Bentuk Karakter Pancasila di Kehidupan Sehari-hari

Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman melakukan evaluasi terhadap Pendampingan Desa Berkarakter Pancasila pada Kamis (28/1/2021). Bertempat di Gedung Pertemuan Kalurahan Margodadi, Seyegan, acara dihadiri langsung oleh Kepala Jawatan Keamanan Seyegan, Lurah Margodadi beserta perangkatnya, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Sleman, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMK), Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPK) Sendangmulyo, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Kepala Jawatan Keamanan Seyegan, Manurung dalam sambutannya menyampaikan bahwa ada beberapa lokasi di Kapanewon Seyegan yang dapat dijadikan sebagai percontohan desa (kalurahan) berkarakter Pancasila. “Salah satunya adalah Padukuhan Kasuran Kulon, Margodadi yang toleransi dan gotong royongnya dapat dijadikan sebagai contoh penerapan nilai-nilai luhur Pancasila,” ujarnya.

Padukuhan Kasuran Kulon sendiri telah dicanangkan sebagai perintis Desa Berkarakter Pancasila sejak tahun 2018.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kesbangpol Kabupaten Sleman Heri Sutopo mengingatkan bahwa pembinaan masyarakat berkarakter Pancasila adalah tugas bersama.

“Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Sleman tentang Desa Berkarakter Pancasila, terlihat bagaimana upaya Pemerintah untuk membumikan kembali nilai-nilai luhur Pancasila,” terang Heri.

Sehingga menurutnya, untuk mendukung langkah membumikan nilai-nilai luhur Pancasila tersebut, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. “Termasuk dari pemerintah kapanewon dan kalurahan,” ujarnya lagi.

Acara evaluasi sendiri menghadirkan beberapa narasumber. Pertama adalah Basuki, Kepala Subbidang Pembinaan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Sleman. Ia menekankan perlunya untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila di kehidupan sehari-hari untuk membangun karakter Pancasila di lingkungan kita.

“Pendekatan dari kegiatan adalah pendekatan edukasi, tindak nyata dan keteladanan. Adapun aspek yang digunakan adalah aspek kebijakan, aspek kelembagaan dan aspek praktek atau kegiatan sehari hari,” terangnya.

Sementara Wahyudi, Ketua BPK Sendangmulyo yang bertindak sebagai narasumber kedua berpendapat bahwa karakter Pancasila bersinggungan langsung dengan kebiasaan. “Misal kita dalam masa pandemi ini, kita terbiasa membantu warga yang melakukan isolasi madiri. Ini salah satu bukti nyata pengamalan butir-butir Pancasila,” ungkapnya.

Hal ini juga didukung oleh narasumber ketiga Alif Mertayasa, Sekretaris FUKB Sleman. Ia menyampaikan bahwa kebiasaan sehari-hari dapat membentuk karakter kita. Karakter tersebut dapat tumbuh dari berbagai macam hal.

“Salah satunya adalah lingkungan yang rukun. Dengan kerukunan tumbuh karakter-karakter yang Pancasilais,” tutup Alif. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Peringati Hari Amal Bakti Kemenag, KUA Seyegan Adakan Pembinaan Takmir Masjid

Dalam rangka memperingati Hari Amal Bakti Kementerian Agama (Kemenag) ke-75, Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Seyegan mengadakan pembinaan bagi Takmir Masjid yang tersebar di lima kalurahan di wilayah Seyegan, Rabu (27/1/2021). Pembinaan dilaksanakan di Ruang Rapat Lantai II Kantor Kapanewon Seyegan, dan diikuti oleh masjid yang ada di Seyegan, dengan perwakilan lima masjid per kalurahan.

Dalam pembinaan, Kepala KUA Seyegan Handoyo menyinggung agar setiap masjid, khususnya di wilayah Seyegan untuk tertib administrasi.  

“Jadi, setiap masjid yang sudah mempunyai akta wakaf, segera urus IMB-nya. Tidak hanya itu, semua majlis taklim termasuk TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) untuk segera diformalkan dengan cara didaftarkan ke Kemenag,” ujar Handoyo.

Ia menyampaikan bahwa dengan didaftarkan, majelis yang ada diharapkan dapat lebih mudah mengakses bantuan yang tersedia. “Karena sudah terdaftar, otomatis sudah mempunyai nomor registrasi,” ucapnya.

