Pengurus PWRI Gamping Periode 2020-2024 Resmi Dilantik

Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Sleman resmi melantik Pengurus PWRI Kecamatan Gamping masa bakti 2020-2024, Selasa (14/1/2020). Prosesi pelantikan digelar di Ruang Rapat Lantai II Kantor Camat Gamping disaksikan oleh Sekretaris Kecamatan Gamping, Trisno Sunardi, Kepala Desa Ambarketawang, Sumaryanto, Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Gamping, Eko Relawati, serta Sekretaris PWRI Kabupaten Sleman, E. Maridjo.

Adapun susunan lengkap kepengurusan PWRI Kecamatan Gamping terpilih, antara lain R. Sukaryono (Ketua), Nardiyah (Wakil Ketua), Suwahyo (Sekretaris I), Ngatijan K.S (Sekretaris II), Sri Haruti (Bendahara), Sumilah (Bendahara II), Tujo Subroto (Seksi Sosial), Sukarni (Seksi Usaha I), serta Sri Sudarwanti (Seksi Usaha II).

Dalam sambutannya, Ketua PWRI Kabupaten Sleman, Fx. Soewarno menyampaikan beberapa hal terkait keorganisasian PWRI. Menurutnya, organisasi yang beranggotakan pensiunan pegawai negeri sipil, pensiunan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pensiunan pejabat negara, serta mantan kepala dan perangkat desa ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup anggota wredatama dan keluarganya.

“Jalannya roda organisasi tergantung keaktifan dan sumbangsih para anggotanya. Dalam menjalankan organisasi tidak lepas dari iuran rutin, baik iuran wajib maupun iuran sukarela. Kegiatan untuk mengumpulkan para anggota yang paling mudah dengan mengadakan kegiatan arisan. Dengan adanya arisan rutin, pengurus dan anggota PWRI dapat bersilaturahmi untuk merancang kegiatan lain demi memajukan organisasi,” tutur Soewarno.

Acara pelantikan ditutup dengan memanjatkan doa kepada Sang Khalik yang dipimpin oleh perwakilan dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Gamping, memohon agar dalam menjalankan organisasi PWRI diberi kelancaran dan dapat mewujudkan tujuan organisasi yang sudah ditetapkan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




FKIM Sembada Bentuk Koperasi Guna Kelangsungan Organisasi

Rapat Koordinasi (Rakor) perdana tahun 2020 dilakukan Forum Kelompok Informasi Masyarakat (FKIM) Kabupaten Sleman guna membahas program kerja satu tahun ke depan. Acara yang digelar di Waroeng Belik, Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman ini dihadiri oleh 18 orang pengurus yang merupakan pegiat informasi dari 17 kecamatan, Sabtu (11/1/2020).

Rakor yang dipimpin Ketua FKIM Sembada, H. Suripto, dan dipandu oleh Sekretaris, Adnan Iman Nurtjahjo membicarakan pembentukan koperasi, audiensi dengan Bupati Sleman, beberapa instansi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman, pemerintah kecamatan, dan pemerintah desa, serta pengadaan kantor sekretariat guna menunjang kegiatan diseminasi informasi, pun kegiatan di bidang perekonomian.

Sesuai dengan hasil musyawarah mufakat pengurus ditetapkan kepengurusan Koperasi FKIM Sembada periode 2020-2024 sebagai berikut : Ketua I (Agus Prasetyo), Ketua II (Umarjaka), Sekretaris I (Lena Lailasari Girsang), Sekretaris II (Asmarani Fauziah), Bendahara I (Dewi Sulastri), dan Bendahara II (Upik Wahyuni).

“Kita perlu membentuk sebuah badan usaha guna kelangsungan organisasi Kelompok Informasi Masyarakat, bentuk yang cocok adalah koperasi. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari koperasi yang akan kita bentuk, yakni meningkatkan kesejahteraan anggota dan kemakmuran masyarakat, bukan mengejar keuntungan pribadi, menyediakan kebutuhan para anggota, serta mempermudah para anggota untuk memperoleh modal usaha,” ungkap H. Suripto di hadapan peserta rakor.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua KIM Kertomandiri, H. Suharno bahwa koperasi merupakan dasar untuk memperkokoh perekonomian rakyat. Menurut pengalamannya dalam membentuk Koperasi Kertomandiri di Kecamatan Turi, bentuk koperasi yang paling mudah dijalankan adalah usaha simpan pinjam karena persyaratan yang harus dipenuhi lebih mudah.

