Masa Tugas Berakhir, PPK Gamping Serahkan Laporan Akhir Pilkada Sleman 2020

Pasca berakhirnya ketugasan badan adhoc dalam penyelenggaraan tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman tahun 2020, maka Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Gamping menyerahkan aporan akhir pelaksanaan tahapan pemilihan di wilayah Kapanewon Gamping kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman sebagai wujud pertanggungjawabannya.

Laporan diserahkan langsung oleh Ketua PPK Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo bersama anggota PPK Divisi Teknis Penyelenggaraan, M. Mualif kepada Koordinator Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Kabupaten Sleman sekaligus Koordinator Wilayah Kapanewon Gamping, Ahmad Baehaqi disaksikan Plt. Sekretaris KPU Sleman, Yuyud Frutama di Ruang PPID dan Media Center, Selasa (9/2/2021).

Di sela penyerahan buku laporan akhir, Ketua PPK Gamping, Adnan Iman Nurtjahjo menyatakan rasa syukurnya karena Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman Tahun 2020 di Kapanewon Gamping telah terselenggara secara demokratis dan sesuai jadwal. Menurutnya, program yang telah ditetapkan telah terlaksanan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil dan beradab dengan rata-rata partisipasi pemilih 73,34 % dari jumlah daftar pemilih tetap sebanyak orang

“Adapun tujuan penyusunan laporan tahapan Pemilihan Serentak tahun 2020 yang dilaksanakan oleh PPK Gamping selama sembilan bulan ini yaitu memberikan gambaran tentang kondisi tahapan, program dan jadwal yang telah dilaksanakan oleh PPK Gamping, menyampaikan usulan, saran serta rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman di masa yang akan datang,” tambah Adnan.

Dalam kesempatan tersebut, Komisioner KPU Sleman, Ahmad Baehaqi menyampaikan bahwa sesuai dengan Surat Keputusan KPU Kabupaten Sleman Nomor : 08/ tentang Penetapan dan Pengangkatan Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan se-Kabupaten Sleman untuk Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman tahun 2020, maka masa ketugasan PPK berakhir pada tanggal 30 November 2020. Namun dengan adanya Pandemi COVID-19 yang melanda Republik Indonesia, maka keluarlah SK tentang Penundaan Tahapan Pemilihan Serentak tahun 2020 dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19.

“Setelah mengalami penundaan selama tiga bulan, KPU Kabupaten Sleman melalui Surat Keputusan Nomor: 24/ memutuskan masa kerja Panitia Pemilihan Kecamatan dimulai kembali dari tanggal 15 Juni 2020 hingga 31 Januari 2021,” lanjut Baehaqi.

Ia menambahkan, untuk memenuhi kewajiban dan pertanggungjawaban dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2016, maka PPK Gamping wajib menyusun laporan tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman Tahun 2020 pada setiap tahapan penyelenggaraan Pemilihan di wilayah kerjanya. Selain itu, PPK juga wajib melakukan evaluasi dan membuat laporan yang disampaikan kepada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sleman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)




137 Pengungsi Barak Purwobinangun Diperbolehkan Pulang

Sebanyak 137 pengungsi Gunung Merapi yang berada di Barak Pengungsian Purwobinangun diperbolehkan pulang. Pemulangan pengungsi tersebut dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Bintang Darmawanti, Selasa (9/2/2021).

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menjelaskan para pengungsi tersebut diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing berdasarkan rekomendasi BPPTKG yang sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan BPBD Sleman terkait potensi ancaman bahaya Merapi.

“Setelah sebelumnya dilakukan koordinasi antara BPBD Sleman bersama dengan BPPTKG, dan diketahui bahwa kondisi Merapi potensi ancaman bahayanya mencapai radius 5 kilometer, sedangkan ancaman lontaran material Merapi maksimal berjarak 3 kilometer dan jarak Kalurahan Turgo sejauh 6,5 kilometer, maka pengungsi diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Joko Supriyanto menuturkan bahwa sekalipun diperbolehkan kembali pulang ke rumah masing-masing, warga Kalurahan Turgo ini juga diminta untuk tetap waspada dikarenakan status Merapi masih pada level siaga.