Handoyo juga berpendapat bahwa setiap takmir masjid untuk tidak takut dalam melaksanakan kegiatan di masjid pada masa pandemi yang masih berlangsung sampai saat ini. Menurutnya, psikologis masyarakat sudah terlatih untuk menerapkan protokol kesehatan, sehingga semuanya dapat berjalan dengan aman.

“Asal tetap dengan prokes yang ketat,” tambah Handoyo lagi.

Acara pembinaan juga diisi dengan pemberian hibah sebanyak 25 thermometer gun oleh BRI Cabang Sleman untuk keperluan protokol kesehatan di rumah ibadah yang ada di Seyegan. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Adel perwakilan BRI Cabang Sleman dan diserahakn langsung kepada Djoko Muljanto, Panewu Anom Kapanewon Seyegan.

AdeI menyampaikan bahwa ini merupakan langkah BRI untuk dapat menjalin komunikasi yang baik dengan tempat ibadah, khususnya yang berada di wilayah Sleman.

Sementara itu, Panewu Anom Kapanewon Seyegan Djoko Muljanto memberikan apresiasinya kepada para takmir masjid yang telah membantu Satgas Covid-19 dalam melakukan penerapan protokol kesehatan di tempat ibadah. “Semoga dengan bantuan thermometer gun ini, tepat ibadah dapat lebih aktif lagi dalam mencegah penyebaran Covid-19 di tempat ibadah,” terangnya.

Ia juga senang setiap rumah ibadah yang ada di Kapanewon Seyegan telah membuat surat keterangan rumah ibadah aman Covid-19.

Selain bantuan thermometer gun, BRI Cabang Sleman juga mengisi acara dengan penjelasan mengenai layanan transaksi digital QRIS, yang efektif digunakan pada masa pandemi ini. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Gencarkan Edukasi Prokes Bagi Masyarakat di Masa PTKM

Sejak pemberlakuan Pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, penegakan protokol kesehatan semakin diintensifkan. Berbagai pihak berupaya menjaga kedisplinan protokol kesehatan, sebagai langkah untuk menurunkan angka kasus positif COVID-19 yang terus meningkat.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Unit Patroli Regu I Sabhara Polsek Gamping yang melakukan operasi penegakan protokol kesehatan dan edukasi mengenai pentingnya protokol kesehatan bagi masyarakat pada Kamis (28/1/2021). Operasi yang dipimpin oleh Ipda Budi Santosa didampingi anggotanya Aiptu Dwi Saputra ini menyasar beberapa fasilitas umum atau tempat keramaian seperti tempat perbelanjaan, lingkungan pasar, bank, pabrik, dan toko waralaba wilayah Kapanewon di seputar Jalan Wates, Gamping, Kabupaten Sleman

Sebelum memulai operasi, Kapolsek Gamping, Kompol Aan Andrianto memberikan arahan kepada anggotanya untuk selalu menjadi contoh masyarakat mengenai penerapan protokol kesehatan. Menurutnya, ketika para penegak hukum taat terhadap aturan, maka masyarakat akan teredukasi dan mau mengikutinya.

“Kita yang pertama sebagai petugas jangan abai terhadap protokol kesehatan sehingga mudah ditiru oleh masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kedisiplinan untuk menurunkan tingginya angka orang yang terpapar COVID-19.

“Hingga saat ini jumlah orang yang terpapar COVID-19 terus meningkat di berbagai daerah termasuk Gamping. Kita tidak ingin ada klaster baru lagi, jadi harus terus kita pantau dan tegakkan protokol kesehatan,” tambah Kompol Aan di hadapan anggotanya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




Kreativitas dan Inovasi Pangan di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung sampai saat ini, mempengaruhi segala sektior kehidupan. Tidak terkecuali sektor pangan. Sehingga kreativitas dan Inovasi dalam pemenuhan kebutuhan pangan menjadi sangat penting. Hal ini yang ditegaskan oleh Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangiaji pada acara Panen Bersama Kelengkeng Super Sleman (KSS), Kamis (28/1/2021) di Kebun Gejayan, Condongcatur, Sleman.

