Kendalikan Kasus DBD, Program “SI WOLLY NYAMAN” Resmi Diluncurkan

Program pengendalian DBD berbasis Wolbach (SI WOLLY NYAMAN) di Kabupaten Sleman telah resmi diluncurkan pada Selasa (16/2/2021). Peresmian dilakukan secara daring  dengan aplikasi Zoom Meeting oleh Bupati Sleman Sri Purnomo di Sleman Smart Room Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman.

Program si Wolly Nyaman sendiri merupakan hasil kerjasama Dinas Kesehatan Sleman dengan Yayasan Tahija, FKKMK (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan) UGM, serta World Mosquito Program.

Menurut Trihadi Saptoadi Ketua Yayasan TAHITA, Si Wolly Nyaman merupakan inovasi berbasis teknologi dalam pengendalian DBD, menggunakan tekhnologi ramah lingkungan yang harapannya bisa diadopsi.

“Program inibukan pengganti strategi PSN (pemberantasan sarang nyamuk), tapi merupakan komplementer dari kegiatan tersebut”, jelasnya.

Sementara Bupati Sleman Sri Purnomo dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas kepedulian semua pihak terhadap kasus DBD di Kabupaten Seman. Beliau juga menyampaikan harapannya agar kerjasama  antara Yayasan TAHIJA, UGM, dan Dinas Kesehatan ini dapat meminimalisir  kasus DBD di Kabupaten Sleman. 

“Kita juga berharap program bisa didorong secara maksimal. Ini bagian dari PHBS,  3M (menutup, menguras, mengubur) sebagai bagian kebiasaan kita yang harus kita laksanakan. Setelah sukses maka Sleman akan menjadi contoh yang baik, kita bisa sharing Ilmu dan masyarakat akan semakin paham dalam menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat,” jelasnya lagi.

Beliau juga berpesan untuk melaksanakan program secara serius bersama puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Sleman, dengan dukungngan PKK dan dasawisma yang akan terus menggelorakan PHBS. (Endarwati, KIM Donoharjo)




Pengabdian Ngadiyem, 36 Tahun Menjadi Kepala Sekolah

Pengabdian Ngadiyem sebagai Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak (TK) PKK Sukorini yang telah berlangsung selama 36 tahun akhirnya selesai juga. Hal tersebut ditandai dengan acara serah terima jabatan Kepala Sekolah TK PKK Sukorini dari Ngadiyem kepada Evi Tri Astuti pada Senin (15/2/2021) di TK PKK Sukorini Kalurahan Sukoharjo, Ngaglik Sleman. Hal tersebut juga didukung oleh Surat Keputusan Lurah Sukoharjo, Nomor 9 Tahun 2021 mengenai penunjukkan Evi Tri Astuti sebagai Kepala Sekolah TK PKK Sukorini yang baru.

Ngadiyem dalam acara tersebut menceritakan sejarah awal berdirinya TK PKK telah menjabat sebagai Kepala Sekolah TK Sukorini sejak 23 Mei 1985 atas dasar Surat Keputusan Lurah (dulu Kepala Desa) Sukoharjo waktu itu, Hadisutjipto, sehingga  menjadikannya sebagai salah satu Kepala Sekolah terlama yang menjabat di Kabupaten Sleman

“Dulu bangunan ini gudang di tengah sawah, daripada tidak terpakai lebih baik dimanfaatkan untuk sekolah,” kenang Ngadiyem.

Sementara itu, Hadi Subroto Lurah Sukoharjo menyampaikan kekaguman dan rasa terima kasihnya kepada Ngadiyem yang telah lam mengabdi menjadi Kepala Sekolah TK PKK Sukorini. “Sangat luar biasa, 36 tahun mengabdi tanpa henti menjadi Kepala Sekoah di TK PKK Sukorini Sukoharjo ini,” ungkap Budi.

Ia juga mengapresiasi peran Ngadiyem sebagai Kepala Sekolah terhadap kemajuan TK Sukorini.

“Dengan pengabdian yang tulus ikhlas inilah, sehingga TK PKK Sukorini maju dan berkembang seperti yang kita lihat sekarang ini. Banyak prestasi di TK PKK Sukorini bahkan Alumni di TK ini sudah banyak yang jadi pejabat dan juga pengusaha yang berhasil atas bimbingan ibu Kepala Sekolah TK PKK Sukorini ini,” ujarnya.

Ia berharap prestasi tersebut dapat diteruskan oleh Kepala Sekolah yang baru.

Pada kesempatan yang saman, Kepala UPT Pelayanan Pendidikan Ngaglik Wahyu Iken Estri juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Ngadiyem atas jasanya terhadap kemajuan TK PKK Sukorini. Ia berharap apa yang telah Ngadiyem capai selama menjadi Kepala Sekolah di TK PKK Sukorini dapat diteruskan oleh Kepala Sekolah yang baru.