Selain itu, Joko juga menyebut seluruh posko mulai dari tingkat dusun, tetap disiagakan untuk melayani masyarakat jika di malam hari merasa khawatir terhadap kondisi Merapi.

“Kita tetap waspada karena status merapi masih siaga belum diturunkan ke waspada. Jika ada peningkatan aktivitas merapi, datang di titik kumpul (posko tingkat desa) yang masih tetap disiagakan,” ujar Joko.

Sementara terkait dengan kunjungan Menteri PPPA, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun beserta jajaran melakukan pendampingan bagi Menteri PPPA beserta rombongan untuk melihat situasi pengungsian Purwobinangun.

Menteri PPPA, I Gusti Bintang Darmawanti mengatakan bahwa kunjungannya di lokasi pengungsian Purwobinangun yaitu untuk memastikan penanganan atau pelayanan khusus bagi perempuan dan anak dilakukan dengan baik.

I Gusti Bintang Darmawanti mengaku dirinya melihat berbagai pemberitaan dari media yang memperlihatkan kondisi barak pengungsian Merapi di wilayah Kabupaten Sleman.

“Kami juga ingin memastikan situasi di lapangan sesuai dengan informasi yang kami dapatkan. Setelah kita di lapangan, luar biasa pendampingan yang dilakukan Pemerintah Daerah khususnya Pemkab Sleman, kebutuhan perempuan dan anak, sarana pembelajaran sudah ada, permainan sudah ada malah setelah kita Tanya, anak – anak merasa nyaman ada di pengungsian ini dan tidak mau pulang  kembali ke rumah,” tutur I Gusti Bintang Darmawanti.

I Gusti Bintang Darmawanti  menilai, hal tersebut merupakan wujud nyata adanya kerja sama yang baik, kolaborasi yang baik dalam penanganan dan pemenuhan kebutuhan bagi perempuan dan anak di barak pengungsian Merapi. (Humas Sleman) 




Dinkes Sleman Adakan Workshop Pemetaan dan Analisis Situasi Program Stunting

Bertempat di Grha Sarina Vidi, Mlati, Sleman, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengadakan Workshop Pemetaan dan Analisis Situasi Program Stunting yang diikuti oleh beberapa perangkat daerah lintas sektor di Kabupaten Sleman pada Kamis (9/2/2021). Workshop dibuka oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, Wisnu Murti Yani.

Dalam pembukaannya, Wisnu menyebutkan bahwa angka stunting di Kabupaten Sleman mengalami penurunan. “Stunting di Kabupaten Sleman secara bertahap terus menurun dari 25% turun menjadi 12%, kemudian menjadi 10% dan terakhir setelah implementasi program lintas sektor menjadi 7,3%” kata Wisnu.

Ia juga mengatakan bahwa Kabupaten Sleman saat ini telah menjadi lokasi fokus (lokus) stunting. “Bukan karena tingkat stuntingnya tinggi, tetapi karena semua daerah di Indonesia harus menjadi lokus stunting” tambahnya.

Pada tahun 2021, lokasi fokus prioritas penanggulangan stunting di Kabupaten Sleman adalah sebanyak 10 lokus (kalurahan) dari 26 lokus yang diusulkan. 10 lokus tersebut tersebar di 10 kapanewon.

Erny Maryatun, Kepala Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Pemerintahan Bappeda Sleman, pada kesempatan tersebut menyampaikan kriteria seleksi dan prioritas desa lokasi fokus.

“Kriteria yang digunakan utk menetapkan desa lokasi fokus sekurang-kurangnya meliputi memiliki prevalensi stunting melebihi rata-rata, memiliki jumlah kasus stunting melebihi rata-rata, memiliki lebih dari 50% indikator utama yg menunjukkan cakupan intervensi gizi tergolong kurang meskipun prevalensi stunting rendah,” terang Erny.

