Kerajinan Replika Anggrek sebagai Media Edukasi

Sleman – Sejak
Agustus 2019, Anton telah menggeluti seni kerajinan replika anggrek berbentuk
bros. Kerajinan replika anggreknya ini mengangkat tema edukasi.
“Awalnya
sebagai media edukasi untuk memperkenalkan bahwa Indonesia ini tenyata punya
banyak jenis tanaman anggrek dari Sabang sampai Merauke,” kata Anton saat
ditemui di Kopi Merapi Cangkringan, Kamis (20/02/2020).
Anton bersama dua
karyawannya memanfaatkan daun mahoni dari sekitaran lereng Merapi dan juga
tepung maizena untuk diubah menjadi karya seni yang bernilai. “Ini dari daun mahoni
di sekitaran sini dan tepung maizena dicampur lem,” ujar Anton.
Anton
mengungkapkan bahwa untuk membuat satu bros membutuhkan waktu 4 sampai 5 hari.
“Daun mahoninya dikeringkan dulu, tepung dibentuk menyerupai jenis anggrek
terus diwarnai dan dikeringkan lagi. Untuk proses pengeringan kita tidak pakai
pengering, kita pakai sinar matahari jadi bisa 4-5 hari baru jadi kalau hujan
bisa lebih lama lagi,” jelas Anton.
Mengandalkan matahari sebagai sumber pengering utama juga mempengaruhi harga pasaran produk Anton. “Ini harga satuannya 20 ribu rupiah karena kita tidak pakai hairdryer (alat pengering rambut-red) jadi mengeringkannya langsung dari matahari biar tidak pecah daunnya dan motif anggreknya, kalau hujan tidak bisa dikeringkan, harus tunggu panas lagi,” pungkasnya.
Meski
demikian, peluang menggunakan teknologi dan tidak bergantung matahari tengah
dipikirkan Anton ke depannya. Ia mengatakan akan berinovasi untuk terus
mengembangkan produknya. (Rep Naci)