“Semoga Ibu Evi yang mendapat kepercayaan sebagai Kepala Sekolah tetap mempertahankan yang sudah ada, dan dapat meningkatkan prestasi untuk kedepanya,” tambahnya.(KIM NgagliK/Srp)




Hadapi COVID-19, Puskesmas Seyegan Gelar Rakor Lintas Sektor

Untuk menyatukan komitmen dalam menghadapi pandemi COVID-19, Puskesmas Seyegan adakan Rapat Koordinasi Lintas Sektor Bidang Kesehatan di Kapanewon Seyegan pada Senin (15/2/2021). Bertempat di Ruang Rapat Lantai II Kapanewon Seyegan, acara yang dihelat mulai pukul WIB tersebut dihadiri oleh segenap sektor terkait yaitu Polsek, Koramil, Kapanewon, Puskesmas, KUA, Kalurahan, BPD, PKK, PLKB, PMI, DMI, UPTD BP4, UPTD TPU, UPTD YANDIK, Muhammadiyah, NU, Gereja, Relawan dan KIM.

Drg. Ratih Susila, Kepala Puskesmas Seyegan pada rapat memaparakan materi mengenai  Konsep Dasar dan Implementasi Penelusuran Kontak Erat. Ratih menjelaskan apa saja langkah yang harus dilakukan ketika menemukan kasus kontak erat.

“Dengan cara tracing untuk memutus penyebaran covid 19 yang meliputi identifikasi, informasi dan isolasi. Penelusuran kontak erat ini adalah kunci utama dalam memutus rantai transmisi COVID-19,” jelas Ratih.

Lebih jauh, Ratih juga menjelaskan mengenai apa saja elemen utama untuk melakukan penelusuran kontak erat. Elemen tersebut menurut Ratih yaitu pelibatan dan dukungan masyarakat, perencanaan yang matang, masyarakat dan budaya, dukungan logistik, pelatihan dan supervisi, serta sistem manajemen dan pelacakan kontak.

Dibagian akhir, Ratih menandaskan peran masyarakat dalam menghindari stigma dalam kontak erat termasuk berperan dalam penyiapan logistik selama isolasi.

Sementara itu, R Budi Pramono, Panewu Seyegan dalam pengarahannya menyoroti kurang maksimalnya keberadaan posko COVID-19 di tingkat kalurahan. Menurutnya, posko tersebut masih belum berperan secara optimal dalam melakukan penanggulangan COVID-19.

“Masih ada posko yang hanya papan nama saja, didirikan tapi tidak ada aktivitas yang memberi kontribusi untuk pencegahan COVID-19,” ujar Budi.

Budi menegaskan bahwa posko yang berperan aktif dalam penanganan COVID-19 harus mempunyai fungsi dalam perencanaan, evaluasi dan pelaporan. Menurutnya, esensi keberadaan posko yang ada di setiap kalurahan mempunyai 4 fungsi yaitu pencegahan/edukasi, penanganan 3 T (Testing, Tracing dan Treatment), pembinaan dan pencatatan pelaporan.

Semua fungsi tersebut menurut Budi harus dilakukan dengan terencana untuk memaksimalkan proses penanganan COVID-19 yang dilakukan, terutama pada masa Pengetatan Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) ini. “Harus ada sinergi antara tracing dan testing dalam PTKM tahap III ini,” tegasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa posko ini juga bisa digunakan untuk sarana edukasi masyarakat tentang penanganan COVID-19. “Masyarakat masih bingung terhadap penanganan warga positif covid. Ini artinya perlu adanya guidance/manual sebagai pegangan semua yang bertugas di posko,” ujar Budi lagi.

Selain dari 2 Narasumber utama tersebut, ada beberapa pengarahan dari lintas sektor yang disampaikan, yaitu dari Polsek yang selama ini juga mengadakan kegiatan operasi masker di tempat tempat strategis bersama dengan Polisi Pamong Praja dan Koramil. Sedangkan dari KUA dengan gerakan 5 M nya yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas/interaksi.

Rakor dilanjutkan diskusi dan ditutup dengan pernyataan bersama mengenai komitmen untuk menerapkan gerakan 5 M. (Sutarto Agus/KIM Seyegan).




Pertunjukan Seni Virtual di Masa Pandemi

Beragam cara dapat diterapkan untuk menghidupkan kembali pertunjukan kesenian Jathilan di masa pandemi COVID-19 ini. Salah satunya melakukan pertunjukan melalui media daring. Hal tersebut ditunjukkan oleh para pegiat seni yang tergabung dalam Paguyuban Jathilan Kudha Kumara Padukuhan Modinan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Sleman yang menggelar kegiatan Seni Jathilan Virtual pada Minggu (14/2/2021) siang secara live streaming di kanal Youtube.