Menurut Reno, program yang diadakan oleh Fakultas Biologi UGM ini sangat besar manfaatnya untuk masyarakat. “Keterlibatan kampus melalui lembaga penelitianya dibidang pangan sangat diharapkan sehingga dapat memberikan ilmu-ilmu tentang budidaya tanaman, budidaya ikan juga pupuk organik dan sebagainya,” ujar Reno.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Fakultas Biologi UGM ini merupakan hasil dari Program Penelitian Pemadatan untuk Mitigasi dan Penanganan Pandemi COVID-19 dengan tema Pemanfaatan Lahan Sempit (Pekarangan Rumah) untuk Budidaya Tanaman Pangan dalam Kebutuhan Selama Pandemi COVID-19.

Selain Reno sebagai Lurah Condongcatur, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Dewan Guru Besar UGM, Sekretaris Dewan Guru Besar UGM, Rektor UGM, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM, Dekan Fakultas Biologi UGM, Wakil Dekan Bidang Penelitian Kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Biologi UGM, dan Alumni Fakultas Biologi.

Juga hadir dalam acara Perangkat Padukuhan Gejayan, Perwakilan Pamong Kalurahan Kebonalas Manistenggo, dan Kelompok Wanita Tani Perwakilan Warga Gejayan.

Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setyadi Daryono ketika ditemui setelah melakukan pemetikan kelengkeng secara simbolis bersama Reno menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kegiatan pangan lokal (termasuk mikroorganisme indigenous). Kegiatan tersebut dilakukan melalui penelitian komprehensif dan pengabdian kepada masyarakat sebagai fasilitator dalam upaya kemandirian pangan dan diversifikasi pangan melalui eksplorasi potensi pangan lokal.

Ia juga menyampaikan bahwa UGM siap untuk berkontribusi dan bekerja sama dengan untuk mengembangkan tanaman pangan agar bisa dimanfaatkan. Bahkan menurutnya, kelengkeng yang dipanen dalam acara ini merupakan hasil pengembangan yang dilakukan UGM, dan sudah ada dibeberapa wilayah, contohnya di Gunung Kidul.

“UGM siap bersinergi dengan masyarakat untuk pengembangan tanaman pangan. Bahkan jika dikehendaki, UGM siap membantu membuat wisata agro, seperti wisata agro kelengkeng di Condongcatur ini,” ungkapnya. Dalam kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh Lurah Condongcatur untuk menyerahkan SK bagi Kelompok Wanita Tani Srikandi Mandiri Gejayan dan Tim Jumatik Gejayan. (Wasono Depok)




Cegah Penyebaran Penyakit di Masjid dengan “Reresik Masjid”

Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan adalah salah satu tidakan preventif terhadap penyebaran penyakit. Selain memberikan kenyamanan, kebersihan suatu lingkungan dapat membangun lingkungan yang sehat, sehingga dapat meminimalisir penyakit untuk berkembang biak. Hal Ini yang menjadi dasar Gufron Mustaqim, anggota kelompok KajianMu menggagas kegiatan “Reresik Masjid”.

Menurutnya, masih banyak masjid yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungannya. “Kegiatan ini kadang terkesampingkan, bukan Cuma marbot yang jarang ditemui, tapi juga alat kebersihan yang masih kurang bahkan tidak ada,” ujarnya ketika membersihakan Masjid Al Furqon, Donon, Moyudan pada Rabu (27/1/2021).

Gufron mengakui tujuan utama Reresik Masjid yang sudah berjalan 2 tahun ini selain untuk ikut menjaga kebersihan dan kesucian dari masjid sebagai rumah ibadah adalah untuk memotivasi takmir masjid untuk aktif menjaga kebersihan masjidnya.

“Bahkan bisa berkonsultasi langsung dengan tim baik itu mengenai tata cara ataupun alat-alat yang digunakan untuk membersihkan masjid. Bahkan kami siap menyediakan paket perlengkapan kebersihannya jika diminta,” jelasnya.

Sementara itu Rizal, salah satu Takmir Masjid Al Furqon berpendapat bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk takmir, pengurus dan jama’ah masjid. Menurutnya, kebersihan masjid yang terus dijaga mendatangkan kenyamanan bagi para jama’ah saat beribadah.

Selain itu menurutnya kebersihan merupakan suatu hal yang harus diperhatikan dalam islam.

“Islam yang baik mengutamakan kebersihan sebagai hal  penting dalam kehidupan sebagaimana kebersihan adalah sebagian dari iman,” tambahnya. (Arief Hartanto)