Sementara narasumber dari Tim Pendampingan Akselerasi Penanggulangan Stunting Dirjen Bangda Kemendagri, Bagus Budisetya Affandri, menyoroti mengenai penentuan lokus untuk tahun 2022 serta apa yang perlu dilakukan terkait 8 aksi integrasi pengentasan stunting.

“Pelaksanaan 8 aksi integrasi di tahun 2021 dilakukan untuk menentukan program dan kegiatan serta lokus di tahun T+1,” ungkap Bagus.

Delapan aksi integrasi tersebut terdiri dari analisis situasi, penyusunan rencana kegiatan, rembug stunting, peraturan bupati tentang peran desa, pembinaan kader pembangunan manusia, sistem manajemen desa, pengukuran dan publikasi data stunting serta review kinerja tahunan. Setiap aksi integrasi tersebut diampu oleh masing-masing perangkat daerah yang terkait.

“Pelaksanaan program dan kegiatan penurunan stunting juga harus disinkronkan dgn pelaksanaan program di tingkat pusat,” imbuh Bagus.

Workshop diakhiri dengan tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber.




Sanggar Seni Kertodikromo Jemirah Aktif Lestarikan Budaya Jawa

Delapan penari remaja putri bergerak dengan gemulai, tenang dan anggun pada sore itu membawakan Tari Sekar Puji Astuti. Diiringi Gending Ladrang Mugi Rahayu, tarian bergaya klasik Yogyakarta tersebut menggambarkan bentuk pujian dan syukur kepada Tuhan, sehingga sering dipentaskan untuk menyambut tamu di bebagai acara resmi. Itulah salah satu gambaran kegiatan di Sanggar Seni Kertodikromo Jemirah milik Sudarmin, yang berlokasi di Dusun Penen, Donoharjo, Ngaglik Kabupaten Sleman.

Sudarmin pemilik sekaligus pengelola sanggar mengungkapkan bahwa sanggar seni ini berdiri sejak 4 tahun silam dan telah terdaftar di Dinas Kebudayaan Sleman pada tanggal 27 Mei 2019.

“Nama sanggar di ambil dari nama kedua orang tua saya yaitu Kertodikromo adalah nama bapak, sedangkan simbok bernama Jemirah. Nama tersebut sengaja diabadikan sebagai rasa hormat dan kecintaan saya kepada beliau,” ujar Sudarmin mengawali kisahnya saat dihubungi pada Minggu (7/02/2021).

Menurut pria yang juga seorang Purnawirawan TNI Angkatan Laut ini, tujuan awal ia mendirikan Sanggar Kertodikromo Jemirah ini adalah sebagai wadah untuk menjaring minat dan bakat, terutama generasi muda dalam berkesenian.

“Untuk mengenali dan mempelajari seni dan budaya Jawa yang adiluhung agar tetap ada, terjaga dan lestari. Di sini, kita sediakan fasilitas dan juga tenaga pengajar agar mereka yang berminat nguri uri budaya Jawa terutama para generasi milenial bisa lebih mengenal, belajar, berlatih bahkan sampai pementasan” katanya.

Ia berharap, dengan adanya sanggar tari ini, para generasi muda dapat mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang bermanfaat.

“Kami berupaya turut serta membina generasi muda dengan memberi kan wadah berkreasi agar masalah-masalah sosial seperti kenakalan remaja atau penyalahgunaan narkoba di masyarakat menjadi berkurang,” ungkapnya lagi.

Di sanggar dengan bangunan khas Jawa berbentuk Limasan tersebut, komunitas maupun perorangan bisa belajar berbagai macam kesenian sesuai yang diminati.

“Beberapa kesenian yang bisa dipelajari di Sanggar Kertodikromo Jemirah diantara nya tari, ketoprak, tembang (panembromo, macapat), sandiwara bahasa jawa, Gejog Lesung, karawitan, jatilan, wayang orang dan masih banyak lagi,” papar Sudarmin.