Walaupun diselenggarakan secara virtual, kegiatan seni yang dapat dijadikan sebagai hiburan warga di tengah pandemi tetap dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan penanganan COVID-19 antara lain dengan melakukan penyemprotan menggunakan larutan desinfektan di lokasi sebelum pertunjukan dimulai, penggunaan masker, dan menjaga jarak dibawah pengawasan para relawan Jagabaya Kademangan Demakidjo.

Koordinator Jagabaya, Wahyu Abdul yang melakukan pengamanan dan pengawasan protokol kesehatan acara Jathilan Virtual menyebutkan bahwa pandemi yang tejadi menyebabkan terpuruknya produktivas masyarakat. Namun disatu sisi, aktivitas daring masyarakat meningkat. Sehingga menurutnya, media daring merupakan salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan untuk menampilkan produk seni pertunjukan rakyat.

“Tujuan diselenggarakan pertunjukan seni jathilan ini untuk membangkitkan kreativitas dan produktivitas seniman atau komunitas jathilan, meningkatkan keterampilan dan pengemasan seniman jathilan dalam menjawab tantangan di zaman milenial, melestarikan tradisi seni tari dalam pertunjukan jathilan di Kabupaten Sleman, serta mencari alternatif ekonomi kreatif tradisi jathilan berbasis bisnis virtual,” kata Wahyu Abdul di sela-sela pengawasannya.

Pertunjukan virtual tersebut diharapkan Wahyu menjadi salah satu jalan yang dapat memberikan harapan baru untuk memperbaiki keterpurukan ekonomi, selain menjadi wadah kegiatan yang memberi peluang bagi tumbuhnya produktivitas seni yang memiliki nilai ideologis dan nilai ekonomi yang berimbang.

Wahyu menambahkan bahwa penerapan protokol kesehatan berdampak besar bagi para seniman. Mereka tidak dapat menjalani profesinya karena pencanangan phisycal distancing dan pelarangan terhadap keramaian. Sehingga pertujukan virtual ini menjadi kesempatan dan tantangan baru bagi para seniman, dalam mengemas pertunjukan mereka.

“Oleh karena itu, muncul tantangan baru bagi seniman seni pertunjukan untuk mendesain produknya dalam berbagai media baik yang berbasis media sosial maupun non media sosial,” tutupnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




KIM Sebagai Garda Terdepan Penangkal Hoaks

Salah satu fungsi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) adalah untuk diseminasi atau penyebarluasan informasi yang sudah diolah dan diyakini bermanfaat bagi masyarakat, bukan merupakan berita kebohongan atau hoaks. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Noor Hidayati ZP dalam rapat koordinasi Forum KIM Sembada yang digelar di Aula Balai Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem, Sabtu (13/2/2021).

“Sebagai pegiat KIM seharusnya dapat memberdayakan masyarakat agar bisa memilah dan memilih informasi yang dibutuhkan serta bermanfaat. Artinya adalah anggota KIM dapat berdiskusi untuk memilah informasi yang sesuai dengan kebutuhan yang pada akhirnya memanfaatkannya untuk kepentingan bersama,” terang Noor Hidayati di hadapan peserta rapat.

Oleh karena itu, menurutnya informasi yang disampaikan harus dipertimbangkan unsur kegunaanya untuk masyarakat.

“Berita yang disuguhkan kepada masyarakat harus bisa mendidik, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat, serta dapat meningkatkan sikap nasionalisme terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya lagi.

Noor Hidayati meminta agar KIM tidak menyampaikan informasi yang kebenarannya dipertanyakan, atau informasi hoaks.

Berita hoaks sendiri menurut Noor Hidayati dapat diperhatikan dari ciri-cirinya. Antara lain judul berita yang bombastis, informasinya cenderung menciptakan kecemasan, kebencian dan permusuhan, sumber informasi tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi, mencatut nama tokoh berpengaruh, memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, memanipulasi foto dan keterangannya.

“Bahkan foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain serta biasanya ditulis oleh media abal-abal dimana alamat media dan penanggung jawabnya tidak jelas,” ujar Noor Hidayati.

Selain sebagai penangkal hoaks, KIM juga dapat digunakan sebagai jaringan dan media informasi dua arah antar masyarakat dengan pihak lain, sehingga dapat memudahkan proses pertukaran informasi.

“Apabila antar Kelompok dapat membentuk jejaring kerjasama komunikasi antara warga masyarakat, maupun antara masyarakat dengan pemerintah maka mempermudah penyampaian aspirasi dari masyarakat dan kebijakan dari pemerintah sehingga tercipta wahana informasi dan komunikasi yang baik,” tutupnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)