Do’a Lintas Agama untuk Pandemi yang Melanda

Dalam rangka menyatukan frekuensi untuk mengurai pageblug (pandemi) yang melanda, Komunitas Dharma Laku mengadakan kegiatan do’a bersama lintas agama dengan tajuk “Miyak Dalaning Gusti”, Jum’at (29/1/2021) malam, di lokasi Wisata Perahu Dayung Mbelik Serut Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.

Acara diisi oleh perwakilan tokoh dari berbagai agama, yaitu tokoh agama Islam, tokoh agama Kristen, tokoh agama Katholik, tokoh agama Hindu, dan tokoh agama Budha. Selain itu, acara juga dihadiri langsung oleh Ketua Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Gamping, Imam Safingi.

Dalam sambutannya Ketua KUA Kapanewon Gamping, Imam Safingi menyampaikan apresiasinya kepada Komunitas Dharma Laku yang telah ikut membina kerukunan antar umat beragama dan menjaga toleransi dalam keragaman agama sehingga dapat bersinergi untuk mengatasi wabah virus Covid-19 secara sprititual dengan memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.

“Hal ini sejalan dengan misi dari Kementerian Agama Kabupaten Sleman yakni memantapkan kerukunan intra dan antar umat beragama. Semoga wabah Covid 19 segera sirna dari muka bumi agar aktivitas masyarakat dapat berjalan normal kembali,” tutur Imam dihadapan para pemuka agama.

Sebelum memanjatkan doa kepada Sang Pencipta, sebanyak tujuh prajurit Bregada Demakidjo membawa air dari tujuh sumber mata air yang dimasukkan ke dalam bambu kuning dan selanjutnya dituangkan ke dalam Kolam Serut yang berlokasi di tempat wisata perahu dayung, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman sebagai tanda pitulungan atau pertolongan.

Pemanjatan doa yang dilakukan oleh pemuka lima agama secara bergantian, diiringi dengan Kidung Suci Rajah Kalacakra yang dilantunkan oleh Paguyuban Shalawatan Langen Ambya dari Padukuhan Gejawan Kulon, Kalurahan Balecatur yang dipimpin Sarwata. Dilanjutkan lantunan Kidung Asung Salam, Kidung Giyar-Giyar, dan Kidung Muga-Muga yang menambah kekhusukan acara.

Ketua Komunitas Dharma Laku, Sri Purwanti menambahkan bahwa tradisi melantunkan kidung-kidung suci merupakan tradisi kuno untuk mengiringi doa permohonan yang dibutuhkan.

“Karena irama lagunya memiliki berbagai jenis variasi yang sangat membantu menciptakan suasana hening atau khidmat yang dipancari oleh getaran kesucian sesuai dengan jenis doa yang dipanjatkan,” ungkap Sri. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)