Sudarmin juga menyebutkan bahwa semua fasilitas yang ada di sanggar ini bisa digunakan secara gratis oleh siapa saja, baik perorangan maupun kelompok.

“Pelatihnya juga berkompenten di bidangnya diantaranya pelatih tembang, tari, penyutradaraan, gamelan atau iringan, busana, make up, dan lainnya,” imbuhnya.

Sanggar milik Sudarmin ini juga telah dilengkapi dengan fasilitas dan properti untuk mendukung penampilan sebuah komunitas seni, seperti gamelan slendro 1 pangkon, lesung, tonil atau geber serta soundsystem sederhana.

Hingga saat ini, sanggar tersebut telah banyak dipergunakan oleh beberapa komunitas kesenian, seperti Ketoprak Karso Penoh Budaya, Karawitan Laras Utama, Jathilan Anak Debog Putra Budaya, Jathilan Kuda Budaya, Ketoprak Taruna Budaya, Teater Bisma dan Wayang Orang Muda Budaya.

Beberapa komunitas tersebut juga ada yang telah meraih prestasi, baik ketika pementasan langsung maupun secara daring. Beberapa prestasi tersebut antara lain, Juara 3 Lomba Karawitan se-Kabupaten Sleman, Juara Harapan 1 Jathilan, Juara 3 Sandiwara Bahasa Jawa, dan Juara 3 Lomba Ketoprak Tingkat Provinsi dengan lakon Suminten Edan.

“Sebenarnya prestasi bukanlah tujuan utama sanggar. Kalaupun dapat juara atau penghargaan, itu hanya lah bonus saja. Bagi pengelola sanggar ikut melestarikan seni dan budaya Jawa  itulah tujuan yang pertama dan utama,” tutur Sudarmin bersemangat.

Terakhir, Sudarmin berharap agar sanggar Kertodikromo Jemirah nantinya dapat lebih bermanfaat bukan saja bagi warga Donoharjo dan sekitarnya tetapi seluruh masyarakat pecinta seni dimana pun berada. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Giat Bersih Pantai untuk Jaga Kebersihan Pantai

Menjaga kebersihan dan kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama. Ketika alam rusak, yang menanggung akibatnya adalah banyak orang. Hal itu yang disampaikan oleh Arisanto, Koordinator Kegiatan “Giat Bersih Pantai” yang diadakan Komunitas Aku Wong Sleman (AWS) pada Sabtu (6/2/2021) di Pantai Cemoro Sewu, Yogyakarta.

Arisanto menyampaikan alasan ia dan komunitasnya mengadakan kegiatan tersebut adalah agar kondisi pantai tetap terjaga kebersihannya. “Karena bagaimanapun juga Laut Selatan ini merupakan kebanggaan kita juga,” ujar Arisanto

Kegiatan juga diharapkannya dapat memancing semangat masyarakat untuk tetap peduli terhadap kebersihan dan kelestarian pantai dan laut.

“Caranya masyarakat bisa memulai dari hal kecil, seperti mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, mengurangi konsumsi botol plastik, karena sebagian besar sampah di laut berasal dari daratan dihasilkan oleh manusia. Untuk itu perlu upaya pencegahan guna mengurangi sampah yang masuk ke laut,” terangnya lagi.

Selain bersih pantai, Komunitas AWS juga melakuakan program bantuan sosial, diantaranya bantuan bagi korban kebakaran untuk warga Padukuhan Sapen, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman dan bantuan kursi roda untuk warga penderita lumpuh di Candibinangun, Sardonoharjo, Sleman pada Minggu (7/2/2021). Hal Ini menurut Arisanto merupakan rangkaian kegiatan AWS dalam rangka membantu warga yang mengalami kesulitan, terutama di masa pandemi ini.

“Ini juga bentuk rasa syukur bahwa kami masih diberikan kesempatan untuk berbagi kepada sesame manusia yang membutuhkan,” tutupnya. (Arief Hartanto)