyak ini,” ungkap Dewi Listianingrum selaku Pimpinan Sanggar Kembang Sakura saat ditemui di sela penampilan penari sanggarnya.

Dikatakan Dewi, menariknya seni ini adalah tetap memperkuat tradisi tanpa meninggalkannya.

“Walaupun nantinya ada modernisasi. Tetapi namanya tradisi ya tetap harus dilestarikan,” jelasnya.

Langen Dolanan Cilik ini menjadi pengalaman baru dan menyenangkan tersendiri bagi para pemain yang tergabung di dalam cerita dan tarian ini.

“Seru, senang saja, bangga bisa kepilih buat menghibur masyarakat,” ungkap dua pemain Langen Dolanan cilik, Aprilia dan Keysa. (Rep Aldi)




Tari Trengganon, Tarian Salawat Berlatar Belakang Islam

Sleman- Tari Trengganon menjadi salah satu kesenian yang tampil dalam acara Sleman Gumyak Jumat (6/3/2020) di Wisdom Park UGM.

Tari Trengganon termasuk dari kesenian tarian rakyat yang sudah tua. Tari Trengganon ini bisa disebut juga tarian turun temurun dari nenek moyang yang sampai saat ini masih hidup walaupun sudah jarang sekali ditemui. Demikian dikatakan Sayadi, Pembina Tari Trengganon Al-Fatah, usai kelompoknya pentas.

Dijelaskan Sayadi, tarian ini termasuk kesenian atau tarian rakyat dengan jenis tarian salawatan berlatar belakang Islam. Kesenian tari yang berdiri sejak tahun 1980 ini hanya tinggal satu yang masih aktif dan berkembang hingga saat ini, yakni di Desa Parakan Wetan, Sendangsari, Minggir, Sleman.

“Sejarah terian ini dulunya berasal dari Malaysia yang bernama Tarangganu,” tukas Sayadi.

Menurut Sayadi, Tari Trengganon ini memiliki keunikan tersendiri misalnya dari pakaian dan gerakannya.

“Pakaian yang digunakan merupakan perpaduan antara pakaian Melayu dan kain tradisional Jawa, sedangkan gerakannya seperti gerakan silat Melayu. Diiringi oleh lagu dan alat musik tradisional bedug dan rebana yang dibawakan oleh orang-orang tua. Lagu-lagu yang dinyanyikan juga beragam yakni salawat dan lagu daerah Melayu,” ujar Suyadi.

Sayadi mengatakan bahwa pihaknya berupaya terus melestarikan Tari Trengganon tersebut dengan merintis anak-anak yang masih kecil untuk dijadikan penari.

“Agar tidak punah dan masih tetap ada di Indonesia khususnya di Sleman,” kayanya mantab.

Gayung bersambut Egis Firmansyah, salah satu penari mengaku bahwa dirinya mulai belajar tarian tersebut sejak umur 8 tahun.

“Saya sangat senang bisa belajar Tarian Trengganon ini, yang mungkin tidak semua orang bisa memainkan tarian tersebut,” ucapnya dengan bangga. (Rep Septian)




Hidupkan Kamling Deteksi Dini Tindak Kejahatan

Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Sleman dan Polres
Sleman menggelar Pembinaan Keamanan Lingkungan (Kamling), Rabu (4/3/2020)
bertempat di Gardu Ronda Padukuhan Kebur Lor, Argomulyo, Cangkringan.

Edi Wibowo selaku Sekretaris Kecamatan Cangkringan dalam
sambutannya menyampaikan bahwa Kecamatan Cangkringan mempunyai keunikan
dibandingkan dengan kecamatan lain di Kabupaten Sleman.

“Paling luas wilayahnya, jumlah penduduk terkecil, tidak ada
lampu merah, tidak ada pom bensin, serta mempunyai Gunung Merapi,” jelas Edi.

Dari keunikan tersebut menurut Edi lalu lintas di wilayah Cangkringan
semestinya lancar akan tetapi karena banyaknya armada truk yang melintas di
Cangkringan berakibat kurang nyamannya jalur transportasi. Oleh karena itu,
dikatakan Edi mengaktifkan Kamling akan memiliki dampak positif bagi masyarakat
Cangkringan. Pun, kata Edi dengan diaktifkan Kamling, masyarakat dapat mengetahui
sedini mungkin dari bahaya yang timbul apabila terjadi erupsi Merapi.

Kasat Binmas Polres Sleman, AKP Ani Sulistyarini menambahkan
bahwa dengan aktifnya Kamling dapat berfungsi sebagai ajang silaturahmi.

“Bisa menyelesaikan masalah serta dapat memberikan rasa aman
kepada masyarakat, bahkan mencegah dan deteksi dini tindak kejahatan,” tandas
Ani.

Pembinaan Kamling diakhiri dengan praktik
pemukulan kentongan sebagai alat untuk mengetahui tindak kejahatan yang terjadi
oleh Ipda Rohmadi. (KIM Cangkringan/Mujiyanta)