“Jika kita langsung membentuk koperasi usaha perdagangan sembako, harus tersedia gudang untuk menyimpan sembako. Lebih baik mengawali usaha koperasi dengan simpan pinjam terlebih dulu. Jika berjalan dengan baik dan dapat dirasakan manfaatnya oleh para anggota, bisa dikembangkan untuk usaha produktif lain,” tambah H. Suharno. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kec Gamping)




Mitigasi, Bukan Cegah Bencana Tapi Tanggulangi Jatuhnya Korban

Pakem
– Minggu (12/01/2020) malam, merupakan hari spesial untuk Kepala Desa
Pakembinangun, Suranto. Hari itu Suranto genap berusia 60 tahun. Perayaannya
pun boleh dibilang spesial karena menghadirkan doktor ahli gunung, yang dikenal
dengan nama Dr. Surono.

Dalam
jamuan presentasi yang bertajuk “Mitigasi tanpa Roti dan Dasi” ini, Dr Surono memaparkan
bahwa proses mitigasi bukan untuk mencegah terjadinya bencana alam karena
bencana alam adalah bencana yang sifatnya di luar kemampuan manusia. Pun, mitigasi
bukan hanya untuk meramalkan kedatangan bencana tetapi lebih kepada mengurangi
jatuhnya korban pada saat terjadi bencana alam.

“Kita
harus mengakui bahwa kita tinggal di ring of fire atau cincin api. Pasti
di sana juga banyak subduksi lempeng benua. Pasti banyak gempa dan letusan
gunung berapi. Kita kaya gunung berapi sehingga kita subur tanahnya. Kita tidak
bisa mencegah bencana, namun kita harus mampu menanggulangi supaya tidak ada
korban jiwa. Itulah mitigasi. Harus ada strong leader, one man one power,”
jabar Dr Surono di kediaman Kepala Desa Pakembinangun.

Mitigasi
dikatakannya juga harus disertai dengan penelitian yang mencakup ke segala
bidang, baik pemerintahan, geologi, kearifan lokal, dan teknologi. Para relawan
juga harus segera bergerak sebelum bencana terjadi tidak cukup hanya menolong
saat bencana terjadi.

“Karena
masyarakatlah subjeknya bukan para pejabat atau para ahli. Pejabat atau ahli,
apalagi yang baru, belum tentu dikenal oleh masyarakat, dan belum tentu pula
bisa bertindak langsung,” tambahnya.

Selain
itu, Dr Surono mengatakan dalam hal mitigasi ini diperlukan juga teknologi.
Teknologi mempermudah masyarakat untuk mendeteksi tanda-tanda akan datangnya
bencana.

“Namun
masalah kita, bagaimana bersosialisasi tentang bencana alam kepada masyarakat
yang tidak paham teknologi agar mereka selamat dari bencana alam itu,” papar pria
yang akrab dipanggil dengan nama ‘Mbah Rono’ ini.

Di
akhir pemaparannya, dirinya mengimbau masyarakat untuk mengenali ancaman
bencana dan bersiap agar dapat selamat dari bencana.

Acara
ditutup dengan pemotongan tumpeng dan kue ulang tahun oleh Suranto selaku Kepala
Desa Pakembinangun, ramah tamah, dan sekadar pengenalan kopi karya inovasi dari
putra Pakembinangun, yaitu Kopi Ceplik dan Kopi Beras Hitam. (KIM
Pakembinangun/Asrori Wardan)




Ribuan Massa Rayakan Hari Jadi Muhammadiyah ke-107

Hari
jadi ke-107 Muhammadiyah berlangsung meriah dihadiri oleh 3 ribu peserta, Minggu
(12/1/2020) bertempat di Lapangan Lumburejo, Tempel.

Acara
dikemas dalam bentuk Pawai Ta’aruf dan Gelar Pentas Seni. Ketua Panitia Bisron
Irfan menandaskan acara ini juga dimeriahkan dengan senam massal, donor darah,
pawai ta’aruf, pentas kesenian, serta pemeriksaan kesehatan dan pengobatan
gratis.

Wakil
Bupati Sleman, Sri Muslimatun dalam sambutannya mengucapkan selamat hari jadi Muhammadiyah
ke-107.

“Mewakili
Pemerintah Kabupaten Sleman kami sampaikan apresiasi atas kegiatan yang
melibatkan seluruh potensi dari warga Muhammadiyah, serta melibatkan potensi
lokal UMKM yang menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat,” tukas Sri Muslimatun. 

Dalam
kesempatan tersebut, Sri Muslimatun juga mengimbau para peserta yang hadir
untuk memberi perhatian kepada anak-anak di lingkungan sekitar. “Terkait peristiwa
aktual tertangkapnya oknum klitih yang terjadi di Sleman, mari kita berikan
perhatian lebih terhadap anak-anak di sekitar kita, anggaplah semua anak-anak
kita juga,” imbaunya.

Acara ini digelar sekaligus untuk menyongsong Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta pada tanggal 1 hingga 5 Juli mendatang. (Arief Hartanto)




Dukung Tumbuhnya Ekonomi Kreatif Wujudkan Masyarakat Makmur Sejahtera

Kabupaten Sleman kerap kali menjadi objek studi komparasi bagi kabupaten/kota lain di Indonesia. Senin (13/1/2020) ini giliran Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara yang hadir mengunjungi Kabupaten Sleman.

Dipimpin
Bupati Ir Soekirman, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai membawa 45 personel
dalam kunjungannya. Soekirman mengatakan
kedatangan pihaknya bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan urusan
pemerintahan umum Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Kami ini datang untuk
belajar karena dari segala apapun mulai dari umurnya, kekayaannya,
keteraturannya pasti Sleman lebih pengalaman,” tutur Soekirman saat
ditemui di Pendopo Parasamya, Kabupaten Sleman.

Soekirman bercerita
terjalinnya kerja sama dengan Kabupaten Sleman ini sebelumnya telah dilakukan
melalui penandatangan MoU terkait pemberdayaan wisata desa. “Dulu melalui Dinas
Pariwisata Serdang Bedagai kami belajar pariwisata di Sleman salah satunya di Kecamatan
Ngaglik tentang pengembangan homestay dan kini kami sudah memiliki dua homestay
yang juga telah mendapat perhatian dari Kementerian Desa bahkan rencananya
Menteri Desa akan hadir untuk melihat wisata tani yang ada di Serdang Bedagai,”
tutur pria yang secara pribadi telah mengenal Bupati Sleman, Sri Purnomo sejak
tahun 2008 ini.

Keterbukaan Kabupaten Sleman
sebagai tempat menimba ilmu daerah lain ini diapresiasi oleh Soekirman sehingga
pihaknya dapat menuai inspirasi dari pembangunan di Kabupaten Sleman. “Saya
berharap pertemuan ini bisa membangun networking dan melalui teknologi
informasi yang sudah canggih komunikasi bisa berlanjut mulai hari ini sampai
selama-lamanya, dan proses belajar ini juga bisa berlanjut sehingga bisa
menambah pengetahuan dan keterampilan dari kami,” ujarnya.

Harapan ini tentu disambut
baik oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo. Sri Purnomo menyampaikan bahwa pertemuan formal
ini hanyalah bentuk awal komunikasi antar dua kabupaten. “Kita di era teknologi
komunikasi, awalnya melalui pertemuan formal kemudian lewat grup untuk
berkomunikasi agar penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di dua
kabupaten ini dapat berjalan sukses,” sambung Sri Purnomo.

Dalam kunjungan kali ini,
tak lupa Sri Purnomo mengenalkan produk-produk asli Sleman kepada para tamu. “Sajian
merupakan hasil dari kebun petani Sleman, seperti kelengkeng, salak pondoh,
rambutan yang dipetik dari kebun rumah dinas jadi kami tidak beli dari luar,”
kelakarnya.

Selain produk hasil bumi Sleman,
Sri Purnomo juga mengenalkan produk olahan UMKM Sleman, seperti bakpia dan keripik
Salak. Produk-produk ini dikatakan Sri Purnomo dipasarkan guna mendukung desa
wisata di Sleman.

“Destinasi wisata di Sleman
pada tahun 2019 pengunjungnya melebihi target, kami awalnya mematok target 10
juta pengunjung dan ternyata di akhir tahun mencapai angka pengunjung,
beberapa desa wisata bahkan belum memberikan laporan pengunjung,” jabar Sri
Purnomo.

Prestasi ini diungkapkan Sri
Purnomo salah satunya karena Sleman membuat kalender event yang dipublikasikan
melalui surat kabar lokal dan media sosial. Selain itu, banyaknya pihak yang
terlibat juga digarisbawahi Sri Purnomo menjadi dukungan terhadap perkembangan
pariwisata di Sleman.

“Banyak yang terlibat dalam pengembangan ini menjadikan ekonomi kreatif bisa tumbuh bagus sehingga bisa membantu mengurangi jurang ekonomi masyarakat Sleman dan masyarakat pun lebih makmur sejahtera,” tukas Sri Purnomo.